cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal" : 20 Documents clear
REKAYASA LERENG DAN PERENCANAAN PERKUATAN DINDING PENAHAN TANAH DI SALAH SATU SEGMEN JALAN DAERAH CILETUH Zufialdi Zakaria, Dicky Muslim., Adytia Putra Pradana,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.887 KB)

Abstract

Ciletuh merupakan kawasan yang diyakini merupakan salah satu kawasan dengan batuan tertua di Jawa Barat. Kawasan ini berpotensi menjadi sebuah kawasan pariwisata dengan ciri khas geologinya yang unik dan telah diwujudkan dengan dibukanya Ciletuh Geopark. Tentunya hal ini cukup menarik perhatian karena diperlukan pembangunan infrastruktur-infrastruktur pendukung karena rentannya kawasan ini terhadap bencana alam. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang (1) kestabilan lereng dan (2) perancangan dinding penahan tanah untuk penguatan lereng tersebut pada salah satu segmen jalan yang mengalami kelongsoran di Kawasan Ciletuh, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Analisis kestabilan lereng menggunakan Metode Irisan Bishop. Setelah itu dilakukan perancangan rekayasa lereng dengan terasering yang diperkuat dinding penahan tanah agar didapatkan desain lereng yang lebih aman dan optimal untuk mencegah kelongsoran terjadi kembali. Kemudian dinding penahan tanah dirancang sesuai dengan syarat kestabilan dinding penahan tanah terhadap pergeseran, penggulingan, dan kapasitas daya dukung tanahnya. Tekanan tanan lateral pada dinding penahan tanah dihitung dengan menggunakan Metode Rankine. Berdasarkan simulasi kestabilan lereng, faktor keamanan lereng LR-05A terhadap longsor didapatkan sebesar 1,183 – 0,543 (tidak stabil) tergantung kedalaman muka air tanahnya. Desain perbaikan lereng yang telah dilakukan dapat diaplikasikan jika tanah dasar dan tanah di belakang dinding penahan tanah diubah menjadi tanah urug non-kohesif karena kuat gesernya yang tidak terpengaruh oleh keadaan air tanah. Dengan digunakannya tanah urug non-kohesif pada tanah dasar dan tanah dibelakang dinding penahan tanah, maka desain perbaikan lereng yang digunakan dan dinding penahan tanah stabil secara keseluruhan.Kata kunci: Kestabilan Lereng, Angka Keamanan, Dinding Penahan Tanah, Longsor
BIOFASIES BERDASARKAN FORAMINIFERA BENTONIK KECIL RESEN PADA CORE JPA 07-04 DI PERAIRAN JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH Lia Jurnaliah, Winantris, Erika Silviani,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.179 KB)

Abstract

Lokasi penelitian secara administratif, berada di perairan Jepara, Provinsi Jawa Tengah yang terletak pada koordinat 110º17’08,80” E dan 06º32’58,27” S. Sampel yang digunakan merupakan 20 sampel sedimen pada Core JPA 07-04 dengan panjang 100 cm dan berada pada kedalaman 41 m .Kelimpahan fosil foraminifera bentonik resen di daerah penelitian dapat digunakan untuk menentukan biofasies pada daerah penelitian. Penelitian dilakukan berdasarkan metode analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis kluster dengan software SPSS 16.0 . Penentuan Biofasies pada daerah penelitian didasarkan pada kelimpahan jumlah spesies dan individu pada setiap sampel, Biofasies pada daerah penelitian dibagi menjadi 4 Biofasies, yaitu Biofasies 1, Biofasies 2 , Biofasies 3 dan Biofasies 4.Kata kunci : jepara, foraminifera bentonik kecil resen , biofasies
KARAKTERISTIK BATUAN ASAL PEMBENTUKAN ENDAPAN NIKEL LATERIT DI DAERAH MADANG DAN SERAKAMAN TENGAH Euis Tintin Yuningsih,Luhur Pambudi., Adi Kurniadi,Mega Fatimah Rosana,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1965.566 KB)

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan endapan nikel laterit adalah batuan asal. Pokok permasalahan yang akan di bahas pada penelitian ini adalah di fokuskan pada karakteristik batuan asalnya yaitu pada batuan ultrabasa berdasarkan intensitas serpentinisasinya, mineral penyusunnya, dan geokimia batuan pada sampel outcrop di lapangan serta kaitannya dengan potensi lateritisasi endapan nikel pada data sekunder yaitu pada data pemboran di daerah Madang dan Serakaman Tengah, Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan. Metode penelitian yang di lakukan adalah dengan studi literatur, pemetaan geologi, analisis petrografi, serta analisis geokimia (elemen major berdasarkan metode X-Ray Fluoresence). Berdasarkan analisis perografi, karakteristik batuan asal pada batuan ultrabasa yaitu intensitas serpentinisasinya dominan tinggi, kemudian mineral utama penyusunnya adalah serpentin, olivine, orthopiroksen, klinopiroksen, mineral opak, dan mineral oksida. Secara geokimia batuan, unsur MgO lebih banyak kelimpahannya dibandingkan dengan unsur CaO dan Al2O3, menunjukan mineral utama nya yaitu olivine dan piroksen. Di interpretasikan pula fraksionasi utamanya adalah mineral olivine dan protolit batuannya di dominansi oleh dunit. Lateritisasi endapan nikel terdapat pada zona saprolit dalam suatu profil endapan nikel laterit. Di daerah Madang dan Serakaman Tengah mempunyai endapan nikel laterit yang cukup baik dan ekonomis meskipun kadar endapan nikel dan ketebalan zona saprolitnya relatif berbeda-beda.Kata kunci : Batuan asal, serpentinisasi, mineral penyusun, geokimia, endapan nikel laterit
PETROGENESIS BATUAN ANDESIT BUKIT CANGKRING, DAERAH JELEKONG, KECAMATAN BALEENDAH, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Ildrem Syafri, Aton Patonah, Adinda Erma Soviati,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.368 KB)

Abstract

Kabupaten Bandung tersusun oleh batuan hasil kegiatan gunungapi, salah satunya Bukit Cangkring yang dikelilingi oleh Gunung Bukitcula, Gunung Geulis, dan Gunung Pipisan, yang terletak di daerah Jelekong, Kecamatan Baleendah. Batuan penyusun di daerah Baleendah umumnya tersusun oleh perlapisan lava andesit. Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasi proses pembentukan lava Bukit Cangkring. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemetaan lapangan, analisis petrografi, dan analisis geokimia dengan menggunakan metode XRF dan CIPW. Bukit Cangkring tersusun atas batuan beku lava andesit bertekstur porfiritik dan memiliki struktur sheeting joint, massif, dan vesikuler serta memiliki komposisi mineral Plagioklas dan Piroksen. Pada daerah penelitian di beberapa titik terdapat batuan yang telah terubah menjadi mineral lempung dan terdapat mineral asesoris berupa pirit dan magnetit. Hasil analisis petrografi mengindikasikan bahwa Bukit Cangkring tersusun atas batuan beku porfiri andesit dan porfiri basalt. Bukit Cangkring tersusun oleh andesite dan basaltic andesite menurut diagram Total Alkali Silika. Jenis magma pembentuk batuan andesit masuk ke golongan Calc- Alkaline. Asal magma berdasarkan tectonic setting berada pada Island Arc Calc-Alkaline Basalt dengan kedalaman magma asal antara ±117 Km - ± 140 Km di bawah permukaan bumi dan terbentuk pada suhu 951 - 1051 0C.Kata kunci: Andesit, Bukit Cangkring, Petrogenesis Gunungapi, Magma
ZONA ALTERASI HIDROTERMAL PADA SUMUR PENELITIAN "VY 2", LAPANGAN KAMOJANG, JAWA BARAT, INDONESIA A. D. Haryanto, H. Koestono, Vilia Yohana, Mega F. Rosana,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1596.476 KB)

Abstract

Daerah penelitian berada pada bagian utara daerah produktif Lapangan Panas Bumi Kamojang. Dimana secara administratif berada pada Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa 8 sayatan petrografi dan 5 sampel XRD serbuk bor. Analisa petrografi mengidentifikasi litologi dan mineral terubah. Analisa XRD yang dilakukan dengan metode bulk powder dan clay treatment yang terdiri dari air-dried clay, ethylene glycol dan heating. Zona alterasi dari Sumur VY 2 terbagi menjadi 3 zona yaitu: smektit – klorit, mixed layered clay illit/smektit – klorit dan klorit – epidot. Sumur VY 2 juga terbagi menjadi 3 zona panasbumi yaitu: zona penudung pada kedalaman ±45 – ±608 mKU, zona transisi mulai kedalaman ±608 mKU dan zona reservoar di kedalaman 949 mKU. Zona penudung ditandai dengan melimpahnya mineral lempung jenis smektit dan zeolit. Pada zona transisi ditemukan mixed-layer clay illit/montmorilonit dan illit sebagai mineral lempung temperatur tinggi. Pada zona reservoar ditemukan mineral temperatur tinggi seperti wairakit dan anhidrit. Hasil dari perbandingan temperaturur zona alterasi dan data temperatur sumur yaitu Sumur VY 2 mengalami penurunan suhu pada zona transisi dan reservoar dengan pengurangan 0-10ºC. Sedangkan pada zona reservoar terjadi penurunan signifikan sebesar 40-50ºC. Hal ini diperkirakan terjadi akibat penurunan suhu terhadap waktu ataupun pendinginan akibat eksploitasi sumur.Kata kunci: serbuk bor, petrografi, XRD, mineral alterasi
KARAKTERISTIK SEDIMEN FOSFAT HASIL PELAPUKAN GAMPING TERUMBU PULAU PANJANG-BANTEN TERHADAP KUALITAS MEDIA TANAM Ildrem Syafri, Yusi Firmansyah., Samsul Rizal,Muhammad Fadly,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.686 KB)

Abstract

Penelitian ini berlokasi di Pulau Panjang Serang Banten. Secara geologi, tersusun atas gamping terumbu berumur Holosen. Dalam hal ini gamping terumbu yang tersusun atas cangkang-cangkang fosil merupakan salah satu sumber unsur utama pada endapan Fosfat. Endapan Fosfat memiliki peranan penting dalam berbagai kebutuhan, khususnya di bidang agrogeologi seperti pembuatan pupuk. Di Indonesia, eksplorasi endapan Fosfat masih terfokus pada Fosfat Guano. Di sisi lain, sedimen kuarter hasil pelapukan yang melimpah saat ini, masih jarang dilakukan penelitian mengenai kandungan Fosfat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimia pada sedimen Fosfat kuarter hasil pelapukan gamping terumbu di Pulau Panjang untuk penentuan kualitas tanah sebagai media tanam. Metode yang digunakan yaitu bersifat observatif dengan dilakukan pengambilan sampel berupa sedimen hasil pelapukan gamping dan dilakukan analisis kandungan kimia berupa uji Fosfat, Nitrogen, dan Kalium. Berdasarkan hasil deskripsi lapangan, secara fisik sedimen memiliki warna abu cerah dengan bintik-bintik putih, berukuran pasir halus kerikilan, mengandung komponen cangkang moluska yang melimpah, dan sortasi buruk. Sifat fisik dan kimia sampel terhadap kualitas tanah memiliki nilai rata-rata pH:7.99-8.26 tergolong basa dan baik untuk media tanam, kandungan Fosfor dalam Fosfat = 24.6644 (mgP2O5/100g) atau 0.002466% tergolong sangat rendah Kalium = 92.94 (mgK2O/100g) dan Nitrogen = 1.76% tergolong kualitas sangat tinggi.Kata Kunci : Sedimen Fosfat, Gamping Terumbu, Pulau Panjang, Kualitas Tanah
RANCANGAN TERASERING UNTUK STABILISASI LERENG PADA TAMBANG NIKEL LATERIT Zufialdi Zakaria, Agung Mulyo., Muhammad Ilham Sidiq,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.094 KB)

Abstract

Kajian geologi teknik merupakan hal yang penting dalam tambang terbuka, rancangan lereng yang stabil diperlukan untuk keberlangsungan pertambangan. Bahan dari kajian ini merupakan tambang nikel laterit yang berada di daerah Sebuku,Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Beberapa cara yang dilakukan untuk membuat suatu rancangan lereng diantaranya dengan menggunakan analisis Software Slide 6.0. Penulis melakukan analisis perhitungan nilai keamanan lereng tunggal tanah dimulai dari sudut overall slope 60o, 50o, 40o, 30o, dan analisis lereng majemuk dengan sudut overall slope 40o dan disertai pembuatan terasering dengan 2 lereng dan 3 lereng, sehingga di peroleh nilai faktor keamanan lereng (FS) > 1.25 ( Bowles,1984). Data untuk modifikasi rancangan lereng pada titik pengamatan yang memiliki faktor keamanan stabil dan yang belum stabil diperoleh berdasarkan hasil analisis laboratorium uji sifat fisik dan mekanik tanah. Berdasarkan hasil analisis nilai faktor keamanan lereng untuk lereng tunggal tanpa dipengaruhi oleh nilai koefisien getaran gempa, FS yang stabil di dapat pada sudut 40o dengan nilai FS > 1.25, dari hasil simulasi lereng majemuk dengan dua lereng di dapat pada sudut overall slope 40o dan bench slope 50o dengan nilai FS > 1.25 dan dari simulasi lereng majemuk dengan tiga lereng didapat simulasi lereng stabil dengan overall slope 40o dan bench slope 60o. Dengan dipengaruhi nilai koefisien getaran gempa tejadi penurunan nilai faktor keamanan lereng, penurunan nilai kestabilan lereng ini sebesar 0.11 - 0.117. Rekomendasi untuk rancangan lereng stabil pada tambang nikel laterit ini yaitu lereng majemuk 2 lereng dengan sudut lereng yaitu overall slope 40 o dan bench slope 50o .Kata kunci : Rancangan Lereng, Nikel Laterit
STUDI GEOKIMIA BATUAN INDUK AKTIF PRA-TERSIER CEKUNGAN AKIMEUGAH, LEPAS PANTAI PAPUA SELATAN Yoga A. Sendjaja, Yusi Firmansyah, Yudha Situmorang, Baharianto Irfree,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.494 KB)

Abstract

Kebutuhan akan energi fosil di Indonesia selalu bertumbuh setiap tahunnya. Tingkat produksi minyak dan gas dalam negri tahun ke tahun tidak mampu mengimbangi permintaan akan energy fosil tersebut. Hal ini disebabkan karena 80% dari produksi minyak dan gas saat ini berasal dari cekungan – cekungan yang ada di Indonesia kawasan barat. Padahal 71 dari 128 cekungan yang ada di Indonesia berada di wilayah timur Indonesia. Program eksplorasi yang intensif intensif akan sangat penting untuk menemukan akumulasi hidrokarbon yang baru khususnya di wilayah Indonesia timur. Cekungan Akimeugah salah satu cekungan yang berada di wilayah timur Indonesia yang berasosiasi dengan cekungan - cekungan di Australia yang sudah berproduksi hidrokarbon. Cekungan Akimeugah berkembang sejak Paleozoikum hingga Tersier. Hasil evaluasi geokimia pada batuan induk pra-tersier formasi Woni – wogi dan Aiduna menunjukkan kekayaan material organik mencapai 3.45%. Kualitas material organik didominasi oleh tipe kerogen III (Gas Prone). Kedua formasi ini juga telah memasuki jendela kematangan dengan nilai Ro 0.47% - 1.01% (Belum matang – Akhir Matang). Pemendaman kala neogen, berperan aktif dalam mematangkan sediment pra-tersier pada cekungan ini. Data ini menunjukkan bahwa Cekungan Akimeugah memiliki petroleum system yang bekerja dan eksplorasi lebih lanjut dibutuhkan untuk menemukan cadangan hidrokarbon di cekungan ini.Kata Kunci : Batuan Induk Aktif, Cekungan Akimeugah, Formasi Woni – wogi, Formasi Aiduna, Geokimia
KARAKTERISTIK ALTERASI BAWAH PERMUKAAN SUMUR RA WILAYAH KERJA PANASBUMI WAYANG WINDU, PANGALENGAN, JAWAB BARAT Aton Patonah, Ali Auza., Regista Arrizki,Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.096 KB)

Abstract

Sumur RA merupakan salah satu sumur produksi milik PT. Star Energy Geothermal Indonesia yang terletak di Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) Wayang – Windu, Pangalengan, Jawa Barat. Penelitian ini difokuskan pada studi alterasi dari sumur penelitian dengan menerapkan metode analisis petrologi yang akan memberikan hasil berupa zona mineral alterasi meliputi litologi, jenis mineral alterasi, tipe alterasi, temperatur dan fluida pembentukan mineral alterasi, dan korelasi temperatur antara geotermometer mineral alterasi dengan temperatur terukur sumur RA. Data yang digunakan dalam penelitian meliputi conto serbuk bor (cutting), data XRD, dan data temperatur terukur. Zona mineral alterasi pada sumur RA dari kedalaman dangkal hingga lebih dalam terdiri dari zona smektit-illit-kaolinit dan zona kloritsmektit. Zona smektit-ilit-kaolinit berada pada kedalaman 57-843 MD pada litologi lava andesit, tuf kristal, tuf litik, dan andesit. Zona smektit-illit-kaolinit bertindak sebagai zona penudung, termasuk ke dalam tipe alterasi argilik, pH fluida asam mendekati netral, kisaran temperatur berdasarkan geotermometer mineral 100°-<200°C dan 33°-167°C menurut temperatur terukur sumur. Zona kloritsmektit berada pada kedalaman 843-1150 MD pada litologi andesit, bertindak sebagai zona transisi karena keterdapatan klorit bersamaan dengan smektit, memiliki tipe alterasi sub-propilitik, pH fluida netral, kisaran temperatur berdasarkan geotermometer mineral >200°C dan 167°-250°C menurut temperatur terukur sumur.Kata kunci: Zona alterasi mineral, litologi, mineral alterasi, tipe alterasi, temperature, fluida
ANALISIS REKAHAN ALAMI RESERVOIR UNTUK MENGETAHUI KUALITAS SUMUR LAPANGAN JAS, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN Iyan Haryanto, Abdurrokhim, Jamal Alaydrus, Jonathan Jason Filbert Jaya,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.207 KB)

Abstract

Konsumsi energi mencapai 962 juta Setara Barel Minyak (SBM) pada tahun 2014 (BPPT, 2016). Kebutuhan akan energi yang besar tersebut haruslah diimbangi oleh meningkatnya jumlah cadangan energi itu sendiri. Lapangan JAS yang berada di Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan belakang-busur dengan arah barat laut-tenggara merupakan salah satu lapangan milik Perusahaan ON yang ditemukan pada tahun 1998 dan mulai produksi tahun 2003. Hidrokarbon pada Lapangan JAS selama ini diyakini sebagai hasil dari aktivitas tektonik yang menyebabkan sistem rekahan di dalam reservoir. Karakterisasi rekahan reservoir merupakan studi yang membahas perkembangan, penyebarannya, orientasi, geometri, hubungan dan intensitas dari sesar atau rekahan yang mempengaruhi kualitas reservoir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakter rekahan alami reservoir dan arah pengeboran terhadap nilai maksimum deliverabilitas sumur Lapangan JAS dengan menggunakan analisis data core, well log, seismik 3D, data pengeboran dan Formation Micro Imager Log yang ditunjang dengan beberapa data sekunder yang ikut diolah. Dari pengolahan data diketahui 3 aspek penting dalam interpretasi kualitas sumur pada reservoir yang mengalami rekahan dan interpretasi kualitas sumur di Lapangan JAS. Analisis ini dapat digunakan untuk kedepannya menentukan titik sumur baru Lapangan JAS ataupun lapangan reservoir yang mengalami rekahan dengan hasil produksi maksimal karena sudah diketahui karakter sumur yang baik.Kata kunci: Rekahan, Lapangan JAS, Produksi Maksimum Sumur

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 4 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue