cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12 (4) 2023" : 12 Documents clear
Kajian Pustaka: Upaya Menelan Berlebihan dan Regurgitasi pada Anjing Penderita Akalasia Krikofaringealis Mahaputra, I Made; Juniartini, Wieke Sri; Bolla, Nelci Elisabeth; Nazara, Agustina Lesmauli; Robi, I Made; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.619

Abstract

Krikofaringeal akalasia adalah gangguan menelan langka dari sfingter esofagus bagian atas pada anjing dan hewan muda lainnya. Tanda klinis yang umum terjadi pada anjing yang terkena krikofaringeal akalasia adalah disfagia, regurgitasi setelah berusaha menelan, batuk, hipersalivasi, refluks hidung, nafsu makan menurun sehingga pertumbuhan buruk. Krikofaringeal akalasia merupakan kondisi yang jarang terjadi pada anjing, tetapi harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding dalam kasus disfagia dan regurgitasi. Krikofaringeal akalasia merupakan salah satu penyebab disfagia orofaringeal yang langka ditandai dengan ketidakmampuan untuk melewatkan bolus ke dalam esofagus cervical akibat kegagalan membuka sfingter esofagus bagian atas. Kejadian krikofaringeal akalasia dapat disebabkan oleh hipertrofi krikofaringeal atau myositis atau atrofi yang menyebabkan ketidakmampuan fisik pada esofagus bagian atas. Secara histologis dari fragmen otot menunjukkan myositis neutrofilik fokal dan atrofi otot. Anjing penderita krikofaringeal akalasia dilaporkan memiliki penyakit penyerta seperti hipertiroidisme dan pneumonia. Penanganan krikofaringeal akalasia dapat dilakukan dengan pendekatan bedah myectomy dan pascaoperasi dapat diberikan opioid, antibiotika, dan dexamethasone. Prognosis dapat diberikan baik pada kasus krikofaringeal akalasia yang terdeteksi lebih awal dengan kondisi hewan yang baik. Sedangkan prognosis tanpa perawatan bedah biasanya buruk karena kesulitan dalam memelihara dan mengendalikan pneumonia aspirasi secara efektif pada hewan. Sebanyak lima laporan kasus krikofaringeal akalasia pada anjing dipilih dan rekam medisnya dijadikan sebagai sumber informasi untuk kajian pustaka.
Prevalensi Protozoa Gastrointestinal Eimeria spp. Pada Sapi Bali Di Baturiti, Tabanan, Bali Hutapea, Maria Anastasia; Apsari, Ida Ayu Pasti; Kencana, Gst Ayu Yuniati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.517

Abstract

Ternak sapi potong merupakan salah satu komoditas peternakan yang menjadi tumpuan pemerintah Indonesia. Salah satu jenis sapi potong yang terkenal di Indonesia adalah sapi bali sehingga keberadaannya perlu dilestarikan karena merupakan plasma nutfah asli Indonesia. Upaya yang bisa dilakukan untuk melestarikan sapi bali adalah dengan menjaga kesehatan melalui pencegahan dan penanggulangan penyakit. Ternak sapi bali sangat mudah terinfeksi penyakit, salah satu di antaranya penyakit yang disebabkan oleh parasit. Infeksi parasit dapat mengakibatkan lambatnya pertumbuhan sapi terutama pada ternak muda. Salah satu infeksi parasit pada sapi adalah infeksi protozoa gastrointestinal. Infeksi protozoa gastrointestinal masih menjadi faktor yang mengganggu kesehatan sapi bali dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi protozoa gastrointestinal Eimeria spp., yang menginfeksi sapi bali. Sampel penelitian berupa feses segar sapi bali berjumlah 60 sampel yang diambil di Kelompok Tani Suka Dharma Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Feses sapi yang berhasil dikumpulkan selanjutnya diperiksa dengan metode konsentrasi apung menggunakan larutan gula sheater. Prevalensi protozoa gastrointestinal dihitung dengan cara, jumlah sampel terinfeksi dibagi jumlah sampel yang diperiksa kemudian dikalikan 100%. Hasil penelitian didapatkan prevalensi protozoa gastrointestinal Eimeria spp. yang menginfeksi sapi bali di Baturiti, Tabanan, Bali adalah 28,33%.
Laporan Kasus: Keberhasilan Penanganan Mencret yang Positif Terinfeksi Virus Panleukopenia pada Kucing Kampung Dhika, I Gede Abijana Satya; Erawan, I Gusti Made Krisna; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.576

Abstract

Seekor kucing kampung, berjenis kelamin betina, berumur tiga tahun, memiliki bobot badan 3 kg, dengan warna rambut abu-abu bercampur hitam, dibawa ke Klinik Sunset Vet Kuta dengan keluhan diare, muntah, dan nafsu makan menurun sejak dua hari sebelum datang berobat. Keadaan umum tampak lemas dan tidak aktif. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan suhu tubuh kucing kasus 40°C, Capillary Refill Time (CRT) >2 detik. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan sel darah putih, limfosit, dan neutrofil menurun, diikuti dengan penurunan pada trombosit. Pemeriksaan test kit menunjukkan positif antigen Feline Panleukopenia Virus (FPV). Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, maka kucing kasus didiagnosis menderita FPV. Pengobatan yang diberikan adalah terapi suportif berupa infus Ringer Lactate (RL) sejumlah 370 mL/24jam lalu dilanjutkan dengan cairan RL manitenance 50 mL/kg BB/hari secara intravena (IV), antibiotik berupa metronidazole dengan dosis 15 mg/kg BB (IV) dua kali sehari selama satu minggu, ranitidine dengan dosis 2 mg/kg BB (IV) dua kali sehari selama satu minggu, maropitant dengan dosis 1 mg/kg BB (IV) satu kali sehari selama satu minggu, tolfenamic acid dengan dosis 4 mg/kg BB (IM) dua kali sehari selama satu minggu. Setelah pemberian pengobatan selama satu minggu menunjukkan perkembangan yang baik dengan adanya perbaikan keadaan umum yaitu kucing mulai aktif kembali dan nafsu makan kembali normal serta suhu tubuh 38,5°C dan CRT <2 detik.
Laporan Kasus Laporan Kasus: Urolitiasis akibat Kristal Struvit pada Kucing Anggora Jantan Khadafi, Gde Erwin Ali; Soma, I Gede; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.597

Abstract

Urolitiasis merupakan adanya urolit di dalam saluran perkencingan. Penyakit urolitiasis dapat menyebabkan hewan mengalami retensi urin. Kucing kasus adalah ras anggora jantan umur lima tahun dengan bobot badan 4,1 kg, datang dengan keluhan sulit urinasi selama dua hari, urin bercampur darah, anoreksia dan muntah. Pemeriksaan fisik kucing terlihat lemah, dehidrasi ringan, vesika urinaria mengalami distensi. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dalam kasus ini yaitu pemeriksaan darah rutin, ultrasonografi, dan pemeriksaan sedimentasi urin. Hasil pemeriksaan darah kucing mengalami leukositosis [total WBC: 34,73x10^9/L (normal: 5,5-19,5x10^9/L)], neutrofilia [GRA: 31,36x10^9/L (normal: 2,1-15x10^9/L)], limfositopenia [LYM%: 6,7% (normal: 12-45%)], dan anemia makrositik hipokromik [MCV: 53,6 fL (normal: 39-52 fL), MCHC: 25,5 g/dL (normal; 30-38 g/dL)]. Pada Pemeriksaan ultrasonografi vesika urinaria terlihat endapan partikel-partikel kristal (hyperechoic) terlihat seperti pasir (sand-like). Pada pemeriksaan sedimentasi urin didapatkan kristal magnesium ammonium phosphate (struvite). Kucing kasus didiagnosis menderita urolitiasis. Terapi yang diberikan yaitu terapi cairan NaCl 0,9% 357 mL/hari diberikan selama tiga hari. Flushing mengunakan cairan infus NaCl 0,9% menggunakan kateter ukuran 1.3x130 mm, antibiotik Cefotaxime Sodium 80 mg/kg bb secara intramuskuler sekali sehari selama tiga hari, antiradang Tolfenamic Acid 4 mg/kg bb secara intramuskuler sekali sehari selama tiga hari, terapi suportif diet pakan khusus urinary care. Pada hari ketiga setelah diterapi kucing menunjukkan perbaikan kondisi ditandai dengan nafsu makan meningkat dan urin normal tidak terjadi hematuria.
Laporan Kasus: Infeksi Anaplasma pada Anjing Dachshund Betina dengan Gejala Muntah-Muntah dan Pembesaran Abdomen di Kota Denpasar, Bali Mesquita, Nelviana; Erawan, I Gusti Made Krisna; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.525

Abstract

Anaplasmosis adalah penyakit yang ditularkan melalui vektor yang disebabkan oleh bakteri obligat intraseluler Gram negatif, genus Anaplasma spp., famili Anaplasmataceae. Seekor anjing ras dachshund, telinga panjang menggantung, kaki pendek, dada dan abdomen relatif panjang, memiliki warna rambut hitam, berjenis kelamin betina, bernama Bacco, berumur dua tahun dengan bobot badan 2 kg memiliki riwayat mengalami muntah air berkali-kali, dan nafsu makan menurun. Hasil pemeriksaan klinisnya anjing lemas, mukosa mulut pucat, dan perut membesar. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami leukositosis anemia normositik hipokromik, trombositopenia, neutrofilia, dan limfositosis. Pemeriksaan dengan test kit menunjukkan pada darah anjing kasus terdeteksi antibodi Anaplasma spp. sehingga anjing kasus didiagnosis menderita anaplasmosis dengan prognosis fausta. Hasil radiografi menunjukkan adanya gas di bagian usus besar. Anjing kasus dirawat inap selama empat hari. Terapi yang diberikan berupa cairan fisiologis sodium chloride 120 mL/hari, doxycycline 10 mg/kg BB SID PO selama 4 hari, ampicillin sodium 20 mg/kg BB BID IM selama 4 hari, ondansetron 0,4 mg/kg BB BID IM selama 4 hari, ranitidine 2 mg/kg BB BID IV, hematodin 1 mL/kg BB SID IV selama 4 hari, transfer factor 1 tablet SID PO selama 4 hari, cephalexin 15 mg/kg BB BID PO selama 7 hari, cimetidine 10 mg/kg BB BID PO selama 7 hari. Pada hari kedua, anjing kasus mulai menunjukkan hasil yang memuaskan yang ditandai dengan ukuran abdomen sudah normal, nafsu makan baik, dan mulai aktif.
Laporan Kasus: Terapi Skabiosis dan Otitis Eksterna pada Kucing Rescue Ras Persia Kristiawan, Vicky; Jayanti, Putu Devi; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.585

Abstract

Skabiosis merupakan penyakit kulit yang menyebabkan kudis pada kulit akibat adanya infestasi tungau Sarcoptes scabiei. Tungau S. scabiei merupakan ektoparasit yang biasa menyerang kucing. Selain tungau S. scabiei, tungau Otodectes cynotis merupakan ektoparasit yang juga sering ditemukan pada anjing dan kucing. Berdasarkan anamnesis, kucing kasus dalam kondisi lemas, menggaruk-garuk telinga dan badan, telinga mengkerut dan mengeluarkan cairan purulen. Pada pemeriksaan klinis kucing kasus mengalami dehidrasi yang ditandai dengan mukosa pucat, capillary refill time lebih dari dua detik, serta elastisitas tugor menurun, temuan alopesia pada daerah punggung, pangkal ekor, serta kedua telinga yang disertai hiperkeratosis pada kedua telinga, dan purulent. Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan pengambilan sampel kerokan kulit, serta sampel serumen telinga dan pemeriksaan hematologi. Pada pemeriksaan kerokan kulit ditemukan adanya tungau S. scabiei, dan pada pemeriksaan serumen telinga ditemukan adanya tungau O. cnyotis. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukan kucing kasus mengalami limfositopenia dan anemia. Terapi yang diberikan berupa terapi kausatif dengan pemberian ivermectin 1% injeksi dengan dosis 0,3 mg/kg diberikan sebanyak 0,05 mL, dan antibiotik amoxicillin injeksi dengan dosis 20 mg/kg diberikan sebanyak 0,2 mL setiap q 48 jam, kucing kasus dimandikan seminggu dua kali dengan shampoo sulfur Sebazole, terapi simtomatis dengan pemberian antihistamin diphenhydramine HCl injeksi dengan dosis 2 mg/kg, dilanjutkan dengan pemberian antihistamin chlorphenamine maleate dengan dosis 2 mg/kucing setiap q 12 jam, dan terapi suportif dengan diberikan berupa fish oil dan nutriplus gel masing-masing selama 30 hari. Frekuensi pruritus mulai berkurang pada hari ke-4 dan pada hari ke-14 jarang melakukan gerakan menggaruk. Pemeriksaan hematologi dilakukan 14 hari pascaterapi dan menunjukan adanya perubahan ke arah normal yang ditandai dengan penurunan pada jumlah sel darah putih dan peningkatan pada sel darah merah. Pertumbuhan rambut pada daerah alopesia mulai terlihat pada hari ke-25.
Laporan Kasus: Urolithiasis dan Infeksi Bakteri Penyebab Penyakit Saluran Perkencingan Bagian Bawah pada Kucing Jantan Mixbreed Apriliana, Kadek Soma; Jayanti, Putu Devi; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.535

Abstract

Seekor kucing persia mix British shorthair berjenis kelamin jantan berumur 7 tahun dengan berat badan 4,75 kg, dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Udayana dengan keluhan dysuria, hematuria, nafsu makan dan minum menurun. Pemeriksaan klinis dan fisik menunjukkan kucing kasus tampak lemas, dehidrasi dan mengalami distensi pada abdomen. Pada pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan vesika urinaria penuh berisi urin karena retensi urin. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan bahwa kucing mengalami leukositosis, limfositosis, MCH dan MCHC turun. Pemeriksaan kimia urin menunjukkan pH 8,0 dan tidak normal pada leukosit, nitrit, protein, dan eritrosit. Pada pemeriksaan sedimentasi urin ditemukan adanya kristal struvit, serta kultur urin ditemukan adanya bakteri Escheria coli dan Staphylococcus sp. Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang, kucing kasus didiagnosis mengalami urolithiasis dan infeksi bakteri yang menyebakan Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) dengan prognosis fausta. Penanganan dilakukan dengan pemberian terapi cairan Ringer Lactate, pemasangan cateter urine, injeksi antibiotik cefotaxim, antiinflamasi dexamethasone, dan vitamin K. Obat oral yang diberikan yaitu antibiotik cefadroxil, antiinflamasi dexamethasone, obat herbal yang mengandung ekstraks kejibeling dan suplement yang mengandung zat besi, dan pakan urinary care. Satu minggu pasca terapi kucing dalam kondisi baik, urinasi lancar dan tidak adanya indikasi rasa sakit saat urinasi dan hasil pemeriksaan organoleptik, sedmentasi dan kimia urin tidak adanya keabnormalan.
Laporan Kasus: General Demodekosis disertai Temuan Jamur Curvularia sp. yang Bersifat Saprofit pada Anjing Lokal Resman, Martin Pedro Krisenda; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.606

Abstract

Demodekosis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Demodex sp.. Dermatomikosis adalah penyakit kulit yang disebabkan infeksi jamur Curvularia sp. Tujuan penulisan artikel laporan kasus ini untuk mengetahui penyebab penyakit kulit yang terjadi pada anjing kasus dan efektivitas pengobatan yang dilakukan. Seekor anjing kacang (lokal) bernama Gembrong berumur satu tahun mengalami masalah kulit yang muncul sejak satu bulan sebelumnya. Nafsu makan anjing kasus masih dalam keadaan baik, defekasi dan urinasi normal. Anjing diberikan pakan nasi yang dicampur dengan rebusan tetelan ayam. Anjing kasus dipelihara dengan cara diikat di garasi belakang rumah. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan terdapat lesi pada kulit berupa eritema, krusta, alopesia, hiperpigmentasi, dan hiperkeratosis pada daerah wajah, daun telinga, leher, kaki depan, kaki belakang, punggung, dan ekor. Interdigit bengkak, eritema, dan hangat. Terdapat luka pada dahi, daun telinga, dan ekor. Pada bagian ventral abdomen mengalami alopesia, hiperkeratosis, dan krusta. Pada pemeriksaan kerokan dalam kulit (deep skin scrapping) ditemukan tungau Demodex sp., sedangkan pemeriksaan tape asetate ditemukan suspect kapang Curvularia sp.. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik hipokromik dengan jumlah RBC sebanyak 4,31 1012/L, Hemoglobin 7,0 (g/dL), MCV 63 fl, dan MCHC 25,8 g/dL. Tidak ditemukan adanya koloni jamur Curvularia sp. pada kultur jamur dengan menggunakan media Sabourd Dextrose Agar (SDA). Anjing didiagnosis demodekosis disertai dermatomikosis. Pengobatan dilakukan dengan pemberian ivermectin, ketoconazole, antihistamin (diphenhydramine dan CTM), vitamin B kompleks, dan sabun sulfur. Evaluasi setelah 14 hari menunjukkan perubahan pada lesi kearah yang lebih baik dan pruritus mulai berkurang. Berdasarkan perubahan lesi yang membaik pada kulit anjing kasus setelah diterapi, maka pengobatan yang dilakukan dapat disimpulkan berhasil.
Laporan Kasus: Ehrlichiosis pada Anjing Alaskan Malamut di Denpasar, Bali Ginting, Regina Bonifasia Br; Jayanti, Putu Devi; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.551

Abstract

Ehrlichiosis merupakan penyakit penting pada anjing yang disebabkan oleh bakteri intraseluler Gram negatif dari genus Ehrlichia yang termasuk dalam famili Anaplasmataceae. Hewan kasus anjing bernama Zena, jenis kelamin betina, ras alaskan malamute, memiliki warna rambut putih dan hitam berumur empat tahun dengan bobot badan 38,5 kg. Anjing dipelihara dengan cara dilepaskan di pekarangan rumah. Zena dibawa ke Anom Vet Clinic dengan keluhan lemas, penurunan nafsu makan dan minum selama dua hari serta anjing mengalami muntah lima kali sebelum dibawa ke klinik. Hasil pemeriksaan klinis anjing kasus terlihat lemas namun masih responsif, mukosa mulut merah muda pucat serta turgor kulit sedikit menurun. Teramati di bagian lateral kanan abdomen terdapat spot dermatitis. Saat observasi ditemukan caplak Rhipicephalus pada kulit dan anjing mengalami muntah cairan kuning. Hasil pemeriksaan penunjang berupa radiografi/X-ray dan ultrasonografi/USG regio abdomen tidak ditemukan kelainan yang berarti. Hasil pemeriksaan hematologi lengkap menunjukkan anjing kasus mengalami trombositopenia dan limfositopenia. Hasil pemeriksaan test kit menunjukkan hasil positif mengandung antibodi Ehrlichia canis. Berdasarkan anamnesis, tanda klinis, hasil pemeriksaan hematologi, dan pemeriksaan menggunakan test kit, anjing kasus didiagnosis menderita ehrlichiosis dengan prognosis fausta. Penanganan yang diberikan pada anjing kasus yaitu berupa terapi cairan dengan Ringer Laktat, doksisiklin selama 10 hari, dexamethasone selama lima hari, cimetidine selama lima hari dan Fu Fang Ejiao Jiang® 1 botol selama 10 hari. Penanganan hewan kasus menunjukan hasil yang baik secara klinis, dengan tidak terjadinya muntah dan nafsu makan sudah membaik setelah lima hari pengobatan. Pada hari ke-10, hewan kasus sudah membaik secara klinis dengan keadaan turgor kulit membaik, mukosa mulut berwarna merah muda, dan diperbolehkan pulang.
Kajian Pustaka: Intususepsi Gastroesofagus pada Kucing dan Anjing Mu'ayyanah, Siti; Putera, I Gusti Ngurah Dwipayana; Utomo, Kurniawan Cahyo; Mahasanti, I Gusti Puji Ayu; Margaretha, Aloysiana; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.635

Abstract

Gastroesofagus intususepsi (GEI) merupakan invaginasi lambung pada esophagus, disertai atau tidak disertai organ abdominal lainnya. Intususepsi gastroesofagus merupakan suatu kondisi yang jarang ditemukan pada anjing dan kucing, termasuk dalam kasus emergensi gastrointestinal, dan merupakan penyebab kematian apabila tidak ditangani. Kajian pustaka ini menyajikan 10 kasus gastroesofagus intususepsi pada kucing dan anjing yang mengalami tanda klinis secara umum muntah, regurgitasi, dan penurunan bobot badan. Pemeriksaan penunjang sebagai langkah dalam membantu penegakan diagnosis berupa pemeriksaan darah, radiografi dan ultrasonografi (USG). Terapi yang dilakukan berupa pembedahan gastropeksi dilakukan untuk mencegah kambuh GEI. Prognosis buruk apabila terjadi nekrosis dan perforasi pada lambung.

Page 1 of 2 | Total Record : 12