Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA AYRANIA DALAM NOVEL KIBLAT CINTA KARYA AWALIARRAHMAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA Anggita Putri; Devita Aprillia; Liska Indah Erlina; Siti Khairiah; Saptiana Sulastri
PENTAS : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2026): PENTAS: Mei 2026
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/pentas.v12i1.12679

Abstract

This study aims to describe the personality structure of the main character, Ayrania, in Awaliarrahman’s novel Kiblat Cinta through a literary psychology approach, specifically utilizing Sigmund Freud’s psychoanalytic theory. The method employed is descriptive-analytical qualitative research, with data collection involving a literature review through close reading and note-taking of the novel’s text corpus. The results of the analysis indicate that Ayrania’s personality is shaped by the complex dynamics between the id, ego, and superego. The id is characterized by impulsive, emotional drives and the desire for instant gratification. The ego operates based on the reality principle to temper the id’s impulses so they align with environmental conditions, as seen in polite behavior and anger management. Meanwhile, the superego acts as a moral compass dictating the character’s adherence to social norms, ethics, and responsibility.
Representation of Social Injustice in the Novel The Sinking of the Van Der Wijck Ship: Representation of Social Injustice in the Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Yulia Priska Pioleta; Silvi Widyastuti; Saptiana Sulastri
CARAKA Vol 12 No 2 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/caraka.v12i2.22599

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk ketidakadilan sosial yang direpresentasikan dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka serta mengungkap relevansinya dengan realitas sosial masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif sosiologi sastra. Data penelitian berupa kutipan naratif dan dialog yang merepresentasikan ketidakadilan sosial dalam novel. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakadilan sosial dalam novel direpresentasikan melalui tiga bentuk utama, yaitu diskriminasi berdasarkan garis keturunan, marginalisasi terhadap individu yang tidak memenuhi standar adat, serta dominasi adat yang membatasi kebebasan pribadi. Tokoh Zainuddin digambarkan mengalami penolakan sosial karena tidak diakui sebagai bagian dari kelompok adat yang sah, sehingga mengalami keterasingan dan kehilangan hak sosial tertentu. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa adat berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang dalam kondisi tertentu melahirkan ketimpangan dan ketidakadilan. Melalui konflik yang dialami tokoh-tokohnya, Hamka menyampaikan kritik terhadap struktur sosial yang lebih mengutamakan status keturunan daripada nilai kemanusiaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck tidak hanya merefleksikan kondisi sosial masyarakat Minangkabau pada masanya, tetapi juga menawarkan kritik sosial yang tetap relevan dengan persoalan diskriminasi, eksklusi sosial, dan pertentangan antara tradisi dengan kebebasan individu dalam masyarakat modern
Analisis Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat Asal Usul Sungai Landak dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Lidiya Angelina; Luken Armina; Chintia Chintia; Melli Agustin; Saptiana Sulastri
KLITIKA Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026): Klitika
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/klitika.v8i1.8088

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat Asal Usul Sungai Landak serta relevansinya terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Penelitian mengenai nilai budaya dalam cerita rakyat telah banyak dilakukan, namun kajian yang secara khusus mengangkat cerita rakyat Asal Usul Sungai Landak serta mengaitkannya dengan pemanfaatannya sebagai bahan ajar berbasis budaya lokal dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki kebaruan dalam mengintegrasikan analisis nilai budaya dengan relevansinya terhadap pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data berupa teks cerita rakyat Asal Usul Sungai Landak, baik yang tertulis maupun lisan, serta didukung oleh berbagai literatur yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, dokumentasi, dan observasi kontekstual. Analisis data menggunakan teknik analisis isi yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta verifikasi dan interpretasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat tersebut mengandung berbagai nilai budaya, meliputi nilai moral dan etika, nilai religius atau kepercayaan lokal, norma sosial, kearifan lingkungan, serta identitas budaya. Nilai-nilai tersebut tercermin melalui tokoh, alur, dan peristiwa dalam cerita. Nilai moral menekankan sikap tolong-menolong, kesabaran, dan kebijaksanaan, sedangkan nilai sosial menunjukkan dampak negatif dari perilaku serakah. Selain itu, kearifan lokal tercermin dalam penjelasan asal-usul Sungai Landak yang menggambarkan hubungan manusia dengan lingkungan.Temuan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi yang mengandung nilai budaya dan kearifan lokal. Oleh karena itu, cerita rakyat ini relevan digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Social Media Influence on the Language Varieties of Adolescents Saptiana Sulastri; Dela Meila Sari; Rizna Tri Atikah; Theodora Karina
International Journal of Education, Language, and Social Science Vol. 4 No. 1 (2026): IJELaSS: International Journal of Education, Language and Social Science
Publisher : Darul Ilmi Bina Insan Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62612/ijelass.v4i1.75

Abstract

The widespread use of social media has transformed adolescents’ communication practices by encouraging the emergence of diverse language varieties in digital interactions. This study aims to describe the language varieties used by adolescents in social media communication and identify the dominant forms of language employed across digital platforms. A quantitative descriptive research design was employed involving 30 adolescents aged 13–18 years who actively used Instagram, WhatsApp, and TikTok. Participants were selected through purposive sampling, while linguistic data were collected through structured observation and documentation of comments, captions, status updates, and instant messages. The data were classified into four language categories slang, abbreviations, code-mixing, and formal language and analyzed using descriptive statistics. The findings revealed that slang was the most frequently used language variety (40%), followed by abbreviations (25%), code-mixing (20%), and formal language (15%). These results indicate that adolescents predominantly use informal and expressive language in digital communication while adapting their language choices to online interaction contexts. This study contributes to the field of digital sociolinguistics by providing quantitative evidence on the distribution of adolescent language varieties across multiple social media platforms and offers insights for educators to promote context-appropriate language use in both digital and formal communication.