Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Memetakan dukungan dan hambatan peran kader dalam integrasi layanan primer di puskesmas: scoping review Imran Zamzami; Suriadi Jais
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/42z4j936

Abstract

Integrasi layanan primer merupakan langkah strategis untuk memperkuat pelayanan kesehatan dasar di Indonesia, dengan kader kesehatan memainkan peran kunci sebagai penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan. Kader berperan vital dalam diseminasi informasi kesehatan, mobilisasi partisipasi masyarakat, dan memfasilitasi akses terhadap layanan primer. Namun, efektivitas peran kader sering terhambat oleh berbagai tantangan, seperti keterbatasan pengetahuan, pelatihan yang tidak memadai, dan dukungan sistem yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dukungan dan hambatan yang dihadapi kader dalam mengintegrasikan layanan primer di Puskesmas melalui scoping review dengan panduan PRISMA-ScR. Artikel yang digunakan dipilih dari PubMed, Scopus, dan Google Scholar dengan kriteria pencarian yang meliputi populasi (nurse manager/administrator), konsep (evidence-based practice/management), dan konteks (challenge/barrier), serta artikel jurnal berteks lengkap tahun 2023-2025. Dari 2.467 artikel yang teridentifikasi, delapan artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil analisis mengidentifikasi lima faktor yang memengaruhi peran kader: (1) faktor individu (pengetahuan, motivasi, self- efficacy); (2) faktor organisasi (pelatihan, supervisi, insentif, integrasi kader dalam tim ILP); (3) faktor komunitas dan budaya (penerimaan masyarakat, kepercayaan, norma lokal); (4) faktor kebijakan dan tata kelola (dukungan desa, regulasi nasional ILP); dan (5) faktor teknologi dan digitalisasi (e-Posyandu, aplikasi kader, keterbatasan jaringan). Hambatan utama yang ditemukan adalah rendahnya partisipasi pasien, kurang pengetahuan, kurangnya dukungan manajemen, serta keterbatasan sumber daya dan kompetensi.
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Tugas Kader Posyandu Dalam Mendukung Integrasi Pelayanan Keehatan Primer di Puskesmas: Scoping Review Imran Zamzami; Cau Kim Jiu; Lidia Hastuti; Haryanto Haryanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54788

Abstract

Transformasi sistem kesehatan Indonesia mendorong penerapan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) dengan Posyandu sebagai simpul layanan berbasis siklus hidup. Keberhasilan ILP sangat dipengaruhi oleh kinerja kader Posyandu yang menjalankan tugas sebelum, saat dan sesudah hari buka Posyandu (penggerak, penyuluh, pencatat/pelapor, dan pendamping). Tujuan: Memetakan bukti terkini (2023–2026) tentang faktor-faktor yang memengaruhi tugas/kinerja kader Posyandu dalam mendukung ILP di Puskesmas. Metode: Scoping review mengikuti kerangka Arksey & O’Malley yang diperkaya Levac serta panduan JBI, dan dilaporkan berdasarkan PRISMA-ScR. Penelusuran dilakukan pada PubMed, DOAJ, GARUDA/SINTA, dan Google Scholar (Januari 2026) menggunakan kata kunci Indonesia Inggris terkait ‘kader’, ‘Posyandu’, dan ‘Integrasi Layanan Primer/primary health care integration’. Kriteria inklusi: artikel 2023–2026, konteks Indonesia (dan bukti global pendukung), membahas faktor determinan tugas/kinerja/keaktifan/kesiapan kader dalam layanan Posyandu/ILP. Hasil: Dari 160 rekaman, 15 studi dimasukkan. Faktor yang konsisten berhubungan dengan tugas/kinerja kader meliputi pengetahuan dan literasi program, pelatihan/pendampingan, motivasi dan insentif, dukungan tenaga kesehatan/supervisi, ketersediaan alat dan sistem pencatatan pelaporan (termasuk digital), serta dukungan sosial dan partisipasi masyarakat. Hambatan utama mencakup beban kerja, keterbatasan waktu, keterampilan pencatatan, dan variasi implementasi ILP lintas wilayah. Kesimpulan: Penguatan tugas kader untuk ILP membutuhkan paket intervensi yang menautkan peningkatan kapasitas (pelatihan, coaching), penguatan sistem (SIP, logistik, alur rujukan), dan tata kelola dukungan (supervisi, insentif, pengakuan) yang kontekstual di tingkat Puskesmas.
ANALYSIS OF RISK FACTORS AND PREVALENCE OF NON-COMMUNICABLE DISEASES (NCDS) IN INDONESIAN MIGRANT WORKERS: A SYSTEMATIC REVIEW Tri Aan Agustiansyah; Imran Zamzami; Benedikta Mardewi Iswari; Rafita Ofti Sepilena; Supriadi; Imran; Suriadi Jais
Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue (MORFAI) Vol. 6 No. 4 (2026): Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Indonesian Migrant Workers (PMI) are a vulnerable population group facing multiple health risks due to heavy workloads, environmental stress, and limited access to healthcare services in their host countries. Although numerous individual studies have been conducted, a comprehensive synthesis of the burden of disease in this population is still limited. This study aims to systematically review the prevalence and risk factors of disease in PMI over the past decade. Methods: This systematic review was conducted following the PRISMA ( Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses ) guidelines. A literature search was conducted in PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases for articles published between 2016 and 2026. Inclusion criteria included quantitative and mixed-methods studies focusing on the health conditions of PMI in various destination countries (such as Malaysia, Taiwan, and Hong Kong). Study quality assessment was conducted using the Joanna Briggs Institute (JBI) instrument. Results: A total of 25 articles met the inclusion criteria for analysis. The review results indicate that non-communicable diseases (NCDs) such as hypertension, type 2 diabetes mellitus, and musculoskeletal disorders have a significant prevalence among migrant workers in the domestic and construction sectors. In addition to physical health, mental health disorders such as depression and anxiety were found to be closely associated with social isolation and long work duration. Key risk factors identified include a sedentary lifestyle, uncontrolled diet in the host country, and structural barriers such as language barriers and legal status in accessing professional health services. Conclusion: This review confirms a decline in the health conditions of migrant workers as the duration of their placement increases. More integrative health protection policies are needed, ranging from preventive education before departure to the provision of inclusive health services in the host country to reduce morbidity rates among migrant workers.