Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS DAMPAK BANJIR DI KABUPATEN PIDIE JAYA MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-2, TINJAUAN HIDROLISIS DAS KRUENG MEUREUDU, DAN DINAMIKA GARIS PANTAI Santoso, Ivan Hadi; Al Faruq, Ammar; Anisah, Nurul; Khasanah, Riza Ariyani Nur
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA)
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jifta.v13i1.27802

Abstract

Banjir merupakan ancaman hidrometeorologi utama di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, yang dipengaruhi oleh interaksi faktor hidrologi, topografi, dan dinamika pesisir. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme dan dampak banjir melalui pendekatan kuantitatif eksplanatori yang mengintegrasikan tinjauan hidrologis DAS Krueng Meureudu, analisis spasial citra Sentinel-2, evaluasi Digital Elevation Model (DEM), analisis penampang topografi, serta kajian perubahan garis pantai. Data yang digunakan meliputi citra Sentinel-2 resolusi 10 m tanggal 28 Mei 2025 (sebelum banjir) dan 29 November 2025 (setelah banjir), DEM untuk analisis elevasi dan kemiringan lereng, serta referensi dinamika garis pantai periode 2000–2020. Hasil tinjauan hidrologi menunjukkan bahwa debit banjir rencana berpotensi melampaui kapasitas tampung sungai (bankfull capacity), terutama di wilayah hilir seperti Kecamatan Meureudu dan Bandar Baru. Analisis spasial mengidentifikasi genangan dominan pada dataran aluvial rendah dengan elevasi -11 hingga 10 meter dan kemiringan 8°. Analisis penampang melintang mengonfirmasi keberadaan cekungan tertutup (basin) yang menghambat drainase alami dan memperpanjang retensi genangan. Di sisi pesisir, dominasi akresi dan sedimentasi di muara Sungai Meureudu berpotensi memicu fenomena backwater effect yang semakin memperburuk kondisi banjir. Secara keseluruhan, banjir di Pidie Jaya dikontrol oleh peningkatan debit hulu, keberadaan cekungan topografis di hilir, dan sedimentasi pesisir, sehingga diperlukan pengelolaan DAS dan muara secara terpadu untuk mitigasi berkelanjutan.