Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TRANSFORMASI ETIKA DIGITAL: MEMBANGUN KEWARGAAN DIGITAL KRITIS (CRITICAL DIGITAL CITIZENSHIP) DI TENGAH HEGEMONI ALGORITMA Marina Rospitasari; Lailatus Sholihah; Dyah Ayu Kusuma Dewandaru; Wahidah R Bulan; Daffa Rakha Wijaya
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 5 (2026): 2026 Mei
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i5.872

Abstract

The rapid penetration of digital technology, modern society faces an interaction paradox: massive technical connectivity accompanied by increasingly sharp social polarization. This article aims to dissect the failure of conventional digital ethics approaches, which tend to be normative and technical, and offers the Critical Digital Citizenship model as an adaptive solution amidst algorithmic hegemony. Employing a conceptual literature review method, this study synthesizes Mike Ribble's concept of digital citizenship with Paulo Freire's critical pedagogy. The analysis reveals the existence of an "illusion of competence," where users' technical proficiency is not accompanied by critical maturity, thereby creating vulnerability to algorithmic manipulation, disinformation, and data objectification. This study formulates that the "banking concept" approach in digital literacy which solely emphasizes compliance with rules (dos and don'ts) has proven to fail in creating permanent behavioral change because it ignores the users' cognitive and affective dimensions. Therefore, the transformation from naive consciousness to critical consciousness (conscientização) is an absolute prerequisite for building the sovereignty of digital citizens as empowered subjects. The proposed adaptive digital citizenship model emphasizes the integration of critical reasoning to create a society that is not only massively connected but also cognitively enlightened. This article concludes that strengthening critical reasoning within the higher education curriculum is a strategic imperative for realizing a digital civilization that is democratic, cohesive, and resilient to the challenges of the post-truth era.
Literasi Digital Anak Usia Dini: Peran Pendampingan Orang Tua di PAUD Bintang Kecil Cimone Marina Rospitasari; Gema Pertiwi; Dyah Ayu Kusuma Dewandaru; Lailatus Sholihah
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.678

Abstract

Kemajuan teknologi digital yang berlangsung dengan cepat telah memberikan dampak yang substansial terhadap pola komunikasi dan proses pembelajaran anak usia dini. Anak-anak kini tumbuh di lingkungan yang akrab dengan perangkat digital, sehingga kemampuan literasi digital perlu ditanamkan sejak dini. Literasi digital tidak terbatas pada kemampuan operasional dalam menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kesadaran dan pemahaman kritis terhadap prinsip etika, keamanan, serta tanggung jawab dalam setiap bentuk aktivitas di ruang digital. Penulisan ini menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap 5 guru pengajar dan 15 orang tua serta pendidik di PAUD Bintang Kecil Cimone. Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa pendampingan orang tua memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk kemampuan anak memahami, menyeleksi, dan memanfaatkan media digital secara bijak. Terdapat tiga bentuk utama pendampingan yang teridentifikasi, yakni pendampingan teknis (pengenalan perangkat dan aplikasi), pendampingan edukatif (pemilihan konten yang sesuai usia dan mendidik), serta pendampingan moral-sosial (penanaman nilai etika, tanggung jawab, dan empati digital). Temuan ini menegaskan bahwa orang tua berperan sebagai fasilitator, pengarah, sekaligus teladan dalam proses pembentukan literasi digital anak usia dini. Dengan pendampingan yang konsisten dan berbasis nilai, literasi digital dapat menjadi sarana pengembangan potensi anak sekaligus perlindungan dari risiko negatif dunia digital.
Peningkatan Literasi dan Perilaku Informasi (Information Behaviour) bagi Pengurus Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kota Jogja di Era Digital: Pengabdian Dyah Ayu Kusuma Dewandaru; Mukhamad Busro Asmuni; Marina Rospitasari; Winda Eka Pahla Ayuningtyas; Cahayani Yogaswari
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6391

Abstract

Era hiperkonektivitas dan disrupsi informasi menuntut institusi literasi akar rumput, seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM), untuk tidak hanya menyediakan akses buku fisik, tetapi juga membangun resiliensi literasi digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk merekonstruksi pemahaman literasi digital dan perilaku informasi (information behaviour) para pengurus TBM Kota Jogja dalam merespons fenomena polusi informasi, sindrom kelebihan informasi (information overload), dan era post-truth. Metode yang digunakan adalah pendekatan pra-eksperimental dengan desain One-Group Pretest-Posttest. Kegiatan dilaksanakan melalui lokakarya interaktif dan simulasi praktik taktis di Mesjid Jami Karangkajen yang melibatkan 11 peserta. Evaluasi hasil menunjukkan adanya lonjakan pemahaman kognitif yang sangat signifikan, ditandai dengan peningkatan rata-rata skor klasikal dari 50,9 pada saat pre-test menjadi 96,3 pada post-test. Peningkatan ini memvalidasi keberhasilan peserta dalam memahami hierarki informasi secara utuh, membedakan secara presisi intensi komunikasi antara information giving dan information sharing, mengenali gejala information overload, serta mengadopsi taktik pengecekan fakta (fact-checking) sebagai mitigasi hoaks dan clickbait. Pengabdian ini menyimpulkan bahwa intervensi kognitif berbasis studi kasus berhasil memfasilitasi transformasi peran pengurus TBM dari sekadar pengelola sirkulasi buku fisik menjadi agen kurator informasi dan penjaga gawang literasi digital yang adaptif dan tangguh di tengah masyarakat