Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Influence of Fear of Missing Out and Self-Control on Zuhud Values among Adolescents in Islamic Education Nuita Alifia Hasanah; Minan Ainur Fatah; Irfan Musonif; Ifada Novikasari
Edusoshum : Journal of Islamic Education and Social Humanities Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Ikatan Cendikiawan Ilmu Pendidikan Islam (ICIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52366/edusoshum.v6i2.422

Abstract

The rise of digitally mediated consumer culture has intensified concerns regarding adolescents’ moral-spiritual resilience, particularly within highly visual social media environments that continuously promote symbolic consumption and lifestyle comparison. Unlike previous Fear of Missing Out (FoMO) studies predominantly focused on psychopathological outcomes and problematic technology use, this study examines FoMO within the framework of moral-spiritual development and Islamic ethical values. The study aimed to analyze the relationships between social media fashion-related FoMO, self-control, and students’ zuhud values in Islamic junior secondary education. A quantitative correlational design was employed involving 70 eighth-grade students of MTs Ma’arif NU 2 Cilongok selected through simple random sampling. Data were collected using Likert-scale questionnaires and analyzed using multiple linear regression. The findings revealed that FoMO fashion did not significantly predict students’ zuhud values (B = 0.086, p = .238), whereas self-control demonstrated a positive and significant effect (B = 0.580, p < .001). Simultaneously, both variables explained 46.7% of the variance in zuhud values (R² = .467; F = 20.60, p < .001). The findings challenge technologically deterministic assumptions that social media exposure inevitably weakens adolescent morality and position zuhud as a form of spiritual self-regulation relevant to strengthening adolescents’ moral resilience within contemporary digital culture.  
Representasi Pesantren dalam Novel Rumah Karya J.S. Khairen Identitas Islam, Otoritas Religius, dan Produksi Makna Budaya Zahrotun Iftinan; Atipa Muji; Siti Nurmahayati; Irfan Musonif
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.7141

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kehidupan pesantren dalam novel Rumah karya J.S. Khairen melalui perspektif teori representasi Stuart Hall. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan paradigma konstruktivis. Data penelitian berupa narasi, dialog, dan simbol tekstual yang merepresentasikan kehidupan pesantren. Data dikumpulkan melalui teknik close reading dan dianalisis menggunakan reflexive thematic analysis yang diintegrasikan dengan konsep representasi, artikulasi, dan relasi kuasa Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren dalam novel direpresentasikan secara ambivalen sebagai ruang disiplin religius sekaligus arena negosiasi identitas, resistensi simbolik, dan transformasi emosional. Religiusitas santri tidak digambarkan sebagai identitas yang stabil dan homogen, tetapi sebagai praktik sosial yang terus dinegosiasikan melalui relasi antara otoritas pesantren, pengalaman personal, budaya populer, dan dinamika emosional tokoh. Penelitian ini juga menemukan bahwa representasi pesantren dalam sastra kontemporer Indonesia mengalami pergeseran dari pola idealisasi moral menuju konstruksi afektif yang lebih kompleks dan reflektif. Novel berfungsi sebagai medium komunikasi budaya yang memproduksi dan mendistribusikan wacana mengenai identitas Muslim muda, religiusitas, dan pengalaman hidup santri dalam konteks sosial kontemporer. Secara teoretis, penelitian ini memperluas penerapan teori representasi Stuart Hall dalam kajian sastra pesantren dengan menempatkan dimensi afektivitas dan subjektivitas sebagai bagian penting dari produksi makna budaya. Temuan ini menegaskan bahwa pesantren dalam sastra Indonesia kontemporer direpresentasikan sebagai ruang diskursif tempat religiusitas, identitas, dan pengalaman emosional dinegosiasikan secara dinamis.
Reformasi Pendidikan Islam Pada Era Modern: Jejak Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani Dan Muhammad Abduh Danu Jovansyah Prasetyo Aji; Fahrurreza Alfadzin; Kevin Kurniawan; Mukhammad Yusuf Abdul Fattah; Rudy Ardiansyah; Irfan Musonif
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.6390

Abstract

Artikel ini mengkaji jejak pemikiran Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh dalam konteks reformasi pendidikan Islam pada era modern. Dengan menempatkan gagasan kedua tokoh tersebut dalam konteks akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, penelitian ini menggambarkan bagaimana al-Afghani menekankan integrasi ilmu pengetahuan modern dan keterampilan berpikir kritis sebagai sarana untuk membebaskan masyarakat dari keterbelakangan intelektual, sementara Abduh berfokus pada reformasi kurikulum, metode pengajaran, dan harmonisasi akal dan wahyu di lembaga pendidikan tradisional seperti al-Azhar. Keduanya berperan dalam mempromosikan rasionalisme, pendidikan kejuruan, dan adaptasi kurikulum agar relevan dengan tantangan sosial-politik modern. Analisis menunjukkan bahwa warisan intelektual mereka tetap relevan bagi upaya merekonstruksi pendidikan Islam kontemporer, terutama dalam membentuk kurikulum holistik yang menggabungkan kompetensi keagamaan, sains, dan keterampilan berpikir kritis, namun implementasinya menghadapi resistensi struktural serta tantangan politik-budaya. Artikel ini diakhiri dengan rekomendasi bagi kebijakan pendidikan Islam modern yang mengadopsi prinsip-prinsip integrasi pengetahuan, penguatan kapasitas guru, dan desain pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah.
Rekonstruksi Filosofis Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Era Kurikulum Merdeka Sitti Fatimah Az-zahra; Nurfuadi; Irfan Musonif
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.1037

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka menghadirkan paradigma pendidikan yang menekankan fleksibilitas, pembelajaran berdiferensiasi, dan pengalaman belajar yang bermakna. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), perubahan ini memunculkan kebutuhan untuk mengkaji kesesuaiannya dengan landasan filosofis pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika pengembangan kurikulum PAI dalam perspektif Kurikulum Merdeka melalui pendekatan filosofis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari artikel ilmiah, teori kurikulum, dan dokumen kebijakan terkait Kurikulum Merdeka serta pendidikan Islam. Analisis data dilakukan melalui content analysis dengan kategorisasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang dilanjutkan dengan interpretasi kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum PAI dalam Kurikulum Merdeka merefleksikan pergeseran dari pembelajaran berorientasi materi menuju pengembangan kompetensi, pembelajaran bermakna, dan pembentukan karakter. Secara ontologis, pembelajaran berdiferensiasi selaras dengan konsep fitrah yang mengakui keberagaman potensi peserta didik. Secara epistemologis, pendekatan konstruktivistik mendukung internalisasi nilai-nilai Islam melalui pengalaman belajar reflektif. Secara aksiologis, nilai-nilai dalam Profil Pelajar Pancasila memiliki korespondensi dengan tujuan pendidikan Islam dalam membentuk akhlak mulia dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menawarkan model kurikulum PAI integratif-transendental yang memadukan nilai-nilai Islam dengan prinsip pedagogis kontemporer
Constructing Religious Literacy through Qur’an-Based Contextual Learning and Meaning-Making for Value Internalization in Elementary Education Donny Khoirul Azis; Irfan Musonif; Saifudin; Minan Ainur Fatah; Mahin Anas Ramadona
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.5841

Abstract

Religious literacy in Islamic education is frequently reduced to the cognitive ability to read and understand sacred texts, overlooking how meaning is constructed and enacted in lived contexts. This study investigates how Qur’an-based contextual learning shapes the development of religious literacy among elementary school students. Using an interpretive qualitative single-case study design, the research was conducted in an Indonesian elementary school through classroom observations, in-depth interviews, and document analysis. Data were analyzed using reflexive thematic analysis. The findings reveal that religious literacy is constituted through the interplay of pedagogical practices, meaning-making processes, and value internalization. First, teacher-centered and textual-oriented instruction constrains students’ opportunities for interpretive engagement, resulting in superficial and reproductive understanding. Second, meaning-making emerges through contextual mediation, where students connect Qur’anic values with their lived experiences through interaction and dialogue. Third, value internalization is a gradual, non-linear, and context-dependent process shaped by situational factors and sustained engagement. This study advances a process-oriented conceptualization of religious literacy as an interpretive and interactionally constructed phenomenon rather than a purely cognitive skill. It underscores the need to transform classroom interaction and integrate contextual learning to support meaningful understanding and the enactment of values in Islamic education.