cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 3 (2007)" : 12 Documents clear
Kadar Svcam-1 pada Penderita Sindrom Nefrotik Kambuh Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.163-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik pada anak umumnya sensitif terhadap pengobatan, walaupun demikian60%–80% akan mengalami kekambuhan; 20% jenis kambuh jarang, 40% jenis kambuh sering. Prognosispada sindrom nefrotik kambuh sering kurang baik dikaitkan dengan peningkatan kadar profil lemak kecualiHDL. Untuk petanda aterosklerosis dapat digunakan kadar VCAM-1 dalam serum. Dengan meningkatnyakadar profil lemak pada anak dengan sindrom nefrotik, muncul pertanyaan apakah anak dengan sindromnefrotik juga memiliki risiko menderita aterosklerosis.Tujuan. Mengetahui kadar sVCAM-1 pada sindrom nefrotik kambuh sering dibandingkan dengan sindromnefrotik kambuh jarang dan anak sehat.Metode. Penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 29 anak dengan sindromnefrotik kambuh jarang, 21 anak dengan sindrom nefrotik kambuh sering dan 50 anak sehat.Hasil. Rerata sVCAM-1 masing-masing pada sindrom nefrotik jenis kambuh sering, kambuh jarang dankontrol 871,01; 1038,31 dan 715,30 ng/dl.Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar sVCAM yang bermakna pada ketiga kelompok (F=22,43;p.<0,001). Jenis sindrom nefrotik, baik kambuh sering maupun kambuh jarang, tidak mempunyai kontribusiyang besar terhadap kadar sVCAM-1 (adjusted R2 8,9%), walaupun diketahui bahwa prognosis sindromnefrotik kambuh sering lebih buruk dibandingkan dengan kambuh jarang karena adanya faktor risikoaterosklerosis yang berulang.
Pengaruh Kortikosteroid Inhalasi terhadap Pertumbuhan IB Mahendra; Soetjiningsih Soetjiningsih; Bikin Suryawan
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.196-200

Abstract

Pertumbuhan normal dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk faktor endokrin, lingkungan, nutrisi danpengaruh genetik. Gangguan pada pola pertumbuhan merupakan indikator penting adanya gangguanmedis yang serius. Gangguan pertumbuhan akibat penggunaan kortikosteroid inhalasi dalam waktu yanglama telah menjadi perdebatan para praktisi. Meskipun pengaruh kortikosteroid terhadap penghambatanpertumbuhan telah lama diketahui namun mekanismenya tidak sepenuhnya diketahui. Kortikosteroidinhalasi dalam menekan pertumbuhan tergantung besar dosis dan lamanya pengobatan serta frekuensipemberiannya
Peran Trombomodulin untuk Mendeteksi Kerusakan Sel Endotel pada Malaria Tropika dan Malaria Tertiana Max F.J. Mantik; T.H. Rampengan; Mariane B.Ch. Kilis; Josef S.B. Tuda
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.97 KB) | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.167-72

Abstract

Latar belakang. Trombomodulin(TM) adalah reseptor sel endotel untuk trombin. Pada penyakit malaria tropikadan malaria tertiana, TM disekresi sesudah kerusakan sel-sel endotel yang terinfeksi P.falciparum atau P.vivax.Tujuan. Mengetahui apakah TM dapat mendeteksi kerusakan sel endotel pada malaria tropika atau malariatertiana dan apakah TM berhubungan dengan berat ringan malaria tropika?Metode. Penelitian menggunakan metode analitik potong lintang, di lima RS di provinsi Sulawesi Utara,Juni-September 2006 pada kasus malaria tropika/malaria tertiana umur 2 tahun-13 tahun. PemeriksaanTM secara ELISA menggunakan kit Fujirebio TM (FU/ml). Analisis data dengan uji t independen dankoefisien korelasi Spearmen Rank.Hasil. Tiga puluh pasien malaria tropika (TM 0,060-0,180FU/ml), 2 pasien malaria tertiana (TM 0,068-0,075FU/ml). Uji t terdapat perbedaan bermakna TM pada malaria tropika dan malaria tertiana (p=0,044).Malaria berat 11 penderita (TM 0,086-0,162 FU/ml). Uji t terdapat perbedaan sangat bermakna TMpada malaria tropika dengan komplikasi dan tanpa komplikasi (p=0,009). Uji Spearmen Rank TMberhubungan positif bermakna dengan derajat parasitemia (rs=0,686, p=0,001).Kesimpulan. Trombomodulin dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan sel endotel, TM pada malariatropika lebih tinggi dari malaria tertiana dan tm berbeda bermakna pada malaria tropika dengan komplikasidan tanpa komplikasi serta berhubungan bermakna dengan derajat parasitemia.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Perkembangan Neurologis pada Bayi dengan Riwayat Hiperbilirubinemia Baginda Hutahaean; Alifiani Hikmah Putranti; Kamilah Budhi Rahardjani; Magdalena Sidhartani
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.201-6

Abstract

Latar belakang. Salah satu penyebab gangguan perkembangan neurologis (GPN) adalah hiperbilirubinemia.Kerusakan sawar darah otak (SDO) meningkatkan permeabilitas otak terhadap bilirubin. Terdapat beberapafaktor yang menyebabkan kerusakan SDO, yang selanjutnya meningkatkan risiko GPN bayi.Tujuan. Mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi GPN pada bayi dengan riwayat hiperbilirubinemia.Metode. Desain longitudinal prospektif, subjek 48 neonatus dengan kadar bilirubin indirek serum (BIS)>10 mg/dL, dirawat Oktober 2004–Agustus 2005, dan dipantau pada usia 3, 6 dan 9 bulan dengan BayleyInfant Neurodevelopmental Screener (BINS). Multivariat cox-regression digunakan untuk analisis.Hasil. Receiver operating curve (ROC) : kadar BIS neonatal dapat sebagai prediktor GPN bayi, dengancut-off point BIS 14,68 mg/dL. Terdapat hubungan bermakna antara BIS dengan GPN (χ2:18,657;p<0,001).Dari uji multivariat Cox-regression : infeksi (Hazard ratio/HR 4.0;CI=0.9;18,1), kadar BIS >14,68 mg/dL(HR 2,5;CI=0.5;12,1) dan tidak mendapat terapi (HR 2.1;CI=0.8;5,6) mempunyai risiko GPN. Asidosisdan hipoglikemia bukan faktor risiko.Kesimpulan. Kadar BIS dapat digunakan sebagai prediktor GPN. Infeksi, kadar BIS >14,68 mg/dL dantidak mendapat terapi merupakan faktor yang meningkatkan risiko GPN pada bayi dengan riwayathiperbilirubinemia.
Sepsis Neonatal di NICU RSAB Harapan Kita Jakarta Setyadewi Lusyati; Pieter J.J. Sauer
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.532 KB) | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.173-177

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian infeksi pada neonatus di negara berkembang sangat tinggi, terutama diUnit Pelayanan Intensif Neonatal (NICU). Pemberian antibiotik diharapkan dapat mengeradikasi infeksineonatal. Namun di lain sisi pemakaian antibiotik spektrum luas dapat memicu munculnya bakteri yanglebih resisten dan berbahaya.Tujuan. Mengetahui angka kejadian sepsis neonatal, bakteri penyebab sepsis dan penggunaan antibiotik.Metode. Uji retrospektif terhadap bayi yang lahir dan dirawat di NICU RSAB Harapan Kita, Jakartaantara bulan Mei 2003 sampai Juni 2005.Hasil. Didapatkan 216 bayi dirawat di NICU, 133 diantaranya dicurigai mengalami infeksi, namunhanya 9 biakan darah positif pada hari I. Antibiotik diberikan terhadap 133 bayi. Pada hari ke 3-5, terdapat63 bayi dengan biakan darah positif pada hari ke 3-5 dari 74 bayi dengan gejala sepsis yang menetap.Semua bayi dengan kecurigaan sepsis mendapat antibiotik antenatal. Bakteri Gram negatif terutama Serratiamarcescens menempati urutan pertama baik pada biakan hari ke-1 maupun ke 3-5. Angka kejadian infeksitidak berhubungan dengan usia gestasi dan antibiotik antenatal.Kesimpulan. Angka kejadian sepsis neonatal pada hari I di RSAB Harapan Kita sebanding dengan dinegara maju. Namun kejadian sepsis pada hari ke 3-5 meningkat tajam, dengan bakteri Gram negatifsebagai penyebab utama. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat kejadian infeksi nosokomial.
Pengaruh Menyusui, Glukosa 40% dan Memeluk Bayi terhadap Respon Nyeri pada Bayi Cukup Bulan (Suatu Uji Klinis) Dyah Kanya Wati; Soetjiningsih Soetjiningsih; Retayasa Retayasa
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.207-12

Abstract

Latar belakang. Berdasarkan berbagai penelitian acak, pemberian glukosa, menyusui dan stimulasimultisensoris merupakan penanganan yang dapat dipercaya manfaatnya sebagai bagian dari penanganannon farmakologis.Tujuan. Melihat respon nyeri pada bayi cukup bulan yang diimunisasi intrakutan dalam kondisi disusui,mendapatkan glukosa 40% atau dipeluk oleh ibunya.Metode. Subjek penelitian dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok A untuk menyusui, kelompok Buntuk glukosa 40% dan kelompok C untuk kelompok memeluk bayi. Pada saat penyuntikan, subjekdirekam dengan kamera video dan hasil rekaman dinilai untuk mengetahui respon nyerinya berdasarkanskala DAN (Douleur Aigue Nouveau-ne).Hasil. Dari 116 subjek didapatkan rerata hasil penilaian skala DAN 6,13 (SD 1,17) untuk kelompokmenyusui, 7,93 (SD 1,05) untuk kelompok bayi yang mendapatkan glukosa 40% dan 7,65 (SD 1,12)untuk kelompok memeluk bayi.Kesimpulan. Kelompok menyusui memiliki respon nyeri yang paling rendah secara bermakna. Menyusuimemberikan hasil yang berbeda bermakna dalam memberikan respon nyeri dibandingkan pemberian glukosa40% dan memeluk bayi pada bayi yang diimunisasi.
Pengaruh Kadar Feritin Serum terhadap Fungsi Ventrikel Kiri pada Thalassemia Mayor yang Mendapat Transfusi Multipel Renny Suwarniaty; Teddy Ontoseno; Bambang Permono; Sudigdo Sastroasmoro
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.178-84

Abstract

Latar belakang. Thalassemia adalah penyakit darah yang bersifat diturunkan, transfusi darah secara teraturmerupakan satu-satunya cara untuk memperpanjang hidup.Tujuan. Untuk mengetahui pengaruh kadar feritin serum terhadap fungsi ventrikel kiri pada pasienthalassemia mayor yang mendapatkan transfusi multipel.Metode. Penelitian dengan rancang bangun cross sectional. Dilakukan di Divisi Hematologi - OnkologiRS Dr Sutomo Surabaya dari bulan Agustus-November 2006. Pengambilan sampel secara konsekutif,dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan jumlah transfusi darah yang telah diterima.Hasil. Subjek penelitian 61 anak rerata kadar serum feritin pada kelompok 1: 768,7, kelompok 2: 2338,8,kelompok 3: 5207,3. Hasil ekokardiografi EF < 64% kelompok 1: 3 dari 18 anak (16,7%), kelompok 2: 2dari 15 anak (13,3%), kelompok 3: 8 dari 28 anak (28,6%). Rasio E/A < 1,5 kelompok 1: 6 dari 18 anak(33,3%), kelompok 2: 3 dari 15 anak (20,0%), kelompok 3: 12 dari 28 anak (42,9%). Rasio E/A > 2,5kelompok 1: 1 dari 18 anak (5,6%), kelompok 2: 1 dari 15 anak (6,7%), kelompok 3: 4 dari 28 anak(9,8%). Dengan analisis regresi logistik, ternyata tidak ada hubungan bermakna antara kadar feritin serumdengan gangguan fungsi ventrikel kiri pada subyek penelitian. (p > 0,05)Kesimpulan. Terdapat hubungan antara lama transfusi dengan rasio E/A yang > 2,5, namun tidakdidapatkan hubungan antara kadar serum feritin dengan gangguan fungsi ventrikel kiri pada pasientallasemia mayor yang mendapatkan transfusi secara multipel.
Perbandingan Efektifitas Sefepim dan Seftazidim dalam Pengobatan Sepsis Neonatorum RM Indra; Julniar M Tasli; Herman Bermawi
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.213-9

Abstract

Latar belakang. Kuman penyebab sepsis neonatorum makin banyak resisten terhadap seftazidim, yangmerupakan monoterapi pilihan. Sefepim dapat menjadi alternatif atau lini kedua karena spektrum lebihluas dan potensi resistensi lebih rendah.Tujuan. Membandingkan efektifitas sefepim dan seftazidim dalam pengobatan sepsis neonatorum.Metode. Dilakukan uji klinis acak tersamar tunggal terhadap 53 neonatus dengan kemungkinanbesar sepsis. Dibandingkan kesembuhan klinis antara neonatus yang mendapat sefepim dan seftazidimserta sensitivitas in-vitro obat. Analisis terpisah dilakukan terhadap 36 subkelompok subjek biakanpositif.Hasil. Angka kesembuhan kelompok sefepim adalah 84% (21/25), sedangkan pada kelompok seftazidim78,6% (22/28) (p=0,441). Pada subkelompok biakan positif ditemukan proporsi kesembuhan sama,yaitu masing-masing 14 dari 18 (77,8%; p=0,655). Pada uji sensitivitas in-vitro terhadap 36 isolat, yangsensitif terhadap sefepim dan seftazidim masing-masing 69,4% dan 50% (p=0,016).Kesimpulan. Meski pola sensitivitas kuman terhadap sefepim lebih baik, angka kesembuhan klinis tidakberbeda. Sefepim belum dapat direkomendasikan di atas seftazidim dalam pengobatan sepsis neonatorum.
Pemantauan Tumbuh Kembang Anak dengan Sindrom Down Frieda Handayani Kawanto; Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.185-90

Abstract

Sindrom Down (SD) adalah kelainan genetik yang paling sering ditemukan dan berhubungan denganretardasi mental. Kelainan yang terjadi disebabkan oleh adanya kelebihan materi genetik kromosom 21.Karakteristik fisis anak dengan SD cukup jelas sehingga para tenaga kesehatan yang mengadakan kontakawal dengan neonatus, termasuk dokter ahli kebidanan dan kandungan, perawat kamar bersalin, dandokter umum, dapat mengenali kelainan ini dengan relatif mudah. Anak dengan SD memiliki berbagaimasalah kesehatan dan tumbuh kembang yang tak jarang cukup kompleks, maka skrining pra dan pascanatal, intervensi dini, dan pemantauan tumbuh kembang yang terus-menerus perlu dilakukan agar anakdengan SD dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Tata laksana medis, dukungan keluarga,pendidikan, dan pelatihan khusus dapat meningkatkan kemampuan anak dengan SD secara bermakna danmenjembatani transisi menuju kedewasaan.
Prevalensi Seropositif Antibodi Anti-rubela pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta: Upaya untuk Menurunkan Angka Kejadian Sindrom Rubela Kongenital Elsye Souvriyanti; Sri Rezeki S Hadinegoro; I Budiman
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.157-62

Abstract

Latar belakang. Infeksi rubela pada ibu hamil dapat mengakibatkan komplikasi yang serius pada janin.Maka remaja perempuan sebagai calon ibu harus telah mempunyai kadar antibodi anti-rubela yang tinggi.Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi seropositif terhadap antibodi anti-rubelapada remaja perempuan sebagai upaya untuk menurunkan angka kejadian sindrom rubela kongenital.Metode. Penelitian deskriptif potong lintang, dilakukan terhadap 97 orang mahasiswi tingkat I dan IIFakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang dipilih secara konsekutif pada bulan Mei-Juni 2007.Hasil. Usia rerata subjek 18,9 tahun (SD=1,0). Imunisasi MMR didapatkan pada 19 dari 97 subjekpenelitian (19,6%). Angka seropositif terhadap antibodi anti-rubela 71 subjek (73,2%) rerata kadar antibodianti-rubela 159,7 UI/ml (SD = 107,4). Proporsi seropositif antibodi anti-rubela yang diperoleh melaluiimunisasi MMR 19 dari 71 subjek (26,8%) nilai rerata kadar antibodi anti-rubela 148,9 UI/ml (SD =86,4). Proporsi seropositif antibodi anti-rubela yang diperoleh melalui infeksi alamiah 52 dari 71 subjek(73,2%) rerata kadar antibodi anti-rubela 163,6 UI/ml (SD = 114,7).Kesimpulan. Prevalensi seropositif antibodi anti-rubela 73,2%. Imunitas yang ditimbulkan denganpemberian imunisasi MMR sama dengan imunitas yang diperoleh dari infeksi alamiah.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue