cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 7 (4) 2018" : 15 Documents clear
Perubahan Histopatologi Trakea Mencit Jantan Pascapaparan Asap Rokok Elektrik Wira, Amar; Winaya, Ida Bagus Oka; Adi, Anak Agung Ayu Mirah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.349 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.422

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan histopatologi trakea mencit (Mus musculus) jantan pascaterpapar asap rokok elektrik (vaping). Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok I (P0) sebagai kelompok kontrol yakni tanpa perlakuan pemaparan asap rokok elektronik dan kelompok II (P1) yang terdiri dari 12 ekor mencit adalah sebagai kelompok perlakuan yang diberi paparan asap rokok elektrik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan tiga kali pengambilan sampel minggu ke -1, 2 dan 3 pascaperlakuan. Masing-masing kelompok dikorbankan 4 ekor mencit pada setiap waktu pengamatan. Jaringan trakea diambil dan dimasukkan ke dalam pot yang telah diisi cairan netral buffer formalin 10%, jaringan trakea kemudian diproses untuk pembuatan preparat. Berdasarkan hasil analisis statistik perlakuan tidak berpengaruh nyata P>0,05, begitu pula lama pemaparan juga tidak berpengaruh nyata P>0,05. Hal ini kemungkinan dikarenakan terlalu singkatnya waktu pemaparan dan kandungan nikotin yang rendah pada rokok elektrik. Berdasarkan pengamatan histopatologi ketebalan mukosa trakea pada kelompok perlakuan lebih tebal dibandingkan dengan kelompok kontrol. Analisis statistik menunjukkan paparan asap rokok elektrik tidak berpengaruh terhadap ketebalan mukosa trakea, namun secara histologi paparan asap elektrik berpengaruh terhadap ketebaan mukosa trakea.
Perubahan Histopatologi Embrio Ayam Pascainokulasi dengan Avian Paramyxovirus Tipe-1 Isolat G1/AK/2014 Wijaya, Anak Agung Gede Oka; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Winaya, Ida Bagus Oka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.363 KB)

Abstract

Penyakit tetelo atau Newcastle disease (ND) adalah penyakit pada unggas yang disebabkan oleh virus dari familia Paramyxoviridae genus Avulavirus. Strain virulen menimbulkan gangguan pada sistem saraf, pencernaan dan pernafasan unggas, sementara pada embrio ayam infeksi menyebabkan gangguan pertumbuhan hingga menimbulkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari virus Avian Paramyxovirus Tipe-1 (APMV-1) isolat Gianyar-1/AK/2014 terhadap perubahan histopatologi embrio ayam. Penelitian ini menggunakan tujuh butir telur ayam berembrio (TAB) berumur 11 hari yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan yakni kelompok kontrol sebanyak dua butir dan kelompok infektif sebanyak lima butir. Kelompok kontrol diinokulasi dengan Phosphate Buffer Saline (PBS) dan kelompok infektif diinokulasi dengan isolat APMV-1 G1/AK/2014. Dilakukan pengamatan sampai embrio mati, lalu cairan alantois dikoleksi. Cairan alantois yang diperoleh diuji dengan uji hemaglutination assay (HA) dan hemaglutination inhibition (HI). Embrio ayam dinekropsi untuk diambil organ otak, paru-paru, usus, jantung dan hati dan dimasukkan ke dalam Neutral Buffer Formaline 10% (NBF), selanjutnya diproses lalu diwarnai dengan Hematoxilin Eosin (HE). Lesi histopatologi diamati di bawah mikroskop dan hasil pengamatan disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan isolat APMV-1 G1/AK/2014 dapat mematikan embrio 48 jam pascainokulasi serta menimbulkan perubahan histopatologi dominan berupa kongesti, edema, hemoragi, degenerasi, nekrosis, peradangan pada organ otak, paru-paru, jantung, hati dan usus embrio.
Prevalensi dan Identifikasi Protozoa Gastrointestinal pada Sapi Bali di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali Saputri, Megawati; Apsari, Ida Ayu Pasti; Oka, Ida Bagus Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.392 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.384

Abstract

Pemeliharaan sapi bali secara Sistem PertanianTerintegrasi dapat mengontrol kesehatan ternak serta diharapkan mampu mencegah/menekan serangan penyakit pada ternak sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan mengidentifikasi jenis protozoa gastrointestinal di Simantri Kecamatan Mengwi. Sampel yang digunakan adalah feses sapi bali yang masih segar berjumlah 105 sampel, yang berasal dari 21 Simantri di Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Pemeriksaan feses dilakukan dengan menggunakan metode pengapungan gula sheater serta identifikasi protozoa berdasarkan morfologi dan morfometri. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infeksi protozoa gastrointestinal pada sapi bali Simantri Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung yaitu sebesar 39,04%. Hasil identifikasi jenis protozoa yang menginfeksi sapi bali antara lain Coccidia sebesar 35,23%, Balantidium sp 7,61%, dan Entamoeba sp sebesar 2,85%. Tidak terdapat hubungan yang nyata (P>0,05) antara frekuensi kebersihan kandang dengan infeksi protozoa gastrointestinal.
Total Dan Diferensial Leukosit Sapi Bali Lepas Sapih yang Diberi Pakan Dengan Kandungan Protein dan Energi Berbeda Andini, Ni Putu Mega; Mahardika, I Gede; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.758 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.434

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan dengan kandungan protein dan energi berbeda terhadap total leukosit dan hitung jenis leukosit (neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit dan monosit) pada sapi bali lepas sapih. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel yang digunakan adalah sampel darah dari 12 ekor sapi bali lepas sapih. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian formula pakan A= PK 12% dan ME 2000 kkal/kg; B= PK 13% dan ME 2100 kkal/kg; C= PK 14% dan ME 2200 kkal/kg; D= PK 15% dan ME 2300 kkal/kg. Pemeriksaan leukosit dilakukan selama tiga kali di awal, pertengahan, dan akhir pemberian perlakuan. Pemeriksaan dengan cara otomatis menggunakan alat hematology analyzer. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pakan dengan kandungan protein dan energi yang berbeda tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap total dan diferensial leukosit, baik antar perlakuan maupun antar waktu pemeriksaan. Disimpulkan bahwa keempat formula pakan aman diberikan kepada sapi bali lepas sapih dan perlakuan A dinilai efektif dan efisien.
Kapsul Temulawak Meningkatkan Titer Antibodi pada Anak Anjing Kintamani Pascavaksinasi Rabies Sudira, I Wayan; Dewi, Putu Ayu Purbani Novia; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.997 KB)

Abstract

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Diperlukan pemberian bahan yang bersifat imunostimulator agar menghasilkan titer antibodi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pemberian kapsul temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) untuk meningkatkan titer antibodi pada anak anjing kintamani pascavaksinasi rabies. Penelitian ini menggunakan serum darah 25 anak anjing kintamani berumur 2-6 bulan, yang dibagi ke dalam lima perlakuan yang terdiri dari: P0 (kontrol), P1 (100 mg/kgBB/hari), P2 (200 mg/kgBB/hari), P3 (300 mg/kgBB/hari), dan P4 (400 mg/kgBB/hari). Pemberian kapsul temulawak satu kali sehari selama dua minggu. Pada hari ke-15 dilakukan vaksinasi dengan vaksin rabies Rabisin. Minggu ke-1 dan ke-2 pascavaksinasi dilakukan pengambilan darah. Pemeriksaan titer antibodi rabies dilakukan dengan Uji Enzim Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata titer antibodi yaitu 1,1 IU, 1,3 IU, dan 2,4 IU yang artinya pemberian kapsul temulawak dapat meningkatkan titer antibodi, tetapi tidak signifikan (P>0,05). Sedangkan waktu pengambilan darah berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap peningkatan titer antibodi pada dua minggu pascavaksinasi rabies.
Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Trichuris suis pada Babi yang Dipelihara di Tempat Pembuangan Akhir Denpasar Yoseph, Veronica Vriscilla; Dwinata, I Made; Oka, Ida Bagus Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.709 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.393

Abstract

Trichuris suis merupakan cacing nematoda yang predileksinya pada sekum babi. Cacing ini umumnya menginfeksi babi muda terutama yang berumur enam bulan. Dampak yang ditimbulkan dari penyakit ini bagi ternak babi diantaranya diare, gastritis, peritonitis, anoreksia, penurunan berat badan, kekurusan bahkan pada kasus berat dapat mengakibatkan kematian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi infeksi T. suis dan faktor risikonya pada babi yang dipelihara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar. Sampel penelitian yang digunakan adalah 100 sampel feses babi dan diperiksa menggunakan metode apung. Identifikasi jenis telur cacing T. suis berdasarkan morfologi. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif dan faktor resikonya dianalisis dengan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi T. suis pada babi di TPA Suwung, Denpasar adalah 55%. Jenis kelamin dan umur tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap prevalensi infeksi T. suis sedangkan jumlah babi per kandang berjumlah 1-4, 5-8 dan ? 9 ekor babi mempengaruhi prevalensi infeksi T. suis (P<0,05). Hasil penelitian ini menyediakan informasi dasar yang digunakan untuk pencegahan T. suis pada babi.
Prevalensi Infeksi Nematoda Gastrointestinal pada Sapi Bali di Lahan Basah dan Kering di Kabupaten Badung Ariawan, Kadek Yudha; Apsari, Ida Ayu Pasti; Dwinata, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.251 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.314

Abstract

Pemeliharaan sapi bali di Bali masih ada yang menggunakan sistem pemeliharaan semi intensif. Sapi yang dipelihara biasanya digembalakan pada lahan-lahan yang terbuka baik itu lahan basah (wetland) maupun lahan kering berkapur (dryland). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan jenis nematoda gastrointestinal sapi bali yang dipelihara secara semi intensif di daerah lahan basah dan kering berkapur di Kabupaten Badung, serta hubungan kondisi lahan suatu daerah terhadap prevalensi infeksi cacing nematoda gastrointestinal. Jumlah sampel yang digunakan adalah 182 feses sapi, dimana 75 sampel berasal dari lahan basah dan 107 sampel berasal dari lahan kering berkapur. Sampel diperiksa dengan menggunakan metode konsentrasi apung dengan zat pengapung gula Sheather. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi telur cacing. Prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal di Kabupaten Badung adalah 70,9% (129/182) dengan prevalensi di daerah lahan basah 73,3% (55/75) dan di daerah lahan kering 69,2% (74/107). Berdasarkan analisis dengan Chi-square, kondisi lahan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal. Jenis cacing nematoda gastrointestinal yang ditemukan adalah cacing tipe Strongyle 69,8% (127/182), Strongyloides papillosus 11,5% (21/182), Trichuris sp. 3,8% (7/182), Toxocara vitulorum 1,6% (3/182), dan Capillaria sp. 1,1% (2/182).
Fungi-fungi Penginfeksi pada Kulit Ular Peliharaan di Bali Prabawa, I Made Agus; Negara, I Nyoman Wisnu; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Arjentinia, I Putu Gede Yudhi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.955 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.442

Abstract

Ular termasuk hewan eksotik yang sering dijadikan hewan peliharaan. Permasalahan yang sering dijumpai dalam pemeliharaan ular adalah masalah kesehatan seperti infeksi fungi pada kulit ular. Infeksi fungi pada kulit ular dapat menyebabkan berbagai kerugian bahkan kematian pada ular. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis fungi yang dapat ditemukan pada kulit ular peliharaan. Penelitian ini dilakukan dengan mengoleksi sampel usapan kulit pada ular peliharaan. Sampel usapan kulit diambil dari 10 ekor ular peliharaan oleh pecinta reptil di Denpasar dan selanjutnya sampel usapan kulit dibiakkan pada media Sarbouraud Dextrose Agar (SDA) pada suhu 20-30ÂșC. Fungi yang telah tumbuh kemudian diidntifikasi secara makroskopis dan mikroskopis. Didapatkan hasil fungi dari genus Aspergillus, Candida, Curvularia, Mucor, dan Penicillium dari kesepuluh sampel. Simpulan dari penelitian ini adalah ditemukannya lima genus fungi pada kulit ular peliharaan di Bali.
Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis Menekan Histopatologi Hati dan Pankreas Mencit Jantan Yang Mendapat Imbuhan Monosodium Glutamat Aras, Fatmawati; Winaya, Ida Bagus Oka; Adi, Anak Agung Ayu Mirah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.172 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.354

Abstract

Tujuan penelitian iniuntuk membuktikan bahwa pemberian MSG (Monosodium Glutamate) dengan kombinasi ekstrak kulit manggis berpengaruh terhadap gambaran histopatologi organ hati dan pankreas. Penelitian ini menggunakan 27 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol tanpa perlakuan, kelompok perlakuan monosodium glutamate 1% (MSG) dan perlakuan kombinasi antara MSG 1% dengan ekstrak etanol kulit manggis 4,5% selama 30 hari, setelah mencit dikorbankan nyawanya, dieutansi dengan cara dislokasi servikalis, organ hati dan pankreas diambil dan di timbang indeks berat hati dan pancreas kemudian dimasukkan ke dalam pot yang telah diisi NBF 10% (Neutral buffered formalin) setelah diproses jaringan hati dan pankreas diwarnai dengan pewarnaan HE (hematoksilin eosin) dengan metode Keernan. Pemeriksaan secara histopatologi menunjukkan bahwa yang diberi MSG (Monosodium Glutamate) pada jaringan hati ditemukan degenerasi, nekrosis dan peradangan, pada jaringan pankreas ditemukan nekrosis dan peradangan, sedangkan yang diberi perlakuan kombinasi antara MSG (Monosodium Glutamate) dan ekstrak etanol kulit manggis pada jaringan hati ditemukan degenerasi dan nekrosis, pada jaringan pankreas masih ditemukan degenerasi dan nekrosis pada jumlah yang sedikit. Kemudian dilakukan scoring pada gambaran histologi yaitu, jika tidak ditemukan perubahan baik degenerasi lemak, nekrosis dan peradangan skor = 0, jika ditemukan perubahan skor = 1, jika ditemukan perubahan yang bersifat fokal skor = 2, jika ditemukan perubahan yang bersifat multifocal = 3, jika ditemukan perubahan bersifat difusa = 4. Hasil sidik ragam perubahan pada jaringan hati dan pankreas menunjukkan perbedaan signifikan (P<0,05) antara perlakuan MSG dan kontrol, namun tidak berbeda nyata (P>0,05) antara perlakuan kombinasi MSG dan ekstrak etanol kulit manggis dengan perlakuan control. Sehingga pemberian MSG berpengruh terhadap perubahan histopatologi hati dan pancreas, dan kombinasi dengan pemberian ekstrak kulit manggis, membantu mencegah keruskan yang lebih parah akibat MSG
Perubahan Histopatologi Paru-paru Mencit Jantan Pascapaparan Asap Rokok Elektrik Sartika, Nola Alfieni; Winaya, Ida Bagus Oka; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Putra, I Putu Werdikta Jayantika
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.119 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan histopatologi parenkim paru-paru mencit (Mus musculus) jantan pascapaparan asap rokok elektrik (vaping). Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok I (P0) sebagai kelompok kontrol yakni tanpa perlakuan pemaparan asap rokok elektrik dan kelompok II (P1) yang terdiri dari 12 ekor mencit adalah sebagai kelompok perlakuan yang diberi paparan asap rokok elektrik selama 30 menit setiap hari dengan kadar nikotin 6 mg. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan tiga kali pengambilan sampel minggu ke -1, -2 dan -3 pasca perlakuan. Hasil yang diperoleh secara deskriptif pada pengamatan terdapat perubahan histopatologis yaitu degenerasi dan nekrosis sel pneumosit tipe I dan proliferasi sel pneumosit tipe II pada kelompok perlakuan. Dari analisis sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P<0.05) antara kontrol dan perlakuan sedangkan terhadap waktu atau lamanya paparan (P>0.05) tidak berpengaruh nyata. Dapat disimpulkan bahwa paparan asap rokok elektrik dapat menimbulkan degenerasi dan nekrosis sel pneumosit tipe I dan proliferasi sel pneumosit tipe II pada kelompok perlakuan serta meningkatkan ketebalan septa alveoli.

Page 1 of 2 | Total Record : 15