Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN TERHADAP IZIN ANGKRINGAN DI INHIL BERDASARKAN SK BUPATI INHIL DITINJAU DARI FILSAFAT HUKUM ISLAM Dina Gustina; Raudatul Mardiyah; Saskia Okta Rosellia; Aully Maulaya; Muannif Ridwan
AL-BAHTS: Jurnal Ilmu Sosial,Politik, dah Hukum Vol 3 No 1 (2026): AL-BAHTS: Jurnal Ilmu Sosial, Politik, dan Hukum
Publisher : Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/albahts.v3i1.5024

Abstract

Angkringan, traditional food stalls, are undergoing social change in Indragiri Hilir (Inhil) province, particularly among Generation Z. Through viral spread on social media, angkringan have become a means of expression and a lifestyle element for young people. However, their presence in public spaces, such as sidewalks and streets, raises legal questions and public order issues. This study examines the enforcement of angkringan laws in inappropriate locations and analyzes this phenomenon from the perspective of Islamic legal philosophy. The research is based on an empirical approach involving interviews and field observations. The findings indicate that law enforcement is suboptimal due to low legal awareness and high tolerance among the population. From an Islamic legal perspective, the regulation of angkringan must be based on the principles of maslaha (common good), adl (justice), ta'awun (social cooperation), and tanzim (organization). A humanistic and solution-oriented approach, such as establishing orderly Angkringan zones and providing Islamically grounded legal education, offers a strategic alternative for ensuring the continued existence of Angkringan without disrupting public order.
TINGKAT PEMAHAMAN ANGGOTA KELOMPOK MAJLIS TA’LIM AL-ZAYN JL. SUARNA BUMI TEMBILAHAN TERHADAP HUKUM WARIS ISLAM Raudatul Mardiyah; Rifki Hakim; Muhammad Arif; Azwandi Azwandi
Selodang Mayang: Jurnal Ilmiah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Indragiri Hilir Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Selodang Mayang
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Indragiri Hilir Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47521/selodangmayang.v12i2.551

Abstract

Islamic inheritance law is an important part of Islamic teachings that regulates the distribution of inherited property among Muslims. However, in practice, many people still lack an adequate understanding of these provisions and tend to rely on customary law that has developed through generations. This study aims to identify the level of knowledge among members of the Al-Zayn Majlis Ta’lim in Tembilahan, Suarna Bumi Street, Indragiri Hilir Regency, Riau Province, and examine its influence on the implementation of Islamic inheritance law. This qualitative empirical study employed an interpretive-hermeneutic approach through direct observation and in-depth discussions. The findings indicate that the level of understanding among members of the Majlis Ta’lim significantly influences the implementation of Islamic inheritance law. Limited knowledge and guidance from government authorities and local religious scholars may lead to misunderstandings and family conflicts, particularly regarding the inheritance rights of men and women. Equal distribution of inheritance may be accepted when based on mutual agreement and does not lead to disputes. Hukum kewarisan Islam merupakan bagian penting dari ajaran Islam yang mengatur pembagian harta peninggalan bagi umat Muslim. Namun, dalam praktiknya, masih banyak masyarakat yang belum memahami ketentuan tersebut dan lebih sering menggunakan hukum adat yang telah berkembang secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat pengetahuan anggota Majlis Ta’lim Al-Zayn di Tembilahan, Jl. Suarna Bumi, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, serta pengaruhnya terhadap penerapan hukum waris Islam. Penelitian menggunakan metode empiris kualitatif dengan pendekatan interpretatif-hermeneutik melalui observasi dan diskusi mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman anggota majlis ta’lim sangat memengaruhi penerapan hukum waris Islam. Kurangnya pengetahuan dan bimbingan dari pemerintah maupun ulama dapat menimbulkan kesalahpahaman dan konflik keluarga, khususnya mengenai hak laki-laki dan perempuan. Pembagian warisan secara merata dapat diterima apabila dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dan tidak menimbulkan perselisihan.