Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Sistem Perencanaan dan Pengadaan Obat Serta Prosedur Penerimaan untuk Menjamin Ketersediaan Obat di Apotek Miftahul Jannah; Nicky Viola Agatha; Winda Windiati; Rahmayati Rusnedy; Sutriani Sutriani
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8941

Abstract

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dilaksanakan di Apotek X Farma pada tanggal 16 Maret–02 Mei 2026 dengan tujuan meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan, serta profesionalisme calon apoteker dalam pelayanan kefarmasian. Kegiatan ini juga bertujuan mengevaluasi penerapan sistem perencanaan, pengadaan, dan prosedur penerimaan obat guna menjamin ketersediaan obat sesuai Standar Pelayanan Kefarmasian. Metode pelaksanaan dilakukan melalui observasi, partisipasi aktif, dan praktik langsung di bawah bimbingan Apoteker Penanggung Jawab. Selain itu, pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi SOP, pencatatan stok obat, serta wawancara dengan tenaga kefarmasian terkait. Kegiatan PKPA difokuskan pada tiga tahap utama, yaitu perencanaan, pengadaan, dan penerimaan obat. Perencanaan obat dilakukan menggunakan metode kombinasi defecta dan template order untuk menyesuaikan kebutuhan stok dengan tingkat penggunaan obat. Pengadaan obat dilakukan melalui Pedagang Besar Farmasi (PBF) berizin dengan kelengkapan dokumen sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu, prosedur penerimaan obat meliputi pemeriksaan kesesuaian jenis, jumlah, mutu, tanggal kedaluwarsa, serta nomor batch obat yang diterima. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sistem perencanaan, pengadaan, dan penerimaan obat di Apotek X Farma telah berjalan cukup terstruktur dan mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 sehingga mampu mendukung ketersediaan obat secara optimal. Kendala yang ditemukan meliputi pencatatan perencanaan yang masih sebagian manual sehingga berisiko menimbulkan ketidaktelitian, serta keterbatasan ketersediaan beberapa jenis obat dari pemasok. Secara keseluruhan, kegiatan PKPA memberikan pengalaman praktis yang bermanfaat dalam membentuk kompetensi, etika, dan tanggung jawab calon apoteker di dunia kerja profesional.
Pengembangan Permen Jelly Rempah sebagai Produk Farmasi yang Inovatif dan Berkhasiat Armon Fernando; M. Almurdani; Ihsan Ikhtiarudin; Tengku Yuni Atika S; Tiara Salsabila P.A; Tita Adhaha F; Venny Wulandari; Victriani Sitohang; Winda Windiati; Yeni Karlina; Yulius Mubharroq; Zakiyah Manaf
Jurnal Garuda Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : Ali Institute of Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55537/gabdimas.v4i1.1394

Abstract

Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas rempah-rempah seperti jahe, kunyit, dan sereh yang secara empiris terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan imunomodulator. Namun, pemanfaatan rempah tersebut masih terbatas pada pengolahan tradisional yang kurang praktis dan memiliki profil rasa yang kurang diminati oleh masyarakat modern, sehingga potensi manfaat kesehatannya belum teroptimalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan diversifikasi produk herbal melalui pengembangan permen jelly berbasis rempah sebagai sediaan farmasi inovatif yang praktis, memiliki cita rasa menarik, dan bermanfaat bagi kesehatan. Metode pelaksanaan dilakukan melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan produk secara langsung kepada masyarakat di kawasan Stadion Utama Riau. Evaluasi keberhasilan kegiatan diukur melalui instrumen pre-test dan post-test untuk menilai pemahaman peserta. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan masyarakat. Rata-rata nilai pre-test yang semula berada pada kategori rendah (40–57%) meningkat menjadi 73–84% (post-test) yang dikategorikan dalam rentang cukup hingga baik. Dapat disimpulkan bahwa edukasi yang disertai inovasi formulasi bahan alam efektif dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengonsumsi herbal dalam bentuk sediaan yang lebih modern dan akseptabel.