cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2001)" : 11 Documents clear
Angka Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah Sebelum dan Semasa Krisis Ekonomi; suatu Penelitian di Rumah Sakit Sjarif Hidayat; Kiki Madiapermana K Samsi; Mia Milanti Dewi
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.311 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.88-91

Abstract

Krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1997 memberikan dampak yang luas danmeresahkan masyarakat. Masyarakat menduga krisis ekonomi mengakibatkan gizi burukpada bayi baru lahir dengan indikator bayi berat lahir rendah (BLBR). Ilmu KesehatanAnak menggunakan kelahiran bayi kecil masa kehamilan (KMK) sebagai indikator giziburuk pada bayi baru lahir. Kondisi lain yang mengakibatkan kelahiran BBLR adalahprematuritas. Penulis merasa perlu meneliti sejauh mana pengaruh krisis ekonomiterhadap kelahiran BBLR, baik dalam bentuk KMK ataupun prematuritas. Penelitianini bersifat retrospektif. Subjek penelitian adalah semua BBLR lahir hidup di RumahSakit Hasan Sadikin Bandung sebelum krisis ekonomi antara Oktober sampai Desember1998 (kelompok II). Data didapat dari rekam medik. Dari 83 bayi dalam kelompok Ididapatkan bayi KMK sebanyak 50 bayi (60%), 28 bayi (55%) tipe simetris; bayi prematur25 bayi (30%); bayi prematur-KMK 6 bayi (22%). Sedangkan dari 86 bayi dalamkelompok II didapatkan bayi KMK sebanyak 34 bayi (39,5%), 19 (56%) tipe simetris;bayi prematur 45 bayi (52%); bayi prematur-KMK 7 (16%). Berdasarkan uji X_didapatkan penurunan bermakna dari jumlah bayi KMK pada BBLR semasa krisisekonomi (p=0,007). Namun di lain pihak terdapat peningkatan bermakna dari jumlahbayi prematur pada BBLR semasa krisis ekonomi (p=0,007). Sedangkan jumlah bayiprematur-KMK pada bayi BBLR sebelum dibandingkan dengan semasa krisis ekonomitidak didapatkan perbedaan (p=0.384). Dapat disimpulkan bahwa jumlah kelahiran bayiKMK justru mengalami penurunan semasa krisis ekonomi. Sedangkan krisis ekonomiternyata lebih berdampak pada peningkatan kelahiran bayi prematur yang jugamerupakan permasalahan di bidang kesehatan anak.
Perbandingan Efektifitas Kombinasi Ampisilin dan Gentamisin dengan seftazidim Pada Pengobatan Sepsis Neonatorum Melina Imran; Julniar M. Tasli; Herman Bermawi
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.235 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.92-100

Abstract

Beberapa penelitian terakhir melaporkan bahwa sensitifitas kuman terhadap ampisilindan gentamisin yang lazim digunakan sebagai terapi sepsis neonatorum telahmenurun sehingga digunakan sefalosporin generasi ketiga sebagai alternatif.Dilakukan penelitian uji klinik acak tersamar ganda terhadap 50 kasus tersangkasepsis neonatorum dengan tujuan untuk menilai perbandingan efektivitas kombinasiampisilin dan gentamisin dengan seftazidim. Subyek penelitian adalah seluruh pasienyang dicurigai sepsis neonatorum dan memenuhi persyaratan penelitian. Datadiperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisis dan laboratorium. Analisa statistikmenggunakan t-test, chi square test dan Kruskal_Wallis, berdasarkan jenis data yangakan diolah. Dari hasil penelitian kelompok yang mendapat kombinasi ampisilindan gentamisin 8,3% memberikan respons klinis baik (dengan 95% confidence limit:1-27%) dan 91,7% gagal. Sedangkan pada kelompok seftazidim 88,5% memberikanrespons baik (dengan 95% confidence limit: 69,8-97,6%) dan 11,5% gagal. Terdapatperbedaan yang sangat bermakna antara hasil pengobatan kombinasi ampisilin dangentamisin dengan seftazidim. Hasil pengobatan seftazidim jauh lebih baik dibandingdengan kombinasi ampisilin dan gentamisin, RR 7,9 artinya risiko gagal kelompokkombinasi ampisilin dan gentamisin 7,9 kali lebih besar daripada kelompokseftazidim.
Bakteriuria Asimtomatik pada Anak Sekolah Dasar Laki-laki dan Perempuan Usia 9-12 tahun Sondang M. Lumbanbatu; Rusdidjas Rusdidjas; Rafita Ramayati; Ramona Tobing
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.875 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.67-71

Abstract

Bakteriuria asimtomatik adalah bakteriuria bermakna pada anak yang kelihatan sehattanpa gejala klinis infeksi ginjal dan saluran kemih. Tujuan penelitian ini untuk melihatperbedaan dan prevalensi bakteriuria asimtomatik pada anak sekolah dasar usia 9 – 12tahun menurut jenis kelamin. Telah dilakukan penelitian secara studi cross sectionaldeskriptif terhadap urin murid sekolah dasar laki-laki dan perempuan usia 9 – 12 tahundi Kecamatan Medan, Tuntungan, Medan yang dipilih secara acak pada bulan Januarisampai Maret 2001. Kriteria eksklusi apabila dijumpai anak dengan gejala infeksi salurankemih, enuresis nokturnal atau diurnal, sedang menderita kelainan anatomi danfungsional saluran urogenital yang dapat dideteksi secara klinis. Sampel yang diambiladalah urin pagi pancar tengah dan dibiakkan di Laboratorium Mikrobiologi FK-USUMedan. Bakteruria bermakna bila ditemukan > 100.000 koloni bakteria per ml urin.Dari 200 anak (137 perempuan, 63 laki-laki) dijumpai 16 bakteriuria bermakna terdiridari 14 (7%) perempuan dan 2 (1%) laki-laki, berbeda bermakna (p<0,05). Jenisbakteriuria E. coli 6, Staphylococcus epidemidis 6, Staphylococcus aureus 2, Klebsiella 1,dan Pseudomonas 1. Kesimpulan, adanya perbedaan bermakna bakteriuria asimtomatikpada anak sekolah dasar laki-laki dan perempuan usia 9-12 tahun, dengan kumanpenyebab terbanyak E. coli dan Staphylococcus epidermidis.
Fungsi Ginjal pada Anak dengan Keganasan di RSUP H. Adam Malik Medan Trie Hariweni; Bidasari Lubis; Rita Carmelia; Nelly Rosdiana; Adi Sutjipto
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.101-5

Abstract

Berbagai keganasan hematologi dan tumor padat mampu mempengaruhi fungsi ginjal.Komplikasi pada ginjal ini dapat terjadi selama perjalanan penyakit keganasan, akibatinvasi keganasan pada ginjal, ureter, kandung kemih, akibat metabolit tumor tersebutserta akibat kemoterapi. Penelitian ini merupakan laporan pendahuluan yang bertujuanuntuk mengetahui keadaan fungsi ginjal pada anak dengan keganasan, hal tersebutdiperlukan dalam pertimbangan pemberian kemoterapi. Penelitian ini bersifat deskriptifrestropektif,data diambil dari rekam medik semua anak rawat inap yang menderitakeganasan dan belum pernah mendapat kemoterapi, di Bagian IKA RS Adam MalikMedan dalam rentang waktu Januari 1997 sampai dengan Desember 2000. Fungsi ginjaldinilai dari laju filtrasi glomerulus. Diperoleh sampel penelitian 127 pasien, usia kurangdari 5 tahun terdiri dari 22 (17%) pasien keganasan hematologi dan 42 (33%) pasientumor padat ganas, sedangkan usia lebih dari 5 tahun terdiri dari 41 (33%) pasienkeganasan hematologi dan 22 (17%) pada pasien tumor padat ganas. Dari 127 pasientersebut 63 pasien mengalami keganasan hematologi terdiri dari 43 laki-laki (34%) dan20 perempuan (16%), sedangkan 64 pasien menderita tumor padat ganas terdiri dari 29laki-laki (23%) dan 35 perempuan (27%). Keganasan hematologi dengan fungsi ginjalnormal didapatkan pada 48 (38%) anak, IRF (impaired renal function) 9 (14,3%), CRI(chronic renal insufficiency) 6 (9,5%) sedangkan pada tumor padat ganas dengan fungsiginjal normal 52 (41%), IRF 5 (7,8%), CRI 2 (3,2%), CRF (chronic renal failure) 5(8%). Terlihat bahwa pada pasien dengan keganasan hematologi dan tumor padatmengalami gangguan fungsi ginjal pada perjalanan penyakitnya.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksin Kombinasi DPwT (Sel Utuh) dan Hepatitis B Diana Mettadewi Jong; Adji Suranto; Hartono Gunardi; Alan R Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.72-6

Abstract

Indonesia merupakan wilayah dengan endemis tinggi hepatitis B, maka vaksinasi hepatitisB (hep B) merupakan solusi terbaik untuk mencegah penyakit ini. Kombinasi hep Bdengan DPwT (pertusis whole cell) = sel utuh dalam satu kemasan, memberikankenyamanan pada pasien dan memudahkan pelayanan kesehatan. Di samping keuntunganini, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin ini perlu diperhitungkan. Untukmengetahui KIPI vaksin ini, dilakukan studi prospektif pada 74 bayi berumur 2-6 bulandi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta antara Juli 2000 sampai dengan Maret2001. Bayi-bayi tersebut diberi 3 dosis vaksin kombinasi DPT dan hep B (DPwT/hepB) dengan selang waktu 5 minggu. Kartu observasi harian terhadap gejala yang timbulselama 5 minggu pasca imunisasi diisi orangtua dan data dikumpulkan pada kunjunganberikutnya. Umumnya KIPI timbul kurang dalam 72 jam setelah pemberian vaksin.Frekuensi KIPI tersering adalah demam (58,8%) diikuti oleh rewel (31,7%) dan demamtinggi (16,2%). Kejang umum timbul pada 1 kasus setelah pemberian dosis pertamadan pada 1 kasus lain kejang disertai demam tinggi. Setelah pemberian dosis ketigapada kedua kasus tersebut, pasien mendapat antipiretik dan kejang berhenti tanpapengobatan anti kejang. Tidak ditemukan KIPI pada vaksin DPwT/hep B yangmemerlukan perawatan di rumah sakit. KIPI yang didapatkan umumnya bersifat ringansampai sedang.
Faktor Determinan Klinis pada Malaria Anak Parwati SB; Simplicia MA; Ismoedijanto Ismoedijanto
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.106-14

Abstract

Wabah malaria ditemukan di berbagai tempat di Indonesia, antara lain di pantaiselatan Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur, namun penyebaran penyakit terbesarterdapat di daerah luar Jawa-Bali kawasan timur. Masalah malaria bersifat localspecific. Manifestasi malaria pada anak berbeda dan kurang spesifik dibanding orangdewasa, dan belum ditemukannya definisi klinis berupa keluhan dan atau gejalaklinis malaria pada anak di daerah endemis tertentu. Hal ini menyebabkanoverdiagnosis dan overtreatment untuk malaria dan kemungkinan terabaikannyapengobatan untuk penyakit lain. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keluhandan atau gejala klinis yang dapat digunakan sebagai determinan klinis malaria padaanak. Hasil penelitian ini berguna bagi pasien demam atau riwayat demam dalamsatu minggu terakhir, dan yang berada di daerah endemis malaria. Dilakukan suatustudi cohort yang merupakan penelitian gabungan kuantitatif dan kualitatif berlokasiKabupaten Sikka- NTT, selama bulan Mei-Juni 1999. Di antara 165 anak yangmemenuhi kriteria inklusi, 79 pasien (47,9%) dengan definitif malaria dan 86 pasienbukan malaria (52,1%), sebagian besar pasien adalah kelompok umur 1-4 tahun(64,6%) Dari analisis gabungan antara uji Kai-kuadrat dan metode Delphi terdapatkesesuaian mengenai keluhan dan gejala klinis malaria yang prominen, namunmengingat insidensi penyakit malaria pada tiap kelompok umur, determinan klinispada penelitan ini paling cocok diterapkan pada kelompok umur 1-4 tahun yaitusplenomegali, menggigil, pucat, dan hiperpireksia. Perlu dilakukan studi serupa didaerah endemis lain.
Perawatan Singkat Demam Tifoid pada Anak Suryantini Suryantini; Dasril Daud
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.77-82

Abstract

Demam tifoid (DT) merupakan penyakit endemis yang hingga kini masih merupakanmasalah kesehatan di Indonesia. Angka kejadian cukup tinggi dan tidak sedikit anakyang memerlukan perawatan di rumah sakit. Saat ini perawatan konvensional penderitademam tifoid anak mengacu pada penderita dewasa. Perawatan seperti ini pada anakdirasakan terlalu lama sehingga perlu pengeluaran biaya besar yang dapat merupakanbeban bagi orang tua penderita. Oleh karena itu perlu dicari terobosan baru untukperawatan yang lebih singkat tetapi efektif. Untuk maksud tertentu di atas telah dilakukanuji klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNHAS Ujung Pandang pada bulan Juni1999 sampai dengan April 2000. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi secaraklinis dampak perawatan singkat dibandingkan dengan perawatan konvensional padapenderita DT anak. Tujuh puluh penderita DT anak telah diikut sertakan dalampenelitian ini terdiri dari 34 anak perempuan dan 36 anak laki-laki dengan umur antara4,2–13,2 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dibantu denganpemeriksaan laboratorium. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompokperawatan singkat dan perawatan konvensional yang ditentukan secara acak (randomsampling). Pada perawatan konvensional penderita istirahat mutlak sampai dengan 10hari bebas demam sedangkan pada perawatan singkat 5 hari bebas demam.Karakteristik sampel dalam hal distribusi jenis kelamin, status gizi, lamanya demam dirumah, suhu pada waktu masuk rumah sakit, konstipasi, kadar Hb, hitung lekosit, hasiltiter Widal dan biakan darah adalah sama (pada kedua kelompok). Untuk distribusiumur secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok masingmasingdengan umur rerata 8,43 tahun untuk perawatan singkat dan 10,69 tahun untukperawatan konvensional. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa selama perawatansemua penderita DT sembuh secara klinis tanpa ada penyulit saluran cerna (perdarahandan perforasi usus) atau relaps pada kedua kelompok. Dari hasil penelitian ini dapatdisimpulkan bahwa tidak ada penyulit saluran cerna (perdarahan dan perforasi usus)ataupun relaps pada penderita yang dirawat singkat maupun yang dirawat secarakonvensional.
Perbedaan Awitan Pubertas pada Anak Perempuan di Perkotaan dan Pedesaan Syamsul Azwar; Rita E. Rusli; Khainir Akbar; Charles D. Siregar; Hakimi Hakimi
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.263 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.115-8

Abstract

Rerata awitan pubertas pada anak perempuan terjadi pada usia 11 tahun dengan rentangusia antara 8-13 tahun. Awitan pubertas didapati berbeda pada anak perempuan yangtinggal di perkotaan dan pedesaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaanrerata awitan pubertas pada anak perempuan perkotaan dan pedesaan. Penelitian inidilakukan secara cross sectional study pada murid perempuan Sekolah Dasar Al-AzharKotamadya Medan (perkotaan) dan murid Sekolah Dasar Negeri Nomor 050577 Binjai(pedesaan). Dilakukan pemeriksaan tingkat perkembangan payudara pada kedua subyekberdasarkan skala Tanner. Analisis statistik menggunakan Student t-test dengan tingkatkemaknaan p < 0,05. Diantara sampel pada 99 anak, awitan pubertas pada anakperempuan perkotaan pada usia 8, 9, 10, 11, dan 12 tahun berturut turut 12,1%; 23,2%;33,3%; 27,3%; dan 4,0% dengan rentang usia 8-12 tahun. Pada anak perempuanpedesaan pubertas didapatkan pada usia 9, 10, 11, 12, dan 14 tahun berturut-turut1,0%; 13,1%; 30,3%; 29,3%; dan 7,1% dengan rentang usia 9 – 14 tahun. Rerata usiaawitan pubertas pada anak perempuan perkotaan 9,88 + 1,07 dan pada anak perempuanpedesaan 11,74 + 1,16 tahun. Terdapat perbedaan yang bermakna antara rerata awitanpubertas anak perempuan perkotaan dan pedesaan, demikian pula antara status giziantara anak perempuan perkotaan dan pedesaan. Kesimpulan, awitan pubertas lebihcepat dialami anak perkotaan dibanding anak perempuan pedesaan.
Pengaruh Pemberian Vitamin A terhadap Kadar Vitamin Pengaruh Pemberian Vitamin A terhadap Kadar Vitamin A dalam Darah dan Lama Diare pada Pasien Diare Akut A dalam Darah dan Lama Diare pada Pasien Diare Akut di Bagian Anak RS. Muh. Hoesein Palembang di Bagian Anak RS. Muh. Hoesein Palembang Asteria I. Pramitasari; Achirul Bakri; Nancy Pardede
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.179 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.61-6

Abstract

Penelitian uji klinik tersamar ganda ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suplementasi vitamin A terhadap kadar vitamin A dalam darah dan lama diare pada anak. Enam puluh empat anak sejak tanggal 11 Oktober 1994 - 6 Februari 2000 berusia 12-60 bulan yang berobat ke Bagian Anak RS. Muh. Hoesein (RSMH) Palembang (rawat jalan dan rawat inap) dengan diare akut, dan memenuhi kriteria penelitian, dibagi dalam dua kelompok secara acak untuk menerima vitamin A 200.000 IU . Kadar vitamin A plasma diperiksa saat pertama sakit dan saat sembuh. Dikatakan defisiensi bila kadar vitamin A plasma < 20 mg/dl. Defisiensi Vitamin A pada saat diare terdapat pada 25 pasien kelompok kasus dan 28 pasien kelompok kontrol. Sementara itu pada saat sembuh pasien defisiensi adalah 25 dan 27 anak berturut-turut dari kelompok kasus dan kontrol. Rerata kadar vitamin A plasma saat diare pada kelompok kasus 17,34 ± 24,13 mg/dl dan pada kelompok kontrol 12,16 ±12,18 mg/dl (r = 0,282). Pada saat sembuh rerata kadar vitamin A kelompok kasus adalah 14,22 ± 10,37 mg/dl, sedangkan pada kelompok kontrol 12,73 ± 8,80 mg/dl (r = 0,545). Tidak ada perbedaan bermakna antara kadar vitamin A kedua kelompok baik pada saat diare maupun saat sembuh (kasus r = 0,481 ; kontrol r = 0,765). Pasien yang mengalami defisiensi vitamin A saat diare menunjukkan peningkatan kadar vitamin A plasma saat sembuh meskipun disuplementasi atau tidak dan tidak ada perbedaan bermakna antara dua kelompok tersebut. Rerata lama diare adalah 94,55 ± 57,35 jam pada kelompok kasus dan 10,13 ± 55,88 jam pada kelompok kontrol (r = 0,582). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi vitamin A saat diare tidak berpengaruh terhadap kadar vitamin A plasma dan lama diare.
Perbandingan Efektifitas Klinis antara Kloramfenikol dan Tiamfenikol dalam Pengobatan Demam Tifoid pada Anak Rismarini Rismarini; Zarkasih Anwar; Abbas Merdjani
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.83-7

Abstract

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia dan kloramfenikolmasih merupakan pilihan utama untuk pengobatan demam tifoid. Dari beberapapenelitian di temukan 3-8% kuman Salmonella telah resisten terhadap kloramfenikol,2-4% mengalami kekambuhan dan menjadi pengidap kuman, disamping adanya efeksamping penekanan sumsum tulang dan anemia aplastik. Seftriakson dan siprofloksasindapat memberikan hasil yang lebih baik tetapi belum dapat dipakai secara luas karenaharganya mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbandingan efektifitas kliniskloramfenikol dan tiamfenikol dalam pengobatan demam tifoid pada anak.Penelitian uji acak tersamar ganda dilakukan pada anak dengan demam tifoid yang dirawatdibagian IKA FK UNSRI / RS Moh Husein (RSMH) Palembang antara Maret –Nopember 1999. Lima puluh orang anak memenuhi kriteria penelitian, terdiri dari 27anak laki-laki dan 23 anak perempuan, 41 (82%) anak usia 5 tahun atau lebih, hanya 9(18%) usia di bawah 5 tahun. Dua puluh lima anak mendapat kloramfenikol, yang lainmendapat tiamfenikol. Pada kelompok kloramfenikol demam kembali normal dalamwaktu 3,04 + 2,11 hari sedangkan dengan tiamfenikol dalam waktu 2,68 + 1,57 hari.Secara statistik tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam hal lamanya turun demam,membaiknya nafsu makan, hilangnya nyeri perut serta pulihnya kesadaran antarakelompok kloramfenikol dengan kelompok tiamfenikol. Terdapat 1 penderita yang tidaksembuh dengan kloramfenikol sehingga diganti dengan seftriakson, sementara darikelompok tiamfenikol semuanya sembuh. Tidak ditemukan pasien yang kambuh danpengidap kuman setelah pengobatan. Kejadian anemia selama pengobatan sama padakedua kelompok. Walaupun tidak berbeda secara bermakna, kelompok tiamfenikol dapatkeluar rumah sakit 1 hari lebih cepat sedangkan harga obat hanya sedikit lebih mahaldari kloramfenikol.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue