Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PROFIL DASAR FUNGSI HATI DAN GINJAL PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT: BASELINE HEPATIC AND RENAL FUNCTION PROFILES IN CHILDREN WITH ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA Danny Meganingdyah Primartati; Noor Fadillah; Aulia Risqi Fatmariza; Fathul Hidayatul Hasanah; Aprilia Kusumaningrum; Rahmad Darmawan; Heka Mareta Nugraheni
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.524

Abstract

Leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan keganasan tersering pada anak dan membutuhkan terapi intensif yang berpotensi menimbulkan komplikasi organ. Penilaian fungsi hati dan ginjal dasar pada saat diagnosis penting dilakukan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang aman sebelum inisiasi kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil fungsi hati dan ginjal dasar pada anak dengan LLA yang baru terdiagnosis. Penelitian ini menggunakan desain observasional potong lintang dan dilakukan di pusat rujukan hematologi-onkologi anak pada periode Juli 2024 hingga Januari 2025. Subjek penelitian adalah 40 anak berusia ≤18 tahun dengan diagnosis LLA yang belum mendapatkan terapi. Parameter fungsi hati yang dinilai meliputi aspartat aminotransferase (AST), alanin aminotransferase (ALT), dan albumin serum, sedangkan parameter fungsi ginjal meliputi blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin serum. Analisis statistik mencakup analisis deskriptif, uji perbandingan berdasarkan usia dan jenis kelamin, serta analisis korelasi antarparameter. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan AST dan ALT pada sebagian pasien dengan korelasi positif yang kuat (r = 0.707; p < 0.001), yang mencerminkan stres hepatoseluler dini. Kadar albumin relatif terjaga dan tidak berkorelasi bermakna dengan transaminase, menunjukkan fungsi sintetik hati yang masih baik. Parameter ginjal umumnya berada dalam batas normal, dengan korelasi positif bermakna antara BUN dan kreatinin (r = 0.314; p = 0.048), mengindikasikan variasi subklinis fungsi ekskresi ginjal. Tidak ditemukan perbedaan bermakna berdasarkan usia dan jenis kelamin, kecuali kreatinin yang dipengaruhi faktor fisiologis usia. Penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi fungsi hati dan ginjal dasar memiliki signifikansi klinis penting dalam penatalaksanaan awal LLA anak, meskipun kelainan yang ditemukan bersifat ringan dan subklinis. Kata kunci: Karakteristik Dasar, Leukemia Limfoblastik Akut, Onkologi Anak, Profil Ginjal, Profil Hati Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most common childhood malignancy and requires intensive chemotherapy that may predispose patients to organ-related complications. Assessment of baseline hepatic and renal function at diagnosis is essential to support safe clinical decision-making prior to treatment initiation. This study aimed to describe baseline hepatic and renal function profiles in children with newly diagnosed ALL. A cross-sectional observational study was conducted at a tertiary pediatric hematology–oncology center between July 2024 and January 2025. Forty treatment-naive children aged ≤18 years with confirmed ALL were included. Baseline hepatic function parameters assessed included aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), and serum albumin, while renal function parameters included blood urea nitrogen (BUN) and serum creatinine. Statistical analyses comprised descriptive analysis, comparisons by on age and sex, and correlation analyses among laboratory parameters. Elevated AST and ALT levels were observed in a subset of patients, with a strong positive correlation between the two enzymes (r = 0.707; p < 0.001), indicating hepatocellular stress at diagnosis. Serum albumin levels were generally preserved and showed no significant correlation with transaminases, suggesting intact hepatic synthetic function despite elevated enzyme levels. Renal function parameters were largely within age-appropriate ranges, with a significant positive correlation between BUN and serum creatinine (r = 0.314; p = 0.048), reflecting subtle variations in renal excretory function without overt impairment. No significant differences in hepatic or renal parameters were observed according to age or sex, except for creatinine, which likely reflected physiological age-related variation. These findings suggest that mild hepatic and renal alterations may already be present at diagnosis in pediatric ALL. Systematic baseline evaluation of organ function, even when abnormalities appear subclinical, remains clinically important for treatment planning, monitoring strategies, and prevention of therapy-related complications. Keywords: Acute Lymphoblastic Leukemia, Baseline Characteristics, Hepatic Profile, Pediatric Oncology, Renal Profile
EVALUASI NILAI HOMA-Β PADA TIKUS DIABETES TERINDUKSI STREPTOZOTOCIN SETELAH PEMBERIAN FERMENTASI TEH HIJAU Rahmad Darmawan
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i1.1191

Abstract

Hiperglikemia kronis berkontribusi terhadap gangguan fungsi sel β pankreas melalui peningkatan stres oksidatif dan disfungsi sekresi insulin. Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi teh oleh kultur simbiotik bakteri dan ragi (SCOBY) yang diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif dengan potensi metabolik. Penelitian ini mengevaluasi efek pemberian kombucha teh hijau terhadap regulasi glukosa darah dan fungsi sel β pankreas pada model tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin (STZ). Lima belas tikus Wistar jantan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok diabetes tanpa intervensi serta dua kelompok intervensi dengan dosis 1,25 mL/kgBB dan 2,5 mL/kgBB selama 14 hari. Pemberian kombucha menunjukkan penurunan kadar glukosa darah puasa serta perbaikan indeks HOMA-B secara signifikan dibandingkan kelompok diabetes. Dosis 2,5 mL/kgBB memberikan respons paling optimal. Temuan ini mengindikasikan bahwa kombucha teh hijau berpotensi mendukung perbaikan homeostasis glukosa melalui modulasi fungsi sel β pancreas.
Potensi Hiperglikemia pada Warga Binaan Penyalahguna NAPZA: Deskripsi Gula Darah Puasa dan Karakteristik Metabolik Aulia Risqi Fatmariza; Danny Meganingdyah Primartati; Angga Eka Kurniawan; Rahmad Darmawan; Aprilia Kusumaningrum
Jurnal Sintesis: Penelitian Sains, Terapan dan Analisisnya Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Sains, Teknologi, dan Analsisi Institut ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jst.v7i1.399

Abstract

Substance abuse can disrupt glucose metabolism and increase the risk of undetected hyperglycemia, particularly in vulnerable populations such as inmates. This study aimed to describe fasting blood glucose levels and metabolic characteristics among substance-abusing inmates. A descriptive cross-sectional study was conducted involving 80 inmates selected by total sampling. Data included fasting blood glucose, body mass index, and blood pressure. Descriptive statistical analysis was performed, including mean, median, standard deviation, range, and proportion of hyperglycemia. The mean fasting blood glucose level was 121.3 mg/dL (median 117 mg/dL; SD 22.77 mg/dL; range 84–204 mg/dL). Hyperglycemia was observed in 42.5% of respondents. A proportion of subjects were also classified as obese and hypertensive. Substance-abusing inmates demonstrate a considerable burden of hyperglycemia, highlighting the importance of routine metabolic screening in correctional settings. Keywords: fasting blood glucose; hyperglycemia; substance abuse; inmates; metabolic risk
STANDAR MINIMUM KELENGKAPAN REKAM MEDIS GIGI UNTUK IDENTIFIKASI FORENSIK : MINIMUM COMPLETENESS STANDARD OF DENTAL RECORDS FOR FORENSIC IDENTIFICATION Fery Setiawan; Basma Rosandi Prakosa; Eko Prastyo; Rahmad Darmawan
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1214

Abstract

Rekam medis gigi memiliki peran penting dalam identifikasi forensik, terutama dalam proses pencocokan data antemortem dan postmortem pada kasus bencana massal, investigasi kriminal, maupun jenazah tanpa identitas. Meskipun manfaatnya telah diakui secara luas dalam pedoman internasional, hingga saat ini belum terdapat standar universal yang secara eksplisit mendefinisikan komponen minimum rekam medis gigi yang layak digunakan untuk kepentingan forensik. Variasi praktik dokumentasi klinis menyebabkan ketidakkonsistenan kualitas data, yang pada akhirnya dapat menghambat proses identifikasi. Tinjauan naratif ini bertujuan merumuskan kerangka konseptual mengenai standar minimum kelengkapan rekam medis gigi yang dapat diterapkan secara pragmatis dalam praktik klinik umum. Literatur ditelaah secara naratif dengan mengacu pada pedoman internasional, publikasi odontologi forensik, serta praktik dokumentasi klinis yang relevan. Hasil sintesis menunjukkan bahwa tiga komponen utama dapat dikategorikan sebagai ambang minimum, yaitu identitas pasien terverifikasi (nama, tanggal lahir, jenis kelamin), odontogram yang jelas, bertanggal dan ditandatangani, serta minimal satu radiograf diagnostik berupa panoramik atau periapikal. Komponen tambahan seperti CBCT, foto intraoral, dan catatan restorasi memiliki nilai forensik tambahan namun tidak termasuk dalam standar minimum universal karena keterbatasan ketersediaan. Kerangka ini menawarkan pendekatan yang menyeimbangkan kekuatan pembuktian forensik dan keterlaksanaan klinis, serta berpotensi meningkatkan kesiapan forensik dalam praktik kedokteran gigi sehari-hari.