Fauzi Annur
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONSEP KESEIMBANGAN BERPIKIR DALAM ISLAM DAN LITERASI UMAT Rizal Farid Fahrudin; Habib Arman; Choirul Huda; Aditya Guna Pratama; Havid Risky Hidayat Havid Risky Hidayat; Ismail Ismail; Fauzi Annur
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.11464

Abstract

ABSTRACT The development of globalization and the rapid flow of digital information have given rise to various schools of Islamic thought that influence how Muslims understand religious teachings. This condition has led to the emergence of extreme tendencies, both textual and liberal, making balanced thinking essential in strengthening critical and moderate Islamic literacy. This study aims to analyze the concept of balanced thinking in various Islamic perspectives and its impact on strengthening Muslim literacy in the modern era. This research employed a qualitative method with a library research approach. Data were obtained from Qur’anic verses, books, scientific journals, and relevant research articles, then analyzed using content analysis techniques. The findings show that balanced thinking in Islam is reflected through the integration of reason and revelation, text and context, as well as rational and spiritual aspects. This concept is represented in various Islamic thoughts, including traditional, rational, moderate, sufistic, and tajdid perspectives. In addition, the values of justice (al-‘adl) and balance (al-mīzān) in the Qur’an serve as the foundation for developing objective, proportional, and moderate ways of thinking. Balanced thinking also contributes to strengthening Muslim literacy through critical, reflective, and wise thinking skills in responding to the flow of information in the modern era. ABSTRAK Perkembangan globalisasi dan arus informasi digital telah memunculkan beragam corak pemikiran Islam yang memengaruhi cara umat memahami ajaran agama. Kondisi ini menyebabkan munculnya kecenderungan pemikiran yang ekstrem, baik bersifat tekstual maupun liberal, sehingga keseimbangan berpikir menjadi penting dalam membangun literasi umat Islam yang kritis dan moderat. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep keseimbangan berpikir dalam berbagai corak pemikiran Islam serta dampaknya terhadap penguatan literasi umat di era modern. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an, buku, jurnal ilmiah, dan artikel penelitian yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan berpikir dalam Islam tercermin melalui integrasi antara akal dan wahyu, teks dan konteks, serta aspek rasional dan spiritual. Konsep tersebut tampak dalam berbagai corak pemikiran Islam, seperti tradisional, rasional, moderat, sufistik, dan tajdid. Selain itu, nilai keadilan (al-‘adl) dan keseimbangan (al-mīzān) dalam Al-Qur’an menjadi landasan dalam membangun pola pikir objektif, proporsional, dan moderat. Keseimbangan berpikir juga berkontribusi terhadap penguatan literasi umat melalui kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan bijak dalam menghadapi arus informasi di era modern.
RELEVANSI MODEL PEMIKIRAN IMAM AHMAD DAN DAMPAKNYA BAGI KESEIMBANGAN BERPIKIR DI ERA PASCA DIGITAL Shalahudin Alfattah; Aulia Nur Azizah; Annisa Nurhanifah; Mutiara Dwi Rachmawati; Muhammad Ghozy Al-faruq; Dani Muhammad Alghifari; Fauzi Annur
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.11465

Abstract

ABSTRACT The post-digital era is characterized by the rapid flow of information, the spread of hoaxes, polarization of thought, and post-truth phenomena that affect people’s balance of thinking. These conditions indicate the importance of a critical, moderate, and verification-based model of thinking. This study aims to analyze the relevance of Imam Ahmad bin Hanbal’s thought and its impact on shaping balanced thinking in post-digital society. The research employed a qualitative method using a library research approach. Data were collected from primary and secondary sources related to Imam Ahmad bin Hanbal’s thought and analyzed using descriptive-analytical methods through historical, philosophical, and comparative-contextual approaches. The findings reveal that Imam Ahmad’s thought emphasizes the authority of revelation, prudence in legal reasoning, information verification, and intellectual integrity. These principles are relevant to the needs of modern digital literacy in addressing hoaxes, disinformation, and social media polarization. Furthermore, balanced thinking in Imam Ahmad’s perspective is constructed through the proportional integration of revelation, reason, and ethics, thereby forming a critical, objective, and responsible mindset in the post-digital era. ABSTRAK Era pasca-digital ditandai oleh melimpahnya arus informasi, penyebaran hoaks, polarisasi pemikiran, dan fenomena post-truth yang memengaruhi keseimbangan berpikir masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya model berpikir yang kritis, moderat, dan berbasis verifikasi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal serta dampaknya terhadap pembentukan keseimbangan berpikir masyarakat di era pasca-digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Data diperoleh dari literatur primer dan sekunder yang berkaitan dengan pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis melalui pendekatan historis, filosofis, dan komparatif-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Imam Ahmad menekankan otoritas wahyu, kehati-hatian dalam berijtihad, verifikasi informasi, serta integritas intelektual. Prinsip-prinsip tersebut relevan dengan kebutuhan literasi digital modern dalam menghadapi hoaks, disinformasi, dan polarisasi media sosial. Selain itu, keseimbangan berpikir dalam perspektif Imam Ahmad dibangun melalui integrasi wahyu, akal, dan etika secara proporsional sehingga membentuk pola pikir kritis, objektif, dan bertanggung jawab di era pasca-digital.
SEBUAH PERSPEKTIF RESPONSIF PENDIDIKAN LITERASI UNTUK MELAWAN KORUPSI Ari Maulana Ramadan; Imam Aris Utomo; Muhammad Huda; Mukhamad Diki Indarto; Mohammad Ulil Abshor Abdalla; Ibnu Hibban; Fauzi Annur
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.10671

Abstract

ABSTRACT Corruption remains a serious issue affecting the quality of social, political, and educational life in Indonesia. On the other hand, the low level of literacy culture has caused society to lack critical thinking skills in understanding various forms of abuse of power and information manipulation. This study aims to analyze the role of literacy education in building an anti-corruption culture and to explain the relationship between literacy skills and public social awareness toward corrupt practices. The study employed a library research method with a qualitative interpretative approach through the analysis of various scientific sources, including books, journals, academic articles, and official documents relevant to literacy education, anti-corruption education, and societal development in the Society 5.0 era. Data sources were obtained through literature searches from Google Scholar, GARUDA, and various national and international scientific publications from 2021–2025. Data analysis was conducted through stages of data reduction, classification, interpretation, and systematic conclusion drawing. The findings indicate that literacy education plays an important role in shaping critical awareness, moral integrity, and public courage in rejecting corrupt practices. Literacy functions not only as the ability to read and understand information, but also as a means of developing a culture of transparency, accountability, and social responsibility within society. ABSTRAK Korupsi masih menjadi persoalan serius yang memengaruhi kualitas kehidupan sosial, politik, dan pendidikan di Indonesia. Di sisi lain, rendahnya budaya literasi menyebabkan masyarakat kurang memiliki kemampuan berpikir kritis dalam memahami berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan literasi dalam membangun budaya antikorupsi serta menjelaskan hubungan antara kemampuan literasi dengan kesadaran sosial masyarakat terhadap praktik korupsi. Penelitian menggunakan metode library research dengan pendekatan kualitatif interpretatif melalui analisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal, artikel akademik, dan dokumen resmi yang relevan dengan pendidikan literasi, pendidikan antikorupsi, serta perkembangan masyarakat di era Society 5.0. Sumber data diperoleh melalui penelusuran literatur dari Google Scholar, GARUDA, dan berbagai publikasi ilmiah nasional maupun internasional periode 2021–2025. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan literasi memiliki kontribusi penting dalam membentuk kesadaran kritis, integritas moral, dan keberanian masyarakat dalam menolak praktik korupsi. Literasi tidak hanya berfungsi sebagai kemampuan membaca dan memahami informasi, tetapi juga sebagai sarana membangun budaya transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.