Sri Sudarmi Amir Rumae
Universitas Muslim Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Akreditasi Rumah Sakit terhadap Budaya Komunikasi Interprofesional dan Keselamatan pasien : Tinjauan Literatur Sistematis. Azharatul jannah; Salwah Suardi; Irfan Kurniawan; Sri Sudarmi Amir Rumae; Enne Enne
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56164

Abstract

Latar Belakang : Keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan merupakan prioritas utama rumah sakit. Dalamlingkungan klinis yang kompleks, komunikasi interprofessional yang efektif menjadi faktor kunci dalam menjamin keselamatan pasien. Kegagalan komunikasi antar tenaga kesehatan sering diidentifikasi sebagai penyebab utama terjadinya insiden keselamatan pasien. Akrditasi rumah sakit diterapkan sebagai instrument regulatif untuk menstandarkan mutu dan keselamatan pelayanan, namun dampaknya terhadap budaya komunikasi dan keselamatan pasien masih perlu dikaji secara komprehensif. Tujuan : Systematic Literature Review ini bertujuan untuk mengkaji dampak akreditasi rumah akreditasi rumah sakit terhadap budaya komunikasi interprofessional dan keselamatan pasien. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review dengan menelurusi artikel ilmiah bereputasi dari basis data internasional. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi serta temuan dianalisis secara tematik. Hasil : Hasil kajian menunjukkan bahwa akreditasi rumah sakit meningkatkan komunikasi interprofessional, standarisasi prosedur, pelaporan insiden, dan keterlibatan pasien sehingga memperkuat budayakeselamatan. Efektivitasnya bergantung pada penerapan praktik komunikasi terstruktur, kolaboratif, dan berkelanjutan dalam budaya organisasi.Kesimpulan :Akreditasi rumah sakit berpotensi memperkuat budaya komunikasi interprofessional dan meningkatkan keselamatan pasien apabila diimplementasikan secara konsisten dan didukung oleh komitmen organisasi sebagai strategi transformasi budaya, bukan sekedar pemenuhan administratif.
Karakteristik Kesehatan Mental Pada Remaja Disabilitas Di SLBN Jeneponto Nurul Mutmainnah Akhmad; Mansur Sididi; Hasriwiani Habo Abbas; Sri Sudarmi Amir Rumae; Andi Mirnawati; Enne
Window of Public Health Journal Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Kajian dan Pengelolaan Jurnal FKM UMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/1xnqdb74

Abstract

Adolescents with disabilities are a vulnerable group experiencing various mental health problems due to physical, intellectual, and social limitations that can affect their ability to adapt and interact with the environment. Mental health disorders in adolescents with disabilities can include emotional problems, anxiety, hyperactivity, and obstacles in social relationships, with some cases reaching clinical significance. This study aims to describe the characteristics of mental health in adolescents with disabilities at SLBN Jeneponto. This study used a quantitative descriptive design implemented at SLBN 1 Jeneponto and SLBN 2 Jeneponto. The study population was all 97 students with disabilities enrolled in both schools. The study sample was determined using a total sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed univariately using SPSS. The results showed that the majority of adolescents with disabilities had undisturbed mental health (61 respondents (62.9%)), while 36 respondents (37.1%) experienced mental health disorders, some of which were clinically significant. Based on mental health characteristics, the majority of respondents experienced emotional instability (58.8%), anxiety (59.8%), did not experience hyperactivity (55.7%), had unrelated peers (53.6%), and received a democratic parenting style from their parents (53.6%). This study concluded that although the majority of adolescents with disabilities had stable mental health, a significant proportion still experienced emotional problems and anxiety, warranting targeted support. Therefore, support from families, schools, and the social environment is needed to maintain and improve the mental health of adolescents with disabilities.