Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Edukasi Penanganan Amandel dan Pengembangan Kantin Sehat sebagai Upaya Mewujudkan Sekolah Ramah Gizi di SD Negeri 1 Tonja Denpasar Putu rinawati Jayanti; Agus Santosa; Ida I Dewa Ayu Manik Sastri
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.5.1.2026.61-65

Abstract

Latar belakang: Tonsilitis kronis masih menjadi masalah kesehatan yang sering ditemukan pada anak usia sekolah dan berdampak pada kualitas belajar serta produktivitas keluarga. Kondisi ini diperberat oleh pola konsumsi jajanan tidak sehat di lingkungan sekolah. SD Negeri 1 Tonja Denpasar merupakan salah satu sekolah dengan prevalensi keluhan amandel yang cukup tinggi serta kantin sekolah yang belum menerapkan prinsip kantin sehat.Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai pencegahan dan penanganan amandel serta memberdayakan sekolah melalui pengembangan kantin sehat.Kerangka pemecahan masalah: Program dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif-edukatif yang meliputi edukasi kesehatan amandel, pemeriksaan THT pada siswa, serta pelatihan dan pendampingan pengelolaan kantin sehat berbasis pangan lokal.Hasil dan pembahasan: Kegiatan diikuti oleh 50 siswa kelas IV dan V, guru, serta pengelola kantin. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa tentang penyakit amandel dan perilaku makan sehat. Pemeriksaan THT menemukan sebagian siswa dengan pembesaran tonsil derajat 2–3 dan telah diberikan rujukan lanjutan. Pengelola kantin mulai menerapkan menu lebih sehat, teknik penyajian higienis, serta pencatatan keuangan sederhana.Kesimpulan: Edukasi kesehatan amandel dan pengembangan kantin sehat efektif meningkatkan pengetahuan siswa serta mendorong terciptanya lingkungan sekolah ramah gizi. Program ini berpotensi direplikasi di sekolah dasar lain.
Analisis Faktor yang Berkontribusi terhadap Pembentukan Serumen Obsturan pada Masyarakat Desa Batur Kintamani Ketut Wahyudiana Sudana; Putu Rinawati Jayanti; Made Gita Ratnasari
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56060

Abstract

Serumen obsturan merupakan penyebab tersering gangguan pendengaran konduktif yang dapat dicegah. Berbagai faktor diduga berperan dalam pembentukannya, namun penelitian komprehensif di tingkat komunitas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan serumen obsturan pada masyarakat Desa Batur Kintamani. Penelitian menggunakan desain analitik cross-sectional dengan consecutive sampling pada 90 warga usia ≥18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pemeriksaan telinga dilakukan dengan otoskopi dan endoskopi portabel, disertai pengisian kuesioner. Analisis data menggunakan uji univariat dan bivariat (Chi-square) dengan SPSS. Rata-rata usia responden 46,4±17,2 tahun dengan mayoritas IMT normal hingga overweight (rerata 24,7±3,3 kg/m²). Prevalensi serumen obsturan ditemukan pada 56,7% responden. Analisis bivariat menunjukkan hubungan sangat signifikan antara perilaku membersihkan telinga dengan serumen obsturan (p<0,001; OR 9,5), di mana subjek yang sering membersihkan telinga memiliki prevalensi 79,6% versus 29,3% pada yang jarang membersihkan. Riwayat keluarga juga menunjukkan hubungan signifikan (p=0,005), dengan prevalensi 75,7% pada subjek dengan riwayat keluarga versus 43,4% tanpa riwayat keluarga. Usia, jenis kelamin, IMT, pekerjaan, dan jenis alat pembersih tidak menunjukkan hubungan bermakna (p>0,05). Perilaku membersihkan telinga merupakan faktor paling kuat terhadap pembentukan serumen obsturan, diikuti riwayat keluarga. Program edukasi kesehatan telinga di tingkat komunitas diperlukan untuk mengubah kebiasaan pembersihan telinga yang tidak tepat.
Pengembangan kompetensi staf dan transformasi klinik pada klinik Pratama Puspa Medika, Banjar Kembangsari, Kintamani I Putu Arya Giri Prebawa; Putu Rinawati Jayanti; Ngurah Rai Kusuma Putra
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38851

Abstract

Abstrak Sektor pertanian memiliki risiko kecelakaan kerja tinggi yang semakin diperburuk oleh perubahan iklim, terutama melalui peningkatan paparan heat stress dan kondisi kerja ekstrem. Saat ini di Banjar Kembangsari, Desa Satra, Kintamani, layanan kesehatan kerja terstruktur belum tersedia meskipun mayoritas penduduk bekerja sebagai petani. Program Kemitraan Masyarakat ini bertujuan memperkuat kapasitas Klinik Pratama Puspa Medika sebagai Clinic-Centered Occupational Safety Hub melalui integrasi Community-Based First Responder Model in Agricultural Occupational Health. Kegiatan dilaksanakan pada 1 Desember 2025 dengan melibatkan 15 staf klinik. Evaluasi menggunakan desain pre–post test (15 soal). Rerata skor meningkat dari 40 (rentang 20–50) menjadi 70 (rentang 50–80), dengan 80% peserta mengalami peningkatan ≥20 poin. Seluruh peserta menunjukkan peningkatan skor. Hasil ini menunjukkan peningkatan kapasitas respon awal terhadap risiko kecelakaan kerja dan heat stress, serta mendorong transformasi peran klinik dari kuratif menjadi promotif-preventif. Model ini berkontribusi terhadap penguatan layanan kesehatan primer dan mendukung implementasi SDGs 3, 8, dan 13 melalui pendekatan adaptif berbasis komunitas. Pendekatan ini berpotensi direplikasi pada wilayah agraris dengan karakteristik serupa. Kata kunci: kesehatan kerja; pertanian; P3K; perubahan iklim; pengabdian masyarakat Abstract The agricultural sector is associated with a high risk of occupational injuries, which has been further exacerbated by climate change, particularly through increased exposure to heat stress and extreme working conditions. In Banjar Kembangsari, Satra Village, Kintamani, structured occupational health services are not yet available despite the majority of residents being engaged in farming. This Community Partnership Program aimed to strengthen the capacity of Klinik Pratama Puspa Medika as a Clinic-Centered Occupational Safety Hub through the integration of the Community-Based First Responder Model in Agricultural Occupational Health. The activity was conducted on December 1, 2025, involving 15 clinic staff members. Evaluation employed a pre–post test design consisting of 15 questions. The mean score increased from 40 (range 20–50) to 70 (range 50–80), with 80% of participants achieving an improvement of ≥20 points. All participants demonstrated score improvement. These findings indicate enhanced early response capacity to occupational injury risks and heat stress, as well as a transformation of the clinic’s role from curative to promotive-preventive services. The model contributes to strengthening primary health care services and supports the implementation of SDGs 3, 8, and 13 through a community-based adaptive approach. This approach has the potential to be replicated in other agricultural regions with similar characteristics. Keywords: occupational health; agriculture; first aid; climate change; community partnership. 
Edukasi Kesehatan dan Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Tanaman Herbal dalam Menanggulangi Rhinitis Alergi pada Siswa SMAN 1 Payangan, Gianyar Putu Rinawati Jayanti; Made Gita Ratnasari; I Gusti Agung Prama Yoga
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.5.2.2026.118-124

Abstract

Latar belakang: Rhinitis alergi merupakan gangguan saluran napas atas yang sering dialami remaja dan dapat mengganggu kualitas hidup serta prestasi belajar siswa. Rendahnya pemahaman siswa mengenai pencegahan dan penanganan rhinitis alergi menyebabkan gejala sering diabaikan. Di sisi lain, potensi tanaman herbal lokal sebagai alternatif penanganan alami dan sumber pemberdayaan ekonomi belum dimanfaatkan secara optimal. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai rhinitis alergi serta memberdayakan siswa melalui pelatihan pembuatan produk herbal berbasis tanaman lokal dan edukasi kewirausahaan. Metode: Program dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif di SMAN 1 Payangan, Gianyar, pada Oktober 2025. Kegiatan meliputi edukasi kesehatan rhinitis alergi, pemeriksaan THT sederhana, pelatihan pembuatan produk herbal berbasis tanaman lokal, dan edukasi kewirausahaan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test serta observasi partisipasi siswa. Hasil: Kegiatan diikuti oleh 40 siswa dan guru pendamping. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa mengenai gejala, faktor pencetus, pencegahan, dan penanganan rhinitis alergi. Nilai rata-rata post-test meningkat dibandingkan pre-test. Siswa juga mampu mempraktikkan pembuatan produk herbal sederhana berbahan sereh, daun mint, dan kenanga. Edukasi kewirausahaan meningkatkan pemahaman siswa mengenai pengemasan dan pemasaran produk berbasis tanaman lokal. Kesimpulan: Program edukasi kesehatan dan pemberdayaan ekonomi berbasis tanaman herbal efektif meningkatkan literasi kesehatan siswa terkait rhinitis alergi serta meningkatkan keterampilan siswa dalam memanfaatkan tanaman lokal menjadi produk bernilai guna dan ekonomis. Program ini berpotensi menjadi model pengabdian masyarakat berbasis sekolah yang berkelanjutan.
Comparison of Clinical Symptoms and Microbiological Results of Otomycosis Due to Candida SP. and Aspergillus SP. Infection in ENT Patients in Denpasar Putu Rinawati Jayanti; Ketut Wahyudiana Sudana; Made Gita Ratnasari
Journal of Creative Power and Ambition (JCPA) Vol. 4 No. 02 (2026): Journal of Creative Power and Ambition (JCPA)
Publisher : CV Edujavare Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jcpa.v4i02.1866

Abstract

Otomycosis is a superficial fungal infection of the external auditory canal that commonly occurs in tropical countries, including Indonesia. The disease is primarily caused by Aspergillus spp. and Candida spp., which exhibit distinct clinical manifestations and therapeutic responses. This study aimed to compare the clinical symptoms and microbiological findings of otomycosis caused by these two fungal pathogens among patients attending the Ear, Nose, and Throat (ENT) Outpatient Clinic in Denpasar. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted involving 41 patients diagnosed with otomycosis. Clinical examinations and ear swab specimens were obtained before antifungal therapy, followed by fungal identification using potassium hydroxide (KOH) preparation, Gram staining, and culture on Sabouraud Dextrose Agar (SDA). The results showed that Aspergillus spp. was the predominant causative organism, whereas Candida spp. was identified in fewer cases. Significant differences in clinical presentation were observed, with Aspergillus infections more frequently associated with severe itching and dark ear discharge, while Candida infections commonly presented with creamy white discharge and ear pain. These findings may support earlier empirical diagnosis and more appropriate antifungal management in resource-limited healthcare settings.