Azharatul Jannah
Program Studi Administrasi Kesehatan, Universitas Negeri Makassar, Makassar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kepuasan Sebagai Prediktor Utama Lost Patient pada Peserta Prolanis di Pusat Kesehatan Masyarakat Walangadi, Zulkifli; Harfah, Nurfalia; Jannah, Azharatul; Azizah, Andi Nurul
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16411

Abstract

Non-communicable diseases are the leading cause of death worldwide, with hypertension being a major risk factor. The Chronic Disease Management Program (Prolanis) is a government effort to prevent complications and improve the quality of life for patients with hypertension and type 2 diabetes mellitus. However, the phenomenon of lost patients or loss of control remains a challenge to the program's success. The purpose of this study was to analyze factors associated with lost patients among Prolanis participants at community health centers. This study used a cross-sectional design, involving 95 Prolanis participants selected using simple random sampling. Independent variables included knowledge, attitudes, behaviors, treatment side effects, service satisfaction, service access, family support, and the role of health workers. Data analysis was performed using multiple binary logistic regression. The results showed that knowledge, attitudes, health behaviors, satisfaction with services, and family support significantly influenced lost patients (p<0.05), with service satisfaction being the most dominant factor (Exp(B) = 14.659). In conclusion, satisfaction is the primary predictor of lost patients among Prolanis participants at community health centers.Keywords: Prolanis (chronic disease management program), lost patient; community health center ABSTRAK Penyakit tidak menular merupakan penyebab utama kematian di dunia, dengan hipertensi sebagai salah satu faktor risiko terbesar. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) merupakan upaya pemerintah untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2. Namun, fenomena lost patient atau putus kontrol masih menjadi tantangan dalam keberhasilan program. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian lost patient pada peserta Prolanis di pusat kesehatan masyarakat. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, yang melibatkan 95 peserta Prolanis yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Variabel independen mencakup pengetahuan, sikap, perilaku, efek samping pengobatan, kepuasan pelayanan, akses pelayanan, dukungan keluarga, dan peran tenaga kesehatan. Analisis data dilakukan dengan uji regresi logistik biner berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pengetahuan, sikap, perilaku kesehatan, kepuasan terhadap pelayanan, dan dukungan keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian lost patient (p<0,05), dengan kepuasan pelayanan menjadi faktor paling dominan (Exp(B) = 14,659). Sebagai kesimpulan, kepuasan merupakan predictor utama lost patient pada peserta Prolanis di pusat kesehatan masyarakat.Kata kunci: Prolanis (program pengelolaan penyakit kronis), lost patient; pusat kesehatan masyarakat
Hubungan Beban Kerja dan Stres Kerja dengan Kinerja Perawat di IGD RSUD Aloei Saboe Zulkifli Walangadi; Azharatul Jannah; Nurfalia Harfah; Andi Nurul Azizah
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v5i1.5749

Abstract

Nurse performance is a key indicator of healthcare quality and patient safety, particularly in Emergency Departments (ED) where workload demands are high. This study aimed to analyze the relationship between workload and job stress with nurse performance in the ED of Prof. Dr. H. Aloei Saboe Hospital. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted involving all 45 ED nurses selected through total sampling. Data were collected using structured questionnaires measuring workload, job stress, and nurse performance, and were analyzed using Spearman’s rank correlation test. Results showed that the majority of nurses experienced high workload (64.44%) and high job stress (53.33%). Statistical analysis revealed a significant negative correlation between workload and nurse performance (p = 0.002; r = -0.448) as well as between job stress and nurse performance (p = 0.001; r = -0.485), both with moderate correlation strength. These findings indicate that higher workload and stress levels are associated with lower nurse performance. The study highlights the need for comprehensive interventions, including optimizing nurse-patient ratios, improving workflow, providing psychosocial support, and implementing stress management programs to maintain nurse performance and service quality in high-pressure ED environments.
Integrasi Health Policy Triangle dan Prinsip Good Governance dalam Program PKRS untuk Mendorong Perubahan Perilaku Kesehatan Pasien : Suatu Tinjauan Sistematik Yasinta Indah Widyaningsih; Nurfalia Harfah; Azharatul Jannah
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v5i1.5935

Abstract

Health policy and hospital governance integration is essential in strengthening hospital-based health promotion, particularly through the Health Promotion Hospital Program (PKRS). This systematic review aims to analyze literature on practices, challenges, and strategies for aligning health policy and administrative governance in improving the effectiveness of behavioral-based health promotion in hospitals. The review was conducted using the Health Policy Triangle framework and Good Governance principles to identify how policy, actors, and context interact in shaping sustainable behavioral change interventions. Articles were retrieved from Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar databases using the keywords “health policy synergy,” “hospital governance,” “behavioral-based health promotion,” and “administrative integration.” Inclusion criteria included studies from 2020–2025 focusing on hospital-based health promotion, governance mechanisms, and digital transformation in behavioral change management. The synthesis revealed that behavioral health promotion effectiveness depends on adaptive policy integration, transparent governance, digital transformation, and human resource capacity building. Strengthening PKRS implementation requires evidence-based policies, innovative governance, and digital systems that support real-time data, cross-sector collaboration, and participatory decision-making. In conclusion, the integration of the Health Policy Triangle and Good Governance principles enhances hospital accountability, communication, and efficiency, thereby fostering sustained behavioral change and advancing national health goals.
Dampak Akreditasi Rumah Sakit terhadap Budaya Komunikasi Interprofesional dan Keselamatan pasien : Tinjauan Literatur Sistematis. jannah, Azharatul; Suardi, Salwah; Kurniawan, Irfan; Rumae, Sri Sudarmi Amir; Enne, Enne
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56164

Abstract

Latar Belakang : Keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan merupakan prioritas utama rumah sakit. Dalamlingkungan klinis yang kompleks, komunikasi interprofessional yang efektif menjadi faktor kunci dalam menjamin keselamatan pasien. Kegagalan komunikasi antar tenaga kesehatan sering diidentifikasi sebagai penyebab utama terjadinya insiden keselamatan pasien. Akrditasi rumah sakit diterapkan sebagai instrument regulatif untuk menstandarkan mutu dan keselamatan pelayanan, namun dampaknya terhadap budaya komunikasi dan keselamatan pasien masih perlu dikaji secara komprehensif. Tujuan : Systematic Literature Review ini bertujuan untuk mengkaji dampak akreditasi rumah akreditasi rumah sakit terhadap budaya komunikasi interprofessional dan keselamatan pasien. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review dengan menelurusi artikel ilmiah bereputasi dari basis data internasional. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi serta temuan dianalisis secara tematik. Hasil : Hasil kajian menunjukkan bahwa akreditasi rumah sakit meningkatkan komunikasi interprofessional, standarisasi prosedur, pelaporan insiden, dan keterlibatan pasien sehingga memperkuat budayakeselamatan. Efektivitasnya bergantung pada penerapan praktik komunikasi terstruktur, kolaboratif, dan berkelanjutan dalam budaya organisasi.Kesimpulan :Akreditasi rumah sakit berpotensi memperkuat budaya komunikasi interprofessional dan meningkatkan keselamatan pasien apabila diimplementasikan secara konsisten dan didukung oleh komitmen organisasi sebagai strategi transformasi budaya, bukan sekedar pemenuhan administratif.