Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi “SiGap-Siaga Dan Tanggap” Menghadapi Resiko Bencana Gempa Bumi Megathrust Pada Remaja Di Nasyiatul Aisyiyah Kelurahan Pleret, Kulon Progo Istiqomah Rosidah; Anita Setyowati
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 7 : Agustus (2025): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Earthquakes are natural disasters that can occur suddenly. Although various early indicators or precursors have been studied extensively, there is still no technology capable of accurately predicting the exact time of an earthquake. Therefore, it is crucial for communities to gain knowledge and understanding about how to be prepared and responsive to the risks of earthquakes—particularly megathrust earthquakes, which pose a significant threat in high-risk areas such as the southern part of Java Island. Unfortunately, the role of the community—despite being the largest and most important group in disaster mitigation efforts—is often overlooked in disaster preparedness planning. Yet, preparedness is a critical component, as it can significantly reduce mortality rates caused by earthquakes. One effective way to improve preparedness is through educational programs such as “SiGap – Ready and Responsive,” aimed at adolescents. Adolescents, aged between 10 and 19, are in a unique developmental stage that is essential for building a strong foundation of health knowledge. Educating this age group is expected not only to foster proactive attitudes in disaster response but also to encourage sustained community involvement in preparedness activities. Choosing the right educational media also plays an important role in enhancing understanding, and digital media is one of the most effective tools. Utilizing engaging technology can help deliver information in a way that is easier to absorb and remember. Therefore, innovation is needed in delivering education to adolescents so that the intended messages are effectively communicated. To build a society that is well-prepared and responsive to the risks of megathrust earthquakes, an advanced and modern learning model tailored to the younger generation is essential. This study aims to assess the impact of the “SiGap – Ready and Responsive” educational program on adolescent preparedness in facing the threat of megathrust earthquakes, specifically among the youth of Nasyiatul Aisyiyah in Pleret, Kulon Progo.
The RELATIONSHIP BETWEEN HEALTHCARE WORKERS' BEHAVIOR AND THE IMPLEMENTATION OF OCCUPATIONAL SAFETY AND HEALTH (OSH) IN THE OPERATING ROOM AT PKU MUHAMMADIYAH HOSPITAL YOGYAKARTA Herfinna Nanda Pratiwi Nanda; Astika Nur Rohmah; Anita Setyowati
Journal of Indonesian Anesthesiology Nursing Vol. 2 No. 2 (2026): JIAN (Journal of Indonesian Anesthesiology Nursing)
Publisher : Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jian.v2i2.4848

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di rumah sakit merupakan aspek penting dalam melindungi tenaga kesehatan dari risiko kecelakaan kerja serta menjamin keselamatan pasien. Ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS) termasuk unit dengan tingkat risiko tinggi sehingga penerapan K3 harus dilakukan secara optimal. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan ketidaksesuaian antara perilaku petugas kesehatan dengan penerapan K3. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan perilaku petugas kesehatan terhadap penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di ruang IBS RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 30 petugas kesehatan yang bekerja di ruang IBS RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan seluruh populasi dijadikan sampel dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku kategori baik sebanyak 22 orang (73,3%), sedangkan penerapan K3 sebagian besar berada pada kategori cukup sebanyak 13 orang (43,3%). Hasil uji korelasi Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku petugas kesehatan dengan penerapan K3 di ruang IBS RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dengan nilai p = 0,016 (p < 0,05) dan koefisien korelasi r = 0,435. Nilai tersebut menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan korelasi sedang, yang berarti semakin baik perilaku petugas kesehatan maka semakin baik pula penerapan K3. Terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara perilaku petugas kesehatan dengan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada petugas kesehatan di ruang IBS RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Perilaku yang baik berkontribusi terhadap peningkatan penerapan K3, sehingga diperlukan upaya berkelanjutan melalui pelatihan, pengawasan, dan penguatan budaya keselamatan kerja untuk meningkatkan kepatuhan petugas terhadap prosedur K3.