p-Index From 2021 - 2026
1.197
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Journal Placenta
Ika Popi sundani
Akbid Graha Husada Cirebon

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR (WUS)TENTANG INFEKSI PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (IMS)DI PUSKESMAS BABAKAN Heni Erawati; Ika Popi sundani
PLACENTA Journal Of Midwifes, Women's Health and Public Health Vol 1 No 2 (2024): issue kesehatan
Publisher : Akademi Kebidanan Graha Husada Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya  kejadian di kalangan wanita usia subur yang terkena infeksi penyakit menular seksual di karena kan kurangnya pengetahuan tentang IMS. Apabila tidak dilakukan penyuluhan yang optimal maka akan mengakibatkan semakin banyaknya penderita IMS di kalangan wanita usia subur. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif, populasi penelitian ini ada 13.323 wanita usia subur, sampel penelitian ini ada 99 wanita usia subur, instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berupa 20 pertanyaan, pengumpulan data menggunakan data primer dan analis data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat digunakan untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi. Dari hasil penelitian ini, diketahui berdasarkan pengetahuan responden terbanyak pada kategori cukup 60,6% (60 responden) dengan pengertian terbanyak pada kategori cukup 35,4% (responden), dengan jenis-jenis terbanyak pada kategori cukup 36.4% (36 responden), dengan penyebab terbanyak pada kategori cukup 39,4% (39 responden) dan pencegahan terbanyak pada kategori cukup 38,4% (38 responden) Kesimpulannya terdapat gambaran tingkat pengetahuan wanita usia subur terhadap infeksi penyakit menular seksual, diharapkan dengan penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan wanita usia subur tentang infeksi penyakit menular seksual  dengan memberikan penyuluhan tentang pengetahuan, pengertian,  jenis-jenis, penyebab dan pencegahan kepada wanita usia subur
GAMBARAN PENYEBAB ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD INDRAMAYU TAHUN 2023 Ika Popi Sundani; Mar'atus Solihah
PLACENTA Journal Of Midwifes, Women's Health and Public Health Vol 1 No 2 (2024): issue kesehatan
Publisher : Akademi Kebidanan Graha Husada Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asfiksia  merupakan salah satu masalah neonatal yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian pada bayi. Asfiksia adalah keadaan dimana disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya umur ibu, paritas, jenis persalinan, umur kehamilan dan  BBLR. Berdasarkan data RSUD Indramayu pada bulan januari sampai dengan bulan desember tahun 2022,  jumlah  kelahiran bayi sebanyak 3771 bayi. Bayi lahir  mengalami asfiksia sebanyak 1117. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD Indramayu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang bayinya mengalami asfiksia di RSUD Indramayu. Hasil penelitian menunjukan bahwa umur ibu bersalin pada bayi baru lahir yang asfiksia di RSUD Indramayu tahun 2022 sebagian besar pada kategori berisiko yaitu <20 tahun atau >35tahun(54,5), sedangkan yang berumur tidak berisiko yaitu 20-35 tahun(45,4), sebagian besar primipara atau grande multipara (54,5) sedangkan paritas multipara (45,4) sebagian besar jenis persalinan tindakan SC(53,3) sedangkan persalinan normal sebesar (46,9) sebagian besar umur persalinan tidak prematur (57,5) sedangkan yang premature sebesar (42,4) dan sebagian besar mengalami BBLR (48,4) sedangkan yang normal sebesar (51,5) Pada masa kehamilan dianjurkan setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur untuk memantau perkembangan kesehatan ibu dan janin yang dikandungannya dan bagi petugas kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kebidanan pada ibu hamil, bersalin dan bayi baru lahir secara profesional.
HUBUNGAN SENAM HAMIL DENGAN LOW BACK PAINT (LBP) PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI PUSKESMAS BABADAN KABUPATEN INDRAMAYU YU Ghea Sugiharti; Ika Popi sundani
PLACENTA Journal Of Midwifes, Women's Health and Public Health Vol 1 No 4 (2024): issue kesehatan
Publisher : Akademi Kebidanan Graha Husada Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang Demam merupakan gangguan neurologis akut yang paling sering terjadi pada bayi dan anak yang disebabkan tanpa adanya infeksi system saraf pusat. Yang mengalami kejang demam kemungkinan besar akan menjadi epilepsi jika terdapat kelainan neurologis sebelum kejang demam pertama atau kejang demam kompleks. Terdapat 74 Anak dengan kejang demam pada periode tahun 2021-2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kejang demam pada anak. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional pendekatan retrospektif jumlah populasi 74 anak yang mengalami kejang demam di RSUD Indramayu periode tahun 2021-2023 menggunkan teknik pengambilan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan analisis rekam medis pasien kejang demam anak kemudian dianalisa secara Univariat dan Bivariat menggunakan uji chi-square.Anak dengan kejang demam di RSUD Indramayu paling tinggi pada tahun 2022 yaitu sebanyak 35 sampel (47,3%), dan paling banyak berada pada usia 0-11 bulan yaitu sebanyak 59 sampel (80%), sebagian besar Resiko prenatal kejang demam pada anak adalah faktor usia ibu sebanyak 9 sampel (47%), sebagian besar resiko perinatal kejang demam pada anak yaitu faktor bayi dengan Asfiksia 8 sampel (25%), dan sebagian besar resiko postnatal  kejang demam pada anak yaitu Demam 23 sampel. Berdasarkan Uji Chi Square yang dilakukan didapatkan 2 Faktor Kejang Demam yaitu Faktor Asfiksia dengan nilai p-value = 0,04 dan Faktor demam dengan nilai p-value = 0,01 yang berarti bahwa Demam dan Asfiksia merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kejang demam pada anak. Demam dan Asfiksia merupakan salah satu Faktor penyebab terjadinya kejang demam pada anak. Diharapkan dapat memberikan Asuhan dan edukasi berkala terkait penanganan anak yang mengalami kejang demam di rumah agar orang tua tidak panik dan melakukan langkah yang tepat ketika anak kejang demam.
HUBUNGAN RIWAYAT BBLR DAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI PUSKESMAS JATIWANGI Ade Iko Rovikoh; Ika Popi sundani
PLACENTA Journal Of Midwifes, Women's Health and Public Health Vol 2 No 2 (2025): issue kesehatan
Publisher : Akademi Kebidanan Graha Husada Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting adalah  masalah  kurang  gizi  kronis  yang  disebabkan  oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan  kebutuhan  gizi. Angka kejadian stunting di indonesia yaitu sebanyak 21,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan riwayat BBLR dan pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jatiwangi. Metode penelitian yang digunakan survey analitik (korelasional) dengan menggunakan pendekatan Case Control. Populasi sebanyak 244 Balita, didapatkan sampel sebanyak 70 Balita dengan perbandingan 1:1 (35 Balita Stunting dan 35 Balita tidak Stunting). Pengambilan sampel case menggunakan simple random sampling. Sedangkan sampel control mengggunakan sistematik random sampling. Analisis data menggunakan analisis Univariat dan Bivariat (Chi square) Hasil penelitian diperoleh 35 Balita mengalami stunting. Pada kelompok Stunting Balita yang memiliki riwayat BBLR yaitu sebanyak 25 Balita (62,5%) dan yang tidak diberi ASI Ekslusif yaitu sebanyak 23 Balita (76,7%). Pada Balita tidak stunting terdapat 15 Balita yang memiliki riwayat BBLR (37,5%) dan yang tidak diberi ASI Ekslusif terdapat 7 Balita (23,3%). Ada hubungan bermakna antara Riwayat BBLR dengan kejadian Stunting dimana P Value 0,016 dan terdapat hubungan antara pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian Stunting dengan P Value 0,001 (P<0,05).
GAMBARAN KESEHATAN MENTAL PADA IBU POSTPARTUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LOSARI Ika Popi sundani; Thira Eva Rahayu
PLACENTA Journal Of Midwifes, Women's Health and Public Health Vol 2 No 2 (2025): issue kesehatan
Publisher : Akademi Kebidanan Graha Husada Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibu postpartum memiliki kerentanan terhadap berbagai gangguan mental, gangguan kesehatan mental pada masa postpartum akan berdampak pada kesehatan ibu dan mempengaruhi kemampuan bayinya dalam perkembangan bahasa juga kedekatan emosionalnya dengan orang lain (Arami et al, 2021). Ada tiga bentuk gangguan kesehatan mental pada ibu postpartum yaitu kecemasan, stres dan depresi (Alifka, 2022). Di Indonesia angka kejadian kecemasan dan depresi postpartum sampai mencapai 50-70%, sedangkan di Jawa Barat angka kejadian resiko depresi postpartum pada tahun 2017 berkisar antara 45-65% (Dinkes Jabar, 2018). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambarkan kesehatan mental pada ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Losari Kabupaten Cirebon tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif, pelaksanaan penelitian di mulai dari bulan Maret-April tahun 2024. Populasi yang digunakan adalah ibu 0-6 minggu postpartum dengan menggunakan teknik total sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 50 responden, instrumen penelitian inI menggunakan kuesioner DASS-21 dan analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden terdapat 20 responden mengalami kecemasan, semuanya adalah ibu postpartum di minggu pertama (40%). Pada tingkat stres terdapat 10 responden, ibu yang mengalami stres berat adalah ibu yang tinggal sendiri dan suaminya bekerja (6%). Sedangkan pada tingkat sedang dialami oleh ibu bersalin dengan persalinan seksio (4%), depresi berat dan sangat berat dialami oleh ibu yang berusia 18 tahun (4%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental dialami oleh setiap responden dengan tingkat yang bervariasi dan terdapat faktor  resiko yang dapat meningkatkan prevalensi gangguan kesehatan mental. Sehingga diharapkan adanya institusi pelayanan kesehatan maupun pendidikan kesehatan dapat menyediakan fasilitas dan pelayanan psikologis yang dapat mencegah serta menangani gangguan mental ini.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Makanan Pendamping ASI Pada Usia 6-23 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Plered Kabupaten Cirebon Ika Popi sundani; Nuraeni
PLACENTA Journal Of Midwifes, Women's Health and Public Health Vol 2 No 3 (2025): issue kesehatan
Publisher : Akademi Kebidanan Graha Husada Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makanan pendamping ASI adalah makanan yang dikenalkan pada bayi mulai usia 6 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizinya yang akan membantu perkambangan dan petumbuhan bayi untuk kepentingan kecerdasan dan pertumbuhan fisiknya. Salah satu faktor resiko yang menjadi penyebab utama kematian pada balita yang disebabkan oleh diare (25,2%) dan ISPA (15,5%) adalah pemberian MP-ASI dini (SDKI, 2018). Di Jawa Barat, 53,6% ibu telah memberikan MP-ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2016). Desain penelitian yang digunakan ialah deskriptif. Penelitian ini menggunakan total sampling 60 orang yang merupakan jumlah populasi ibu yang memiliki anak usia 6-23 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Plered pada bulan Maret-Juni 2024. Alat pengukuran data berupa kuesioner. Hasil penelitian menunjukan Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pengertian MP-ASI terbesar kategori baik 58 responden (96,7%), terkecil kategori cukup dan kurang 1 responden (1,7%). Tujuan pemberian MP-ASI terbesar kategori baik 52 responden (86,7%), terkecil kategori kurang 3 responden (5%). Jenis-jenis MP-ASI terbesar adalah kategori baik 48 responden (80%), terkecil kategori kurang 3 responden (5%). Cara pemberian MP-ASI terbesar adalah kategori baik 53 responden (88,3%), terkecil kategori kurang 2 responden (3,3%). Jadi dapat disimpulkan bahwa gambaran pengetahuan ibu paling banyak berada pada kategori baik.
HUBUNGAN MENGKONSUMSI SUSU KEDELAI DENGAN KADAR HAEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI BPM BIDAN INTAN: ibu hamil, konsumsi susu kedelai, kadar haemoglobin Fera Asriani; Ika Popi sundani
PLACENTA Journal Of Midwifes, Women's Health and Public Health Vol 2 No 3 (2025): issue kesehatan
Publisher : Akademi Kebidanan Graha Husada Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perdarahan postpartum disebabkan oleh anemia pada kehamilan. Hal ini terjadi karena saat ibu melahirkan, akan terjadi kontraksi rahim yang cukup untuk dilahirkan. Makanan yang mengandung zat besi, folat dan vitamin B salah satunya yaitu susu kedelai. Susu kedelai mengandung berbagai nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh, termasuk pada ibu hamil. Asam folat diketahui baik untuk ibu hamil karena meningkatkan pertumbuhan sel-sel saraf dan mengoptimalkan perkembangan janin. Susu kedelai pun mengandung protein yang membantu menjaga kesehatan berbagai organ dalam tubuh. Protein juga membantu tumbuh kembang organ janin. Beberapa protein yang dapat ditemukan dalam susu kedelai adalah treonin, arginin, isoleusin, glisin, dan lisin. Bahkan susu kedelai juga mengandung karbohidrat yang dapat membantu meningkatkan tingkat energi selama hamil. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui apakah ada hubungan mengkonsumsi susu kedelai dengan kadar haemoglobin pada ibu hamil trimester II. Desain Penelitian: Menggunakan metode Kuantitatif dengan menggunakan Quasi Eksperimen. Analisa data penelitian ini menggunakan Analisa Univariat dengan distribusi Frekuensi dan Bivariat dengan Uji Paired Sample T-Test. Populasi dan Sampel:  populasi nya pada bulan April ibu hamil dan sampel Diambil dari 18 responden, waktu penelitian dari bulan April-Juni tahun 2024 teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Penelitian ini dilakukan di BPM Bidan Intan. Hasil : rerata Perubahan kadar Hb ibu hamil trimester II sebelum mengkonsumsi susu kedelai yaitu 11,40 g/dl dan untuk Hb  ibu hamil trimester 11 sesudah mengkonsumsi susu kedelai yaitu 12,94 g/dl  .Dari hasil uji Paired Sample Test reedapat nilai P value nya adalah 0.000 yang artinya kurang dari 0.005 maka Ho ditolak dan Ha diterima Kesimpulan: Dari hasil uji Paired Sample Test reedapat nilai P value nya adalah 0.000 yang artinya kurang dari 0.005 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya hubungan mengkonsumsi susu kedelai pada Ibu Hamil Trimester II sebelum diberikan susu kedelai dan sesudah diberikan susu kedelai  berbeda menurut statistik,menunjukan perbedaan hasil yang signifikan antara pre dan post yang artinya ada hubungan mengkonsumsi susu kedelai terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester II  di BPM Bidan Intan tahun 2024.