Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Pengaruh Pemberian Gel Lidah Buaya terhadap Penyembuhan Luka pada Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Aloksan Sunge, Shania Fadila; Juhamran , Reeny Purnamasari; Anggita, Dwi; Iskandar , Darariani; Hasbi , Berry Erida
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.11865

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik dengan hiperglikemia yang dapat menghambat proses penyembuhan luka. Luka sayat pada penderita DM berisiko mengalami penyembuhan yang lambat dan infeksi. Lidah buaya (Aloe vera) memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, analgesik, dan hipoglikemik serta mengandung glukomanan yang dapat merangsang proliferasi fibroblas dan produksi kolagen. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lidah buaya efektif mempercepat penyembuhan luka pada kondisi diabetes melalui peningkatan regenerasi jaringan dan penurunan stres oksidatif. Oleh karena itu, lidah buaya berpotensi sebagai terapi alternatif dalam penyembuhan luka pada penderita DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap penyembuhan luka yang di induksi aloksan (1 dan 2), untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap penyembuhan luka yang di induksi aloksan (3 dan 4), untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap penyembuhan luka yang di induksi aloksan (1 dan 3), untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka antara kelompok pemberian gel lidah buaya dengan tidak pada mencit yang di induksi aloksan, dan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka antara kelompok pemberian gel lidah buaya dengan tidak pada mencit yang di induksi aloksan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan desain penelitian Posttest Control Group Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian gel lidah buaya menunjukkan kecenderungan mempercepat penyembuhan luka pada fase awal, baik pada luka yang diinduksi aloksan maupun luka sayat pada mencit yang tidak diinduksi aloksan. Kelompok yang diberi gel lidah buaya memiliki ukuran luka yang lebih kecil dibandingkan kelompok tanpa gel, dengan penyembuhan paling lambat ditemukan pada kelompok luka yang diinduksi aloksan tanpa perlakuan. Perbandingan antar kelompok (1–2, 3–4, 1–3) menunjukkan adanya perbaikan klinis pada kelompok perlakuan, namun uji Mann–Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik (p > 0,05). Pada luka sayat, efek gel lidah buaya kurang menonjol pada fase akhir penyembuhan karena regenerasi jaringan yang berlangsung cepat secara alami. Dapat disimpulkan bahwa gel lidah buaya berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka, terutama pada fase awal luka pada mencit yang diinduksi aloksan, namun pengaruh tersebut belum menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik dibandingkan tanpa pemberian gel.
Karakteristik Pasien dengan Dehisensi Luka Post Laparotomi di RS Ibnu Sina Makassar Tahun 2021-2025 Putri, Waode Khusnul Khotimah; Juhamran , Reeny Purnamasari; Tahir , Akina Maulidhany; Gani , Azis Beru; Kurniawan, Agung
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12420

Abstract

Dehisensi luka merupakan komplikasi pascaoperasi akibat gangguan penyembuhan luka yang sering terjadi pada pasien post laparatomi. Risiko dehisensi dipengaruhi oleh faktor infeksi, kondisi pasien, dan karakteristik luka operasi. Tingginya angka tindakan laparatomi menunjukkan pentingnya pencegahan komplikasi pascaoperasi. Namun, data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya dehisensi luka pada pasien post laparatomi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Kejadian Dehisensi Luka pada Pasien setelah Menjalani Operasi Laparotomi di Rumah Sakit Ibnu Sina. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Hasil penelitian ini berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dehisensi luka pada pasien post laparatomi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar, meliputi usia 46–55 tahun, riwayat merokok, adanya komorbid, tindakan laparatomi emergensi, kadar hemoglobin rendah, kadar albumin rendah, serta adanya infeksi luka operasi. Maka dapat disimpulkan bahwa dehisensi luka pasca laparatomi dipengaruhi oleh faktor usia, kondisi klinis pasien, status nutrisi, jenis tindakan operasi, dan infeksi luka operasi, yang secara bersama-sama menghambat proses penyembuhan luka dan meningkatkan risiko terjadinya dehisensi.