Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Public Discourses on AI Companions in Indonesia: A Semantic Network Analysis of Twitter Conversations Nadinta Rafifah Suaib; Rajab Ritonga; Tri Wahyu Retno Ningsih
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 11 No. 1 (2026): June 2026 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/raapr457

Abstract

The advancement of artificial intelligence (AI) has transformed how humans communicate and make sense of technology. One notable example is ChatGPT, an AI-based conversational system that has become embedded in everyday digital life, functioning not only as a tool but also as a communicative partner. This study aims to map public discourse about ChatGPT on X (Twitter) using a semantic network analysis approach. Data were collected from user posts mentioning the keyword “ChatGPT” during August 2025. The dataset was processed and analyzed in Gephi to calculate degree centrality, betweenness centrality, and modularity, and then qualitatively interpreted through Papacharissi’s (2015) Affective Publics framework. The results reveal two dominant clusters: a functional cluster that emphasizes ChatGPT’s role as a productivity and learning assistant, and an emotional cluster that reflects users’ affective attachment to ChatGPT as a conversational companion that provides empathy and emotional validation. The “ChatGPT” node achieved the highest betweenness centrality, signifying its bridging position between rational and affective dimensions of human–machine communication. Drawing on the Affective Publics perspective, the study concludes that digital public spheres are shaped through technologically mediated emotional resonance and collective storytelling, producing new forms of shared meaning and social connectedness within Indonesia’s digital society.
KEKERASAN SIMBOLIK PADA PEREMPUAN DENGAN POSTPARTUM DEPRESSION MELALUI SKRINING EDINBURGH POSTNATAL DEPRESSION SCALE (EPDS) Rizky Wulan Ramadhani; John R.S.P.K.M. Isa; Rajab Ritonga
ORASI: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 15 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/orasi.v15i2.18328

Abstract

Masyarakat menciptakan konstruksi sosial untuk mengkategorikan perempuan sebagai “perempuan dan ibu yang baik” yang dapat memicu postpartum atau baby blues pada ibu yang baru saja melahirkan. Postpartum blues bisa menjadi depresi pasca melahirkan jika berlangsung lebih dari dua minggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekerasan simbolik yang dialami perempuan yang mengalami postpartum blues melalui skrining Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dengan menggunakan Masculine Dominance Theory milik Pierre Bordui. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme dan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara kepada empat perempuan yang telah melakukan skrining dengan skor EPDS lebih dari 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan postpartum blues mengalami kekerasan simbolik sebelum, saat dan setelah menikah agar masuk dalam kategori “perempuan dan ibu yang baik”. Perempuan dikonstruksikan sebagai perempuan yang baik jika mampu melakukan pekerjaan rumah tangga, taat kepada orang tua dan suami, melahirkan secara normal, menyusui anak dan mengasuh anak dengan baik melalui praktik-praktik kekerasan simbolik yang dilakukan oleh suami, keluarga, mertua, masyarakat dan budaya di sekitarnya. Konstruksi sosial yang memaksa perempuan untuk mengurus pekerjaan domestik serta mengurus anak sendiri menjadi salah satu penyebab postpartum blues. Perempuan menjadi mudah menangis, letih dan gelisah, menarik diri, serta memberikan reaksi negatif terhadap bayi dan keluarga pada satu hingga dua minggu pasca melahirkan.
Diskontinuitas Penggunaan Penyiar Artificial Intelligence di Ruang Redaksi iNewsTV Sri Wahyunis; Rajab Ritonga; Reza Praditya Yudha
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/n70kjm82

Abstract

Adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam jurnalisme memunculkan penyiar (presenter virtual). Namun, beberapa stasiun televisi menghentikan penggunaannya dalam waktu singkat. Penelitian ini menganalisis faktor diskontinuitas presenter AI di iNews TV menggunakan teori Difusi Inovasi. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan Wakil Pemimpin Redaksi iNews TV dan analisis dokumen. Hasil dan pembahasan dari penelitian ini yaitu iNews TV mengadopsi presenter AI pada 2023 tetapi dihentikan dalam tiga bulan karena waktu produksi lebih lama (1–2 hari vs instan oleh manusia), biaya infrastruktur tinggi, ketidakmampuan improvisasi saat breaking news, dan kurangnya sentuhan manusia. Temuan mengonfirmasi bahwa keuntungan relatif rendah dan kesesuaian juga rendah, sementara kerumitan tinggi, menyebabkan diskontinuitas. Kesimpulan: Presenter AI belum menjadi inovasi berkelanjutan untuk jurnalisme televisi. Diskontinuitas merupakan pembelajaran organisasi, bukan kegagalan.
Prosopos in Student Communication with Generative AI: A Phenomenological Study of Persona Formation and AI Literacy in Digital Higher Education Fery Harianto; Rajab Ritonga; Pitoyo Pitoyo
Journal of Social Research Vol. 5 No. 7 (2026): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs (AHU-0028405-AH.01.14 Tahun 2022)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v5i7.3229

Abstract

The emergence of Generative Artificial Intelligence (AI) has significantly transformed digital communication in higher education, enabling natural language interactions that resemble interpersonal dialogue. This study investigates how students construct communicative relationships with AI and develop AI literacy in academic contexts. The research aims to explore students' experiences in assigning personas to AI, engaging in "as-if human" communication, and reflecting ethically on AI usage. A qualitative approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) was employed, involving 25 students from the D-III Public Relations Program at AKMRTV Jakarta. Data were collected through in-depth interviews, digital observations, and analysis of 218 AI conversational documents. The findings reveal that students perceive AI as an academic thinking partner, discussion companion, and virtual mentor, fostering relational attachment and supporting idea development. Students actively assign personas to AI platforms, applying interpersonal communication norms and critical verification during interactions. Based on these insights, the Prosopopoeic AI Literacy (PAIL) model was developed, consisting of five dimensions: Persona Awareness, Relational Awareness, Critical Verification, Academic Agency, and Ethical Reflection. The study concludes that AI literacy encompasses both technical skills and reflective, ethical, and relational competencies, positioning AI as a quasi-social actor in higher education. These findings provide practical implications for AI integration into curricula, promoting responsible, ethical, and effective human-AI communication in academic environments.
Journalist Competence in the Era of Artificial Intelligence Disruption Sri Wahyuni; Rajab Ritonga; Reza Praditya Yudha
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 10 No. 1 (2025): June 2025 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v10i1.1228

Abstract

The rapid development of artificial intelligence (AI) has triggered a significant transformation in journalistic practice. This study aims to identify new competencies needed by journalists in facing AI disruption, analyse changes in the role of journalists due to the use of AI in the newsroom, and examine the forms of ethical and critical competencies needed in AI-based journalistic practices. This study uses the Systematic Literature Review (SLR) method on seven Scopus-indexed journal articles published between 2020 and 2025. The analysis results show that today's journalists must have technical competence in algorithms, critical skills in identifying bias and the social impact of AI, and ethical capacity that includes the principles of transparency, accountability, and justice. The role of journalists is no longer just as news producers, but as technology supervisors and guardians of public ethics in the era of content automation. This study emphasises the importance of establishing an adaptive and ethical competency framework to ensure that AI is used to strengthen journalistic integrity, not replace it.
Fenomena Bias Politik Media Sosialdalam Polarisasi selama Pemiliham Umum Presiden 2024 Cavin Rubenstein Manuputty; Margaretha Hanita; Rajab Ritonga
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i1.371

Abstract

Penelitian ini menguraikan mengenai algoritma rekomendasi dalam media sosial yang mempersonalisasi tampilan konten yang dilihat oleh penggunanya. Personalisasi itu kemudian menciptakan fenomena filter bubble bagi penggunanya. Perilaku pengguna yang juga cenderung memilih konten atau narasi itu menciptakan echo chamber. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang menindaklanjuti penelitian-penelitian sebelumnya untuk menjelaskan mengenai filter bubble, echo chamber, dan propaganda di media sosial. Dengan menganalisis konten dan social network analysis (SNA) dari platform Twitter (X), terlihat bahwa pada Pemilihan Presiden Indonesia, kombinasi filter bubble dan echo chamber ini menjadi lahan subur untuk penyebaran propaganda yang menguatkan polarisasi antar pendukung di media sosial. 
Pengaruh Green Marketing Communication terhadap Brand Trust Produk Kecantikan The Body Shop melalui Brand Authenticity Fatimah Azzahra; Rajab Ritonga
Jurnal Pewarta Indonesia Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Pewarta Indonesia
Publisher : Persatuan Wartawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jpi.v8i1.274

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Pengaruh Green Marketing Communication terhadap Brand Trust Produk Kecantikan The Body Shop melalui Brand Authenticity. Penelitian ini dilatar belakangi banyaknya dampak dan isu terkait lingkungan dan pentingnya pemasaran hijau  dalam membangun hubungan psikologis antara merek dan konsumen. Teori yang digunakan adalah Teori  Stimulus-organism-response. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kusioner atau angket yang disebarkan melalui Gform kepada 400 responden. Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Tahap analisis uji meliputi validitas, reliabilitas, r-square, effect size, Q-square, goodness of fit dan uji Hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Green marketing communication berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand trust pada produk kecantikan the body shop, kedua green marketing communication berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand authenticity produk kecantikan the body shop, ketiga, brand authenticity berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand trust pada produk kecantikan the body shop dan brand authenticity secara signifikan memediasi pengaruh Green marketing communication terhadap brand trust pada produk kecsntikan the body shop. Hasil ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran hijau tidak secara langsung menciptakan kepercayaan merek, tetapi terlebih dahulu membangun persepsi konsumen tentang kepercayaan merek. Oleh karena itu, strategi komunikasi pemasaran hijau yang konsisten, transparan, dan kredibel merupakan kunci untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap suatu merek.