cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 495 Documents
Alterasi Hidrotermal Sumur LA Wilayah Kerja Panas Bumi Wayang Windu Pangalengan Jawa Barat Aton Patonah, Ali Auza, Lia Amalia, Ildrem Syafri
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.418 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v1i3.15085

Abstract

Secara administratif, lokasi penelitian terletak di lapangan panas bumi yang termasuk ke dalam wilayah kerja panas bumi (WKP) Wayang – Windu yang berlokasi di daerah Pangalengan, Jawa Barat. Secara geografis, daerah penelitian terletak pada saddle gunung Wayang – Windu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis litologi, jenis mineral ubahan dan zona alterasi, pH fluida dan temperatur dari sumur LA. Metode yang dilakukan berupa analisis petrologi, petrografi dan analisis XRD dari sampel cutting dari sumur LA. Berdasarkan aspek litostratigrafinya, sumur penelitian terbagi menjadi dua litologi yaitu tuf Kristal dan batuan beku andesit. Tipe alterasi yang terdapat pada sumur LA adalah tipe alterasi argilik dan tipe alterasi subpropilitik dilihat dari asosiasi mineral yang terdapat pada masing-masing tipe alterasi dapat disimpulkan bahwa alterasi dipengaruhi oleh fluida netral. Berdasarkan mineral ubahan yang ditemukan pada sumur LA dapat disimpulkan bahwa tipe argilik memiliki temperatur 1000-1200C dan tipe subpropilitik sekitar 120 C2200C.Kata Kunci : Tipe alterasi argilik, tipe subpropilik, geotermometer, Panasbumi, Wayang Windu
ANALISIS KECENDERUNGAN ASPEK MORFOMETRI DENGAN STADIUM EROSI, DAS CIKAPUNDUNG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Edi Tri Haryanto, Pradnya P. R. Rendra., Destyo Prabowo, Nana Sulaksana,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.726 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23191

Abstract

Analisis daerah aliran sungai berdasarkan aspek morfometri sangat penting untuk memahami karateristik dan perencanaan pembangunan daerah tersebut. Beragam aspek morfometri digunakan untuk mengetahui nilai kuantitatif suatu daerah aliran, namun belum ada penelitian yang memberi gambaran hubungan antar aspek morfometri itu sendiri. Papper ini bertujuan untuk memberi gambaran hubungan aspek morfometri linear & areal dengan nilai Hypsometric Integral yang disajikan dalam bentuk kurva, dimana kurva tersebut menjelaskan peran tektonik terhadap nilai morfometri. Semoga paper ini dapat memberi wawasan untuk penelitian di masa depan yang berhubungan dengan morfometri.
KARAKTERISTIK MORFOMETRI DAS CI BUNI BAGIAN HULU, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT Yusi Firmansyah, Reza Mohammad Ganjar Gani, Budiyanto, Emi Sukiyah,
Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1294.604 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v2i3.17257

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Ci Buni bagian hulu terletak di Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. DAS Ci Buni bagian hulu dibagi menjadi 154 sub-DAS. Secara regional DAS Ci Buni bagian hulu tersusun atas batuan sedimen berumur Tersier dan batuan vulkanik berumur Kuarter. Pengertianmengenai karakteristik morfometri dimaksudkan untuk mengetahui aspek kuantitatif sub-DAS yang meliputi Dimensi DAS, Linear Morfometri dan Areal Morfometri. Analisis karakteristik dimensi DAS yang meliputi luas, panjang sungai induk, keliling dan lebar DAS menunjukan bahwa sub-DAS batuanberumur Kuarter memiliki dimensi DAS yang lebih besar dibandingkan sub-DAS batuan berumur Tersier. Hasil analisis variabel linear morfometri menunjukan bahwa rasio percabangan sungai (Rb) dan panjang sungai (RL) di wilayah batuan Kuarter lebih besar dibandingkan batuan berumur Tersier, hal tersebut terkait dengan jenis batuan yang relatif lebih lunak. Areal morfometri, Dari segi kerapatan pengaliran (Dd) kelompok sub-DAS batuan berumur Tersier memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan kelompok sub-DAS batuan berumur Kuarter. Dari segi tekstur (Rt) kedua kelompok subDAS mempunyai tekstur sangat kasar. Dari segi nisbah kelonjongan (Re) dan nisbah bentuk (Rf) kedua kelompok sub-DAS memiliki bentuk yang relatif memanjang atau melonjong. Kata Kunci: Geomorfologi, Morfometri, DAS Ci Buni Bagian Hulu
PENGARUH MUKA AIR TANAH TERHADAP KESTABILAN LERENG TAMBANG X Dicky Muslim, Marcella Vickyla, Irvan Sophian,
Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.618 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i3.23181

Abstract

Daerah penelitian berada di Provinsi Sumatera Selatan, termasuk ke dalam Formasi Muaraenim dengan cadangan batubara yang ekonomis. Daerah ini dikembangkan untuk penambangan batubara terbuka di masa akan datang. Penelitian geoteknik tentang kestabilan lereng penting dilakukan. Muka air tanah pada lereng dapat mengakibatkan lereng longsor. Lereng dengan tekanan air tinggi akan mengurangi kekuatan geser dan faktor keamanan lereng. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengeboran geoteknik, pengambilan sampel tanah dan batuan, pengujian laboratorium untuk mengetahui karakteristik fisik dan mekanik dari tanah/batuan, pengolahan data lapangan, analisa dan pelaporan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh tinggi muka air tanah terhadap kestabilan lereng dan mengetahui kondisi geologi dan geoteknik daerah penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, litologi di daerah penelitian didominasi oleh batulempung. Kekerasan batuan mulai dari sangat lemah sampai sedang, dan memiliki nilai GSI 64 sampai dengan 68. Daerah penelitian merupakan daerah dengan topografi bergelombang. Lereng highwall dinyatakan aman apabila memiliki tingkat kejenuhan rata-rata 50% atau kondisi muka air tanah berada pada posisi setengah dari tinggi lereng dengan kemiringan lereng yang relatif landai atau kurang dari 30o.Kata Kunci : Kestabilan Lereng, Geoteknik, Muka Air Tanah
FASIES DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN LAPANGAN “MS”, FORMASI TALANG AKAR, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN, BERDASARKAN DATA LOG SUMUR, BIOSTRATIGRAFI DAN SALINITAS AIR FORMASI Yusi Firmansyah, Nanda Natasia, Moses Siahaan, Faisal Helmi,
Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.792 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v2i2.16602

Abstract

Lapangan MS adalah salah satu lapangan penghasil hidrokarbon yang terletak pada Cekungan SumateraSelatan. Objek penelitian berada di Lapangan “MS”, Formasi Talang Akar, Cekungan Sumatera Selatan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fasies, lingkungan pengendapan, dan sejarah pengendapan pada objek penelitian. Data-data yang digunakan adalah data wireline log pada 3 sumur, data mudlog dan data biostratigrafi. Penelitian ini diawali dengan menganalisis nilai salinitas air formasi dari formasi target.Diperoleh dua sebaran nilai salinitas yang cukup signifikan yaitu 2210 ppm NaCl dan 6618-7866 ppmNaCl. Berdasarkan analisis data biostratigrafi pada sumur MS-1 di kedalaman 729-1290 m datapalinologi menunjukkan keberlimpahan palinoflora dari takson penciri rawa air tawar seperti Marginipollis concinnus, Discoites borneenis, dan Monoporites annalutus dan bersama dengan spora pteridophytes menunjukkan bahwa daerah penelitian diendapkan pada lingkungan rawa air tawar . Pada kedalaman 605-695 m ditemukan Ammonia sp pada jumlah yang sangat sedikit menunjukan lingkungan inner neritic. Ditemukannnya sporadic nanofosil dan foraminifera menunjukkan bahwa adanya percampuran antara lingkungan laut dan rawa (swamp). Hasil analisis elektrofasies ditemukan beberapa fasies yang berkembang pada daerah penelitian yaitu: distributary channel, interdistributary floodplain, crevasse splay, swamp, fluvial channel, dan fluvial floodplain. Dari semua analisis yang dilakukan maka diinterpretasikan bahwa daerah penelitian diendapkan pada sistem deltaic dan fluvial. Hasil korelasi flooding surface, terdapat 4 flooding surface yang diinterpretasi pada daerah penelitian yaitu FS-1, FS2,FS-3,dan FS-4.
ZONA ALTERASI HIDROTERMAL PADA SUMUR PENELITIAN "VY 2", LAPANGAN KAMOJANG, JAWA BARAT, INDONESIA A. D. Haryanto, H. Koestono, Vilia Yohana, Mega F. Rosana,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1596.476 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v1i2.14317

Abstract

Daerah penelitian berada pada bagian utara daerah produktif Lapangan Panas Bumi Kamojang. Dimana secara administratif berada pada Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa 8 sayatan petrografi dan 5 sampel XRD serbuk bor. Analisa petrografi mengidentifikasi litologi dan mineral terubah. Analisa XRD yang dilakukan dengan metode bulk powder dan clay treatment yang terdiri dari air-dried clay, ethylene glycol dan heating. Zona alterasi dari Sumur VY 2 terbagi menjadi 3 zona yaitu: smektit – klorit, mixed layered clay illit/smektit – klorit dan klorit – epidot. Sumur VY 2 juga terbagi menjadi 3 zona panasbumi yaitu: zona penudung pada kedalaman ±45 – ±608 mKU, zona transisi mulai kedalaman ±608 mKU dan zona reservoar di kedalaman 949 mKU. Zona penudung ditandai dengan melimpahnya mineral lempung jenis smektit dan zeolit. Pada zona transisi ditemukan mixed-layer clay illit/montmorilonit dan illit sebagai mineral lempung temperatur tinggi. Pada zona reservoar ditemukan mineral temperatur tinggi seperti wairakit dan anhidrit. Hasil dari perbandingan temperaturur zona alterasi dan data temperatur sumur yaitu Sumur VY 2 mengalami penurunan suhu pada zona transisi dan reservoar dengan pengurangan 0-10ºC. Sedangkan pada zona reservoar terjadi penurunan signifikan sebesar 40-50ºC. Hal ini diperkirakan terjadi akibat penurunan suhu terhadap waktu ataupun pendinginan akibat eksploitasi sumur.Kata kunci: serbuk bor, petrografi, XRD, mineral alterasi
OVERPRESSURE PADA SUMUR R-1 DI LAPANGAN “RAY”, SUBCEKUNGAN TARAKAN, KALIMANTAN UTARA Febriwan Mohammad, Muhammad Kurniawan, Yusi Firmansyah, Achmad Raka Anjani, Undang Mardiana,
Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1766.338 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i2.23164

Abstract

Overpressure pada sub-cekungan Tarakan sering menjadi masalah pada tahapan pengeboran baik padasumur eksplorasi maupun pengembangan. Karena hal itu beberapa dari sumur pemboran harus dipaksadiberhentikan sebelum mencapai kedalaman target. Maka dari itu pengetahuan tentang overpressure padadaerah penelitian mempunyai peran signifikan dalam perencaan pemboran selanjutnya. Kedalamanoverpressure diidentifikasi melalui data log sumur dimana pada peneltian ini yang digunakan adalah logsonik dan resistivitas dan juga dari data tekanan berupa mudweight. Mekanisme penyebabnyadiidentifikasi dari crossplot Katahara (2006) antara log densitas terhadap sonik. Berdasarkan dari analisisdidapatkan overpressure yang ada pada sumur R-1 terobservasi mulai dari kedalaman ± 2700 m dilihatdari adanya tren pembalikan pada log sumur dan kenaikan mudweight yang signifikan. Mekanismepenyebab overpressure diobservasi mengalami perubahan pada kedalaman ± 3300 m dari loadingmenjadi unloading ditandai oleh adanya kenaikan nilai sonik yang menyebabkan tren data keluar dari trennormal. Dalam hal ini dibutuhkan penelitian lebih lanjut terhadap penyebab dari perubahan mekanismetesebut.Kata kunci : Sub-cekungan Tarakan, ovepressure, unloading, loading
SEBARAN FASIES REEF INTERVAL MMC, LAPANGAN “MGS”, FORMASI CIBULAKAN ATAS, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Febriwan Mohammad, Arif Asy`ari , Undang Mardiana,
Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.669 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v2i2.16595

Abstract

Interval Mid Main Carbonate (MMC) Formasi Cibulakan Atas Cekungan Jawa Barat Utara tersusun atasbatuan karbonat build-up/reef. Reef tumbuh secara setempat-setempat sehingga dibutuhkan pendekatanyang berbeda dalam menentukan sebarannya. Studi ini dilakukan untuk mengetahui sebaran fasies reefMMC melalui karakteristik litologi pada sumur, zonasi peta slice AI, dan zonasi peta isokron. Terdapat 3fasies yang diperkirakan sebarannya yaitu fasies core reef, fore reef, dan interreef/marine shale. Fasiescore reef dan fore reef tersusun atas wackestone-grainstone dengan ketebalan yang lebih tebal pada fasiescore reef. Fasies interreef/marine shale tersusun oleh perselingan batulempung dengan wackestone.Ditemukan 7 struktur reef pada lapangan MGS yang masing-masing memiliki fasies core reef dan forereef, sementara daerah diantara reef merupakan fasies interreef/marine shale. Kata Kunci : Fasies, MMC, Reef, Impedansi Akustik, Isokron
PETROFISIKA BATUGAMPING FORMASI BATURAJA PADA LAPANGAN “CCC”, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN Febriwan Mohammad,Tavip Setiawan, Clarissa Crysta C, Undang Mardiana,
Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.683 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v1i1.13733

Abstract

Area „‟CCC‟‟ merupakan wilayah kerja dari Pertamina Upstream Technology Center yang berada pada Cekungan Sumatera  Selatan.  Penelitian  ini  difokuskan  pada  Formasi baturaja. Penelitian  ini  dilakukan untuk  mengetahui parameter  petrofisika reservoar pada lapangan  “CCC”. Metode dan  analisis  yang dilakukan  adalah  menghitung  parameter  petrofisika  seperti  kandungan  serpih,  porositas,  permeabilitas dan saturasi air pada reservoar menggunakan data wireline log dan core dengan bantuan software. Data yang  digunakan  meliputi    3  data  log  sumur,  2  data  Mudlog,  1  Side  Wall  Core,  1  data  SCAL  (Special Core Analysis) dan 1 data RCAL  (Routine Core Analysis).Metode yang digunakan dalam perhitungan petrofisika    yaitu    dengan    menggunakan    metode    linear  Gamma    rayuntuk    perhitungan  kandungan serpih,  log  Neutron-Densitas  untuk  perhitungan porositas,  Archie  formula  untuk  menentukan  nilai saturasi  air.  Dan  metode  Multiple  Regression  Analysis  (MRA)  untuk  menentukan  nilai  permeabilitas pada reservoar. Dari analisis petrofisika batuan reservoar maka didapatkan pada lapangan “CCC” nilai cut off volume shale 50%, cut off porositas 7%, dan cut off saturasi air 70%. zona netpay berada  pada sumur ” CL-2” dan “CL-1” yang  mempunyai kandungan serpih  yang  rendah,  porositas yang baik, permeabilitas baik, dan  saturasi   air   yang rendah sehingga mempunyai kualitas reservoar yang baik.Kata Kunci : Cekungan Sumatera Selatan, Formasi Baturaja; Fasies, Petrofisika Reservoar.
KARAKTERISTIK BATUBARA FORMASI LATIH DAERAH GUNUNG TABUR, KABUPATEN BERAU, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Agus Didit Haryanto, Nana Suwarna, M. Ammar Azzam, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26320

Abstract

Indonesia memiliki beragam sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah batubara.Batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik batubara yang terdapat pada Formasi Latihdaerah Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Metode penelitian dilakukandengan menganalisis 6 sampel batubara meliputi analisis litotipe, proksimat, peringkat, serta modelseam pada daerah penelitian. Berdasarkan analisis terhadap 6 sampel, batubara daerah penelitianmemiliki litotipe bright banded coal, kelembaban total berkisar 11,1-12,6 % (a.r.b.), zat terbangberkisar 41,8-43,4 % (a.d.b), sulfur total berkisar 0,65-2,7 % (a.d.b), karbon tertambat berkisar 45-46,7% (a.d.b), kandungan abu berkisar 2-4,6 % (a.d.b), dan nilai kalori berkisar 6284,6-6531 kal/g (a.r.b)dengan peringkat batubara subbituminous – high volatile bituminous-C. Seam batubara memperlihatkanketebalan yang berkisar dari 1-1,8 m, dengan sebaran berarah utara-selatan serta kisaran kemiringan 35-40°, dan pada beberapa area terlihat struktur splitting. Sehubungan dengan karakteristik yang baik,batubara tersebut dapat dimanfaatkan sebagai energi bahan bakar yang ideal.Kata kunci: karakteristik batubara, latih, litotipe, proksimat, peringkat

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 4 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue