Pelaku UMKM makanan di perdesaan, khususnya di Desa sinarsari kecamatan kalirejo kabupaten lampung tengah, menghadapi persoalan krusial dalam pengelolaan keuangan usaha: mayoritas tidak memiliki sistem penghitungan harga pokok produksi (HPP) yang terstruktur dan menetapkan harga jual semata berdasarkan intuisi atau mengikuti harga kompetitor tanpa dasar kalkulasi yang memadai. Praktik ini berisiko menggerus margin keuntungan secara sistematis, terutama ketika biaya produksi berfluktuasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas literasi keuangan dan kompetensi praktis peserta dalam menyusun HPP serta menetapkan harga jual yang kompetitif dan berbasis data. Workshop dilaksanakan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), yang mengutamakan identifikasi dan mobilisasi aset lokal komunitas sebagai fondasi pemberdayaan. Kegiatan berlangsung selama dua hari dengan melibatkan 47 pelaku UMKM sektor makanan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta yang sangat signifikan: rata-rata skor pre-test sebesar 38,6% meningkat menjadi 85,8% pada post-test, merepresentasikan kenaikan 47,2 poin. Seluruh peserta mampu menyelesaikan simulasi penghitungan HPP secara mandiri menggunakan template digital yang disediakan. Temuan ini mengonfirmasi bahwa intervensi pelatihan berbasis praktik dan pendekatan partisipatif efektif dalam mentransfer kompetensi manajerial kepada pelaku UMKM perdesaan. Artikel ini berkontribusi pada literatur pengabdian masyarakat dengan menawarkan model workshop yang terstruktur, terukur, dan dapat direplikasi pada konteks serupa.