Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Improving Preparedness Through Earthquake Disaster Simulation Activities for Elementary School Student Sri Haryuni; Ani Sutriningsih; Indah Jayani; Susmiati; Erik Irham Lutfi; Devangga Darma Karingga
Journal of Community Service for Health Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jcsh.v6i2.1282

Abstract

Earthquakes are one of the natural disasters that frequently occur in Indonesia and claim many lives. Kediri City is an earthquake-prone area because it is home to one of the active volcanoes, Kelud Mountain. Children are among the vulnerable groups most at risk of being affected by disasters. Preparedness is important to be provided early to provide understanding and guidance on the appropriate steps to take when a threat occurs to reduce disaster risk. This community service activity aimed to determine the effect of simulation on earthquake disaster preparedness among students of SDN Pojok 2, Kediri City. The method used a pre-experimental one-group pre-test and post-test design. The samples were taken using cluster random sampling and the sample size used was 46 students. The preparedness data were collected using a questionnaire. The data analysis used the Wilcoxon test. The results of the activity showed that the level of preparedness before the disaster simulation was almost entirely low (80.5%), the level of preparedness after the disaster simulation was almost entirely high (86.9%), and there was an effect of simulation on earthquake disaster preparedness among students of SDN Pojok 2, Kediri City (ρ = 0.000). Preparedness simulations have significantly improved elementary school students' disaster preparedness. Therefore, it is hoped that disaster management simulations can be implemented in all schools in Kediri City, with training provided to elementary school teachers.
HUBUNGAN STATUS GIZI, RIWAYAT BBLR, ASI EKSKLUSIF, STIMULASI, POLA ASUH, DAN SCREEN TIME DENGAN PERKEMBANGAN BALITA Mahaendriningtiyastuti Mahaendriningtiyastuti; Susmiati; Indah Jayani
Jurnal Bidan Pintar Vol. 7 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jubitar.v7i2.7909

Abstract

    Perkembangan balita merupakan proses multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis dan lingkungan. Status gizi, riwayat berat badan lahir rendah (BBLR), ASI eksklusif, stimulasi, pola asuh, dan screen time merupakan faktor yang berpotensi berhubungan dengan perkembangan anak. Menganalisis hubungan status gizi, riwayat BBLR, ASI eksklusif, stimulasi, pola asuh, dan screen time dengan perkembangan balita di wilayah kerja Puskesmas Balowerti Kota Kediri. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 60 balita usia 12–60 bulan yang dipilih menggunakan simple random sampling dari populasi 1.046 balita. Status gizi dinilai berdasarkan pengukuran antropometri, riwayat BBLR berdasarkan riwayat berat lahir, sedangkan ASI eksklusif, stimulasi, pola asuh, dan screen time dinilai menggunakan kuesioner. Perkembangan anak dinilai menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Spearman Rank dengan α=0,05. Hasil: Sebagian besar balita memiliki status gizi normal (55,0%), tidak memiliki riwayat BBLR (83,3%), memperoleh ASI eksklusif (63,3%), mendapatkan stimulasi baik (51,7%), memiliki pola asuh baik (63,3%), dan screen time kategori cukup (56,7%). Sebanyak 78,3% balita memiliki perkembangan sesuai. Terdapat hubungan antara status gizi (p=0,014; r=0,315), riwayat BBLR (p<0,001; r=0,858), ASI eksklusif (p<0,001; r=0,446), stimulasi (p<0,001; r=0,488), pola asuh (p=0,002; r=0,390), dan screen time (p<0,001; r=0,584) dengan perkembangan balita. Keenam variabel menunjukkan hubungan bermakna dengan perkembangan balita. Penguatan pemantauan tumbuh kembang, stimulasi, pengasuhan responsif, praktik pemberian ASI, pemenuhan gizi, serta pengelolaan screen time perlu dilakukan secara terintegrasi di tingkat keluarga dan pelayanan kesehatan primer.   Kata kunci: perkembangan balita; status gizi; BBLR; ASI eksklusif; stimulasi; pola asuh; screen time
PENGARUH PIA MANIS (PELAYANAN INTEGRITAS KENCING MANIS) TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 Adhe Putri Trisnani; Susmiati; Indah Jayani
Jurnal Bidan Pintar Vol. 7 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jubitar.v7i2.7921

Abstract

Abstrak Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Salah satu permasalahan dalam pengelolaan DM adalah rendahnya kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Puskesmas Ngronggot mengembangkan PIA Manis (Pelayanan Integritas Kencing Manis) sebagai inovasi pelayanan terpadu untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien DM. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh PIA Manis terhadap kepatuhan pengobatan pasien DM di Puskesmas Ngronggot Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan melibatkan 96 pasien DM yang dibagi menjadi kelompok intervensi sebanyak 48 responden dan kelompok kontrol sebanyak 48 responden. Kelompok intervensi mendapatkan PIA Manis dan dilakukan pengukuran pre-test dan post-test, sedangkan kelompok kontrol hanya dilakukan pengukuran post-test. Variabel independen adalah PIA Manis, sedangkan variabel dependen adalah kepatuhan pengobatan. Analisis pre-test dan post-test kelompok intervensi menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test, sedangkan perbandingan post-test antara kelompok intervensi dan kontrol menggunakan Mann-Whitney U Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 81,3% responden kelompok kontrol memiliki kepatuhan rendah. Pada kelompok intervensi, 91,7% responden memiliki kepatuhan rendah saat pre-test, sedangkan saat post-test 66,7% memiliki kepatuhan sedang dan 33,3% memiliki kepatuhan tinggi. Hasil uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan perbedaan signifikan antara pre-test dan post-test pada kelompok intervensi (Z = -6,184; p < 0,001). Uji Mann-Whitney U menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol pada post-test (Z = -8,009; p < 0,001). Dengan demikian, PIA Manis berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan pasien DM di Puskesmas Ngronggot Kabupaten Nganjuk. PIA Manis diharapkan dapat dipertahankan dan dikembangkan sebagai model pelayanan terpadu dalam pengelolaan pasien DM di pelayanan kesehatan primer.   Kata kunci: Diabetes melitus, PIA Manis, kepatuhan pengobatan, pelayanan kesehatan primer
ANALISIS FAKTOR PERILAKU PENYEBAB PENULARAN TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) PADA USIA PRODUKTIF Erik Podang; Eko Winarti; Susmiati
Jurnal Bidan Pintar Vol. 7 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jubitar.v7i2.7924

Abstract

Abstrak Perilaku kesehatan pada pasien TB paru adalah tindakan nyata dalam menerapkan etika batuk, minum obat secara teratur, dan menjaga kebersihan lingkungan. Tindakan ini bertujuan untuk menghentikan kejadian penularan infeksi ke orang lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan faktor perilaku (kontak serumah, etika batuk dan penggunaan masker) dengan penularan TB paru pada usia produktif di RSUD Wamena. Jenis penelitian kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien tuberkulosis paru usia produktif usia ≥26-65 tahun yang melakukan pengobatan atau mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUD Wamena Kabupaten Jayawijaya pada periode penelitian tahun. Berdasarkan teknik pengambilan sampel total sampling didapatkan sejumlah 35 responden. Analisa data dengan uji korelasi spearman rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku kontak serumah (p value=0,002<α=0,05; r=0,507), etika batuk (p value=0,001<α=0,05; r=0,527), dan pemakaian masker (p value=0,000<α=0,05; r=0,704) dengan kejadian penularan TB paru pada pasien di RSUD Wamena. Diharapkan responden dan keluarga meningkatkan perilaku pencegahan penularan dengan cara menghindari kontak erat yang tidak perlu selama pasien masih dalam fase infeksius, menggunakan masker ketika berinteraksi dengan penderita TB, menerapkan etika batuk yang benar, menjaga ventilasi rumah, serta melakukan pemeriksaan apabila memiliki riwayat kontak serumah. Kata Kunci : tuberkulosis; kontak_serumah ; etika_batuk; pemakaian_masker; penularan
FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN HEMODIALISIS Ni Made Septiari Udayani; Susmiati; Indah Jayani
Jurnal Bidan Pintar Vol. 7 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jubitar.v7i2.7931

Abstract

Abstrak Kualitas hidup merupakan salah satu indikator penting dalam keberhasilan pelayanan pasien hemodialisis karena terapi hemodialisis yang berlangsung jangka panjang dapat memengaruhi kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien hemodialisis di Rumah Sakit Bina Sehat Kabupaten Jember. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 67 pasien hemodialisis yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Variabel yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, pengetahuan, komorbiditas, dan status gizi, sedangkan kualitas hidup diukur menggunakan WHOQOL-BREF. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Spearman dan Chi-square sesuai karakteristik data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (88,1%), status gizi normal (62,7%), dan kualitas hidup berada pada tingkat sedang berdasarkan rerata domain. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kualitas hidup (p=0,380), jenis kelamin dengan kualitas hidup (p=0,513), pengetahuan dengan kualitas hidup (p=0,950), maupun status gizi dengan kualitas hidup (p=0,690). Variabel komorbiditas tidak dapat dianalisis secara statistik karena seluruh responden memiliki komorbiditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor usia, jenis kelamin, pengetahuan, dan status gizi tidak berhubungan secara signifikan dengan kualitas hidup pasien hemodialisis. Diperlukan perhatian terhadap faktor lain yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup pasien hemodialisis.     Kata kunci : Kualitas Hidup, Hemodialisis, Gagal Ginjal