Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Cultural Aesthetic Mediation as a Resilience Strategy: A Study of Representational Communication in the Betawi Cultural Village of Setu Babakan Ferdiansyah Ali; Sunarmi Sunarmi; Titis Srimuda Pitana; Budi Setiyono
Journal of Social Research Vol. 5 No. 1 (2025): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v5i1.2952

Abstract

Urbanization, globalization, and the intensification of cultural tourism have placed Betawi cultural arts in a vulnerable position amid changes in meaning, commodification, and shifts in aesthetic values. This study aims to explain how cultural aesthetics are mediated as a resilience strategy through representational practices in the Betawi Cultural Village (PBB) Setu Babakan. Using a phenomenological approach and representation theory, it examines how aesthetic experiences—in visual, narrative, and ritual forms—are created, negotiated, and interpreted by cultural actors, including government officials, local communities, and tourists. The analysis was conducted through field observations, in-depth interviews, visual documentation, and hermeneutic interpretations based on Bourdieu's theory of habitus, cultural capital, and the arena of cultural production. The results show that aesthetic mediation functions as a connecting mechanism between traditional values and the demands of the tourism industry, yielding three main processes: creative reproduction, representational transformation, and authenticity negotiation. These processes enable Betawi culture to survive and adapt without losing its essential dimensions of meaning. The findings contribute to the development of cultural tourism studies, cultural communication design, and representation theory in the context of Indonesian urban society.
Revitalalisasi Narasi Agrikultur Masyarakat Jawa Pada Program Budaya Di Resto Taman Sehat Rejosari Delanggu Fawarti Gendra Nata Utami; Budi Setiyono; Danar Andhata
Aksi Kita: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 6 (2025): NOVEMBER-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/byp2yq61

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini berjudul Revitalisasi Narasi Agrikultur Masyarakat Jawa Pada Program Budaya Di Resto Taman Sehat Rejosari Delanggu. Resto Taman Sehat Rejosari (Tasero) merupakan satu resto yang dibangun dengan konsep agrikultur Jawa yang berada di Desa Rejosari, Delanggu. Resto yang dibangun pada tahun 2021 ini berada di tengah persawahan dengan konsep hidden gem yang tidak terlihat dari jalan, dan hadir dengan konsep bangunan, sajian menu, serta program-program berdasarkan pada pengetahuan-pengetahuan  masyarakat petani di Jawa khususnya di Delanggu. Upaya untuk menyuguhkan bukan hanya terkait kearifan lokal dalam hal menu, layanan dan fasilitas tetapi juga mengembalikan dan mengenalkan kepada pengunjung masyarakat luas untuk dapat menyuguhkan pengetahuan-pengetahuan yang ada pada kebudayaan petani yang sekarang sudah tergerus dengan berbagai kebudayaan baru dan modernitas adalah pentingnya dari penelitian yang akan dilakukan. Dengan pembuatan film pendek gambaran kehidupan petani di Delanggu berupa simbol, pengetahuan, kearifan lokal dan mentranformasikan dalam pertunjukan. Sehingga pengunjung dapat melihat dan menyimak berbagai pengetahuan budaya masyarakat petani. Kegiatan dilakukan dengan melaksanakan pemetaan lapangan, melihat dokumen atau arsip, dan melakukan wawancara. Data yang diperoleh dari analisis ini digunakan untuk membuat program workshop, serta pendokumentasi berbagai kegiatan petani, dan tranformasi dalam karya pertunjukan, seperti panen padi dengan ani-ani lengkap menghadirkan proses bancaan wiwit, mengidupkan Dewi Sri pada saat padi menguning dengan tarian,  yang disusun secara runtut dengan narasi pengetahuannya. Tujuan rekonstruksi kegiatan Pengabdian masyarakat ini adalah ditargetkan menghasilkan workshop dalam bentuk pertunjukan sebagai model transformasi simbol, alat-alat pertanian, budaya, kearifan lokal di Desa Rejosari Delanggu dapat dimanfaatkan untuk mendorong dan mendukung kegiatan edukasi dan pelestarian budaya petani. Sekaligus sebagai model pengembangan resto berbasis pengetahuan budaya petani di Jawa.
From Da’wah to Spectacle: Negotiating Sacred Space and Ritual Meaning in The Commodification of Sekaten Mukhlis Anton Nugroho; Bambang Sunarto; Budi Setiyono
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 10 No 2 (2025)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jw.v10i2.46339

Abstract

Abstract: This study examines how the Sekaten ritual in Surakarta has shifted from an Islamic da’wah-centred ceremony into a commodified cultural festival shaped by mass tourism and urban entertainment. Using a qualitative socio-cultural design grounded in cultural ethnography, the research draws on participatory observation conducted during the 2023–2025 celebrations at the alun-alun (town square), the Grand Mosque, the night market, and Bangsal Pagongan (theatre ward), alongside purposive interviews with abdi dalem (palace retainers), mosque administrators, vendors, and festival attendees. The analysis applies cultural transformation theory (Nasukah & Winarti, 2021), Lefebvre’s theory of the social production of space (Lefebvre, 1991), and ritual commodification theory (D. Picard & Robinson, 2006) to trace how shifts in actors, spatial organisation, and symbolic interpretation reorient the ritual’s meanings. Findings indicate that municipal institutions and market stakeholders are increasingly governing Sekaten through the dominance of the night market, commercial stages, and sponsorships, while traditional custodianship by the Kraton (palace) and Masjid Agung is becoming more marginal. Sacred elements, such as the Gamelan Sekaten (traditional music), Miyos Gangsa (ritual procession), and ritual symbols including nginang (chewing betel nut) and janur (decorated palm leaves), persist; yet, they often operate as aesthetic markers within a spectacle economy rather than as central media of religious pedagogy. This reconfiguration produces spatial secularisation as the alun-alun transitions from a sacred zone into a consumerist arena, and public participation shifts from spiritual aspiration towards leisure-oriented consumption, particularly among younger visitors. This study advances debates on religion, space, and heritage governance by demonstrating that ritual changes in contemporary Java reflect negotiated struggles over symbolic power—rather than mere cultural decline. It advocates for participatory preservation strategies that sustain both ritual meaning and physical form amid tourism-driven urban development.