p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal WLRev Cakrawala Hukum
Elly Kristiani Purwendah
Faculty of Law, Universitas Wijayakusuma , Indonesia

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Dispensasi Perkawinan Bagi Laki-Laki Dibawah Umur(Studi Penetapan No: 0122/Pdt.P/2018/Pa.Pwt) Mochamad Yunan Raenaldi; Eti Mul Erowati; Elly Kristiani Purwendah
Wijayakusuma Law Review Vol. 1 No. 1 (2019): Wijayakusuma Law Review
Publisher : Faculty of Law, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51921/sha07004

Abstract

To find out the legal reasoning of the judge in deciding the Marriage Dispensation Request in the decisionNumber: 0122 / Pdt.P / 2018 / PA.Pwt, To achieve this goal the author uses a Normative Juridical approach,Research specifications are Normative Data presentation methods are presented in the form of descriptionswhich are grouped and then arranged systematically. Based on the results of the research and discussion in thedecision Number: 0122 / Pdt.P / 2018 / PA.Pwt, it can be seen that the legal basis of judges in providingMarriage Dispensation is based on the reasons the two have long had a relationship, love each other, are veryfamiliar and have engaged even if the applicant's child has been pregnant for 2 months, then it has beenproven that the Petitioner's child is mature enough and mature to settle in. In addition, both of them are single,there is no relationship, not so that there are no barriers to marriage, and the applicant's family and parents ofprospective husbands have blessed the marriage plan. If the request for dispensation is not granted, it is fearedthat things will happen that are not desirable / violate religious norms, and for the good of prospectivechildren who are being conceived by the prospective bride. The provisions and principles of marriage law havebeen fulfilled as stipulated in Article 7 of Law No. 1/1974 Jo Article 15 up to Article 18 and Article 39Compilation of Islamic Law and in line with the Qaidah Fiqhiyah, (which in Indonesian means: "rejectingobedience takes precedence over priority"), which means that preventing evil must first sought before doinggood.
Kajian Hukum Berperspektif Gender Pada Peran Hakim Dalam Menekan Angka Perkawinan Anak Retno Nur Wulandari; Elly Kristiani Purwendah; Esti Ningrum
Wijayakusuma Law Review Vol. 7 No. 1 (2025): Wijayakusuma Law Review
Publisher : Faculty of Law, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51921/wlr.nc6pzb64

Abstract

The purpose of this study is to determine the efforts of religious court judges to reduce the number of child marriages from a gender perspective based on the stipulation Number 204/Pdt.P/2020/PA.Tgt and to explain the obstacles for judges in reducing the number of child marriages from a gender perspective. In this thesis research, the author uses a normative legal approach method, namely by combining the problems discussed by examining laws and regulations, various legal theories and jurisprudence. The results of the study indicate that the prospective bride and groom have not reached the minimum age for marriage that has been set by the government. The legal basis for the Law on Marriage in Indonesia is Law Number 1 of 1974 and Law Number 16 of 2019. Law 16 of 2019 is an amendment to Law Number 1 of 1974, with that the prospective bride and groom must prepare administrative documents such as a letter of rejection from the KUA, family card, marriage certificate, birth certificate, and income statement. There are several obstacles for judges to be able to reduce the number of child marriages from a gender perspective, such as the lack of a Recommendation Letter from the Health Service, the absence of psychological tests can also make it difficult for judges to assess the mental maturity and psychological readiness of prospective brides and grooms, as well as the potential to violate the rules because requests for marriage dispensation for ages below the minimum limit set (19 years) can violate the rules. Judges can play an important role in enforcing the law with a gender-based approach, which prioritizes the protection of the rights of girls who are often victims. By using a gender perspective, judges are expected to be able to consider social and economic inequalities rooted in patriarchal norms in society, as well as assess the long-term impact of child marriage on the welfare of women and children as a whole.
The DisputeResolutionof Oil Pollutionby Tan/fer Ship In IndonesianLegal System Elly Kristiani Purwendah; Marsudi Triatmodjo
Cakrawala Hukum: Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Wijayakusuma Vol. 17 No. 43 (2015): MAJALAH ILMIAH CAKRAWALA HUKUM
Publisher : Faculty of Law, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51921/chk.kn0mpr36

Abstract

The choice of oil pollution dispute resolution by Tanker Ship in national marine law system is highly important to be analyzed in-depth concerning the choice of oil pollution dispute resolution by Tanker Ship in Indonesia is resolved in peaceful manner based on the principle of polluter pays principle. The dispute resolution choice in peace is amended by the internationalinstrument ofUNCLOS in article 279 which is, in Indonesianpositive law system, generated through several national legal  instruments. Furthermore, the  dispute resolution choice is such an important thing considering   the purposes of marine environment protection by the coastal states through the law enforcement of sovereign coastal  states.  The  consequence of  dispute resolutionchoice with the concept of ecocracy and sustainable environmental development, in  line with  the  reconstructive  purpose  of philosophical approach of environmental problem  settlement  through the concept  of ecocracy and the paradigm of deep ecology and green constitution, itis expected to be able to be included in national legal system withe law  enforcers  who  understand  ecoliteracy
HAK GUGAT LINGKUNGAN LAUT DAN KONSEKWENSI PERTANGGUNGJAWABANNYA MENUJU KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Elly Kristiani Purwendah
Cakrawala Hukum: Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Wijayakusuma Vol. 20 No. 1 (2018): MAJALAH ILMIAH CAKRAWALA HUKUM
Publisher : Faculty of Law, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51921/chk.d23nyp65

Abstract

Pembangunan berkelanjutan menjadiprioritas yang sangat penting dalam agendapembangunan lingkungan nasional maupuninternasional. Ini terjadi karena timbulnyasensitivitas manusia akan arti pentingnyalingkungan yang sehat dan bersih (Psl 5 (1) UUPengelolaan Lingkungan Hidup No. 23 tahun1997). Lingkungan yang dimaksud tidakterbatas hanya lingkungan darat, tetapi meliputikeseluruhan lingkungan darat, udara, lautmaupun ruang angkasa.Salah satu agenda prioritaspembangunan berkelanjutan pada lingkunganlaut, instrumen hukum meresponnya melaluiinstrumen-instrumen internasional yang berupaKonvensi-Konvensi Internasional terutamamelalui pertanggungjawaban yang harusdilakukan dalam hal terjadinya pencemaranlingkungan laut, khususnya yang dilakukanoleh kapal tanker pengangkut minyak mentah(crude oil), mengingat dampak kerusakan lautyang ditimbulkan dengan adanya pencemarantersebut.Sebelum memahami pertanggungjawaban yang harus dilakukan oleh pihakpencemar laut. Sebelumnya haruslah dipahamisecara filosofis konsep yang mendasari asasstrict liability dan asas polluter pays principleyang menjadi dasar pertanggungjawabanpencemaran laut oleh tumpahan minyak kapaltanker melalui konsep pembangunanberkelanjutan.Pembangunan berkelanjutan merupakansuatu proses perubahan yang mensyaratkaneksploitasi sumber daya alam, tujuan investasidan orientasi dari pengembangan tehnologiserta perubahan dalam kelembagaan dilakukansecara konsisten dengan kebutuhan generasisaat ini, sebagaimana kebutuhan generasi yangakan datang, seperti diungkapkan dalam WorldCommission on the Environment andDevelopment (WCED) (1987 :9), sebagaiberikut: sustainable development is a process ofchange in which the exploitation ofresources, the direction of investment, theoriented of technological development, andinstitutional change are made consistentwith future as well as present a needâ€.
Dampak Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA)Kaliori Kecamatan Kalibagor Terhadap PengelolaanSampah di Kabupaten Banyumas Dewiana Mustika Ningrum; Agoes Djatmiko; Elly Kristiani Purwendah
Cakrawala Hukum: Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Wijayakusuma Vol. 22 No. 1 (2020): MAJALAH ILMIAH CAKRAWALA HUKUM
Publisher : Faculty of Law, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51921/chk.c6xmqv76

Abstract

Sampah telah menjadi masalah serius bagi lingkungan, yangmerugikan kehidupan masyarakat. Dampak negatif terhadap lingkungandapat berupa gangguan terhadap kualitas air, udara, tanah, dankenyamanan lingkungan. Permasalahan pengelolaan sampah salahsatunya terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaliori, KecamatanKalibagor, Kabupaten Banyumas. Faktor-faktor yang menyebabkanterjadinya sengketa antara Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumasdengan masyarakat di sekitar kawasan Tempat Pembuangan Akhir(TPA) Kaliori adalah pencemaran air (bocornya penampungan air lindi),yang menyebabkan air sumur menjadi kecoklatan sehingga tak dapatdikonsumsi, selain itu sawah juga tercemar sehingga tidak bisa lagiditanami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dampakpenutupan TPA Kaliori terhadap pengelolaan sampah di KabupatenBanyumas dan bagaimanakah peran Dinas Lingkungan Hidup (DLH)Kabupaten Banyumas dan masyarakat dalam penyelesaian sengketapengelolaan sampah yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)Kaliori. Penelitian ini termasuk ke dalam tipe penelitian hukum empiris.
Pengelolaan Sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)Gunung Tugel, Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja,Kabupaten Banyumas Laely Priatna; Wahyu Hariadi; Elly Kristiani Purwendah
Cakrawala Hukum: Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Wijayakusuma Vol. 22 No. 1 (2020): MAJALAH ILMIAH CAKRAWALA HUKUM
Publisher : Faculty of Law, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51921/chk.0gbcwq68

Abstract

Perkembangan pembangunan di kota Purwokerto dalam jumlahpenduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggimengakibatkan bertambahnya volume sampah. Untuk mengatasipermasalahan sampah disetiap daerah wajib memiliki TempatPembuangan Akhir (TPA) sebagaimana diatur dalam pasal 6 UndangUndang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. PemerintahKabupaten Banyumas memiliki TPA Gunung Tugel sebagai tempatpembuangan akhir yang terletak di Desa Kedungrandu dengan luas lahan± 5 Ha. Namun TPA tersebut ditutup pada tahun 2016 disebabkan karenakurang maksimalnya pengelolaan sampah dengan metode open dumping,terbatasnya lahan, dan kurangnya sarana dan prasarana, sehinggaberdampak terhadap pencemaran udara, timbulnya gas methane yangmenimbulkan bau busuk, berjangkitnya penyakit, dan tercemarnya airtanah oleh air lindi. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalahyuridis empiris, data yang digunakan adalah data primer melaluiobservasi dan wawancara kepada narasumber dan responden sebagaidata utama, data sekunder sebagai data pendukung berupa bahan bahanhukum, metode deskriptif kualitatif yang digunakan untuk melakukananalisis. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan timbulansampah dari dampak negatif pengelolaan sampah dengan metode opendumping.
Pertanggungjawaban Negara Terhadap Pencemaran Lintas BatasNegara (Studi Kasus: Kebakaran Hutan Di Indonesia Tahun 2019) Bagas Ramadhan Putra; Wahyu Hariadi; Elly Kristiani Purwendah
Cakrawala Hukum: Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Wijayakusuma Vol. 22 No. 2 (2020): MAJALAH ILMIAH CAKRAWALA HUKUM
Publisher : Faculty of Law, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51921/chk.jse06d91

Abstract

Kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia telah lamamelintasi perbatasan di Asia Tenggara. Masalah kabut asap masih tetapmenjadi agenda penting di ASEAN hingga sekarang. Kebakaran hutanmenyebabkan polusi dan berdampak pada wilayah negara lain sepertiMalaysia dan Singapura. ASEAN Agreement on Transboubdary HazePollution (AATHP) adalah salah satu cara untuk meningkatkan kerja samadi tingkat regional dan sub-regional untuk mengatasi kebakaran hutan dikawasan ASEAN. Oleh karena itu, tanggung jawab negara adalah masalahpenting untuk dibahas di tingkat global. Metode penelitian adalah yuridisnormatif. Data yang digunakan adalah data sekunder sebagai data utamadan data primer sebagai data pendukung, deskriptif kualitatif digunakanuntuk melakukan analisis. Penelitian ini dilakukan untuk menjawabmasalah tanggung jawab Indonesia atas polusi.
Hibah Wasiat yang Melanggar Legitieme Portie Menurut KUHPerdata (Studi Putusan No: 209/Pdt.G/2023/PN.Mlg) Okta Luthfiana Budi Cahyani; Eti Mul Erowati; Elisabeth Pudyastiwi; Elly Kristiani Purwendah
Cakrawala Hukum: Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Wijayakusuma Vol. 27 No. 1 (2025): MAJALAH ILMIAH CAKRAWALA HUKUM
Publisher : Faculty of Law, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51921/chk.s33nzh38

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui dasar pertimbangan hukum hakim dalam memutuskan gugatan pembatalan hibah wasiat karena melanggar ketentuan legitieme portie pada Putusan No. 209/Pdt.G/2023/PN.Mlg. Untuk mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan metode pendekatan secara yuridis normatif, Spesifikasi penelitian adalah bersifat deskriptif. Metode penyajian data disajikan dalam bentuk uraian-uraian yang dikelompokkan dan kemudian disusun secara sistematis. Kesimpulan: Penggugat, Tergugat I dan Tergugat II adalah ahli waris yang sah dari Hariyanto Pandjojo (Alm), dan berhak atas bagian mutlak (legitieme portie) atas warisan dari Hariyanto Pandjojo alm. Menghukum Tergugat I dan Tergugat II atau siapa saja yang mendapatkan hak daripadanya untuk menyerahkan kepada penggugat bagian mutlak (legitieme portie) atas warisan peninggalan Hariyanto Pandjojo (Alm) apabila tidak bisa dilaksanakan secara natura, maka objek sengketa tersebut akan dijual lelang melalui Kantor Lelang Negara dan hasilnya dibagikan kepada seluruh ahli waris sesuai bagian masing-masing