Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hukum Menikah dengan Orang Ahli Kitab dan Orang Musyrik Wawan Arbeni; Abdullah Azaki Suhud; Abul Khair; Cahya Mahfuza; Fadhiya Hasanah; Hilda Nafitri; Isra Nizam
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.860

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif hukum pernikahan dengan orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) serta orang musyrik dalam perspektif hukum Islam melalui pendekatan studi pustaka. Pernikahan lintas agama merupakan isu yang sangat sensitif dan memiliki implikasi teologis, sosial, dan hukum yang sangat mendalam dalam kehidupan umat Islam. Kajian ini menganalisis dalil-dalil syar'i dari Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW, pendapat ulama dari berbagai mazhab fiqh, serta relevansinya dengan regulasi hukum perkawinan di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam secara tegas melarang pernikahan antara Muslim dengan orang musyrik, baik bagi laki-laki maupun perempuan Muslim. Adapun pernikahan Muslim dengan Ahli Kitab terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama: laki-laki Muslim diperbolehkan menikahi perempuan Ahli Kitab menurut pendapat mayoritas ulama klasik, namun hal ini dibatasi dan bahkan dilarang oleh banyak ulama kontemporer atas dasar sadd al-dzari'ah dan pertimbangan maqashid al-syari'ah, terutama terkait perlindungan agama, keturunan, dan keluarga. Sementara itu, perempuan Muslim secara ijma' dilarang menikah dengan laki-laki non-Muslim, termasuk Ahli Kitab. Pengaturan mengenai pernikahan beda agama di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang pada dasarnya melarang pernikahan beda agama demi menjaga kemaslahatan keluarga dan agama.
Kaidah Fi‘Il Amr Dalam Teks “Keindahan Alam” Chikita Az Zahra; Muhammad Solihin Pranoto; Echy Syahputri; Fadhiya Hasanah
Indonesian Journal of Education and Development Research Vol. 4 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/ijedr.v4i1.7784

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan kaidah fiil amr (kata kerja perintah) dalam ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keindahan alam. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi pola penggunaan fiil amr, menganalisis struktur linguistiknya, dan mengungkap implikasi teologis serta ekologis dari penggunaan bentuk imperatif dalam konteks penciptaan alam. Penelitian menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap teks Al-Qur'an dan literatur tafsir klasik maupun kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fiil amr dalam ayat-ayat tentang keindahan alam memiliki tiga fungsi utama: perintah kontemplasi (tadabbur), perintah observasi empiris (nazhar), dan perintah pengambilan pelajaran (i'tibar). Pembahasan mengungkapkan bahwa penggunaan fiil amr mencerminkan pedagogi ilahi yang mendorong manusia untuk mengembangkan kesadaran ekologis melalui keterlibatan aktif dengan alam, bukan sekadar apresiasi pasif. Temuan ini berkontribusi pada pemahaman tentang hubungan antara linguistik Al-Qur'an dan etika lingkungan dalam Islam.