Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Praktik Ibadah sebagai Strategi Menanggulangi Sick Soul dalam Perspektif Agama Astaniah Astaniah; Zaidan Naufal Raseuki; Mario Pindarto; Gita Septia Ningrum; Surawan Surawan
Nathiqiyyah Vol. 9 No. 1 (2026): Nathiqiyyah : Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Program Studi Psikologi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of modern life, characterized by academic demands, social pressures, and rapid technological change, can impact the psychological well-being of individuals, particularly students. This condition can give rise to inner anxiety, known in the study of religious psychology as the concept of sick soul, a state of mind characterized by restlessness, loss of meaning in life, and emotional instability. In a spiritual context, religious practices are seen as one way to help individuals achieve inner peace and strengthen psychological balance. This study aims to analyze the relationship between religious practices and sick soul in college students. This study used a quantitative approach with a correlational survey design. The study subjects were 50 students from the State Islamic University of Palangka Raya, selected using a saturated sampling technique. Data were collected using a Likert-scale questionnaire measuring religious practices and sick soul. Data were analyzed using descriptive statistics, the Pearson Product Moment correlation test, and simple linear regression. The results showed a significant negative relationship between religious practices and sick soul, with a correlation coefficient of -0.383 and a significance level of 0.006. The regression analysis indicated that religious practices contributed 14.7% to the variation in sick soul. These findings indicate that the more religious practices students engage in, the lower their likelihood of experiencing mental illness. Therefore, religious practices can be understood as a spiritual strategy that plays a role in helping students maintain psychological balance and cope more adaptively with life's pressures.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN PENGOLAHAN IKAN BINTAHUKAN MENJADI BAKSO DI DESA MALITIN, BARITO SELATAN Astaniah Astaniah; Lingkee Natalie Anisa Safitri; Meki Puspa; Alda Saputri; Raudhatul Jannah; Fania Nur Fitri Ramadani; Gita Nur Aini; Alya Rahmi Ihsan; Muhammad Raihan; Muhammad Amin Badali; Abdul Azis
Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jailcb.v7i3.7379

Abstract

Masyarakat Desa Malitin, Kabupaten Barito Selatan, memiliki potensi ikan bintahukan (Thynnichthys thynnoides) sebagai sumber daya perikanan lokal, tetapi pemanfaatannya belum optimal untuk diversifikasi produk pangan bernilai tambah. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah ikan bintahukan menjadi produk olahan menjadi permasalahan yang perlu ditangani melalui pemberdayaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah ikan bintahukan menjadi bakso ikan. Mitra kegiatan terdiri atas 10 orang masyarakat Desa Malitin yang terlibat langsung dalam kegiatan. Kegiatan dilaksanakan pada 25–26 Juli 2026 menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA) melalui sosialisasi, demonstrasi, praktik langsung, pendampingan, dan evaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada pemahaman proses pembuatan bakso ikan, 8 peserta berada pada kategori sangat tinggi dan 2 peserta pada kategori tinggi. Pada pemilihan bahan baku, 7 peserta berada pada kategori sangat tinggi dan 3 peserta pada kategori tinggi. Pada aspek kebersihan dan higienitas, 9 peserta berada pada kategori sangat tinggi dan 1 peserta pada kategori tinggi. Sementara itu, kesiapan menerapkan keterampilan menunjukkan 6 peserta berada pada kategori sangat tinggi, 3 peserta pada kategori tinggi, dan 1 peserta pada kategori sedang. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan mampu meningkatkan kapasitas praktis masyarakat dalam memanfaatkan ikan bintahukan sebagai produk pangan olahan dan menjadi tahap awal pemberdayaan berbasis potensi lokal yang memerlukan pendampingan lanjutan untuk pengembangan usaha.