Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Politik Devide et Impera Pemerintah Kolonial Belanda Dalam Memperkuat dan Mempertahankan Kekuasannya di Indonesia pada Abad Ke-17 Hingga Ke-19 Riyanty Ruth Melaty Angel Simanungkalit; Elina Sianturi; Mhd Annoer Rafiq; Elman Wira Selamat Lafau; Jeremy Arif Gonzales Tarigan; Flores Tanjung
Jurnal Multidisiplin Teknologi dan Arsitektur Vol. 4 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/motekar.v4i1.8121

Abstract

Penelitian ini membahas strategi politik divide et impera yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam memperkuat dan mempertahankan kekuasaannya di Nusantara pada abad ke-17 hingga abad ke-18. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk penerapan serta dampak dari strategi politik tersebut terhadap kekuatan kerajaan-kerajaan lokal di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research (studi kepustakaan), yang memanfaatkan berbagai sumber sekunder seperti buku, artikel jurnal, dan dokumen sejarah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi divide et impera dilakukan dengan memanfaatkan konflik internal kerajaan, membangun aliansi dengan penguasa lokal yang bersedia bekerja sama, serta memanfaatkan perbedaan sosial dan politik dalam masyarakat. Penerapan strategi ini dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah penting, seperti konflik suksesi di Kerajaan Mataram Islam yang berujung pada Perjanjian Giyanti, persaingan antara Kerajaan Bone dan Kesultanan Gowa dalam Perang Makassar, konflik kekuasaan di Kesultanan Banten antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji, serta perpecahan kekuatan politik di Kesultanan Aceh antara pihak kesultanan dan para uleebalang. Melalui strategi tersebut, Belanda berhasil melemahkan kekuatan politik kerajaan-kerajaan lokal dan memperluas pengaruhnya di berbagai wilayah Nusantara. Dampak dari kebijakan ini tidak hanya terlihat pada melemahnya kekuatan kerajaan lokal, tetapi juga pada meningkatnya ketergantungan politik dan ekonomi terhadap Belanda serta munculnya konflik sosial yang berkepanjangan dalam masyarakat.
Peranan Kesultanan Asahan Dalam Jaringan Perdagangan di Pantai Timur Sumatera Riyanty Ruth Melaty Angel Simanungkalit; Ririn Eriva Tampubolon; Mhd Fahrurrozi; Raja Pangihutan Simangungsong
SAKOLA: Journal of Sains Cooperative Learning and Law Vol. 3 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/sakola.v3i1.8315

Abstract

Penelitian ini membahas peranan Kesultanan Asahan dalam jaringan perdagangan di Pantai Timur Sumatera. Permasalahan dalam penelitian ini meliputi latar belakang berdirinya Kesultanan Asahan, kondisi geografis dan letak strategis wilayahnya, peranannya dalam jaringan perdagangan, serta komoditas yang diperdagangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif peran Kesultanan Asahan dalam mendukung aktivitas perdagangan di kawasan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), yaitu dengan mengkaji berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal ilmiah, dan dokumen sejarah yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara tematik dengan menginterpretasikan informasi yang diperoleh secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesultanan Asahan memiliki peranan penting sebagai penghubung antara wilayah pedalaman dan jaringan perdagangan internasional, terutama karena letaknya yang strategis di sekitar Selat Malaka serta didukung oleh keberadaan Sungai Asahan. Selain itu, kesultanan ini juga berfungsi sebagai pengatur aktivitas perdagangan melalui kebijakan ekonomi dan menjaga stabilitas keamanan jalur perdagangan. Komoditas yang diperdagangkan meliputi hasil pertanian, perkebunan, dan hasil hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dengan demikian, Kesultanan Asahan berkontribusi signifikan dalam perkembangan perdagangan regional di Pantai Timur Sumatera.