Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Akulturasi Budaya pada Komunitas India Tamil di Kampung Madras Kota Medan Flores Tanjung; Aisyah Aura Putri; Bella Insani Hutapea
Journal of Citizen Research and Development Vol. 3 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jcrd.v3i1.8495

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam dinamika akulturasi budaya pada komunitas India Tamil di Kampung Madras, Kota Medan, serta mengidentifikasi faktor pendorong dan strategi komunitas dalam mempertahankan identitas budaya di tengah lingkungan multietnis. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, studi pustaka, dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pendeta, serta pelaku usaha di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akulturasi budaya termanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk penggunaan bahasa Indonesia dan Melayu dalam ranah publik, sementara bahasa Tamil tetap dipertahankan dalam lingkup keluarga dan ritual keagamaan. Dalam bidang kuliner, terjadi adaptasi cita rasa pada masakan khas India seperti kari dan briyani untuk menyesuaikan dengan selera lokal, serta adopsi bahan baku lokal tanpa menghilangkan karakteristik aslinya. Faktor utama yang mendorong proses ini adalah interaksi sosial yang intensif, kegiatan ekonomi perdagangan, serta lingkungan tempat tinggal yang heterogen. Meskipun mengalami pembauran budaya, komunitas India Tamil tetap teguh mempertahankan identitas inti melalui pelaksanaan upacara adat (seperti Thaipusam dan Deepavali) di Kuil Shri Mariamman serta penanaman nilai-nilai tradisi kepada generasi muda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa akulturasi di Kampung Madras menciptakan harmoni sosial yang dinamis tanpa menghilangkan jati diri budaya asli komunitas Tamil.
The Political Transition from the Old Order to the New Order in Indonesia Aisyah Aura Putri; Bella Insani Hutapea; Kevin Hutagalung; M. Arif Fauzi
Warisan: Journal of History and Cultural Heritage Vol 7, No 2 (2026)
Publisher : Mahesa Research Center (PT. Mahesa Global Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/warisan.v7i2.3126

Abstract

The transition from the Old Order to the New Order marked a critical turning point in Indonesia’s political history, reshaping the country’s governance structure and state ideology. This study examines the factors driving the transfer of power, the process through which the transition occurred, and its implications for Indonesia’s political development. Employing a qualitative historical approach, the research applies the historical method through the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography to reconstruct and analyze the events surrounding the transition. The findings reveal that the transfer of power was precipitated by a convergence of political and economic crises, escalating ideological conflicts, and the aftermath of the 1965 September 30th Movement (G30S), all of which substantially weakened President Sukarno’s authority. The consolidation of military influence and the issuance of the 11 March Order (Supersemar) facilitated the emergence of the New Order under Suharto’s leadership. The study argues that although the transition succeeded in restoring political stability and accelerating economic development, it simultaneously institutionalized centralized political authority and curtailed democratic participation, thereby creating a long-lasting legacy that continues to influence Indonesia’s political landscape.