Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PROSES PEMBENTUKAN KARAKTER DI ASRAMA MAN 1 SURAKARTA: ANALISIS BERBASIS TEORI LICKONA Naufal Hanif Furqon; Zaki Afifi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11212

Abstract

Moral decline among adolescents indicates that education has not yet fully succeeded in shaping students of good character. One approach widely applied to address this issue is boarding school education, as it allows for a more intensive character-building process through habit formation and role modeling. However, most previous studies have focused primarily on the outcomes of character development, while the implementation process based on a systematic theoretical framework has not yet been extensively examined. This study offers an analysis using Thomas Lickona’s three-component theory of character moral knowing, moral feeling, and moral action to understand the character-building process more comprehensively. The study aims to describe the implementation of character-building at the MAN 1 Surakarta boarding school. The study employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and were analyzed through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that character development occurs through the integration of classroom learning, the study of the Ta’lim Muta’allim text, habit formation, modeling, and supervision by teachers, mentors, and the Religious Program Student Organization (OPPK). This process fosters moral understanding, inner awareness, and behavioral habits of discipline, responsibility, and independence. This study concludes that the MAN 1 Surakarta dormitory serves as an effective environment for holistic and sustainable character formation. ABSTRAK Degradasi moral di kalangan remaja menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk peserta didik yang berkarakter. Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah pendidikan berbasis asrama, karena memungkinkan proses pembinaan berlangsung lebih intensif melalui pembiasaan dan keteladanan. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak menyoroti hasil pembentukan karakter, sementara proses implementasinya berdasarkan kerangka teoritis yang sistematis masih belum banyak dikaji. Penelitian ini menawarkan analisis menggunakan teori tiga komponen karakter Thomas Lickona, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action, untuk memahami proses pembentukan karakter secara lebih utuh. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembentukan karakter di asrama MAN 1 Surakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter berlangsung melalui integrasi pembelajaran di kelas, kajian kitab Ta’lim Muta’allim, pembiasaan, keteladanan, dan pengawasan oleh guru, pembina, dan Organisasi Pelajar Program Keagamaan (OPPK). Proses tersebut membentuk pemahaman moral, kesadaran batin, serta kebiasaan perilaku disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa asrama MAN 1 Surakarta merupakan lingkungan yang efektif dalam membentuk karakter peserta didik secara holistik dan berkelanjutan.
Penguatan literasi lingkungan berbasis Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di SD Muhammadiyah PK Nogosari Zaki Afifi; Isnaya Arina Hidayati; Mahasri Shobahiya; Ahmad Baihaqi Esaputra; Mirzam Arqy Ahmadi; Nashiruddin Amin; Bayu Rahmat Setiyo; Anwar Anwar; Rio Ramadhon
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38473

Abstract

AbstrakKerusakan lingkungan yang semakin meningkat menuntut peran strategis pendidikan dalam membentuk kesadaran dan perilaku peduli lingkungan. Program Sekolah Adiwiyata merupakan kebijakan nasional untuk mewujudkan budaya sekolah berwawasan lingkungan, namun implementasinya pada sekolah berbasis keagamaan masih menghadapi tantangan pada aspek literasi nilai, komitmen warga sekolah, dan kesiapan administratif. Artikel ini mendeskripsikan pelaksanaan program pengabdian masyarakat berbasis penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam mendukung kesiapan SD Muhammadiyah Program Khusus Nogosari menuju Sekolah Adiwiyata. Kegiatan dilaksanakan pada September–Desember 2025 menggunakan pendekatan community-based education melalui model participatory engagement dan capacity building dengan melibatkan 21 guru dan tenaga kependidikan. Program meliputi enam kegiatan utama: workshop etika lingkungan berbasis AIK, pelatihan penghijauan di lahan sempit, workshop penyuluhan Sekolah Adiwiyata, FGD strategi dan penyusunan dokumen pengajuan Adiwiyata, workshop motivasi guru penggerak lingkungan, serta pengadaan fasilitas Adiwiyata. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan literasi lingkungan berbasis AIK dan pemahaman Program Adiwiyata, penguatan komitmen serta praktik perilaku ramah lingkungan secara terstruktur, dan tersusunnya dokumen awal pengajuan Adiwiyata tingkat kabupaten. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi nilai keagamaan dengan pendidikan lingkungan efektif dalam membangun kesadaran, motivasi, dan budaya sekolah peduli lingkungan. Kata kunci: sekolah adiwiyata; pendidikan lingkungan; al-islam dan kemuhammadiyahan; pengabdian masyarakat AbstractIncreasing environmental degradation demands the strategic role of education in fostering environmental awareness and pro-environmental behavior. The Adiwiyata School Program is a national policy aimed at developing environmentally oriented school cultures; however, its implementation in faith-based schools still faces challenges related to value literacy, stakeholder commitment, and administrative readiness. This article describes the implementation of a community service program based on strengthening Al-Islam and Kemuhammadiyahan (AIK) values to support the readiness of SD Muhammadiyah Program Khusus Nogosari toward becoming an Adiwiyata School. The program was conducted from September to December 2025 using a community-based education approach through participatory engagement and capacity-building models involving 21 teachers and educational staff. The program consisted of six main activities: an AIK-based environmental ethics workshop, limited-space greening training, an Adiwiyata program workshop, a focus group discussion on strategy and preparation of Adiwiyata submission documents, a motivation workshop for environmental teacher leaders, and the provision of Adiwiyata supporting facilities. The results indicate increased AIK-based environmental literacy and understanding of the Adiwiyata Program, strengthened commitment and structured environmentally friendly practices within the school, and the completion of initial documents for district-level Adiwiyata submission. These findings confirm that integrating religious values with environmental education effectively promotes awareness, motivation, and an environmentally responsible school culture. Keywords: adiwiyata school; environmental education; al-islam and kemuhammadiyahan; community service.