Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Game-Based Learning as a Pedagogical Innovation Model in Islamic Education Abdul Hamid; Mahmutarom Mahmutarom; Sari Hernawati
Edusoshum : Journal of Islamic Education and Social Humanities Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Ikatan Cendikiawan Ilmu Pendidikan Islam (ICIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52366/edusoshum.v6i2.433

Abstract

This study investigates the implementation of Game-Based Learning (GBL) as an innovative pedagogical model in contemporary Islamic Education at MTs Negeri 1 Kota Semarang. The research was motivated by the continued use of conventional teaching methods, which often resulted in low student engagement, limited interaction, and reduced learning motivation among Grade VIII students. Employing a qualitative case study approach, data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and documentation analysis involving Islamic Religious Education teachers and students. The findings indicate that the use of digital platforms such as Quizizz, Kahoot, and Wordwall transformed the learning process into a more interactive, collaborative, and student-centered experience. Students showed higher participation, stronger motivation, improved teamwork, and better understanding of fiqh and Islamic Cultural History materials. Moreover, teachers adapted their roles from traditional knowledge transmitters to learning facilitators. The study also found that GBL effectively integrated Islamic values, including honesty, responsibility, cooperation, and discipline, making it a promising approach for enhancing learning effectiveness in modern madrasah education.  
Fiqih Digital: Kajian Etika Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam Pendidikan Agama Islam Muhamad Abdilah; Abdul Hamid; Siswanto Siswanto; Ifada Retno Ekaningrum
At-Tadris: Journal of Islamic Education Vol. 5 No. 1 (2026): At-Tadris: Journal of Islamic Education
Publisher : Ikatan Dai Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56672/ssda6632

Abstract

The rapid development of Artificial Intelligence (AI) has significantly transformed the educational landscape, including Islamic Religious Education. AI offers numerous opportunities to enhance learning effectiveness through personalized instruction, broader access to knowledge, and greater efficiency in educational processes. Nevertheless, the use of AI also raises various ethical concerns, including academic plagiarism, algorithmic bias, technological dependency, the erosion of religious scholarly authority, and threats to data privacy. This study aims to examine the ethical dimensions of AI utilization in Islamic Religious Education from the perspective of digital fiqh. The research employs a qualitative library research approach using content analysis of relevant academic literature. The findings reveal that the use of AI in Islamic education is generally permissible as long as it aligns with Islamic legal principles and contributes to public benefit (maslahah). The framework of maqāṣid al-sharī‘ah serves as the primary foundation for evaluating both the opportunities and risks associated with AI implementation. Ethical principles such as trustworthiness (amanah), verification (tabayyun), public benefit (maslahah), justice (al-'adl), and responsibility (mas'uliyyah) should guide the use of AI within Islamic educational settings. This study concludes that AI should function as a supportive educational tool rather than a replacement for teachers, thereby preserving the fundamental objectives of Islamic education in nurturing faithful, knowledgeable, and morally responsible individuals in the digital era.
Implementasi Teori Potensi Diri dalam Pengembangan Fitrah Peserta Didik pada Pendidikan Islam Abdul Hamid
Indonesian Journal of Social Issues Vol. 1 No. 2 (2026): April, Social Media Addiction and the Decline of Face-to-Face Interaction Among
Publisher : CV. Scholar Edukasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66052/ijosim.v2i1.237

Abstract

Pendidikan Islam bertujuan mengembangkan seluruh potensi peserta didik sesuai dengan fitrah manusia dalam kerangka spiritual, moral, dan intelektual. Berbeda dengan konsep potensi diri dalam psikologi Barat, Islam memandang potensi manusia sebagai anugerah Ilahi yang berakar pada fitrah dan tidak terpisahkan dari dimensi spiritual, moral, serta kognitif. Artikel ini bertujuan menganalisis landasan filosofis konsep potensi diri dalam pendidikan Islam serta mengkaji implementasi pengembangan fitrah dalam kurikulum, metode pembelajaran, dan evaluasi karakter peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian pustaka dengan menelaah sumber-sumber klasik dan kontemporer yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang berorientasi pada pengembangan fitrah mampu membentuk individu yang seimbang antara kompetensi akademik dan akhlak mulia, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta memiliki relevansi tinggi dalam menjawab tantangan pendidikan di era kontemporer. Dengan demikian, pengembangan potensi diri berbasis fitrah merupakan fondasi penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan Islam yang holistik dan berkelanjutan.
Islam Nusantara dan Dekolonisasi Pengetahuan: Implikasinya bagi Integrasi Islam dan Sains Abdul Hamid
Indonesian Journal of Social Issues Vol. 1 No. 2 (2026): April, Social Media Addiction and the Decline of Face-to-Face Interaction Among
Publisher : CV. Scholar Edukasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66052/ijosim.v2i1.238

Abstract

Artikel ini bertujuan mengkaji konsep Islam Nusantara dari perspektif epistemologis sebagai kerangka dekolonisasi pengetahuan dalam pengembangan integrasi Islam, sains, dan pendidikan. Selama ini, model integrasi Islam dan sains yang berkembang masih banyak beroperasi dalam horizon filsafat ilmu modern Barat, sehingga berimplikasi pada bertahannya dikotomi epistemologis antara wahyu dan pengetahuan empiris. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kritis berbasis filsafat ilmu, epistemologi Islam, dan teori dekolonial. Artikel ini berargumen bahwa Islam Nusantara tidak dapat dipahami semata-mata sebagai ekspresi kultural Islam di Indonesia, melainkan sebagai tawaran kerangka epistemik alternatif yang berakar pada pengalaman historis, nilai-nilai etika keislaman, serta kearifan lokal masyarakat Nusantara. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam Nusantara memungkinkan terbangunnya sintesis epistemologis yang non-reduktif antara wahyu, rasio, pengalaman empiris, dan praksis sosial-budaya. Kerangka ini menyediakan landasan epistemologis yang relevan bagi pengembangan integrasi Islam dan sains dalam konteks Pendidikan Islam Nusantara yang kontekstual, berorientasi etis, dan tetap berlandaskan prinsip-prinsip keilmuan. Dengan demikian, artikel ini berkontribusi dalam memperkuat diskursus integrasi keilmuan Islam yang berorientasi pada dekolonisasi pengetahuan serta memiliki relevansi sosial yang kuat.