Raden Kenzy Al Zhafari Gumilar
Political Science, UPN Veteran Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas e-LHKPN dalam Mendorong Transparansi dan Akuntabilitas Pejabat Publik di Indonesia: Antara Transparansi dan Formalitas Albar Jayadi; Raden Kenzy Al Zhafari Gumilar; Syahlevi Raissa Airlangga; Fatkhuri; Reja
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.6968

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas implementasi e-LHKPN dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas pejabat publik di Indonesia serta mengidentifikasi berbagai hambatan yang menyebabkan sistem ini belum optimal sebagai instrumen deteksi dini korupsi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan studi kasus melalui pemanfaatan data sekunder berupa regulasi, laporan resmi KPK, jurnal ilmiah, dan pemberitaan media kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-LHKPN berhasil meningkatkan kepatuhan administratif pelaporan harta kekayaan pejabat negara, tetapi belum mampu menciptakan transparansi yang substantif. Hal ini disebabkan oleh rendahnya validitas data, lemahnya verifikasi substantif, keterbatasan auditor forensik, serta minimnya integrasi data lintas lembaga. Selain itu, sistem self-assessment membuka peluang manipulasi data dan membuat e-LHKPN cenderung berfungsi sebagai formalitas administratif. Dari perspektif relasi negara dan warga, keterbukaan data juga belum sepenuhnya mendorong pengawasan partisipatif yang efektif karena rendahnya literasi publik dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kejujuran laporan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan reformasi sistem, penguatan pengawasan, dan pembangunan budaya integritas birokrasi agar e-LHKPN dapat berfungsi lebih efektif sebagai instrumen transparansi dan akuntabilitas publik.
Efektivitas OK OCE sebagai Ekosistem Kewirausahaan Berbasis Komunitas dalam Pemberdayaan UMKM di DKI Jakarta Syahlevi Raissa Airlangga; Raden Kenzy Al Zhafari Gumilar; Muhammad Fahreza Ramadan; Aniqotul Ummah; Teddy Chrisprimanata Putra
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.7338

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis program OK OCE/Jakpreneur sebagai ekosistem kewirausahaan berbasis komunitas dalam memberdayakan UMKM di DKI Jakarta. Ada tiga hal yang menjadi fokus utama: bagaimana program ini dijalankan di lapangan, bagaimana hubungan antar pihak yang terlibat, dan seberapa kuat komunitas UMKM bertahan di tengah tekanan ekonomi dan politik perkotaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam terhadap tiga informan  Ketua Umum OK OCE Indonesia, sekretaris kantor pusat, dan pelaku UMKM mitra di Rawamangun, Jakarta Timur serta dokumentasi visual dan data sekunder. Kerangka analisis yang digunakan adalah perspektif politik perkotaan dan konsep community-based entrepreneurship. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OK OCE tidak hanya berjalan sebagai program pelatihan biasa, tetapi telah berkembang menjadi gerakan sosial yang menghubungkan pelaku UMKM dengan pelatihan, jaringan, dan akses modal. Salah satu pencapaian yang cukup penting adalah kurikulum OK OCE berhasil masuk ke dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020  artinya bukan pemerintah yang merancang kurikulumnya, melainkan komunitas yang menawarkan dan kemudian diadopsi. Menurut keterangan narasumber, sejak diluncurkan tahun 2017 program ini telah menjangkau lebih dari 400.000 pelaku usaha aktif di Jakarta. Strategi peningkatan kapasitasnya mencakup tiga pendekatan: reskilling, upskilling, dan new skilling, yang disesuaikan dengan kemampuan awal masing-masing peserta. Meski begitu, penelitian ini juga menemukan beberapa masalah yang masih nyata di lapangan, seperti banyak peserta yang tidak konsisten menerapkan hasil pelatihan, adanya kesenjangan literasi digital antara pelaku usaha yang lebih tua dan yang lebih muda, serta koordinasi antarlembaga yang masih terhambat ego sektoral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberdayaan UMKM tidak bisa hanya mengandalkan pelatihan sesaat. Yang paling menentukan adalah pendampingan yang terus-menerus berbasis komunitas, dijalankan secara bertahap mulai dari legalitas usaha, peningkatan kapasitas, hingga akses pasar dan pembiayaan.