Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dampak Krisis Energi Global dan Pelemahan Rupiah terhadap Risiko Ketenagakerjaan di Indonesia Abdullah Abdullah; Siti Maisaroh
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8568

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh krisis energi dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang berdampak pada stabilitas ekonomi domestik, khususnya sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Kondisi tersebut menimbulkan tekanan terhadap biaya produksi, daya beli masyarakat, serta kinerja sektor riil yang berpotensi meningkatkan risiko pengangguran dan perluasan sektor informal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak krisis energi global dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap risiko ketenagakerjaan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), yang memanfaatkan data sekunder dari berbagai sumber seperti laporan lembaga nasional dan internasional, jurnal ilmiah, serta publikasi resmi terkait energi, nilai tukar, dan ketenagakerjaan. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis isi dan deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi pola hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis energi global menyebabkan kenaikan harga energi yang berdampak pada peningkatan biaya produksi, sementara pelemahan nilai tukar Rupiah memperkuat tekanan tersebut melalui kenaikan harga impor dan inflasi domestik. Kombinasi kedua faktor ini mendorong pelaku usaha melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja, yang tercermin dari meningkatnya tingkat pengangguran dan pekerja informal. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya kebijakan stabilisasi nilai tukar dan pengendalian harga energi oleh pemerintah, serta perlunya adaptasi strategi oleh pelaku usaha dan peningkatan keterampilan tenaga kerja untuk menghadapi dinamika pasar kerja. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian ekonomi makro dan ketenagakerjaan serta menjadi referensi bagi pengambilan kebijakan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Revisiting Higher-Order Thinking Skills in Arabic Language Education: From Technical Adoption to Pedagogical Transformation in Higher Education Siti Maisaroh; Naqi’ah Naqi’ah; Sulaiman Hasan
Ta'lim al-'Arabiyyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab & Kebahasaaraban Vol. 10 No. 1 (2026): Ta'lim al-'Arabiyyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jta.v10i1.55137

Abstract

The growing emphasis on Higher-Order Thinking Skills (HOTS) in higher education has encouraged curriculum reform across disciplines, including Arabic language education. However, existing studies predominantly conceptualise HOTS as a set of instructional techniques rather than as an overarching pedagogical orientation. This qualitative interpretive study examines whether HOTS functions as a holistic pedagogical paradigm or remains a fragmented instructional component in tertiary Arabic language teaching. Data were collected from course syllabi, instructional materials, and semi-structured interviews with one lecturer and five undergraduate students at a State Islamic University in East Java, Indonesia. The data were analysed using thematic analysis. The findings reveal a notable misalignment between curriculum design and classroom implementation. Although official course documents promote higher-order cognitive competencies, instructional practices and assessment methods continue to emphasise lower-order linguistic knowledge through predominantly closed-ended tasks. Consequently, HOTS is implemented primarily as a technical enhancement, such as increasing task complexity, rather than as an epistemological framework guiding teaching and learning. Nevertheless, the emergence of several meaning-oriented learning activities indicates an initial shift toward more interpretive and reflective pedagogical practices. This study contributes to Arabic language education literature by reconceptualising HOTS as an epistemological foundation that requires alignment among curriculum, pedagogy, and assessment. The findings also provide practical implications for curriculum developers and teacher educators seeking to strengthen HOTS implementation in tertiary Arabic language programmes.
Diplomasi Filantropi Hijau melalui Pendidikan Bahasa Arab dalam Penguatan Ketahanan Ekologis di Madura Naqi’ah; Siti Maisaroh; Maulana Abdillah; Indi Hulwun Nasyithah; Aldi Firnanda
Entita: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial Special Edition: Renaisans 2nd International Conference of Social Studies
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ejpis.v2i.24398

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan bahasa Arab sebagai instrumen diplomasi filantropi hijau dalam membangun komunikasi antara masyarakat Madura dan donatur Timur Tengah serta kontribusinya terhadap penguatan ketahanan ekologis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada 12 lokasi pembangunan sumur bor di Kabupaten Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Arab berperan sebagai jembatan komunikasi strategis yang memungkinkan interaksi langsung, transparan, dan berbasis kepercayaan dengan donatur internasional. Komunikasi yang awalnya bersifat informal berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan yang menghasilkan pembangunan 12 sumur bor sebagai solusi atas krisis air bersih. Program ini memberikan dampak signifikan, tidak hanya dalam peningkatan akses air, tetapi juga penurunan beban ekonomi masyarakat hingga Rp200.000–Rp250.000 per keluarga. Selain itu, keterlibatan mahasiswa menunjukkan adanya integrasi pembelajaran bahasa dengan implementasi Education for Sustainable Development (ESD) melalui pengalaman kontekstual di lapangan. Temuan ini menegaskan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi sosial yang mampu menghubungkan filantropi global dengan kebutuhan lokal secara berkelanjutan.