Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Skrining Sarkopenia dan Gangguan Metabolik: Investasi Kesehatan Lansia Denpasar I Putu Arya Giri Prebawa; Ketut Wahyudiana Sudana; Ni Made Puspa Dewi Astawa
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.4.2.2025.164-170

Abstract

The elderly population in Indonesia continues to increase significantly every year. Common health problems experienced by the elderly are decreased motor function, known as sarcopenia, and metabolic disorders. Sesetan Village in Denpasar is one of the areas with the highest elderly population. This high number of elderly poses special challenges in the areas of health and environment. As a solution, counseling and screening of metabolic disorders and sarcopenia were conducted for posyandu cadres and the elderly, along with socialization of household waste sorting. The targets of this activity were posyandu cadres and the elderly in the Banjar Dinas Taman Sari neighborhood. This activity includes coordination with the head of the neighborhood and coordinator of posyandu cadres, counseling, health screening, and socialization of household waste sorting. Partners in this program are posyandu cadres and the elderly in the Banjar Dinas Taman Sari Environment, Sesetan Village, South Denpasar District. The priority problems addressed were metabolic disorders and sarcopenia. The methods used include counseling, discussion, screening, and training. The program implementation began with a pretest to measure initial understanding, followed by counseling, training, discussion, and ended with a posttest. Health screening was carried out using blood sugar, cholesterol, and uric acid testing tools. The results of the activity showed an increase in knowledge of the elderly and family members about metabolic disorders and sarcopenia, obtained data related to the risk of metabolic disorders and sarcopenia in the elderly, and increased understanding and awareness of the importance of sorting household waste before disposal to landfills. Evaluation was carried out by asking posttest questions after the program implementation. This activity succeeded in motivating partners to take prevention and understand the importance of health in overcoming metabolic problems and sarcopenia in the elderly.
Penyuluhan Kesehatan Telinga dan Pelatihan Cara Merawat Kesehatan Telinga Serta Sosialisasi Perundungan Pada Siswa Sekolah Dasar Ketut Wahyudiana Sudana; Agus Santosa; I Putu Arwan Puspa Remawan
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.5.1.2026.71-76

Abstract

Ear health problems, such as ear infections and obstructive cerumen, are still frequently found in primary school children and can interfere with learning, language development, and overall quality of life. Meanwhile, bullying in the primary school environment is also a significant problem that affects students’ mental health, self-esteem, and academic achievement. This community service program aimed to improve students’ and teachers’ knowledge and skills regarding proper ear care, while also increasing their understanding of the dangers of bullying and the importance of creating a safe and respectful school environment. The program was implemented at SD Negeri 1 Tonja, Denpasar Utara, one of the public primary schools with a relatively large number of students and located in a densely populated area where cases of obstructive cerumen are still frequently reported according to local primary health care data. The targets of this program were teachers and 38 sixth-grade students. The activities included coordination with the school, ear health education sessions, hands-on training on ear care, and bullying awareness sessions, accompanied by pre–post quizzes, discussions, and educational games. Evaluation was carried out by comparing students’ ability to answer questions before and after the sessions and by observing their engagement during the practical components, followed by brief monitoring through the teachers for three weeks after the program. The results showed that all students attended the entire series of education and training sessions and were able to answer the questions well at the end, indicating an increase in knowledge about ear health and bullying. Students were also able to demonstrate safe ear-cleaning practices and provide examples of behaviors that constitute bullying as well as attitudes that reflect mutual respect at school. Post-program monitoring indicated that students began to apply proper ear care at home and shared the information with their parents, and they became more sensitive in avoiding behaviors that could lead to bullying. This program was effective as an initial step to increase primary school students’ awareness and skills regarding ear health and bullying prevention and has the potential to be replicated in other schools with similar characteristics. Key words: ear health, obstructive cerumen, primary school students, health education, bullying
Analisis Faktor yang Berkontribusi terhadap Pembentukan Serumen Obsturan pada Masyarakat Desa Batur Kintamani Ketut Wahyudiana Sudana; Putu Rinawati Jayanti; Made Gita Ratnasari
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56060

Abstract

Serumen obsturan merupakan penyebab tersering gangguan pendengaran konduktif yang dapat dicegah. Berbagai faktor diduga berperan dalam pembentukannya, namun penelitian komprehensif di tingkat komunitas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan serumen obsturan pada masyarakat Desa Batur Kintamani. Penelitian menggunakan desain analitik cross-sectional dengan consecutive sampling pada 90 warga usia ≥18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pemeriksaan telinga dilakukan dengan otoskopi dan endoskopi portabel, disertai pengisian kuesioner. Analisis data menggunakan uji univariat dan bivariat (Chi-square) dengan SPSS. Rata-rata usia responden 46,4±17,2 tahun dengan mayoritas IMT normal hingga overweight (rerata 24,7±3,3 kg/m²). Prevalensi serumen obsturan ditemukan pada 56,7% responden. Analisis bivariat menunjukkan hubungan sangat signifikan antara perilaku membersihkan telinga dengan serumen obsturan (p<0,001; OR 9,5), di mana subjek yang sering membersihkan telinga memiliki prevalensi 79,6% versus 29,3% pada yang jarang membersihkan. Riwayat keluarga juga menunjukkan hubungan signifikan (p=0,005), dengan prevalensi 75,7% pada subjek dengan riwayat keluarga versus 43,4% tanpa riwayat keluarga. Usia, jenis kelamin, IMT, pekerjaan, dan jenis alat pembersih tidak menunjukkan hubungan bermakna (p>0,05). Perilaku membersihkan telinga merupakan faktor paling kuat terhadap pembentukan serumen obsturan, diikuti riwayat keluarga. Program edukasi kesehatan telinga di tingkat komunitas diperlukan untuk mengubah kebiasaan pembersihan telinga yang tidak tepat.
Penyuluhan Kesehatan Mengeni Pengaruh Pemakaian Earphone Terhadap Fungsi Pendengaran Pada RemajaTelinga dan Penyuluhan Mengenai Pentingnya Merawat Kebun Sekolah Ketut Wahyudiana Sudana; Gita Ratnasari; I Wayan Sudiarta
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.5.2.2026.147-151

Abstract

Program Kemitraan Masyarakat ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Manggis, Karangasem, Bali, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja mengenai pengaruh pemakaian earphone terhadap fungsi pendengaran. Mitra adalah sekitar 25 siswa pengurus OSIS dan ekstrakurikuler yang memiliki intensitas tinggi dalam penggunaan earphone pada berbagai aktivitas belajar maupun non-akademik, Kegiatan berupa penyuluhan tatap muka tentang kesehatan pendengaran dan cara pemakaian earphone yang aman, dan di akhir sesi dilakukan penyuluhan pentingnya merawat tanaman dan kebun sekolah, mengingat agar siswa selain menjaga kesehatan juga penting untuk menjaga tanaman di area sekolah untuk menjaga kenyamanan belajar di lingkungan sekolah. Kegiatan dilanjutkan dengan pembagian poster dan leaflet, sesi kuis interaktif sebelum–sesudah materi, serta diskusi. Hasil evaluasi menunjukkan seluruh peserta mampu menjawab pertanyaan dengan baik pada akhir sesi, dan lebih dari 90% menyatakan puas terhadap kegiatan. Tindak lanjut dari sekolah menunjukkan berkurangnya kebiasaan menggunakan earphone saat istirahat dan meningkatnya keterlibatan siswa dalam merawat kebun melalui jadwal piket. Program ini efektif meningkatkan pengetahuan dan memicu perubahan perilaku awal terkait penggunaan earphone dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
Integrasi Edukasi Kesehatan Pendengaran dan Perawatan Lingkungan Sekolah untuk Mendukung Kenyamanan Belajar di SMP Negeri 1 Manggis: Pengabdian Ketut Wahyudiana Sudana; Made.Gita Ratnasari; Wayan Sudiartha
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Kemitraan Masyarakat ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Manggis, Karangasem, Bali, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja mengenai pengaruh pemakaian earphone terhadap fungsi pendengaran. Mitra adalah sekitar 25 siswa pengurus OSIS dan ekstrakurikuler yang memiliki intensitas tinggi dalam penggunaan earphone pada berbagai aktivitas belajar maupun non-akademik, Kegiatan berupa penyuluhan tatap muka tentang kesehatan pendengaran dan cara pemakaian earphone yang aman, dan di akhir sesi dilakukan penyuluhan pentingnya merawat tanaman dan kebun sekolah, mengingat agar siswa selain menjaga kesehatan juga penting untuk menjaga tanaman di area sekolah untuk menjaga kenyamanan belajar di lingkungan sekolah. Kegiatan dilanjutkan dengan pembagian poster dan leaflet, sesi kuis interaktif sebelum–sesudah materi, serta diskusi. Hasil evaluasi menunjukkan seluruh peserta mampu menjawab pertanyaan dengan baik pada akhir sesi, dan lebih dari 90% menyatakan puas terhadap kegiatan. Tindak lanjut dari sekolah menunjukkan berkurangnya kebiasaan menggunakan earphone saat istirahat dan meningkatnya keterlibatan siswa dalam merawat kebun melalui jadwal piket. Program ini efektif meningkatkan pengetahuan dan memicu perubahan perilaku awal terkait penggunaan earphone dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
Comparison of Clinical Symptoms and Microbiological Results of Otomycosis Due to Candida SP. and Aspergillus SP. Infection in ENT Patients in Denpasar Putu Rinawati Jayanti; Ketut Wahyudiana Sudana; Made Gita Ratnasari
Journal of Creative Power and Ambition (JCPA) Vol. 4 No. 02 (2026): Journal of Creative Power and Ambition (JCPA)
Publisher : CV Edujavare Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jcpa.v4i02.1866

Abstract

Otomycosis is a superficial fungal infection of the external auditory canal that commonly occurs in tropical countries, including Indonesia. The disease is primarily caused by Aspergillus spp. and Candida spp., which exhibit distinct clinical manifestations and therapeutic responses. This study aimed to compare the clinical symptoms and microbiological findings of otomycosis caused by these two fungal pathogens among patients attending the Ear, Nose, and Throat (ENT) Outpatient Clinic in Denpasar. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted involving 41 patients diagnosed with otomycosis. Clinical examinations and ear swab specimens were obtained before antifungal therapy, followed by fungal identification using potassium hydroxide (KOH) preparation, Gram staining, and culture on Sabouraud Dextrose Agar (SDA). The results showed that Aspergillus spp. was the predominant causative organism, whereas Candida spp. was identified in fewer cases. Significant differences in clinical presentation were observed, with Aspergillus infections more frequently associated with severe itching and dark ear discharge, while Candida infections commonly presented with creamy white discharge and ear pain. These findings may support earlier empirical diagnosis and more appropriate antifungal management in resource-limited healthcare settings.