Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Nyeri Punggung Bawah pada Pekerja Industri Batu Bata di Desa Cipayung Kecamatan Cikarang Timur Rini Puspita Dewi
Jurnal Ners Vol. 7 No. 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v7i2.19481

Abstract

Low back pain is pain that is felt in the lower back area, which is located between the corners of the lowest ribs and the sacrum. Organization (WHO) (2013) has identified that lower back pain is one of three health problems that should be a target for monitoring. Based on a preliminary survey conducted by researchers, it was found that several workers in informal industries complained of experiencing lower back pain when doing work or work. after doing the work. This research was conducted from February to April 2023. The sample in this research consisted of 38 workers in the brick industry spread across Cipayung Village. This research is a type of quantitative research with a cross sectional design. The statistical test used in this research is Chi-Square. The results of the bivariate test using Chi-Square showed that there were 2 variables related to Lower Back Pain, namely Sports Habits with a p-value of 0.028 (p<0.0) and Work Duration with a p-value of 0.006 (p<0, 0.0) 05), while the working period is not related to Low Back Pain with a p-value of 0.6 (p>0.05). Factors that are related to low back pain are duration of work and low back pain, while working time is not related to low back pain.
Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Pekerja di Industri Batu Bata Dewi, Rini Puspita
Abdi Wiralodra : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2024): Abdi Wiralodra
Publisher : universitas wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/abdi.v6i1.153

Abstract

Keselamatan dan kesehatan di tempat kerja (K3) adalah segala upaya yang dilakukan untuk menjaga agar para pekerja tidak mengalami penyakit atau kecelakaan yang disebabkan oleh pekerjaan yang dilakukan. Kecelakaan kerja dan penyakit yang timbul akibat pekerjaan dapat menyebabkan kerugian bagi para pekerja, seperti penderitaan bagi korban, biaya pengobatan, kerusakan peralatan, dan penderitaan bagi keluarga. Berdasarkan studi awal yang dilakukan pada tanggal 10 Juli 2023, melalui wawancara dengan para pekerja, diketahui bahwa para pekerja telah mengalami kecelakaan di tempat kerja, seperti luka-luka, tergores oleh cangkul, dan kehilangan salah satu kaki saat sedang mencetak batu bata atau tertimpa batu bata. Selain itu pekerja banyak mengeluhkan nyeri dibeberapa anggota gerak tubuh dan sesak nafas. Pekerjaan yang berisiko seperti pekerjaan angkat-angkut, menggunakan alat yang tajam seperti cangkul, alat pemotong dan pencetak, pembakaran batu-bata yang harus ditunggu, dan pekerjaan yang dilakukan tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan K3 melalui pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja. Metode yang digunakan adalah Community developmet practice. Terjadi peningkatan setelah dilakukan pelatihan K3. Pembuat batu-bata mengalami peningkatan pengetahuan K3 yang dapat dilihat melalui hasil pretest dan postes.Hasil Pretes menunjukkan tingkat pengetahuan pekerja mengenai K3 yaitu Rendah 85%, Sedang 10 %, dan Tinggi 5%, sedangkan hasil Postes menunjukkan tingkat pengetahuan K3 rendah 10%, sedang 77%, rendah 13%. Peningkatan setelah dilaksanakan pelatihan yaitu 67% untuk pengetahuan sedang. Sebaiknya Pelatihan K3 dilakukan secara kontinyu agar perilaku K3 terbentuk dan pembentukan UKK (Upaya Kesehatan Kerja) di untuk melakukan pembinaan K3.
Hubungan Index Masa Tubuh dan Masa Kerja dengan Keluhan Muskoloskeletal pada Pekerja Instalasi Binatu di Rumah Sakit X Dewi, Rini Puspita
Jurnal EnviScience (Environment Science) Vol. 3 No. 2 (2019): Environmental issue as a priority to assure global health quality
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.914 KB) | DOI: 10.30736/jev.v3i2.108

Abstract

Background: Musculoskeletal symtoms is tissue damage in skeletal muscle parts (joints, ligaments and tendons) which caused the body to receive a static load, or work in awkward postures repeated in a long time. Workers work in the laundry by position standing, bending, and sitting in a long time. Objective: This research aims to determine working periode and body mass indeks with musculoskeletal symtoms at worker laundry installation in Hospital X. Method: This research is a quantitative research with a cross sectional design. The subjects of research were laundry worker as much as 33 people. Data collection using questionnaire which containing question about musculoskeletal symtoms.Result: The result of the research shows that working period is significantly related to musculoskeletal symptoms.  Conclusion: The result of this research shows that are significant relationships between working period with musculoskeletal symptoms Keyword: Musculoskeletal Symptoms, Working Periode, Body Mass Indeks
Faktor Manusia dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Wisata Petualangan: Studi Eksploratif Ahmad Afif Mauludi; Rini Puspita Dewi; Muhammad Azrin Karim; Tri Arini; Dwina Anggraini; Tia Nurhidayanti; Arif Sulfiantono
Nusantara Sehat: Jurnal Kesehatan Indonesia Vol. 1 No. 5 (2026): Nusantara Sehat: Jurnal Kesehatan Indonesia
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/ns.v1i5.173

Abstract

Pendahuluan: Sektor wisata petualangan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tumbuh pesat pascapandemi dengan profil risiko kerja yang tinggi, namun didominasi pekerja informal. Studi pendahuluan mengungkap fenomena paradoksal di mana pekerja berpengalaman justru memandang risiko lebih rendah, sementara literatur K3 yang ada lebih berfokus pada perspektif wisatawan. Tujuan: Mengeksplorasi faktor manusia yang memengaruhi K3 di sektor wisata petualangan DIY dan mengungkap mekanisme di balik paradoks pengalaman. Metode: Penelitian kualitatif eksploratif dengan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui empat sesi Focus Group Discussion (16 partisipan dari Goa Kiskendo, Wisata Canden, Benteng Vredeburg, dan Pantai Drini) dan wawancara mendalam dengan 20 informan kunci, kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis Braun & Clarke. Hasil: Teridentifikasi empat tema utama: (1) paradoks pengalaman akibat habituasi dan bias kognitif; (2) kesenjangan antara pengetahuan prosedural dan substansial; (3) tekanan psikososial dan kelelahan sebagai determinan risiko; serta (4) dualitas budaya keselamatan antara model birokratis-formal dan komunal-solidaritas. Pengalaman traumatik langsung terbukti menjadi pematah paradoks pengalaman. Kesimpulan: Intervensi K3 perlu melampaui pendekatan teknis dengan menyentuh dimensi psikologis dan kultural melalui pelatihan berbasis metakognisi, pelaporan near-miss, dan dukungan kesehatan mental. Keterbatasan penelitian pada cakupan geografis dan desain cross-sectional menyarankan studi longitudinal lintas wilayah untuk penelitian lanjutan. Kata Kunci: faktor manusia, wisata petualangan, paradoks pengalaman, keselamatan dan kesehatan kerja
Experience, Knowledge, and Risk Perception Among Adventure Tourism Workers in Yogyakarta Ahmad Afif Mauludi; Rini Puspita Dewi; Muhammad Azrin Karim; Tri Arini; Dwina Anggraini; Tia Nurhidayanti; Arif Sulfiantono
Journal of Research on Business and Tourism Vol. 6 No. 1 (2026): Journal of Research on Business and Tourism
Publisher : Lembaga Penelitian Publikasi dan Pengabdian Masyarakat LSPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37535/104006120265

Abstract

This study examined occupational health and safety (OHS) risk perception and its influencing factors among adventure tourism workers in Yogyakarta, Indonesia. A cross-sectional, quantitative design was used with data collected via self-administered online questionnaire from 114 workers aged 17 to 58 years. Non-parametric tests were applied: Spearman's Rho, Kendall's Tau, Mann-Whitney U, and Kruskal-Wallis H. Workers rated most hazards at the "Medium Risk" level, though organizational failures and external conditions received consistent "High Risk" ratings. Contrary to expectations, education, work experience, and OHS knowledge all showed negative correlations with risk perception, indicating that familiarity with the job may foster complacency rather than heightened vigilance. Work-related stress and prior injury history, by contrast, correlated positively with risk perception. These findings suggest that experienced workers may develop overconfidence that dulls their sensitivity to occupational hazard. Knowledge-based training alone does not appear sufficient to counter this tendency. The study argues for OHS programs that target risk perception recalibration through experiential methods, and urges management to treat equipment quality and organizational preparedness as priority concerns.