cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hartono_sukorejo@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Catharsis
ISSN : 25024531     EISSN : 25024531     DOI : -
Catharsis: Journal of Arts Education provides an international forum for research in the field of the art and creative education. It is the primary source for the dissemination of independently refereed articles about the visual arts, performances (music, dance, drama/theater/play), creative process, crafts, design, and art history, in all aspects, phases and types of education contexts and learning situations (formal and informal).
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2015)" : 16 Documents clear
PERKEMBANGAN BENTUK TOPENG BARONGAN DALAM RITUAL MURWAKALA DI KABUPATEN BLORA Pambudi, Fivin Bagus Septiya; Iswidayati, Sri; Supriyanto, Teguh
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual Murwakala ini merupakan ritual ruwatan yaitu ngruwat wong sukerta. Rumusan masalah penelitian ini (1) Bagaimanakah perkembangan bentuk topeng Barongan Blora yang digunakan dalam ritual Murwakala (2) Bagaimanakah fungsi topeng Barongan yang digunakan dalam ritual Murwakala (3) Bagaimana makna dalam tiap bentuk perkembangan topeng Barongan yang digunakan dalam ritual Murwakala. Tujuan penelitian ini (1) Untuk mengetahui dan menjelaskan perkembangan bentuk topeng barongan Blora dalam ritual Murwakala (2) Untuk mengetahui dan menjelaskan fungsi topeng Barongan dalam ritual Murwakala (3) Untuk mengetahui dan menjelaskan makna dalam tiap bentuk perkembangan topeng Barongan dalam ritual Murwakala. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, mengumpulkan data (1) Observasi mengamati terhadap pertunjukan Barongan (2) wawancara yaitu dengan mewawancarai seniman Barongan Blora, Pawang barongan, dan tokoh Blora (3) Data dokumen yang didapat berupa dokumentasi arsip kebudayaan yang ada di kota Blora. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu perkembangan bentuk topeng barongan blora yaitu sebelum kemerdekaan sampai 1945, setelah kemerdekan sampai orde lama, orde  baru – reformasi, periode reformasi - tahun 2009, 2010 sampai sekarang. Fungsi Barongan Blora yaitu, Barongan murni sebagai sarana ritual Murwakala, Barongan dalam ritual Murwakala Pertunjukan Panggung. Saran Mengembangkan kesenian daerah khusunya kesenian topeng Barongan di kabupaten Blora bisa berkembang dan dalam hal pelestarian seni tradisi.Ritual murwakala is ritual ruwatan namely ngruwat wong sukerta. The formulation of the research 1) how the development of the mask barongan Blora used in ritual murwakala 2) how function mask barongan used in ritual murwakala 3) how meaning in every the development of a mask barongan used in ritual murwakala .The purpose of this research is 1) to know and explain the development of the mask barongan in ritual murwakala 2) to know and explain function mask barongan on rites murwakala 3) to review and explain the meaning of for the development of a mask barongan in ritual murwakala. This research using the qualitative method ,while to collect the data done by 1) observation 2) interview 3) data on documents. The results in this research that is the development of the form of a mask barongan Blora occurring in some the period that is the period before independence until 1945,after independence until order lama,new order to reform,tahun2009 reform,2010 until now.Function mask barongan blora on rites murwakala that is as a means of ritual murwakala and as a stage performance.Function barongan blora namely , pure barongan as a means of a ritual murwakala, barongan on rites murwakala a stage performance.
PENDIDIKAN DAMAI DALAM PEMBELAJARAN VOKAL BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER PADA PADUAN SUARA SUNADESIS DI MALUKU Pattipeilohy, Misye
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter merupakan salah satu faktor yang dapat menciptakan perdamaian karena manusia banyak belajar untuk menuju perubahan yang lebih baik. Salah satu bentuk pendidikan nonformal yang dipilih oleh peneliti untuk pembentukan  karakter adalah paduan Suara Sunadesis melalui  penggunaan metode hukuman, hadiah, dan metode outbound dalam pembelajarannya. Tujuan dari penelitian ini adalah pertama, menganalisis pendidikan damai dalam membentuk teknik  vokal dan mendidik karakter individual paduan suara Sunadesis; kedua,  menemukan nilai-nilai pendidikan dalam pembelajaran vokal paduan suara Sunadesis. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan kriteria derajat kepercayaan yaitu perpanjangan keikutsertaan dan triangulasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan simpulan/verifikasi teori. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendidikan damai melalui metode  hukuman dan outbound dapat membentuk teknik bernyanyi, diantaranya adalah pernapasan, resonansi, dan register. Sedangkan untuk karakter individual, mampu mendidik karakter religius, disiplin, hormat, jujur dan bertanggung jawab. Motivasi melalui hadiah merupakan bentuk penghargaan kepada anggota paduan suara yang mengalami  perkembangan karakter vokal dan karakter individual. Dengan adanya perubahan-perubahan yang terjadi melalui metode dalam pendidikan damai maka dapat menemukan nilai-nilai agama, budaya, moral dan estetika untuk  menciptakan perdamaian dalam hubungannya dengan Tuhan, sesame, dan lingkungan alam.Character education is one factor to create peace since human being learn a lot to lead to a better change. One of non-formal education forms which is chosen by researcher to build character is Sunadesis choir through making use of punishment and reward method and outbound method in its learning. The aims of this research are: (1) to analyse peace education to shape vocal technique and to educate Sunadesis choir’s individual character; (2) to find out education values in learning vocal of Sunadesis choir. This study uses qualitative method. The data collection technique used is observation, interview and document study. The data reliability used extended participation, thorough observation, and triangulation. Technique of data analysis which is data reduction, data presentation, and conclusion/verification of theory. The result of this study shows that peace education through punishment and reward method can create singing techniques such as respiration, resonance, and register. Whereas for individual character is to able to teach character value especially religious character, discipline, respect and responsible. Motivation through rewards is appreciation to the members of the choir who experienced vocal character development and individual character.
ESTETIKA DAN SIMBOL DALAM WUWUNGAN MAYONGLOR SEBAGAI WUJUD SPIRITUAL MASYARAKAT Darmawanto, Eko
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wuwungan merupakan bentuk simbol yang mewakili sebuah maksud yang ingin wujudkan melalui material baik bersifat aplikatif ataupun bersifat murni estetis. Bentuk yang terangkum dalam wuwungan merupakan salah satu wujud yang merepresentasikan hal tersebut akan tetapi masih banyak kajian yang harus ditelusuri terlebih karya wuwungan merupakan bentuk yang merepresentasikan percampuran budaya. Pola konstruksi, bentuk serta implementatif terhadap atap bangunan adalah sistem yang perlu dibedah, dikaji dan dikomparasikan sebagai wujud untuk mengetahui seberapa jauh terkait antara unsur spritual, masyarakat dan pengguna wuwungan. Kualitatif merupakan metode yang peneliti gunakan dengan pendekatan formalitas yang melihat sosok sebagai fokus utamanya. Wuwungan Mayonglor merupakan gambaran kreasi imajinatif dari alam pikiran tidak sadar dan dituangkan dengan bentuk simbol dengan mengusung estetis dimana keindahan bersifat terpusat atau berakar dari tuhan penyatuan antara makrokosmos dan mikrokosmos atau salah satu diantaranya sebagai wujud ungkapan spiritual masyarakatnya.Wuwungan are symbols that represent a purpose to be realized trough both object are aplicable and are purely aesthetic. form are summarized in wuwungan is one of manifestation are display it, but still many of studies should explore first to know wuwungan is a form that represents the meaning of culture.patern of shape and construction of the building are implementable system that need to be studied and dissected olso compare as form to find out how much related between the spiritual element of the wuwungan user and society. Kualitatif research is a method used with formalities approach to see form as the main focus. Mayonglor wuwungan is an overview of imaginative creation of the mind is unconscious and poured symbolic form of engagement with the lifting aestetic where beauty is centralized or rooted in divine union of the macrocosm and micrososm or one of them as form of spiritual expresison society.
HASIL KARYA CIPTA LAGU ANAK-ANAK DI KALANGAN GURU TAMAN KANAK-KANAK ISLAM AL-AZHAR 14 SEMARANG Widowati, Retno
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lagu anak-anak yang populer dan atau tersebar luas di masyarakat saat ini, kebanyakan  tidak sesuai dengan karakter anak-anak, sehingga guru TK dituntut dapat menciptakan lagu. Rumusan masalahnya adalah (1) bagaimanakah kesesuaian hasil karya cipta lagu anak guru guru TK Islam Al-Azhar 14 Semarang dilihat dari bentuk musikologi meliputi melodi, irama, syair, dan akord? (2) Bagaimanakah kreativitas hasil karya cipta lagu guru TK Islam Al-Azhar 14 Semarang dilihat dari sifat dan faktor intrinsik ekstrinsik  kreativitas ? Metode dan pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Hasil pembahasan dalam penelitian ini adalah karya lagu ciptaan guru TK Islam Al-Azhar 14 Semarang dilihat dari segi syair,  melodi,  akord dan irama sudah sesuai dengan tema pembelajaran dan karakteristik anak. Kreativitas guru mencipta lagu juga didukung oleh kelancaran menemukan nada, pengetahuan dan pengalaman tentang lagu anak-anak yang menjadikan guru mampu menganalogi  dalam mencipta lagu. Kelancaran, keluwesan dan keaslian berpikir dipengaruhi oleh faktor instrinsik dan ekstrinsik.Children's songs are widespread, not fully understood by the kindergarten teacher. A popular children's songs don’t fit with the character of the children, so that kindergarten teachers are required to create a song. The formulation is (1) how the suitability of the work of children's songwriting teacher kindergarten teacher Islam Al-Azhar 14 Semarang seen from the musicology include melody, rhythm, lyrics, and chords? (2) How does creativity work of kindergarten teachers songwriting Islamic Al-Azhar 14 Semarang views of factors of creativity? The methods and approach used is qualitative research. Results of the discussion in this study was the work of a song written by a kindergarten teacher Islam Al-Azhar 14 Semarang in terms of lyrics, melodies, chords and rhythms are in accordance with the theme of learning and child characteristics. Fluency, flexibility and originality of thought is influenced by intrinsic and extrinsic factors.Suggestions are (1) the creativity of creating songs should be tried by Mrs. teacher institute kindergarten others, (2) providing training create songs for kindergarten teachers, in order to be able to create songs with properly and immediately be able to write notes to the notation numbers , so that they can make their own song sheet music.
NILAI BUDI PEKERTI PADA RAGAM GERAK TARI TOPENG LANYAPAN ALUS KABUPATEN TEGAL Putriningtyas, Irchami; Lestari, Wahyu; Hartono, Hartono
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari topeng Lanyapan Alus dilatarbelakangi oleh nilai-nilai budi pekerti, moral serta budaya yang berlaku di desa Salarang Lor. Masalah penelitian pertama strukrur ragam gerak tari Topeng Lanyapan Alus. Kedua, nilai budi pekerti yang terkandung pada ragam gerak tari Topeng Lanyapan Alus. Ketiga relevansi ragam gerak tari Topeng Lanyapan Alus terhadap nilai budi pekerti. Pendekatan dalam penelitian ini adalah interdisiplin dengan melibatkan koreografi sebagai materi yang dikaji dengan disiplin ilmu budaya atau antropologi. Metode kualitatif. Lokasi penelitian di desa Slarang Lor. Teknik pengumpulan menggunakan trianggulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data interaktif. Hasil penelitian pertama, struktur ragam gerak tari Topeng Lanyapan Alus memiliki 102 motif, 23 frase, 9 kalimat, dan 3 gugus. Kedua, nilai budi pekerti yang ditemukan yaitu sabar, ikhlas, jujur, dan memetri. Ketiga, relevansi ragam gerak lontang yaitu menjalani hidup dengan selalu menerima atas kehendak Tuhan, relevansi ragam gerak entrakan yaitu mampu menerima dengan hati lapang, relevansi ragam gerak ipit-ipit yaitu hidup dengan selalu menegakan kebenaran dan keadilan, dan relevansi ragam gerak geyol yaitu menjalani hidup dengan selalu menjaga yang dimiliki. Saran dari penelitian ini, perlu adanya pementasan rutin tari Topeng Lanyapan Alus yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Tegal, agar tari Topeng Lanyapan Alus tetap lestari.Mask dance Lanyapan Alus background by manners values, moral and cultural applicable in the village Salarang Lor. The raised first structure of motion mask dance Lanyapan Alus. Second, manners values are contained in of motion mask dance Lanyapan Alus. Third, the relevance of motion dance masks Lanyapan Alus against the value of manners. The approach is interdisciplinary, involving choreography as by cultural or anthropological disciplines. The method is qualitative. Location research in the Slarang Lor,. The data techniques using triangulation. Data analysis technique data analysis. The results show: first, the structure of motion dance masks Lanyapan Alus has 102 motif, 23movement phrases, 9 sentences, and 3 groups. Second, the value of manners that found that patient, sincere, honest, and memetri. Third, the relevance of motion lontang namely through life always accept the will of God, relevance entrakan motion that is able to receive with open heart, relevance ipit-ipit of motion which is living with the always uphold truth and justice, and the relevance geyol of motion that live by always keeping owned. Suggestions from this study, the need for routine staging Lanyapan Alus mask dance organized by the Department of Culture Tegal regency, so dance masks Lanyapan Alus remain stable.
PERTUNJUKAN KESENIAN PATHOL SARANG DI KABUPATEN REMBANG Kinesti, Rakanita Dyah Ayu; Lestari, Wahyu; Hartono, Hartono
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Pathol Sarang adalah kesenian tradisional yang sampai saat ini masih eksis di masyarakat Rembang. Interaksi dalam kesenian Pathol Sarang yang terjadi bukan lagi sebatas dialog, namun terjadi kontak fisik antar pemain dengan pemain. Keunikan kesenian Pathol Sarang juga terletak pada jenis pertunjukan yang tidak semestinya seperti pertunjukan lain. Pertunjukan yang dipentaskan di pinggir laut dan dimainkan oleh para nelayan. Tujuan penelitian adalah mendiskripsikan bentuk pertunjukan kesenian Pathol Sarang dan menganalisis proses interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Hasil penelitian yang pertama adalah bentuk kesenian Pathol Sarang yang ditinjau dari pelaku seni yang semua berjenis kelamin laki-laki mempunyai gerak murni dan maknawi yang berias tanpa make up dan berbusana memakai baju hitam dan celana hitam dengan ikat kepala dan property berupa udhet. Interaksi yang ditemukan adalah interaksi yang terjadi antar pemain dan pemain, pemain dengan penonton. Interaksi yang terjadi antar pemain dan pemain adalah kontak fisik yaitu dengan saling merangkul posisi kaki kuda-kuda dan saling mendorong untuk bergulat, interaksi yang terjadi antar pemain dan penonton adalah komunikasi sebelum bertanding pelandang(wasit) mencari lawan untuk pemain(pathol) yang bertanding diambil dari penonton. Saran untuk seniman, gerakan Pathol Sarang lebih dikembangkan lagi dengan menambahkan tarian pembuka sebelum pertunjukan dimulai.Art pathol sarang is traditional art that until now still exist in the community Rembang. Art pathol sarang is an entertainment media, as the show and as a social interaction .Interaction in the arts pathol sarang that there is no longer only dialogue , but occurring physical contact between the player with the players. Uniqueness of art pathol nest also located on the type of show undue as other performances. Show was staged in the outskirts of the sea and played by the fishermen . The purpose of research is description the form of art performances pathol sarang and analyze the process of social interaction. This study using a qualitative approach that produces data descriptive. The results of research first is the form of art pathol a nest that in terms of an art of which all of the male sex have motion pure and meaningful who berias without makeup and dressing wear a black and black pants by a headband and property in the form of udhet. The interaction that to find is the interaction that happened between players and players, a player with a spectator. The interaction that happened between players and players is physical contact namely by mutual embrace the position of the legs horses and pushing to grapple, the interaction that happened between players and the spectators is communication before competed pelandang (the referee) seeking opposed to a performer (pathol) competed taken from the audience. Advice for artists, movement pathol the nest more developed by adding opening dance before the show began.
TARI OLEG TAMULILINGAN GAYA PELIATAN KARYA I GUSTI AYU RAKA RASMI: KREATIVITAS GARAP DAN PEMBELAJARANNYA Paramityaningrum, Ni Komang Tri; Hartono, Hartono; Lestari, Wahyu
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Oleg Tamulilingan gaya Peliatan adalah sebuah karya seni yang diciptakan oleh I Gusti Ayu Raka Rasmi. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan struktur, kreativitas garap dan proses pembelajaran tari Oleg Tamulilingan gaya Peliatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model analisis data interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian adalah; (1) Ada tiga struktur tari Oleg Tamulilingan gaya Peliatan seperti papeson, pengawak,dan pekaad; (2) Kreativitas ragam gerak meliputi lima perubahan seperti angsel kado menjadi miles, nyerere menjadi luk nerudut, nyeregseg ngider menjadi nyeregseg meplincer, meipuk-meipuk menjadi mearas-aras, dan nyakup bawa. Kreativitas tata busana dapat diwujudkan dalam bentuk kamen, sabuk prada, oncer, ampok-ampok, tutup dada, gelang kana, badong lanying, gelungan dan udeng. Tata rias wajah meliputi penggunaan eyeshadow yang mencolok dan tidak menggunakan kecek/titik putih di bagian dahi/srinata; (3) Proses pembelajaran yang dilakukan adalah memberikan teknik dan menyuruh peserta didik untuk mempraktekkan tari Oleg Tamulilingan gaya Peliatan dengan pelatih I Gusti Ayu Raka Rasmi.  Oleg Tamulilingan dance of Peliatan style is an art work created by I Gusti Ayu Raka Rasmi. The aimed was to describe the structure, the learning and analyze the creativity of the dance. The aimed of the research was to describe the structure, the learning of Oleg Tamulilingan dance of Peliatan style and analyze the creativity of Oleg Tamulilingan dance of Peliatan style created I Gusti Ayu Raka Rasmi . The study used qualitative method through interpretative approach. Technique of collecting the data used observation, interview, documentation and recording. The data analysis used Miles and Huberman qualitative data analysis model. The result was; (1) Three strucutres of the dance such as papesan, pengawak, and pekaad; (2) Five items in the creativity of the dance such as angsel kado becomes miles, nyerere becomes luk nerudut, nyeregseg ngider becomes nyeregseg meplincer, meipuk-ipuk becomes mearas-aras and nyakup bawa. The costume used was kamen, sabuk prada, oncer, ampok-ampok, tutup dada, gelang kana, badong lanying, gelungan and udeng. The cosmetics used was the braveness of using eyeshadow more colorful, don’t used kecek/ white point at forehead/srinata (3) Learning process was giving a technique for the students to practice Oleg Tamulilingan dance Peliatan style by I Gusti Ayu Raka Rasmi.
PEMBELAJARAN SENI TARI: AKTIF, INOVATIF DAN KREATIF Nurseto, Gandes; Lestari, Wahyu; Hartono, Hartono
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan seni tari perlu diberikan pada Sekolah Dasar karena keunikan, kebermaknaan terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk berapresiasi dan menggunakan model pembelajaran yang PAIKEM Pembelajaran, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenagkan dalam proses pembelajaran didalam kelas dari Standar Kompetensi dan Komptensi Dasar mengapresiasi karya seni tari tunggal nusantara yang bertujuan untuk mengenalkan karya seni tari daerah lain. Masalah dalam penelitian ini bagaimana proses pembelajaran seni tari dan bagaimana apresiasi dalam pembelajaran seni tari. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis proses pembelajaran seni tari dan mendeskripsikan serta menganalisis aspek apresiasi dalam pembalajaran seni tari. Metode penelitian dilakukan secara kualitatif. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan studi dokumen. Analisis data yang digunakan ferivikasi data, reduksi data dan penyajian data. Hasil penelitian dari rumusan masalah pertama proses pembelajaran seni tari materi tari Gambiranom guru kurang dapat memaksimal proses pembelajaran yang PAIKEM dikarenakan dalam tahapan pembelajaran pertemuan I dan pertemuan 2 kegiatan aktif, inovatif, kreatif, efisien dan menyenangkan tidak selalu muncul sehingga kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran seni tari di SD menggunakan 4 aspek apresiasi aktif dan apresiasi pasif yaitu: (1) tahap deksripsi, (2) tahap pemahaman/ analisis, (3) tahap intrepretasi/ penghayatan, (4) tahap penilaian/ evaluasi.Education dance needs to be given to the elementary school because of the uniqueness, the significance lies in the provision of aesthetic experience in the form appreciate and use the learning model that PAIKEM in the learning process appreciating single dance archipelago which aims to introduce the artwork of other local dance. Problems in this study how the process of learning how to dance and appreciation in learning the dance. The research objective is to describe and analyze the process of learning the art of dance and describe and analyze aspects appreciation of the dance. Data collection techniques of observation, interviews and document study. Analysis of the data used ferivikasi of data, data reduction and data presentation. The results of the first problem formulation process of learning the art of dance dance material Gambiranom less teacher can maximize learning process PAIKEM because in the learning stages of the first meeting and the second meeting. The results showed learning the art of dance in SD using the four aspects of the appreciation of the active and passive appreciation, namely: 1 phase descriptions, 2 the stage of understanding/ analysis, 3 the stage of interpretation/ appreciation, 4 the stage of assessment/ evaluation.
TARI OLEG TAMULILINGAN GAYA PELIATAN KARYA I GUSTI AYU RAKA RASMI: KREATIVITAS GARAP DAN PEMBELAJARANNYA Paramityaningrum, Ni Komang Tri; Hartono, Hartono; Lestari, Wahyu
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Oleg Tamulilingan gaya Peliatan adalah sebuah karya seni yang diciptakan oleh I Gusti Ayu Raka Rasmi. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan struktur, kreativitas garap dan proses pembelajaran tari Oleg Tamulilingan gaya Peliatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model analisis data interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian adalah; (1) Ada tiga struktur tari Oleg Tamulilingan gaya Peliatan seperti papeson, pengawak,dan pekaad; (2) Kreativitas ragam gerak meliputi lima perubahan seperti angsel kado menjadi miles, nyerere menjadi luk nerudut, nyeregseg ngider menjadi nyeregseg meplincer, meipuk-meipuk menjadi mearas-aras, dan nyakup bawa. Kreativitas tata busana dapat diwujudkan dalam bentuk kamen, sabuk prada, oncer, ampok-ampok, tutup dada, gelang kana, badong lanying, gelungan dan udeng. Tata rias wajah meliputi penggunaan eyeshadow yang mencolok dan tidak menggunakan kecek/titik putih di bagian dahi/srinata; (3) Proses pembelajaran yang dilakukan adalah memberikan teknik dan menyuruh peserta didik untuk mempraktekkan tari Oleg Tamulilingan gaya Peliatan dengan pelatih I Gusti Ayu Raka Rasmi.  Oleg Tamulilingan dance of Peliatan style is an art work created by I Gusti Ayu Raka Rasmi. The aimed was to describe the structure, the learning and analyze the creativity of the dance. The aimed of the research was to describe the structure, the learning of Oleg Tamulilingan dance of Peliatan style and analyze the creativity of Oleg Tamulilingan dance of Peliatan style created I Gusti Ayu Raka Rasmi . The study used qualitative method through interpretative approach. Technique of collecting the data used observation, interview, documentation and recording. The data analysis used Miles and Huberman qualitative data analysis model. The result was; (1) Three strucutres of the dance such as papesan, pengawak, and pekaad; (2) Five items in the creativity of the dance such as angsel kado becomes miles, nyerere becomes luk nerudut, nyeregseg ngider becomes nyeregseg meplincer, meipuk-ipuk becomes mearas-aras and nyakup bawa. The costume used was kamen, sabuk prada, oncer, ampok-ampok, tutup dada, gelang kana, badong lanying, gelungan and udeng. The cosmetics used was the braveness of using eyeshadow more colorful, don’t used kecek/ white point at forehead/srinata (3) Learning process was giving a technique for the students to practice Oleg Tamulilingan dance Peliatan style by I Gusti Ayu Raka Rasmi.
PERKEMBANGAN BENTUK TOPENG BARONGAN DALAM RITUAL MURWAKALA DI KABUPATEN BLORA Pambudi, Fivin Bagus Septiya; Iswidayati, Sri; Supriyanto, Teguh
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual Murwakala ini merupakan ritual ruwatan yaitu ngruwat wong sukerta. Rumusan masalah penelitian ini (1) Bagaimanakah perkembangan bentuk topeng Barongan Blora yang digunakan dalam ritual Murwakala (2) Bagaimanakah fungsi topeng Barongan yang digunakan dalam ritual Murwakala (3) Bagaimana makna dalam tiap bentuk perkembangan topeng Barongan yang digunakan dalam ritual Murwakala. Tujuan penelitian ini (1) Untuk mengetahui dan menjelaskan perkembangan bentuk topeng barongan Blora dalam ritual Murwakala (2) Untuk mengetahui dan menjelaskan fungsi topeng Barongan dalam ritual Murwakala (3) Untuk mengetahui dan menjelaskan makna dalam tiap bentuk perkembangan topeng Barongan dalam ritual Murwakala. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, mengumpulkan data (1) Observasi mengamati terhadap pertunjukan Barongan (2) wawancara yaitu dengan mewawancarai seniman Barongan Blora, Pawang barongan, dan tokoh Blora (3) Data dokumen yang didapat berupa dokumentasi arsip kebudayaan yang ada di kota Blora. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu perkembangan bentuk topeng barongan blora yaitu sebelum kemerdekaan sampai 1945, setelah kemerdekan sampai orde lama, orde  baru – reformasi, periode reformasi - tahun 2009, 2010 sampai sekarang. Fungsi Barongan Blora yaitu, Barongan murni sebagai sarana ritual Murwakala, Barongan dalam ritual Murwakala Pertunjukan Panggung. Saran Mengembangkan kesenian daerah khusunya kesenian topeng Barongan di kabupaten Blora bisa berkembang dan dalam hal pelestarian seni tradisi.Ritual murwakala is ritual ruwatan namely ngruwat wong sukerta. The formulation of the research 1) how the development of the mask barongan Blora used in ritual murwakala 2) how function mask barongan used in ritual murwakala 3) how meaning in every the development of a mask barongan used in ritual murwakala .The purpose of this research is 1) to know and explain the development of the mask barongan in ritual murwakala 2) to know and explain function mask barongan on rites murwakala 3) to review and explain the meaning of for the development of a mask barongan in ritual murwakala. This research using the qualitative method ,while to collect the data done by 1) observation 2) interview 3) data on documents. The results in this research that is the development of the form of a mask barongan Blora occurring in some the period that is the period before independence until 1945,after independence until order lama,new order to reform,tahun2009 reform,2010 until now.Function mask barongan blora on rites murwakala that is as a means of ritual murwakala and as a stage performance.Function barongan blora namely , pure barongan as a means of a ritual murwakala, barongan on rites murwakala a stage performance.

Page 1 of 2 | Total Record : 16