cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2007)" : 12 Documents clear
Modifikasi Sistem Cairan Intravena Menurunkan Infeksi Nosokomial di NICU-Harapan Kita Setyadewi Lusyati; Ferdy P. Harahap; Hulzebos C; Bos AF; Sauer PJ
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.54-8

Abstract

Latar belakang. Infeksi adalah salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di NICU. Sumberinfeksi tidak selalu jelas, cairan intravena mungkin merupakan salah satu penyebab.Tujuan Penelitian. Mengevaluasi pengaruh cairan intravena, baik cara pemberian maupun frekuensipenggantian cairan terhadap kejadian infeksi di NICU RSAB Harapan Kita.Metode. Studi uji silang dilakukan di NICU terhadap 2 kelompok bayi pada periode waktu yang berbeda.Kelompok I (periode Juni-Juli,2006) adalah kelompok ‘infus semi terbuka’ menggunakan buret, digantitiap 2-7 hari. Kelompok II (periode September-Oktober,2006) adalah kelompok ‘infus tertutup’menggunakan semprit, diganti tiap 8 jam. Angka kejadian infeksi dihitung berdasarkan adanya bakteri didalam biakan darah pada periode tersebut.Hasil. Didapatkan 68 bayi dari kelompok I (berat lahir rerata 2364± 840 gram, usia gestasi rerata 35.5±3.9 minggu) dan 54 bayi di kelompok II (BBL rerata 2479±884 gram, usia gestasi 36.2 ±2.6 minggu).Insidensi infeksi nosokomial lebih rendah daripada kelompok II dibandingkan kelompok I (35/68 dan 5/54, OR=0.1; 95% interval kepercayaan: 0.034-0.271; p<0.001). Pada kelompok I, 31/56 bayi didapatkanbiakan darah II menjadi positif, sedangkan pada kelompok II hanya terdapat 3/48 bayi dengan biakandarah II menjadi positif (p<0.001). Hasil biakan kelompok I, 30/35 adalah Serratia, sedangkan padakelompok II didapatkan 5 spesimen ditemukan Serratia.Kesimpulan. Pemberian cairan intravena sistem terbuka merupakan salah satu faktor utama penyebab tingginyainfeksi nosokomial di RSAB Harapan Kita. Dengan memodifikasi cara pemberian dan frekuensi penggantiancairan intravena, kejadian infeksi nosokomial dapat diturunkan
Mikofenolat Mofetil sebagai Terapi Sindrom Nefrotik Relaps Sering dan Resisten Steroid pada Anak Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.23-31

Abstract

Abstrak. Sindrom nefrotik relaps sering, sindrom nefrotik dependen steroid, dan sindrom nefrotik resistensteroid pada anak merupakan sindrom nefrotik yang sulit diobati. Hasil pengobatan dengan imunosupresanseperti siklofosfamid, klorambusil, levamisol, atau siklosporin-A yang diberikan secara oral maupun intravenasering kurang memuaskan. Mikofenolat mofetil (MMF) merupakan imunosupresan yang menghambatenzim inosine monophosphate dehydrogenase, bekerja secara selektif, tidak kompetitif, dan reversibel.Preparat MMF telah digunakan dalam tata laksana penyakit ginjal. Pada sindrom nefrotik relaps seringdependensteroid, MMF dapat menyebabkan penurunan mean relapse rate dari 4,1 menjadi 1,3 relaps pertahun, menyebabkan remisi total dengan perbaikan fungsi ginjal, dan mempertahankan keadaan remisi.Pada sindrom nefrotik resisten steroid, MMF dapat menyebabkan dan frekuensi perawatan menurun remisitotal dan mengubah keadaan sindrom nefrotik resisten steroid menjadi responsif steroid. Preparat MMFdapat digunakan sebagai monoterapi atau kombinasi dengan imunosupresan lain pada anak dengan sindromnefrotik bermasalah. Terbukti MMF dapat menyebabkan remisi total, mengubah keadaan resisten steroidmenjadi responsif steroid, dan menurunkan kejadian relaps
Terapi Vincristine dan Triamcinolone dalam pengobatan Hemangioma Infantil Heru Noviat Herdata; Djajadiman Gatot; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1222.944 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.59-66

Abstract

Latar belakang. Hemangioma infantil merupakan salah satu tumor jinak pada bayi dan anak yang diawalidengan bentuk noda kemerahan. Pada masa proliferasi, noda kemerahan ini dapat berubah menjadi bentuknodul atau melebar serta membesar. Hingga saat ini belum ada terapi yang memuaskan, dan terapi dengankortikosteroid sistemik merupakan pilihan yang mudah dan efektif meskipun hasilnya tidak seragam.Terapi alternatif lain telah dicoba yaitu vincristin atau interfensi alfa.Tujuan Penelitian. Mengetahui sebaran, gambaran, komplikasi hemangioma serta mengevaluasi terapikortikosteroid dan vincristine pada HI serta efek sampingnya.Metode. Analisis retrospektif terhadap 26 pasien yang berobat jalan di Poliklinik Khusus HematologiOnkologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, rumah sakit Dr. Ciptomangunkusumo Jakartamulai tahun 2005 – 2006, hasil terapi dinilai berdasarkan mengecilnya hemangioma.Hasil. Hemangioma lebih banyak pada anak perempuan dengan bentuk morfologi segmental. Enam puluhsembilan persen hemangioma timbul setelah lahir dan terapi kortikosteroid diberikan terhadap 92% pasien,baik secara oral, maupun kombinasi suntikan intralesi atau dengan vincristine. Sebanyak 50% pasienmengalami perbaikan termasuk semua pasien yang diterapi kortikosteroid kombinasi dengan vincristine.Tidak ditemukan efek samping lokal, maupun sistemik akibat pemakaian kortikosteroid dan vincristin.Kesimpulan. Kortikosteroid sistemik dan intralesi cukup efektif sebagai pengobatan HI, yaitu denganpengecilan hemangioma serta tidak ditemukannya efek samping sistemik lokal, maupun sistemik . Vincristindapat dipakai sebagai alternatif pengobatan HI yang resisten terhadap kortikosteroid
Iktiosis Lamelar pada Anak dengan Riwayat Bayi Kolodion Suraiyah Suraiyah; Soepardi Soedibyo; Siti Aisah Boediardja
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1211.968 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.32-8

Abstract

Abstrak. Seorang anak perempuan, usia 3 tahun dengan keluhan kulit yang mengelupas terus menerus(rujukan dari bagian kulit dan kelamin, untuk mengevaluasi adakah kelainan metabolik bawaan). Adanyariwayat bayi lahir dengan kulit terbungkus plastik, mengkilap, transparan disertai kelainan bentuk dauntelinga yang kecil dan kelopak mata terangkat keatas. Tidak terdapat konsanguitas dalam keluarga. Kulitpada seluruh tubuh mengelupas secara kontinyu, gatal dan berbau tidak sedap. Luka/ lecet akibat bekasgarukan pada kulit sehingga terbentuk jaringan parut tebal dan berakibat terjadinya kontraktur pada jarijaritangan. Pada pemeriksaan fisis ditemukan kulit kepala yang tebal berkeropeng, ektropion, alopesiasikatrik dengan bentuk mulut normal. Pada kedua telinga didapatkan hipoplasi kartilago aurikula. Padakulit tampak skuama kasar, lebar, berwarna kecoklatan dengan eritroderma ringan. Pemeriksaanlaboratorium didapatkan hemoglobin 11,4 g/dL, leukosit 10.100/μL, tombosit 431.000/μL. Biopsi kulitdidapatkan hiperkeratosis, sumbatan keratin, akantosis dan papilomatosis ringan disertai pelebaranpembuluh darah dan serbukan sel radang ringan pada dermis. Ikltiosis lamelar adalah genodermatosisyang biasanya diturunkan secara resesif autosomal, adanya konsanguitas meningkatkan risiko terjadinyakasus ini.. Anamnesis dan penilaian klinis sangat penting dalam menegakkan diagnosis tetapi diagnosispasti ditegakkan berdasarkan biopsi kulit
Pandangan Baru Pengobatan Glomerulonefritis Dany Hilmanto
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.1-6

Abstract

Glomerulonefritis merupakan penyakit yang diduga melibatkan mekanisme imunologis, dapat menimbulkanreaksi peradangan berat serta pembentukan jaringan fibrosis pada glomerulus. Pengobatan terbaruglomerulonefritis mempunyai dua tujuan yaitu menekan proses peradangan dan menghambat progresifitasfibrosis glomerulus, sehingga gagal ginjal terminal dapat dicegah. Obat yang digunakan untuk menekanproses peradangan adalah mikofenolat mofetil, rapamycin, anti-molekul adhesi, anti-sitokin inflamasi,antibodi monoklonal anti-CD20, dan anti-siklooksigenase-2. Obat yang dapat menghambat progresivitasfibrosis glomerulus adalah antagonis angiotensin II dan pirfenidone. Pengembangan obat baru untukmengatasi peradangan dan mencegah fibrosis pada glomerulonefritis, diharapkan dapat mencegah terjadinyagagal ginjal terminal pada anak
Pola Mikroorsganisme dan Sensitivitas dari Spesimen Klinik di UPIN dan “Intermediate ward”s Johanes Edy S; Ferdy H; Latre B
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.864 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.67-74

Abstract

Latar belakang. Angka kematian neonatus masih tinggi terutama di negara berkembang dan salah satupenyebabnya adalah infeksi dan sepsis. Untuk penanganan yang tepat dan akurat maka pemeriksaan biakandarah, urin, dan cairan tubuh lainnya dianggap penting karena dapat mengetahui kuman penyebab infeksidan juga jenis antibiotika yang sensitif. Pola kuman tidak selalu sama untuk satu periode waktu, hal inimungkin disebabkan oleh karena penggunaan antibiotika yang semakin luas.Tujuan. Mendapatkan data survailans pola mikroorganisme guna meningkatkan kualitas pelayanan dalammanajemen bayi risiko tinggi yang dirawat di ruang neonatal.Metode. Studi observasional potong lintang pada bayi risiko tinggi yang tercatat di Bagian NeonatologiRumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita dari Januari sampai Desember 2004. Pengambilansampel darah atau cairan tubuh lainnya dari bayi yang dicurigai infeksi. Dicatat data antara lain temperatur,frekuensi nafas, frekuensi nadi & denyut jantung, aktivitas menyusui & menangis, umur kehamilan danberat badan, lama dari ketuban pecah dini, warna cairan ketuban, cairan lambung, darah lengkap termasukneutropil granulotoksik, C-reactive protein dan prognosis.Hasil. Jumlah subyek 1331 bayi, ditemukan 264 (47,4%) kuman pada biakan darah dan cairan tubuhlainnya (Serratia sp, K. pneumoniae, E. aerogenes, Klebsiella sp, P. aeruginosa, S. aureus, S. epidermidis,S. pyogenes, Cansdida sp) di UPIN. Sedangkan di intermediate ward ditemukan 164 (34,9%) kuman(Serratia sp, K. pneumoniae, E. aerogenes, E. coli pathogen, Pseudomonas sp, Proteus mirabilis, S. aureus,S. epidermidis, S viridans, Candida sp).Kesimpulan. Keberhasilan penemuan hasil biakan kuman dari darah atau cairan tubuh lain sangat pentinguntuk membantu dalam peningkatan pelayanan medis dengan memberikan antibiotik yang tepat. Hasilbiakan kuman terkait dengan kecepatan, ketepatan dalam pengambilan sampel, penyimpanan, danpengiriman bahan ke laboratorium
Nutrisi Parenteral Total pada Bayi Prematur Widiasa Widiasa; Suandi Suandi; I. Wayan Retayasa
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.545 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.39-43

Abstract

Abstrak. Dengan makin pesatnya perkembangan bidang perinatologi, makin banyak bayi kecil yangterselamatkan. Pemberian nutrisi pada bayi prematur merupakan suatu tantangan, karena nutrisi yangdidapat langsung dari plasenta kini harus diberikan peroral. Pemberian nutrisi parenteral total (NPT)ataupun nutrisi parenteral parsial (NPP), merupakan sarana utama dalam perawatan bayi prematur.Pemberian NPT dapat dilakukan melalui jalur perifer atau sentral sesuai dengan kondisi bayi. Larutannutrisi parenteral yang diberikan harus mengandung glukosa, protein, lemak dan multivitamin. Monitoringyang ketat harus dilakukan secara periodik dan berkala untuk mengindari komplikasi baik mekanik,metabolik, ataupun infeksi
Penilaian PEDS pada Anak Usia 6-72 bulan Hesti Lestari; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.865 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.7-12

Abstract

Latar belakang. Pemantauan tumbuh kembang secara berkala sangat penting untuk mendeteksi secaradini penyimpangan perkembangan anak. Tahap awal penapisan perkembangan dapat melibatkan orangtuadan setelah diketahui anak memerlukan evaluasi lebih lanjut, dilakukan uji tapis yang lebih rinci dankompleks. Salah satu instrumen uji tapis yang peruntukkan pada orangtua adalah parents evaluation ofdevelopmental status (PEDS).Tujuan Penelitian. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penggunaan PEDS sebagai alat uji tapisperkembangan anak dan mengetahui sebaran kekhawatiran orangtua pada aspek perkembangan yang dinilaidalam kuesioner PEDS.Metode. Penelitian deskriptif potong lintang dilakukan pada 82 anak sehat berusia 6-72 bulan di YayasanBalita Sehat, Jakarta pada bulan Agustus 2006 sampai dengan September 2006. Pengisian kuesioner ujitapis perkembangan PEDS dilakukan dengan cara wawancara.Hasil. Dari 82 anak yang diteliti, 16 (19,5%) anak termasuk dalam langkah A yaitu kelompok risikotinggi untuk mendapatkan masalah perkembangan dan memerlukan rujukan untuk evaluasi lebih lanjut.Langkah B yaitu 33 (40,2%) anak termasuk kelompok risiko sedang dan memerlukan skrining, stimulasidan pemantauan lanjut, kelompok risiko rendah 14 (17,1%) anak termasuk langkah C memerlukanbimbingan tingkah laku dan 19 (23,2%) anak termasuk langkah E yaitu berisiko rendah dan hanya perlupemantauan rutin.Kesimpulan. Kelompok risiko tinggi dan sedang kelainan perkembangan pada penelitian ini lebih tinggidari penelitian lain. Hal yang mungkin berperan adalah tingginya kekhawatiran orangtua terhadap penyakitdan masalah kesehatan lainnya yang dalam uji tapis PEDS merupakan indikator bermakna adanya gangguanperkembangan
Pola Menonton Televisi dan Pengaruhnya Terhadap Anak Terapul Tarigan; Nancy Ervani; Syamsidah Lubis
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.352 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.44-7

Abstract

Latar belakang. Beberapa penelitian menyatakan bahwa menonton televisi telah menciptakan berbagaipenyakit sosial termasuk membuat pelajar menjadi pasif yang sulit untuk berkonsentrasi dalam belajaryang akan menyebabkan menurunnya nilai ujian serta menyebabkan aktifitas yang kurang yang dapatmenyebabkan obesitas.1,3Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola menonton pada anak dan pengaruhnyaterhadap pendidikan serta pola makan.Metode. Penelitian deskriptif analitik yang bersifat cross-sectional. Penilaian dilakukan dengan pengisiankuesioner pada 100 ibu, yang dilakukan di TK Ahmad Yani, Binjai. Sumatera Utara pada bulan Maret2006.Hasil. Umur ibu yang ikut dalam penelitian terbanyak usia 31-40 tahun (65%). Pendidikan terbanyakdari para ibu responden adalah tamatan SMU(49%), rata-rata ibu tidak bekerja (59%). Usia anak pertamakali menonton televisi 38 (38%) terbanyak pada usia 3-5 tahun, lama menonton televisi perhari 1-2 jamsebanyak 56 (56%) dan acara yang paling disenangi oleh anak adalah kartun 77 (77%). Namun tidakmemperlihatkan hubungan yang signifikan antara lama menonton televisi, usia pertama kali anak menonton,acara yang disenangi terhadap pendidikan, dan pola makan anak.Kesimpulan. Menonton televisi mempunyai pengaruh terhadap belajar anak dan pola makan dari anaktetapi tidak bermakna secara statistik. Diperlukan penelitian lanjutan untuk menilai pengaruh televisiterhadap perilaku anak pada usia berikutnya
Pola Penyakit dan Karakteristik Pasien Hemato- Onkologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RS Sanglah Denpasar Periode 2000-2005 Ida Bagus Mudita
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.699 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.13-6

Abstract

Latar belakang. Data epidemiologi kasus hematologi onkologi anak di Indonesia belum ada, hal inikarena sistem registrasi dilakukan secara nasional. Data tersebut penting karena selain memberikan gambaransituasi kesehatan juga dapat digunakan bagi peningkatan pelayanan dan penelitian.Tujuan Penelitian. Mengetahui pola penyakit dan karakteristik pasien hemato-onkologi di Bagian/SMFIlmu Kesehatan Anak RS Sanglah.Metode. Penelitian deskriptif, restropektif dari Januari 2000 sampai Desember 2005.Hasil. Didapatkan 215 kasus yang terdiri dari 39 jenis penyakit. Leukemia limfoblastik akut (LLA)merupakan kasus hemato-onkologi terbanyak (23,7%) yang juga merupakan kasus hematologi terbanyak(29,8%), sedangkan retinoblastoma merupakan kasus onkologi terbanyak (38,6%). Terbanyak kasus (48,4%)berusia 1-5 tahun. Didapatkan 8,4% kasus meninggal terutama kasus LLA.Kesimpulan. Leukemia limfoblastik akut dan retinoblastoma merupakan kasus hematologi dan onkologiterbanyak. Usia terbanyak adalah usia 1-5 tahun. Angka kematian sebesar 8,4% terbanyak kasus LLA

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue