Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Risiko ESG terhadap Nilai Perusahaan dalam Perspektif Akuntansi Keberlanjutan Monica Nuzul Fiyanti; Daiyatul Qoiriyah; Titiek Rachmawati
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8539

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh risiko Environmental, Social, and Governance (ESG) terhadap nilai perusahaan dalam perspektif akuntansi keberlanjutan. Risiko ESG diproksikan menggunakan ESG Risk Rating dari Sustainalytics, sedangkan nilai perusahaan diukur dengan rasio Tobin’s Q. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linear berganda serta memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari laporan perusahaan dan sumber ilmiah. Variabel kontrol yang digunakan meliputi Return on Equity (ROE), Debt Ratio (DR), ukuran perusahaan (SIZE), dan Return on Assets (ROA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko ESG tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan ini mengindikasikan bahwa investor masih lebih memprioritaskan informasi keuangan dibandingkan informasi nonkeuangan seperti risiko ESG dalam pengambilan keputusan investasi. Kondisi tersebut diduga disebabkan oleh masih terbatasnya efektivitas regulasi terkait ESG serta rendahnya tingkat pemahaman investor terhadap ESG Risk Rating yang relatif baru. Selain itu, variabel keuangan seperti ROE terbukti memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap nilai perusahaan. Meskipun tidak signifikan secara statistik, hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan hubungan negatif antara risiko ESG dan nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa isu keberlanjutan mulai mendapatkan perhatian di pasar modal, meskipun belum menjadi faktor utama. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pengungkapan ESG serta penguatan regulasi diharapkan dapat meningkatkan relevansi informasi ESG bagi investor. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa integrasi aspek keberlanjutan dalam praktik akuntansi dan investasi masih berada pada tahap awal perkembangan di Indonesia.
Pengaruh Inklusi Keuangan Digital, Stabilitas Pekerja, dan Dukungan Sosial terhadap Ketahanan Keuangan Pekerja melalui Manajemen Risiko Keuangan sebagai Variabel Mediasi Maria Yovita R Pandin; Ainur Riski Amelia; Monica Nuzul Fiyanti; Anggi Mayrizka Dea Ananda; Daiyatul Qoiriyah; Amira Nanda Arianni
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11519

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh inklusi keuangan digital, stabilitas pekerjaan, dan dukungan sosial terhadap ketahanan keuangan pekerja informal, dengan manajemen risiko keuangan sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory survey. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berbasis skala Likert kepada 45 pekerja informal yang memenuhi kriteria purposive sampling, yaitu aktif bekerja di sektor informal, menjadikan pekerjaan informal sebagai sumber pendapatan utama, menggunakan layanan keuangan digital, dan bersedia menjadi responden. Analisis data dilakukan dengan metode Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas pekerjaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan keuangan serta manajemen risiko keuangan. Dukungan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen risiko keuangan, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap ketahanan keuangan. Inklusi keuangan digital tidak berpengaruh signifikan terhadap ketahanan keuangan maupun manajemen risiko keuangan. Selain itu, manajemen risiko keuangan terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan keuangan, namun tidak mampu memediasi hubungan antara inklusi keuangan digital, stabilitas pekerjaan, dan dukungan sosial terhadap ketahanan keuangan. Temuan ini mengindikasikan bahwa ketahanan keuangan pekerja informal lebih banyak ditentukan oleh kepastian pekerjaan dan kemampuan individu dalam mengelola risiko keuangan dibandingkan sekadar akses terhadap layanan keuangan digital. Dengan demikian, peningkatan ketahanan keuangan pekerja informal memerlukan strategi yang tidak hanya memperluas akses digital, tetapi juga memperkuat stabilitas pendapatan, literasi pengelolaan risiko, serta jejaring sosial yang produktif. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa peningkatan kesejahteraan pekerja informal perlu diarahkan pada penguatan stabilitas pendapatan, edukasi pengelolaan risiko keuangan, serta dukungan sosial yang lebih produktif dan berkelanjutan.