Tri Arini
Keperawatan Program Diploma, STIKES YKY Yogyakarta, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

LITERATURE REVIEW PENGARUH PERAN KELUARGA DALAM PEMBERIAN GIZI TERHADAP ANAK TODDLER DENGAN STUNTING: FAMILY ROLE IN INFLUENCING NUTRITION FOR STUNTING TODDLER : LITERATURE REVIEW Sekar Nur Utami; Tri Arini; Dwi Juwartini; Eddy Murtoyo
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 10 No. 2 (2022): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.855 KB)

Abstract

Latar Belakang: Masalah anak stunting merupakan salah satu permasalahan gizi yang dihadapi di dunia, termasuk di Indonesia. Masalah kesehatan anak tak lepas dari peran utama orangtua dalam keluarga. Peran keluarga dalam pemberian gizi pada anak stunting ini menjadi hal yang perlu dioptimalkan. Tujuan: mengidentifikasi peran keluarga dalam pemberian gizi terhadap anak toddler dengan stunting. Metode: penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan studi kepustakaan atau literature review. Menggunakn sumber data base google scholar Hasil: Hasil penelusuran 482 artikel diseleksi dari Google Scholar mulai tahun 2016-2022 berdasarkan kriteria inklusi didapatkan 6 artikel, kemudian diskrining didapatkan 3 artikel. Keseluruhan artikel yang didapat menjelaskan aspek pengaruh konseling gizi terhadap pemberian gizi anak stunting, pola makan anak balita stunting dan peran keluarga. Kesimpulan: Ketiga artikel menjelaskan peran keluarga berpengaruh terhadap stunting dalam mengatur pola makan balita, pemberian gizi dengan frekuensi makan 3-4 kali makanan utama dan 1-2 kali makanan selingan. Jenis peran keluarga digolongkan sebagai motivator, educator dan fasilitator dalam pola makan anak stunting.   Background: One of the global nutritional issues, including in Indonesia, is the issue of stunting in children. Children's health issues cannot be separated from the fundamental role of parents in the family. The role of the family in providing nutrition to stunted children must be optimized. Aim: This  study  aims to identify the role of the family in providing nutrition to toddlers with stunting. Methods: this research is a study using a literature review.The databases used are Google Scholar with research articles published from 2016-2022. Results: Based on inclusion criteria, the search results of 482 publications chosen from Google Scholar between 2016 and 2022 yielded 6 articles, of which 3 were subsequently screened. The whole paper that was acquired discusses several aspects of the effect of nutritional counseling on the provision of nutrition for stunted children, the diet of stunted children under five, and the role of the family. Conclusion: The three articles show that the family's role in regulating toddler dietary patterns and providing nutrition with a frequency of eating 3-4 main meals and 1-2 snacks affects the incidence of stunting. In the diet of stunted children, the type of family role is categorized as a motivator, educator, and facilitator.
Pelayanan Stimulasi Perkembangan Anak : Child Development Stimulating Service Arini, Tri; Rahmita Nuril Amalia; Findy Azhari; Yuniz Marsha; Retno Palupi
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2024): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Perkembangan balita merupakan suatu proses yang perlu dipantau dalam pencapaiannya. Perkembangan anak terutama balita supaya dapat optimal maka dilakukan stimulasi perkembangan anak meliputi motoric kasar, motoric halus, personal social dan bahasa. Pelayanan stimulasi perkembangan anak dilakukan di Pedukuhan Krapyak Wetan Panggungharjo Sewon Bantul DI Yogyakarta bertujuan untuk meningkatkan perkembangan anak usia 3-72 bulan pada motorik kasar, motorik halus, personal sosial dan bahasa. Metode yang digunakan dengan melakukan skrinning perkembangan anak terlebih dahulu menggunakan lembar KPSP, selanjutnya dilakukan stimulasi perkembangan sesuai usia anak didampingi oleh orang tua atau pengasuh. Hasil yang didapatkan dari kegiatan ini diperoleh bahwa hasil skrining perkembangan didapatkan ada 23 anak sesuai dengan perkembangan, 8 anak perkembangan meragukan dan 1 anak dengan kemungkinan penyimpangan. Dari hasil identifikasi dilakukan stimulasi perkembangan baik motoric kasar, motoric halus, persona; social; dan bahasa dengan melibatkan orang tua/pengasuh dan kader. Evaluasi dari kegiatan stimulasi perkembangan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi orang tua/pengasuh untuk melaksanakan di rumah.   Abstract: Toddler development is a process that needs to be monitored in its achievement. In order to optimize the development of children, especially toddlers, stimulation of child development includes gross motor, fine motor, personal social and language. Child development stimulation services are carried out at the Krapyak Wetan Panggungharjo Hamlet, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta. The method used is to screen the child's development first using the KPSP sheet, then stimulate development according to the child's age accompanied by parents or caregivers. The results obtained from this activity were that the results of developmental screening found that there were 23 children according to development, 8 children with doubtful development and 1 child with possible deviations. From the results of the identification, stimulation of the development of both gross motor, fine motor, persona was carried out; social; and language by involving parents/caregivers and cadres. Evaluation of this developmental stimulation activity provides knowledge and skills for parents/caregivers to carry out at home.
Faktor Manusia dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Wisata Petualangan: Studi Eksploratif Ahmad Afif Mauludi; Rini Puspita Dewi; Muhammad Azrin Karim; Tri Arini; Dwina Anggraini; Tia Nurhidayanti; Arif Sulfiantono
Nusantara Sehat: Jurnal Kesehatan Indonesia Vol. 1 No. 5 (2026): Nusantara Sehat: Jurnal Kesehatan Indonesia
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/ns.v1i5.173

Abstract

Pendahuluan: Sektor wisata petualangan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tumbuh pesat pascapandemi dengan profil risiko kerja yang tinggi, namun didominasi pekerja informal. Studi pendahuluan mengungkap fenomena paradoksal di mana pekerja berpengalaman justru memandang risiko lebih rendah, sementara literatur K3 yang ada lebih berfokus pada perspektif wisatawan. Tujuan: Mengeksplorasi faktor manusia yang memengaruhi K3 di sektor wisata petualangan DIY dan mengungkap mekanisme di balik paradoks pengalaman. Metode: Penelitian kualitatif eksploratif dengan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui empat sesi Focus Group Discussion (16 partisipan dari Goa Kiskendo, Wisata Canden, Benteng Vredeburg, dan Pantai Drini) dan wawancara mendalam dengan 20 informan kunci, kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis Braun & Clarke. Hasil: Teridentifikasi empat tema utama: (1) paradoks pengalaman akibat habituasi dan bias kognitif; (2) kesenjangan antara pengetahuan prosedural dan substansial; (3) tekanan psikososial dan kelelahan sebagai determinan risiko; serta (4) dualitas budaya keselamatan antara model birokratis-formal dan komunal-solidaritas. Pengalaman traumatik langsung terbukti menjadi pematah paradoks pengalaman. Kesimpulan: Intervensi K3 perlu melampaui pendekatan teknis dengan menyentuh dimensi psikologis dan kultural melalui pelatihan berbasis metakognisi, pelaporan near-miss, dan dukungan kesehatan mental. Keterbatasan penelitian pada cakupan geografis dan desain cross-sectional menyarankan studi longitudinal lintas wilayah untuk penelitian lanjutan. Kata Kunci: faktor manusia, wisata petualangan, paradoks pengalaman, keselamatan dan kesehatan kerja
HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN KEPATUHAN PELAKSANAAN EARLY WARNING SYSTEM DI BANGSAL RAWAT INAP DEWASA: THE RELATIONSHIP BETWEEN NURSES' WORKLOAD AND THE EARLY WARNING SYSTEM IMPLEMENTATION COMPLIANCE IN ADULT INPATIENT WARD Tulus Bukhori; Widuri Widuri; Jennifa; Tri Arini
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.401

Abstract

Kepatuhan pelaksanaan early warning system (EWS) oleh perawat dalam upaya menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien di rumah sakit salah satunya dipengaruhi oleh faktor beban kerja. Meningkatnya beban kerja perawat di unit perawatan dapat diakibatkan karena kurangnya tenaga, banyaknya prosedur administratif yang harus diselesaikan, dan beban tugas atau job description yang masih kurang jelas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan beban kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan EWS di ruang rawat inap dewasa. Penelitian menggunakan desain korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 41 responsen. Instrumen penelitian menggunakan time and motion study dan cheklist EWS yang sudah ada petunjuk teknis di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI. Analisis data menggunakan uji Kendall’s Tau-b. Hasil penelitian menunjukkan beban kerja perawat mayoritas masuk kategori sedang (61%) dan kepatuhan pelaksanaan EWS mayoritas masuk kategori kurang patuh (58,5%). Ada hubungan yang signifikan antara beban kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan EWS (p= 0,001). Sedangkan usia (p= 0,491), jenis kelamin (p= 0,612), masa kerja (p= 0,839), dan tingkat pendidikan (p= 0,855) tidak berhubungan dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Manajemen Rumah Sakit dapat merumuskan kebijakan baru terkait penambahan SDM perawat sesuai dengan kapasitas pelayanan dan menyelenggarakan kegiatan pelatihan EWS. The compliance of implementing the early warning system (EWS) by nurses in an effort to reduce morbidity and mortality of patients in hospitals is influenced by factors such as workload. An increase in nurses' workload in the care unit may be caused by a lack of staff, numerous administrative procedures that need to be completed, and unclear job descriptions. The purpose of this study is to determine the relationship between nurses' workload and compliance with the implementation of EWS in adult inpatient wards. This study used a correlational design with a cross-sectional approach. The research sample consisted of 41 respondents. The research instruments used included time and motion study and EWS checklist, which had technical guidelines available at Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI. Data analysis was performed using Kendall's Tau-b test. The results of the study showed that most nurses' workload was categorized as moderate (61%), and the majority of compliance with EWS implementation was categorized as non-compliant (58.5%). There was a significant relationship between nurses' workload and compliance with EWS implementation (p= 0.001). Minewhile Age (p= 0.491), gender (p= 0.612), years of service (p= 0.839), and education level (p= 0.855) were not found to be related to compliance with EWS implementation. Hospital management may formulate new policies related to increasing the nursing workforce in accordance with service capacity and conduct EWS training activities.