Haryanto Haryanto
Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Effect of Sea Cucumber on Reducing Periwound Maceration and Inflammation-Related Indicators in Patients with Diabetic Foot Ulcers Indonesia Haryanto Haryanto; Defa Arisandi; Makoto Oe; Kazuhiro Ogai; Suriadi Suriadi; Mayumi Okuwa; Junko Sugama
INDONESIAN NURSING JOURNAL OF EDUCATION AND CLINIC (INJEC) Vol 7, No 1 (2022): INJEC
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.075 KB) | DOI: 10.24990/injec.v7i1.504

Abstract

Introduction: Maceration is one of the problems affecting the healing process of diabetic foot ulcers (DFUs).  In complementary therapies, sea cucumber is known to have higher absorbency. However, there are few studies on the reducing of periwound maceration and inflammation-related indicators in DFU.Methods: This was an observational study at a wound care clinic in Indonesia. Thirty-one DFU patients received treatment with sea cucumber were enrolled in the study. As control samples, 35 DFU patients treated with honey were also included. All were new occurrence DFU and had maceration at the baseline. The maceration area and inflammation-relate indicators including TNF-, MMP-2, and MMP were measured on baseline and week 4.Results: There were no significant differences between two groups at the baseline.  In the multiple linear regression model, sea cucumber significantly associated with the proportion of maceration reduction than honey at week 4 (β=0.520, p=0.001). There were no significant differences between two groups in levels on TNF-α, MMP-2, and MMP at week 4.Conclusions: Our results demonstrated that sea cucumber might be appropriate for reducing DFU periwound maceration.
Phlebitis Pada Lansia Yang Mendapatkan Terapi Infus Perifer Dan Antibiotik Iritatif Dahlia Dahlia; Haryanto Haryanto; Imran Imran; Suriadi Jais
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6685

Abstract

Phlebitis merupakan komplikasi umum terapi infus perifer, dan risiko meningkat pada pasien lansia yang memiliki fragilitas vena serta pada pemberian antibiotik iritatif. Scoping review ini bertujuan memetakan bukti terkait kejadian, faktor risiko, pencegahan, dan penatalaksanaan phlebitis pada lansia yang menerima infus perifer dengan antibiotik iritatif. Pencarian dilakukan pada PubMed, Scopus, CINAHL menggunakan kerangka PRISMA-ScR. Sebanyak 12 artikel masuk dalam sintesis. Angka kejadian phlebitis berkisar 12–45%, dengan Vancomycin menjadi antibiotik iritatif yang paling sering menyebabkan phlebitis. Faktor risiko meliputi usia lanjut, ukur­an kateter besar, durasi pemasangan >72 jam, lokasi pemasangan di area fleksi, serta pH/osmolaritas ekstrem antibiotik. Strategi pencegahan mencakup penggunaan kateter kecil, lokasi vena yang tepat, pengenceran antibiotik, infus lambat, dan pemantauan menggunakan VIP score. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai standar pengenceran antibiotik pada lansia serta intervensi pencegahan berbasis teknologi
Integrasi Sistem Rekam Medis Elektronik (EMR) Dan Kompetensi Digital Perawat: Scoping Review Berdasarkan Pendekatan Joanna Briggs Institute (JBI) Yeni Hariani; Suriadi Suriadi; Supriadi Supriadi; Haryanto Haryanto
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6858

Abstract

Transformasi digital dibidang kesehatan telah menjadikan sistem Electronic Medical Record ( EMR ) sebagai komponen utama dalam praktik keperawatan modern. Pelatihan EMR yang efektif untuk perawat paling baik dicapai melalui pendekatan campuran dan berbasis simulasi, kustomisasi khusus departemen dan dukungan teknis berkelanjutan. Namun, evektivitas implementasi EMR sangat bergantung pada kompetensi digital perawat yang mencakup ketarmpilan teknis, kognitif , dan etika. Scooping review ini bertujuan untuk memetakan dan mensintesis bukti ilmiah terkait bagaimana integrasi sistem EMR dijelaskan dalam kaitannya dengan kompetensi digital perawat di berbagai konteks layanan kesehatan.Penelitian ini mengikuti panduan Joanna Briggs Institute (JBI) Scoping Review Framework (2020) dan dilaporkan menggunakan PRISMA-ScR Checklist (2021). Pendekatan Population Concept Context (PCC) digunakan untuk merumuskan pertanyaan penelitoan. Pencarian dilakukan di empat basis data (Scopus, Pubmed, CINAHL, web of Sciece) menggunakan kombinasi kata kunci dengan operatot Boolean. Dari hasil pencarian 50 artikel ditemukan dan setelah proses seleksi serta penerapan kriteria inklusi eksklusi, 16 artikel dimasukkan dalam sintesis akhir. Empat tema utama diidentifikasi yaitu Pertama, Dimensi kompetensi digital perawat, Kedua, Integrasi EMR dalam prakttik keperawatan, Ketiga, Hambatan dan faktor pendukung kompetensi digital, dan Keempat, Implikasi dalam bidang pendidikan dan kebijakan/Integrasi EMR dan penguatan kompetensi digital perawat berperan penting dalam peningkatan keselamatan pasien, efisiensi kerja, dan kualitas layanan kesehatan. Pengembangan platform pelatihan adaptif, stanfarisasi integrasi kurikulum, dan pemanfaatan tekhnologi inovatif untuk pendidikan EMR
The Use of Aromatherapy in Reducing Stress Levels among Hemodialysis Patients: A Scoping Review Asep Nugraha Kusdiana; Suriadi Jais; Supriadi Supriadi; Haryanto Haryanto
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7259

Abstract

Background: Patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing hemodialysis are vulnerable to stress and psychological disturbances due to the long-term, repetitive, and lifelong nature of the treatment. Aromatherapy is a non-pharmacological intervention that has been applied in various clinical settings to support psychological well-being. However, the scientific evidence regarding the use of aromatherapy for stress management in hemodialysis patients remains fragmented and has not been systematically mapped. Methods: This scoping review was conducted in accordance with the Joanna Briggs Institute (JBI) methodology and reported following the PRISMA Extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR) guidelines. Literature searches were performed in PubMed, Scopus, and Google Scholar databases. Study selection was based on predefined inclusion and exclusion criteria. Data from included studies were extracted and analyzed descriptively to map study characteristics, intervention contexts, types of aromatherapy, and reported psychological outcomes. Results: A total of six studies met the inclusion criteria and were included in this scoping review. The included studies demonstrated variability in study design, types of essential oils used, methods of aromatherapy administration, and psychological outcome measurement instruments. Aromatherapy was predominantly administered via inhalation before or during hemodialysis sessions. Reported outcomes primarily focused on stress, anxiety, and other psychological aspects relevant to patients’ experiences during hemodialysis. Conclusion: This scoping review indicates that aromatherapy has been used as a supportive non-pharmacological intervention for stress management among hemodialysis patients; however, the available evidence remains limited and heterogeneous. Variations in intervention methods and reported outcomes highlight the need for further research using more standardized designs and a specific focus on hemodialysis populations to strengthen the evidence base in nursing practice.
Scoping Review: Prevalensi Obesitas di Indonesia dan Faktor Risikonya Berdasarkan Data Nasional Haryanto Haryanto; Dahlia Dahlia; Imran Imran; Suriadi Jais
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7292

Abstract

Obesitas menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia dengan tren peningkatan prevalensi selama beberapa dekade terakhir. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, prevalensi obesitas nasional mencapai sekitar 21,8% pada orang dewasa (IMT ≥ 27) dan prevalensi obesitas sentral juga meningkat sekitar 31%. Tren dari 2007 hingga 2018 menunjukkan peningkatan obesitas dari angka yang lebih rendah di tahun-tahun sebelumnya. Faktor risiko obesitas di Indonesia meliputi usia, jenis kelamin, urbanisasi, pendidikan, pola makan, aktivitas fisik, dan status sosial ekonomi. Studi juga menunjukkan disparitas geografis dan sosial ekonomi dalam distribusi obesitas. Temuan ini menggarisbawahi perlunya strategi kesehatan masyarakat yang komprehensif untuk pencegahan dan pengendalian obesitas di Indonesia.. Penelitian ini menganalisis prevalensi obesitas di Indonesia beserta faktor risiko seperti perbedaan urban-rural, jenis kelamin, dan usia, menggunakan data kuantitatif dari survei nasional dan studi terkini. Data menunjukkan prevalensi obesitas tinggi dan terus meningkat, dengan odds ratio (OR) yang signifikan untuk faktor-faktor tertentu. Analisis statistik menggunakan chi-square dan odds ratio menegaskan hubungan signifikan antara faktor risiko dan obesitas. Sumber data meliputi RISKESDAS 2018, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Profil Kesehatan Indonesia 2023, dan studi peer-reviewed. Temuan ini menyoroti kebutuhan intervensi kesehatan masyarakat untuk mengatasi epidemi obesitas di Indonesia, dengan penambahan data terbaru dari sumber nasional untuk memperkaya analisis