cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2005)" : 9 Documents clear
Peran Eritropoietin pada Anemia Akibat Keganasan pada Anak Reni Suryanty; Nelly Rosdiana; Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.34-8

Abstract

Anemi relatif sering terjadi pada kasus keganasan hematologi atau tumor padat, namunpenyebab anemia belum jelas diketahui. Eritropoietin merupakan suatu glikoproteinhormon yang dapat merangsang proliferasi dan diferensiasi sel-sel progenitor darah merah.Salah satu penanganan anemia yaitu pemberian transfusi yang mempunyai banyak risikodiantaranya risiko transmisi infeksi, hemolitik, non- hemolitik, penumpukan besi danpenekanan produksi eritropoietin endogen. Dipertimbangkan pemberian eritropoietineksogen (human recombinan erythropoietin) yang identik dengan eritropoietin endogenpada keganasan terutama yang mendapat kemoterapi bila Hb £ 10 g/dL dengan dosis150 U/kg BB 3x seminggu selama 4 minggu dan dosis dapat ditingkatkan hingga 300U/kg BB dan diberikan selama 4 - 8 minggu. Diperlukan pemeriksaan secara periodikterhadap kadar besi, TIBC, (total iron binding capacity) saturasi transferin dan feritin.Rhu-EPO dipasaran yaitu epoetin alfa dan beta. Efek samping Rhu-EPO antara lainhipertensi, nyeri kepala, nyeri tulang, mual, edem, lemah dan diare. Dilaporkan padaepoetin beta relatif jarang terjadi hipertensi dan dilaporkan tentang terjadinya kasuspure red cell aplasia pada pemberian epoetin alfa (eprex).
Prevalensi Anemia Defisiensi Besi pada Bayi Usia 4 – 12 Bulan di Kecamatan Matraman dan Sekitarnya, Jakarta Timur Rini Sekartini; oedjatmiko oedjatmiko; Corry Wawolumaya; Irene Yuniar; Rismala Dewi; Nycane Nycane; Imam D; Imam N; Adam Adam
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.2-8

Abstract

Latar belakang: prevalensi anemia defisiensi besi masih tinggi terutama pada bayi. Deteksidini terhadap anemia pada bayi terutama bayi dengan risiko tinggi sangat diperlukanuntuk mencapai tumbuh kembang optimal.Tujuan: untuk mengetahui prevalensi anemia defisiensi besi.Bahan dan cara metode: studi deskriptif belah lintang dilakukan di empat Puskesmasdi Jakarta Timur. Populasi sampel adalah bayi umur 4-12 bulan yang tinggal di wilayahKecamatan Matraman dan sekitarnya pada bulan Maret 2004. Sampling diambil denganmetode convenient, pengumpulan data dengan pengisian kuesioner oleh ibu bayi secaraterpimpin. Pengukuran di lakukan pada panjang badan, berat badan, lingkar kepalabayi. Pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan Hemocue®, sedangkan serum feritindiperiksa di laboratorium SEAMEO-TROPMED FKUI.Hasil: sampel terdiri dari 55 bayi, 63,6% laki-laki, 58,2% berumur 8-12 bulan, dan87,3% berasal dari keluarga dengan pendapatan per kapita per bulan rendah. Sebagianbesar berstatus gizi kurang (60%), 96,4% lahir cukup bulan, 3,6% bayi lahir denganberat badan rendah pemberian ASI ekslusif 94,5%. Diantara 55 bayi 38,2% mengalamianemia dan 71,4% bayi anemia tersebut menderita anemia defisiensi besi. Prevalensianemia defisiensi besi lebih besar pada bayi 8-12 bulan daripada bayi yang lebih muda,yaitu 73,3%.Kesimpulan: tidak didapatkan hubungan bermakna antara anemia defisiensi pada bayidengan jenis kelamin, umur, tingkat pendapatan orang tua, usia gestasi, berat lahir,pemberian ASI ekslusif, susu formula yang difortifikasi besi, dan makanan pendampingASI, serta infeksi yang diderita bayi.
Resisten Trimetoprim – Sulfametoksazol terhadap Shigellosis Selvi Nafianti; Atan B Sinuhaji
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.556 KB) | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.39-44

Abstract

Disentri merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian terutama pada anakusia di bawah 5 tahun. Penyebab tersering disentri adalah Shigella spp. World HealthOranization (WHO) menganjurkan pemberian trimetoprim-sulfametoksazol pada diareberdarah tanpa mengetahui penyebab. Banyak laporan mengenai resistensi trimetoprimsulfametoksazol,sehingga perlu dicari alternatif antimikroba untuk pengobatanshigellosis. Disamping itu, perlu pemahaman yang baik mengenai mekanisme terjadinyaresistensi.
Demam Tifoid pada Anak Usia di bawah 5 Tahun di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin, Bandung Djatnika Setiabudi; Kiki Madiapermana
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.93 KB) | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.9-14

Abstract

Latar belakang: Di Indonesia demam tifoid bersifat endemik dan dari telaah kasus dibeberapa rumah sakit, menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahundengan rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dan kematian 0,6 – 5,0 %. Penelitianmengenai demam tifoid pada kelompok usia < 5 tahun belum banyak dilaporkan.Tujuan: mengetahui gambaran klinis dan laboratoris demam tifoid pada anak usiakurang dari 5 tahun dan membandingkan dengan anak usia di atas 5 tahun (5-14 tahun).Metoda: penelitian non-eksperimental bersifat retrospektif. Subjek penelitian adalahpasien demam tifoid anak dengan konfirmasi biakan Salmonella. Data diambil daricatatan rekam medik pasien demam tifoid yang dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan AnakFK Unpad/RSHS Bandung dari bulan Januari 1996 sampai dengan Desember 2003.Hasil: Selama kurun waktu 1996 - 2003 didapatkan kasus demam tifoid berusia < 5tahun 108/256 (42,2%). Dengan rasio laki-laki dan perempuan 1 : 1,20. Selain keluhandemam, obstipasi dan diare merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Bradikardirelatif, hepatomegali dan lidah tifoid merupakan pemeriksaan yang sering ditemukanselain demam. Lebih dari setengah pasien didapatkan anemia dan trombositopenia.Komplikasi terjadi pada 25% kasus, yaitu gangguan neuropsikiatrik, sepsis dan syokseptik, miokarditis dan ileus. Satu pasien meninggal dengan penyebab kematian syokseptik.Kesimpulan: insidens demam tifoid pada anak usia < 5 tahun cukup tinggi, insidessemakin tinggi sesuai dengan bertambahnya usia. Tidak ada perbedaan yang bermaknadalam gambaran klinis, laboratoris dan komplikasi pada demam tifoid kelompok anakberumur < 5 tahun dibandingkan dengan anak umur > 5 tahun.
Purpura Henoch-Schönlein Susiana Tendean; Sjawitri P. Siregar
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.122 KB) | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.45-9

Abstract

Purpura Henoch-Schönlein (PHS) atau disebut juga sebagai purpura anafilaktoid adalahsindrom klinis yang disebabkan oleh vaskulitis pembuluh darah kecil sistemik. Penyakitini ditandai oleh lesi kulit spesifik berupa purpura nontrombositopenik, artritis, nyeriperut dan perdarahan saluran cerna, serta dapat pula disertai nefritis.1-6 Kelainan inidapat mengenai semua usia, tetapi sebagian besar terjadi pada anak usia antara 2 - 11tahun, lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan denganperbandingan 1,5 : 1. Insidens kelainan ini rata-rata 14 per 100.000 populasi.2-4 DiagnosisPHS dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis saja yaitu dengan ditemukannyapurpura yang dapat diraba terutama di bokong dan ekstremitas bawah, dengan salahsatu gejala berikut yaitu nyeri perut disertai atau tanpa perdarahan saluran cerna, artritis,hematuria atau nefritis.4,5 Di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN dr CiptoMangunkusumo (RSCM) ditemukan 23 kasus PHS dalam kurun waktu 5 tahun (1998-2003), terdiri dari 5 anak laki-laki dan 18 anak perempuan.
Peran Suplementasi Mineral Mikro Seng Terhadap Kesembuhan Diare W Dharma Artana; Sudaryat Suraatmaja; K Nomor Aryasa; IKG Suandi
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.354 KB) | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.15-8

Abstract

Seng termasuk golongan mineral mikro yang sangat esensial bagi tubuh, diabsorpsi diusus halus, terutama pada bagian proksimal jejunum. Defisiensi seng dapat menimbulkanbeberapa keadaan seperti akrodermatitis, alopesia, rabun senja, gangguan tumbuhkembang, gangguan sistem reproduksi, atrofi serta kerusakan mukosa usus halus denganmanifestasi diare, dan menurunnya respons imun. Mineral mikro seng berperan sebagaianti oksidan mempengaruhi absorpsi air dan natrium, meningkatkan metabolismevitamin A, mencegah defisiensi enzim disakaridase, memperbaiki sistem imun, sertasebagai ko-faktor enzim. Maka WHO menganjurkan pemberian suplementasi mineralmikro seng pada pasien diare untuk mempercepat kesembuhan, mencegah terjadinyakomplikasi seperti diare berkepanjangan maupun gizi buruk dan bersifat relatif tidaktoksis.
Abses Hati pada Anak Yuridyah Prianti M; Julfina Bisanto; Kemas Firman
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.50-6

Abstract

Diagnosis abses hati pada seorang anak laki-laki berusia 7 tahun ditegakkan berdasarkan nyeri perut kanan atas yang semakin hebat, demam, nafsu makan yang menurun, riwayat diare, hepatomegali. Pada pemeriksaan fisik teraba masa di daerah perut kanan atas yang makin membesar serta terasa nyeri; pemeriksaan ultrasonografi hati tampak gambaran sesuai dengan abses hati. Jenis abses hati pasien ini kemungkinan adalah abses hati piogenik pada pasien ini didukung ditemukannya bakteri batang gram negatif pada pemeriksaan sediaan langsung pus abses, namun biakan bakteri terhadap pus negatif. Kemungkinan abses hati amuba masih perlu dipikirkan karena di negara sedang berkembang seperti Indonesia lebih sering ditemukan abses hati amuba. Terapi dengan obat golongan sefalosforin (sefotaksim) dan metronidazol memberi respon yang baik, terlihat dari berkurangnya gejala demam dan nyeri perut dalam dua hari, mengecilnya hati serta tidak terlihat lagi adanya gambaran abses setelah lima hari pemberian antibiotik. Adanya kekambuhan (gambaran abses pada ultrasonografi) setelah pengobatan metronidazol dihentikan, menguatkan dugaan diagnosis abses hati amuba
Penyakit Alergi Saluran Napas yang Menyertai Asma Lily Irsa
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.19-25

Abstract

Asma merupakan penyakit yang mempunyai predisposisi genetik, dipengaruhi oleh faktorlingkungan prenatal dan pasca natal. Sebagaimana penyakit atopi lain seperti rinitisalergi dan dermatitis atopi dalam perjalanannya asma dipengaruhi oleh adanya sensitisasiprimer oleh alergen dan pajanan berikutnya yang akan meningkatkan produksi IgEspesifik. Penyakit asma diketahui sering bersamaan dengan penyakit alergi saluran napaslainnya. Hal ini karena saluran napas atas dan saluran napas bawah merupakan saluranyang berhubungan dan bila terjadi gangguan pada saluran napas atas akan mempengaruhisaluran napas bawah.
Masalah pada Tata Laksana Anemia Aplastik Didapat Isyanto Isyanto; Maria Abdulsalam
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.26-33

Abstract

Anemia aplastik adalah kegagalan sumsum tulang baik secara fisiologis maupun anatomis.Penyakit ini ditandai oleh penurunan atau tidak ada faktor pembentuk sel darah dalamsumsum tulang, pansitopenia darah perifer, tanpa disertai hepatosplenomegali ataulimfadenopati. Penanganan anemia aplastik masih merupakan masalah yang penting karenapatofisiologi penyakit ini masih belum pasti. Tata laksana anemia aplastik terdiri dari tatalaksana suportif terhadap keadaan yang disebabkan oleh pansitopenia seperti anemia, infeksidan perdarahan, serta tata laksana serta pengobatan yang bertujuan untuk mengganti selinduk yang gagal dalam memproduksi sel-sel darah dan menekan proses imunologis yangterjadi. Tata laksana kuratif terdiri dan transplantasi sumsum tulang dan penggunaanobat-obat imunosupresan. Namun demikian tata laksana anemia aplastik baik yang bersifatsuportif maupun kuratif, dapat menimbulkan masalah-masalah yang mempengaruhiprognosis pasien. Prognosis pasien anemia aplastik umumnya buruk, sekitar dua pertigapasien meninggal setelah 6 bulan diagnosis ditegakkan sebagai anemia aplastik.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue