Manshur, Hamim Sirojuddin Al
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ISLAM DALAM MEWUJUDKAN KESEIMBANGAN EKOLOGI: MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP ISLAM TENTANG KESEIMBANGAN ALAM Fahrurrozi, Muhammad; Manshur, Hamim Sirojuddin Al; Azmi, Safira Mufida; Annur, Fauzi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.10256

Abstract

ABSTRACT The global environmental crisis, characterized by ecosystem degradation, climate change, and uncontrolled resource exploitation, reflects challenges that are not merely technical in nature but also deeply rooted in value-based dimensions of the human–nature relationship. This study aims to conceptually examine the role of Islamic teachings in constructing an ecological ethical framework through the integration of the concepts of tauhid, khilafah, and mizan. The research employs a qualitative approach using a library research design, where data are collected from scholarly literature and Islamic sources selected thematically, and subsequently analyzed through content analysis to identify patterns of conceptual interconnections. The findings reveal that these three concepts form an interconnected value system that shapes awareness, responsibility, and balance in environmental management. The study also identifies a gap between normative values and social practices, which remain largely dominated by exploitative patterns. It concludes that strengthening environmental ethics based on Islamic teachings requires integration at both individual and structural levels through education, policy, and social practices. Therefore, the Islamic ecological framework is not only conceptual but also operationally relevant in promoting sustainable relationships between humans and the natural environment. ABSTRAK Krisis lingkungan global yang ditandai oleh degradasi ekosistem, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya menunjukkan adanya persoalan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan dimensi nilai dalam relasi manusia dan alam. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara konseptual peran ajaran Islam dalam membangun kerangka etika ekologis melalui integrasi konsep tauhid, khilafah, dan mizan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis library research, di mana data diperoleh dari literatur ilmiah dan sumber keislaman yang diseleksi secara tematik, kemudian dianalisis menggunakan teknik content analysis untuk mengidentifikasi pola keterkaitan antar konsep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga konsep tersebut membentuk sistem nilai yang saling terhubung dalam membangun kesadaran, tanggung jawab, dan prinsip keseimbangan dalam pengelolaan lingkungan. Temuan juga mengindikasikan adanya kesenjangan antara nilai normatif dan praktik sosial yang masih didominasi oleh pola eksploitatif. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan etika lingkungan berbasis ajaran Islam memerlukan integrasi pada level individu dan struktural melalui pendidikan, kebijakan, serta praktik sosial. Dengan demikian, kerangka ekologis Islam tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga memiliki relevansi operasional dalam mendorong keberlanjutan hubungan manusia dan alam.
DESENTRALISASI KEKUASAAN DAN KEBERLANJUTAN PERADABAN: STUDI HISTORIOGRAFIS ATAS DINASTI-DINASTI ISLAM TIMUR Latifa, Azzahra Sindhi; Manshur, Hamim Sirojuddin Al; Sari, Fina Thazha Eka; Imamma, Arifah Nur; Istiqomah, Aginra Falah; Hakiman, Hakiman
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.10257

Abstract

ABSTRACT The post-Abbasid period is often framed as a phase of decline due to the weakening of political authority in Baghdad. However, this perspective does not fully capture the dynamics in the eastern regions, which in fact experienced significant developments across various domains. This study aims to examine the role of political decentralization as a transformative mechanism that sustained the continuity of Islamic civilization during this period. It employs a qualitative approach based on library research, utilizing a historiographical-critical analysis of recent academic sources. The focus is placed on the dynamics of regional dynasties in the eastern Islamic world that contributed to changes in political, intellectual, and cultural structures. The findings indicate that the decline of central authority did not lead to stagnation, but instead facilitated the emergence of new centers that were active in advancing knowledge, economic activity, and religious life. Decentralization enabled a balance between political authority and religious legitimacy, while also expanding intellectual networks through local patronage and cultural adaptation. These findings suggest that the post-Abbasid period is more appropriately understood as a phase of adaptive transformation, characterized by the restructuring of power, diversification of civilizational centers, and socio-cultural integration. Accordingly, this study contributes to strengthening a resilience perspective in Islamic historiography, emphasizing continuity rather than decline. ABSTRAK Periode pasca-kejayaan Abbasiyah sering diposisikan sebagai fase kemunduran akibat meredupnya otoritas politik di Baghdad. Perspektif tersebut belum sepenuhnya menjelaskan dinamika di kawasan Timur yang justru menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai bidang. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran desentralisasi kekuasaan sebagai mekanisme transformasi yang menopang keberlanjutan peradaban Islam pada periode tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis historiographical-critical terhadap berbagai sumber akademik mutakhir. Fokus kajian diarahkan pada dinamika dinasti-dinasti regional di kawasan Timur yang berkontribusi dalam perubahan struktur politik, intelektual, dan kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melemahnya pusat kekuasaan tidak mengakibatkan stagnasi, melainkan mendorong lahirnya pusat-pusat baru yang aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan praktik keagamaan. Desentralisasi memungkinkan terbentuknya keseimbangan antara otoritas politik dan legitimasi religius, sekaligus memperluas jaringan keilmuan melalui patronase lokal dan adaptasi budaya. Temuan ini menegaskan bahwa periode pasca-Abbasiyah lebih tepat dipahami sebagai fase adaptive transformation yang ditandai oleh restrukturisasi kekuasaan, diversifikasi pusat peradaban, dan integrasi sosial-budaya. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat perspektif resilience dalam historiografi Islam yang menekankan kesinambungan, bukan kemunduran.
DESENTRALISASI KEKUASAAN DAN KEBERLANJUTAN PERADABAN: STUDI HISTORIOGRAFIS ATAS DINASTI-DINASTI ISLAM TIMUR Latifa, Azzahra Sindhi; Manshur, Hamim Sirojuddin Al; Sari, Fina Thazha Eka; Imamma, Arifah Nur; Istiqomah, Aginra Falah; Hakiman, Hakiman
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.10257

Abstract

ABSTRACT The post-Abbasid period is often framed as a phase of decline due to the weakening of political authority in Baghdad. However, this perspective does not fully capture the dynamics in the eastern regions, which in fact experienced significant developments across various domains. This study aims to examine the role of political decentralization as a transformative mechanism that sustained the continuity of Islamic civilization during this period. It employs a qualitative approach based on library research, utilizing a historiographical-critical analysis of recent academic sources. The focus is placed on the dynamics of regional dynasties in the eastern Islamic world that contributed to changes in political, intellectual, and cultural structures. The findings indicate that the decline of central authority did not lead to stagnation, but instead facilitated the emergence of new centers that were active in advancing knowledge, economic activity, and religious life. Decentralization enabled a balance between political authority and religious legitimacy, while also expanding intellectual networks through local patronage and cultural adaptation. These findings suggest that the post-Abbasid period is more appropriately understood as a phase of adaptive transformation, characterized by the restructuring of power, diversification of civilizational centers, and socio-cultural integration. Accordingly, this study contributes to strengthening a resilience perspective in Islamic historiography, emphasizing continuity rather than decline. ABSTRAK Periode pasca-kejayaan Abbasiyah sering diposisikan sebagai fase kemunduran akibat meredupnya otoritas politik di Baghdad. Perspektif tersebut belum sepenuhnya menjelaskan dinamika di kawasan Timur yang justru menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai bidang. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran desentralisasi kekuasaan sebagai mekanisme transformasi yang menopang keberlanjutan peradaban Islam pada periode tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis historiographical-critical terhadap berbagai sumber akademik mutakhir. Fokus kajian diarahkan pada dinamika dinasti-dinasti regional di kawasan Timur yang berkontribusi dalam perubahan struktur politik, intelektual, dan kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melemahnya pusat kekuasaan tidak mengakibatkan stagnasi, melainkan mendorong lahirnya pusat-pusat baru yang aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan praktik keagamaan. Desentralisasi memungkinkan terbentuknya keseimbangan antara otoritas politik dan legitimasi religius, sekaligus memperluas jaringan keilmuan melalui patronase lokal dan adaptasi budaya. Temuan ini menegaskan bahwa periode pasca-Abbasiyah lebih tepat dipahami sebagai fase adaptive transformation yang ditandai oleh restrukturisasi kekuasaan, diversifikasi pusat peradaban, dan integrasi sosial-budaya. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat perspektif resilience dalam historiografi Islam yang menekankan kesinambungan, bukan kemunduran.