cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FKIP e-PROCEEDING
Published by Universitas Jember
ISSN : 25275917     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 64 Documents
Search results for , issue "2017: SEMINAR NASIONAL " : 64 Documents clear
KEBERADAAN SASTRA „HANYA‟ UNTUK MENDUKUNG MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KURIKULUM 2013 (Sebuah Telaah Materi Teks Cerita Pendek dalam Buku Bahasa Indonesia, Ekspresi Diri dan Akademik untuk Kelas XI SMA, Semester 1) Elfi Mariatul Mahmuda
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak Kurikulum 2013 diberlakukan pembelajaran bahasa Indonesia menerapkan pendekatan saintifik. Di samping itu bahasa Indonesia pun diajarkan dengan berbasis teks. Pada jenjang SMA ada tiga teks bermateri sastra dari 15 yang di ajarkan, yaitu cerita pendek, teks pantun, dan teks cerita fiksi dalam novel. Ketiga teks sastra itu dipelajari berdasarkan struktur teks dan kaidah kebahasaannya. Dengan demikian tidak ada lagi pembelajaran khusus sastra karena materi ini menjadi bagian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ini berarti teks-teks sastra itu ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa bukan terhadap sastra. Bahasa sastra dengan nonsastra memiliki perbedaan sehingga dalam pembelajarannya pun akan memiliki strategi yang berbeda pula. Ini sebuah fenomena yang menarik karena dalam Kurikulum 2013 semua mata pelajaran menggunakan pendekatan saintifik dalam pembelajarannya. Dengan pendekatan kualitatif peneliti mengkaji bagaimana bahan pembelajaran sastra khususnya teks cerita pendek dijabarkan dalam buku berbasis Kurikulum 2013 diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, berjudul Bahasa Indonesia, Ekspresi Diri dan Akademik untuk SMA, Kelas XI Semester 1. Dengan menelaah materi teks sastra pada buku ini, akan diperoleh alternatif pembelajaran sastra khususnya teks cerita pendek di SMA.Kata Kunci: kurikulum 2013, pendekatan saintifik, pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks, sastra, cerpen
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING: PENEGUH PERSATUAN ATAS KEBINEKAAN INDONESIA Hidayat Widiyanto
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akhir-akhir ini situasi kebangsaan di Indonesia terusik. Hakikat Indonesia sebagai bangsa yang berbineka, yang sudah lama sebagai jati diri bangsa, banyak dibicarakan kembali. Kedewasaan masyarakat Indonesia dengan pesatnya laju teknologi informasi dan komunikasi juga diuji. Melalui media sosial, informasi yang beredar begitu mudah ditanggapi secara kontraproduktif. Di sisi lain pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) saat ini menunjukkan geliat yang semakin positif. Dalam konteks kehidupan berbangsa, pembelajaran BIPA memiliki potensi yang baik dalam membantu memperteguh persatuan Indonesia. Begitu juga, kekuatan kebinekaan yang terawat dengan baik tentu akan membantu pengembangan pembelajaran BIPA. Tujuan makalah ini adalah untuk melihat pembelajaran BIPA dalam kaitannya sebagai peneguh persatuan Indonesia yang saat ini sedang banyak dibicarakan kembali. Teori yang digunakan adalah bahasa sebagai fondasi nasionalisme. Dalam makalah ini akan dideskripsikan secara analitis kaitan antara pembelajaran BIPA dan persatuan Indonesia dalam fenomena saat ini.Kata Kunci: pembelajaran BIPA, kebinekaan, persatuan
DALAM KURIKULUM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) DI INDONESIA Emy Rizta Kusuma; Asri Ismail Ismail
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurikulum merupakan salah satu perangkat pembelajaran yang sangat penting di Indonesia. Kurikulum menjadi acuan dalam kegiatan pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Kurikulum dalam pembelajaran BIPA bertujuan agar tujuan dari pembelajaran BIPA dapat terwujud secara sistematis dan teratur. Akan tetapi, sampai saat ini kurikulum BIPA di Indonesia masih belum jelas. Padahal, Pusat Pembinaan dan Pelayanan Bahasa telah merumuskan kurukulum BIPA secara nasional. Adanya ketidakjelasan kurikulum tersebut tentunya menjadi masalah dalam pembelajaran BIPA. Kajian ini membahas lebih lanjut tentang karut-marut kurikulum BIPA di Indonesia dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Kajian ini bertujuan untuk meminimalisir dampak dari karut-marut kurikukulum BIPA di Indonesia yang masih belum jelas.Kata kunci : BIPA, kurikulum BIPA, pembelajaran BIPA
JEJAK PESONA PANTUN DI DUNIA (Suatu Tinjauan Diakronik-Komparatif) Fitri Nura Murti
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantun dikenal sebagai sastra lama nusantara yang khas dengan ketatnya aturan bentuk-rima yang disenandungkan. Dahulu, pantun banyak tertulis dalam manuskrip sejarah Melayu dan terdapat dalam puisi rakyat, syair, serta seloka. Pantun juga termanifestasikan dalam ungkapan tradisional seperti teka-teki, petuah, dan pemanis komunikasi. Pantun tidak lain sebuah cerminan kecerdasan sekaligus kebijaksanaan (genius local wisdom) masyarakat nusantara yang terefleksikan melalui keahlian berbahasa dan bersastra. Kecerdasan, kebijaksanaan, keteraturan, dan harmoni pada pantun telah mencuri perhatian peneliti dari berbagai negara seperti William Marsden, Victor Hugo, Renè Daille, dsb. yang secara eksplisit mengungkapkan kekaguman mereka terhadap pantun. Dengan prinsip peniruan dan terjemahan, pantun mulai dipelajari dan diaplikasikan dalam berbagai bahasa, yakni bahasa Inggris, Spanyol, Perancis, Belanda, Rusia, dan Jerman. Melalui jalan itu, pantun telah menyebar dan berkembang di beberapa negara Eropa dan Amerika. Makalah ini memaparkan perkembangan pantun dari masa ke masa dan kecenderungannya dalam berbagai bahasa ditinjau menggunakan pendekatan diakronik-komparatif dengan analisis struktur. Melalui kertas kerja ini, kebanggaan terhadap pantun ditumbuhkan kembali dengan mengetahui kelebihan dan pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia. Dengan jalan demikian, upaya pembudayaan pantun‒sebagai karakter budaya bangsa–yang justru perlu dilakukan dalam lingkup lokal-nasional, memiliki harapan yang lebih menjanjikan. Kata Kunci: perkembangan pantun, karya di dunia
BAHASA CERMIN BUDAYA PERILAKU Muji Muji
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini kasus populer yang terjadi di Indonesia adalah penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar. Meskipun sudah ada undang-undang yang mengaturnya, pengguna Bahasa Indonesia tidak mau tahu tentang itu. Akibatnya, Bahasa Indonesia yang dikomunikasikan ada yang dinilai mengandung maksud menistakan, mempolitisi, membohongi, menjatuhkan jati diri, tidak menunjukan kepribadian, dan memecah belah bangsa yang bhineka tunggal ika. Hasil kajian penelitian yang dapat dikemukakan adalah pemaknaan maksud penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar, karena penyikapan dengan berbagai penafsiran. Perilaku ini terjadi, disebabkan oleh pengguna bahasa berfikir dirinya „merasa bisa, bukan bisa merasa‟. Akibat, menganggap dirinya serba dapat, serba mampu, serba kuasa, serba lebih dari yang lain, serba bebas berpendapat, dan semacamnya, maka muncul aneka perilaku berbahasa yang berterima dan tidak berterima. Pemikiran pro dan kontra itu ada, itu wajar terjadi, tetapi perbedaan ini tidak penting menjadi sebab timbulnya benturan fisik dan psikis yang tidak sehat. Kejadian ini diketahui ketika isi pikiran ini sudah dibahasakan, sebelum diaktualisasikan dalam bentuk bahasa tidak mudah diketahui. Contoh apakah setiap pengguna Bahasa Indonesia memaknai maksud pernyataan, “Peringatan merokok membunuhmu” ini pasti sama? Maksud makna pernyataan ini dapat membuka peluang munculnya pertanyaan, “Perlukah penggunaan bahasa yang baik dan benar dibuatkan kaidah yang baku?” “Bagaimanakah isi rumusan kaidah berbahasa yang dimaksud?” “Adakah tolok ukur ini dasar hukumnya? "Seberapa kualitas mutu dasar hukum yang dipedomani ini?” Berdasarkan permasalahan ini kegiatan penelitian yang dilakukan memilih judul Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Komunikasi di Masyarakat. Konstribusi temuan penelitian, hasil penelitian digunakan untuk sumber bahan ajar buku Bahasa Indonesia yang berjudul Bahasa Cermin Budaya Perilaku.  Kata Kunci: Bahasa, Budaya, Karakter      
PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI Ypsi Soeria Soemantri
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam era globalisasi ini, media sosial di dunia berkembang dengan sangat pesat, informasi dari dunia global sangat mudah ditangkap oleh media sosial di dalam negeri. Pelajar-pelajar Indonesia akan menerima informasi global dari berbagai media,terutama dari internet dan televisi. Masuknya film-film dari budaya asing seperti Jepang, Korea, Amerika Serikat, Rusia dan lain-lain akan memberikan dampak negatif pada pelajar-pelajar Indonesia. Pembentukan karakter pelajar-pelajar Indonesia selayaknya diperoleh dari karya-karya yang diciptakan oleh pengarang Indonesia dengan budaya Indonesia, sehingga anak-anak Indonesia menghargai budaya dan karakter bangsanya. Para pelajar Indonesia, terutama di sekolah menengah mendapatkan pelajaran kesusastraan Bahasa Indonesia, namun apakah cukup seimbang dengan budaya asing yang masuk melalui media sosial. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan ciri-ciri pendidikan karakter melalui karya sastra yang perlu diterapkan di Indonesia di era globalisasi ini dan mendeskripsikan strategi yang digunakan dalam mengajarkan pendidikan karakter pada pelajar di Indonesia. Teori yang digunakan adalah teori dari Prof Nyoman Kutha Ratna (2014) dan Rahyono (2015). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif-analisis. Sumber data diambil dari buku-buku Sastra Indonesia yang digunakan di sekolah menengah dan dari internet.Kata Kunci: Pendidikan karakter, Sastra Indonesia, Media Sosial, Pelajar, Era Globalisasi
ASPEK “KESASTRAAN” DALAM KURIKULUM BAHASA INDONESIA: SEJUMLAH PROBLEMATIKA TERSTRUKTUR Udjang Pr. M. Basir
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya sastra merupakan hasil kontemplasi terdalam sastrawan tentang hidup dan kehidupan.  Dengan ketajaman imajinasinya, potret kehidupan itu dielaborasi secara natural dalam roman, novel, puisi, dan lain sebagainya sehingga tersaji bagaikan gambaran nyata yang konkrit dan membius pembacanya. Belajar sastra secara baik dapat mencerdaskan pembaca. Segala hal ihwal pengalaman hidup dapat digali secara kritis dan kreatif. Dan hal itu merupakan misi utama pembelajaran sastra yang perlu dikembangkan guru sastra. Dengan keterbatasan kemampuan guru dan alokasi waktu perlu pemikiran bagi pengampu dan perancang kurikulum untuk menentukan visi dan misi arah pengajaran sastra secara terarah, terukur, dan benar. Dengan kurikulum 2013 yang disempurnakan, guru memiliki peluang yang cukup luas untuk berkreasi bagaimana meningkatkan etos pembelajaran sastra yang menarik dan kondusif. Salah satu model yang dapat dikembangkan adalah dengan pendekatan prioritas, proses seleksi materi yang disesuaikan dengan kondisi kepentingan pembelajar, dan tugas yang terukur, menyenangkan,  serta terkontrol. Kata Kunci: Aspek kesastraan, kurikulum bahasa Indonesia, dan problematika tersruktur.     
LITERASI PRODUKTIF BERBASIS IT (Mencipta Aplikasi Berbahasa Indonesia Pembawa Pengetahuan) Mohammad Hairul
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belajar bahasa karena ada sesuatu yang dikehendaki. Satu diantaranya untuk memeroleh pengetahuan. Apabila ada sesuatu berbahasa Indonesia yang membawa pengetahuan baru, maka bahasa Indonesia akan menarik dipelajari. Dibutuhkan sesuatu berbahasa Indonesia yang membawa pengetahuan agar masyarakat Internasional tertarik mempelajari bahasa Indonesia. Seiring budaya literasi beralih dari cetak ke digital, from print to screen sebagai penanda era digital, dunia pendidikan melalui transfer pengetahuan di sekolah juga saatnya berupa pembelajaran abad ke-21. Suatu pembelajaran yang mengakrabkan pembelajar untuk mendapatkan pengetahuan dengan perantara teknologi. Literasi produktif berbasis IT mutlak dibutuhkan bagi guru. Perpaduan keterampilan literasi dan penggunaan IT akan membantu guru menghasilkan inovasi berupa aplikasi pembelajaran pembawa pengetahuan berbahasa Indonesia. Makalah ini mendeskripsikan apa, mengapa, dan bagaimana literasi produktif berbasis IT. Literasi produktif dimaknai sebagai aktivitas memproduksi huruf melalui aktivitas menulis untuk memberikan keterpahaman-pengetahuan. Literasi produktif berbasis IT dimaksudkan untuk merevolusi mental guru dari penerima pengetahuan menjadi pemproduksi pengetahuan berbahasa Indonesia di era digital. Wujud gerakan untuk menggiatkan literasi produktif berbasis IT bagi guru antara lain, Sagusatab (satu guru satu tablet), Sagusamik (satu guru satu komik), Sagusablog (satu guru satu blog), Sagusanov (satu guru satu inovasi), Sagusaku (satu guru satu buku), dan Sagusakti (satu guru satu KTI).Kata Kunci: Literasi Produktif, Berbasis IT, Pembelajaran Digital.
ARAH PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA BERBASIS INDUSTRI KREATIF DAN INDUSTRI BUDAYA DI ERA GLOBAL Ahmad Syukron
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak tahun 2009, pemerintah Indonesia mencanangkan bahwa Indonesia menuju visi ekonomi kreatif Indonesia 2025. Dalam konteks tersebut, stakeholder di bidang pendidikan patut berpikir untuk menjadikan pendidikan menjadi salah satu basis penopang melalui pengembangan pembelajaran berbasis industri kreatif. Selain itu, pengembangan ini perlu disinergikan dengan kearifan lokal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan berpotensi untuk dikemas menjadi culture industries. Selanjutnya, pada level satuan pendidikan, capaian kompetensi hendaknya bermuara pada penguasaan hardskill dan softskill dalam koridor penguatan industri kreatif. Lebih khusus, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) yang berposisi sebagai mata pelajaran penghela dalam struktur kurikulum saat ini. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan paparan yang menggambarkan pengembangan PBSI berbasis industri kreatif dan industri budaya di era global. Paparan berfokus pada arah pengembangan PBSI yang berpijak pada kajian yang bersifat analitis-prediktif. Hasil kajian ini diharapkan mampu menjadi khasanah untuk mengembangkan ide serupa dan mengimplementasikannya di berbagai daerah Indonesia. Kata Kunci: pembelajaran, industri kreatif, industri budaya, era global 
PERIBAHASA (SESENGGAQ) SASAK SEBAGAI SASTRA DAERAH MASYARAKAT SASAK PULAU LOMBOK (Kajian Semiotik Kultural) Dian Aprila Diniarti
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang hendak dikaji dalam penelitian ini adalah bentuk dan makna tanda yang terdapat dalam sesenggaq Sasak. Di dalam sesenggaq, terdapat banyak tanda atau simbol yang digunakan. Tanda atau simbol tersebut memiliki makna tersirat yang bagi sebagian orang terutama generasi muda tidak paham akan makna yang terkandung di dalamnya, karena generasi muda zaman sekarang lebih mengedepankan budaya dan sastra barat daripada melestarikan sastra daerah yang merupakan kekayaan bangsa sendiri. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan makna tanda yang terdapat dalam sesenggaq Sasak, sehingga para generasi muda masyarakat Sasak memahami makna yang terkandung di dalam sesenggaq tersebut dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Landasan teori yang dianggap relevan dalam mengkaji masalah ini adalah teori mitologi yang bersumber dari Roland Barthes serta pendekatan semiotik kultural. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi dan wawancara. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, hasil penelitian yang ditemukan berupa bentuk sintaksis yang terdiri atas frasa nominal, frasa verbal, dan frasa adjektival serta ditemukan pula makna tanda yang terkandung dalam setiap sesenggaq Sasak adalah makna denotasi dan makna konotasi.Kata Kunci: semiotik kultural, sesenggaq Sasak.