Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Bendesa Adat dan Pemilu 2019: Studi Kasus Calon Legislatif Bendesa Adat di Kabupaten Klungkung, Bangli, dan Badung Teddy Chrisprimanata Putra
Pratyaksa: Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Samsara Institute Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pentingnya posisi desa adat sebagai institusi yang bertanggung jawab atas kelestarian ritus adat dan budaya di Bali beriringan dengan pentingnya peran dari pemimpin desa adat, atau yang disebut sebagai Bendesa Adat. Dalam konteks Bali, Bendesa Adat memiliki kekuatan dan pengaruh lebih besar tinimbang Kepala Desa atau Perbekel. Berbagai kelebihan tersebut mengantarkan Bendesa Adat terlibat langsung ke dalam dunia politik. Dalam konteks Pemilu 2019, terdapat enam belas Bendesa Adat yang maju menjadi caleg di tingkat kabupaten. Penelitian ini menggunakan metode deksriptif-kualitatif melalui pendekatan studi kasus tiga Bendesa Adat yang maju sebagai caleg, yakni I Ketut Gunaksa selaku Bendesa Adat Jungutbatu, I Made Sudiasa selaku Bendesa Adat Undisan Kelod, dan I Made Wijaya selaku Bendesa Adat Tanjung Benoa. Penelitian ini menggunakan menggunakan teori patron klien James Scott dan ditunjang beberapa teori soal kekuasaan dan jaringan sosial. Hasilnya, ditemukan bahwa hubungan patron klien yang terjadi antara Bendesa Adat sebagai patron dan krama adat sebagai klien masuk ke dalam kelompok patron klien klaster, karena Bendesa Adat yang maju sebagai caleg pada Pemilu 2019 melakukan interaksi langsung dengan krama adat-nya. Interaksi langsung tersebut mendorong terbangunnya hubungan personal antara Bendesa Adat dengan krama adat-nya. Kedekatan antara patron dan klien tersebut menimbulkan loyalitas krama adat kepada Bendesa Adat sebagai sebuah bentuk balas jasa. Loyalitas tersebut masuk ke ruang-ruang politik dengan mendukung Bendesa Adat untuk duduk menjadi anggota legislatif meski tanpa kesepakatan tertulis. Hal tersebut kemudian menciptakan hubungan timbal balik (resiprositas) yang tidak seimbang.
PERSONALISASI PARTAI DAN DINAMIKA ELEKTORAL GERINDRA DI KOTA DENPASAR PADA PEMILU 2024 Teddy Chrisprimanata Putra
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 12 No. 2 (2025): 2025 Desember
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v12i2.594

Abstract

This study examines the phenomenon of party personalization within the Great Indonesia Movement Party (Gerindra) and its implications for the party’s electoral performance in Denpasar City during the 2024 General Election. Party personalization refers to the emergence of a dominant figure whose influence leads to the party’s dependence on a small elite. This research employs a qualitative-explanatory method, analyzing relevant literature, expert commentary, and data drawn from official documents and related articles. The findings indicate that the strong personal leadership of Prabowo Subianto, serving as both the Chairperson and the Chair of the Advisory Board of Gerindra, was the primary factor behind the party’s increased electoral gains. Prabowo’s charisma, military background, socio-economic status, and the entrenched culture of patronage further consolidated his dominance within the party. At the local level, the political stature of Made Muliawan Arya (De Gadjah), Chairperson of Gerindra’s Bali Regional Leadership Council, significantly contributed to the rise in votes in Denpasar City. In the 2024 election, Gerindra Denpasar secured 64,114 votes—an increase of 111% compared to the 2019 election—and won nine legislative seats. While party personalization can yield electoral advantages, it also poses long-term risks, including the erosion of internal democracy, leadership circulation, and policy orientation toward elite interests. Therefore, leadership regeneration is essential to ensure the sustainability of party and national democracy.
Dari Hashtag ke Jalanan: Aktivisme Digital dan Transformasi Gerakan Sosial di Indonesia, Hong Kong, dan Korea Selatan Teddy Chrisprimanata Putra; Frichicilia Grace Stahlumb; Ivandra Solihin
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i1.12920

Abstract

Platform digital telah memberi bentuk baru pada gerakan aktivisme dan kemudian berimplikasi langsung terhadap gerakan sosial di sebuah negara. Meski telah menjadi satu bidang yang cukup intens diteliti, nyatanya pengaruh aktivisme digital terhadap gerakan sosial di rezim kekuasaan yang berbeda masih perlu dikaji lebih mendalam. Penelitian ini menggunakan teori gerakan sosial, aktivisme sosial media, dan represi digital sebagai pisau bedah utama. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, studi ini akan mengkaji secara mendalam perihal pengaruh aktivisme sosial media terhadap sebuah gerakan sosial, termasuk di dalamnya faktor-faktor penguat dan pembatas pengaruh aktivisme di sosial media. Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivisme digital memiliki peran penting dalam membentuk konstelasi gerakan sosial kontemporer, baik di Asia Tenggara maupun di Asia Timur. Namun pengaruhnya sangatlah ditentukan oleh konteks politik dalam negeri dan karakter rezim di masing-masing negara, sehingga pengaruh aktivisme digital terhadap gerakan sosial tidak dapat dipahami secara seragam—ia bekerja melalui interaksi kompleks antara affordance teknologi digital; struktur jaringan formal dan informal; peluang politik yang dihadirkan oleh dinamika rezim.
Kuasi Gerakan Sosial: Studi Kasus Aksi 25 Agustus 2025 Tias, Nadira Cahyaning; Fadhilah, Firyal Nur; Hadinugroho, Dwi Septian; Ummah, Aniqotul; Putra, Teddy Chrisprimanata
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 2 (2026): JURRISH: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrish.v5i2.7485

Abstract

This study investigates the phenomenon of quasi-social movements that emerged during the August 25, 2025 protests in Indonesia. Quasi-social movements are defined as forms of public mobilization that appear to arise spontaneously, lack formal organizational structures, and are often leveraged for particular political agendas. Using a qualitative method supported by literature review, this research examines social movement theories, the functions of social media, and the socio-political dynamics that shaped the protests. The findings indicate that the protests were not purely the result of spontaneous civic engagement, but were instead driven by top-down mobilization orchestrated by elite actors through digital narratives, disinformation, and the broader influence of communication technology. This phenomenon signals a shift in the relationship between citizens and the state, including evolving patterns of political participation that do not always follow organized forms. The protests further illustrate how mass mobilization in the digital era can be generated through narrative construction and manipulation of public perception. In conclusion, quasi-social movements represent a new pattern of technology-mediated political expression, highlighting the need for more critical perspectives on modern forms of social mobilization.
IDENTITAS, ISU, DAN INTERAKSI: ANALISIS BRANDING POLITIK AKUN INSTAGRAM PRAMONO ANUNG DAN RANO KARNO SELAMA MASA KAMPANYE PILKADA DKI JAKARTA 2024 Teddy Chrisprimanata Putra; Yumiriyah Abdullah
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 5 (2026): 2026 Mei
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i5.868

Abstract

Penggunaan sosial media Instagram dalam kontestasi politik seperti pemilihan kepala daerah menjadi sangat penting untuk memperkenalkan diri kepada calon pemilih, sekaligus membangun citra politik. Bagaimanapun, dua hal tersebut menjadi faktor penting dalam meningkatkan probabilitas keterpilihan pasangan calon dalam kontestasi. Penelitian ini menggunakan tiga indikator utama, yakni identifikasi diri, positioning, dan produk politik sebagai pisau analisis. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis konten langsung, memberi ruang untuk mengeksplorasi setiap postingan yang diunggah Pramono Anung dan Rano Karno dalam membangun citra politiknya. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan oleh Pramono Anung dan Rano Karno dalam membangun citra politiknya lewat identitas, isu, dan pelbagai interaksi yang tercipta telah berhasil meraih simpati masyarakat DKI Jakarta untuk memilih mereka. Kata kunci: Pilkada DKI Jakarta, Branding Politik, Pramono-Rano
Kebijakan Gerbong Khusus Perempuan dan Ketimpangan Gender dalam Transportasi Publik: Studi Pengguna KRL di Jakarta Farsya Ellysya; Nur Azizah Hikmatulloh; Zafirah Irdina Mulyana; Aniqotul Ummah; Teddy Chrisprimanata Putra
ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2026): ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora
Publisher : LP3M INSTITUT KH YAZID KARIMULLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/pb5zhr75

Abstract

This study examines the policy of women-only train cars and gender inequality in public transportation, particularly the KRL commuter line in Jakarta. The research is motivated by the continuing issues of safety and comfort experienced by women in their daily mobility within urban public spaces. The study aims to understand women’s experiences as KRL users, identify forms of gender inequality in public transportation, and analyze the implementation of women-only train car policies in everyday practice. This research employs a qualitative approach using semi-structured interviews with KRL users, field observations, and reviews of relevant documents and academic journals. The informants consist of female KRL users as the primary subjects and male users as comparative informants. The findings indicate that women still face issues related to safety concerns, overcrowding, and the risk of sexual harassment while using the KRL. The women-only train car policy is perceived as helping improve passengers’ sense of security; however, it has not fully resolved broader issues of gender inequality in public transportation. The study concludes that more inclusive transportation policies are needed through stronger security systems, better supervision, and the provision of safer public spaces for all users.  
THE ROLE OF THE DEPOK GOWESIN COMMUNITY AS AN ACTOR OF CITIZEN PARTICIPATION IN PROMOTING SUSTAINABLE TRANSPORTATION TOWARDS AN ECO CITY IN THE CITY OF DEPOK Putri Salsadila; Canda Della Agustia Disy; Salwa Adina Zafira; Aniqotul Ummah; Teddy Chrisprimanata Putra
Journal of Social and Economics Research Vol 8 No 1 (2026): JSER, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v8i1.1504

Abstract

This study discusses the role of the Gowesin Depok Community as a form of citizen participation in promoting sustainable transportation toward an eco city in Depok City. The study used a qualitative approach with a descriptive method through observation, interviews, documentation, and social media analysis. The results show that the Gowesin Depok Community plays a role in increasing public awareness of environmentally friendly transportation through cycling activities, environmental campaigns, and participation in Indonesia Critical Mass (ICM). The community also contributes to reducing carbon emissions and promoting a sustainable mobility culture in Depok City. However, these efforts still face challenges such as limited bicycle infrastructure, low public awareness among road users, and lack of government support. Therefore, stronger collaboration between the government and the community is needed to achieve sustainable transportation and the eco city concept in Depok City.
Marginalisasi Perkotaan dan Strategi Bertahan Hidup Masyarakat Miskin Kota di Permukiman Pesanggrahan, Pademangan Timur, Jakarta Utara Chasya Nabila, Naila Azaria Arumi; Naila Azaria Arumi; Nova Jojor; Aniqotul Ummah; Teddy Chrisprimanata Putra
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.10796

Abstract

Pertumbuhan perkotaan yang pesat di Indonesia belum sepenuhnya diikuti pemerataan akses terhadap sumber daya, layanan dasar, dan ruang hidup yang layak bagi masyarakat miskin kota. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk marginalisasi yang dialami urban poor dan kelompok minoritas di permukiman Pesanggrahan, Pademangan Timur, Jakarta Utara, serta memahami strategi bertahan hidup yang mereka bangun dalam menghadapi kerentanan perkotaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan, observasi lapangan, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis dilakukan dengan menggunakan konsep advanced marginality, urban exclusion, dan territorial stigma dari Loïc Wacquant untuk membaca marginalisasi struktural, serta konsep survival strategies dan everyday resistance dari James C. Scott untuk memahami respons masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warga menghadapi banjir berulang, keterbatasan akses transportasi publik, ketimpangan distribusi bantuan sosial, serta minimnya layanan dasar yang memadai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa marginalisasi yang dialami warga bukan sekadar persoalan ekonomi individual, melainkan hasil dari ketimpangan tata kelola kota dan distribusi sumber daya yang tidak merata. Di tengah keterbatasan tersebut, masyarakat mengembangkan strategi bertahan melalui pekerjaan informal, pengelolaan sumber daya rumah tangga, solidaritas sosial berbasis kepercayaan, musyawarah warga, serta normalisasi terhadap risiko banjir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Temuan ini menegaskan bahwa ketahanan komunitas menjadi modal penting dalam menghadapi kerentanan perkotaan, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab negara dalam menyediakan intervensi yang adil, inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan bagi kelompok rentan di wilayah perkotaan, khususnya permukiman padat yang selama ini kurang memperoleh perhatian struktural dalam kebijakan pembangunan kota yang berkeadilan dan berbasis hak warga setara.
The Effects of Youth Political Participation on Political Awareness and Perception in Indonesia: a Systematic Review and Meta-Analysis Gede Wikan Pradnya Dana; Teddy Chrisprimanata Putra; I Komang Agus Widiantara
Poltanesa Vol 27 No 1 (2026): June 2026
Publisher : P3KM Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/tanesa.v27i1.3709

Abstract

Youth political participation, particularly among university students and novice voters, serves as a crucial element in dynamizing democracy and driving socio-political change in Indonesia. While the digital era has significantly expanded participatory channels ranging from offline institutional movements to contemporary digital activism, the quantitative impact of these multidimensional activities on actual cognitive outcomes remains largely unsynthesized. The existing empirical evidence is highly fragmented, necessitating a comprehensive evaluation. Therefore, this study aims to systematically estimate the correlation strength between youth political participation and their levels of political awareness and democratic perception. Guided by the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) framework, this research synthesized 12 primary quantitative studies comprising a total of 2,345 youth participants. The statistical analysis utilized a Random Effects Model to accommodate contextual diversity, alongside Egger's regression and funnel plot analysis to rigorously evaluate publication bias. The analytical results reveal a highly robust, statistically significant positive correlation [] between political involvement and cognitive maturation, despite substantial inter-study heterogeneity (I-squared = 94%). Subsequent bias detection objectively confirmed the absence of the file-drawer problem, ensuring the reliability of the pooled estimate. Ultimately, this meta-analysis empirically confirms that active youth participation substantially functions as a school of democracy that accelerates cognitive mobilization. The findings offer a solid empirical foundation for educational stakeholders, electoral commissions, and student organizations to design evidence-based political education programs and digital literacy interventions to safeguard novice voters against electoral disinformation.
Hak Atas Kota dan Aksesibilitas Trotoar di DKI Jakarta dalam Perspektif Gender: Studi Kasus Komunitas Kursi Roda WAFCAI: The Right to the City and Sidewalk Accessibility in DKI Jakarta from a Gender Perspective: A Case Study of the WAFCAI Wheelchair Community Jihan Hasnah Hamidah; Nasytha Muthiah; Nazwa Namira Putri Rusdiandi; Aniqotul Ummah; Teddy Chrisprimanata Putra
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 6: Juni 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i6.11182

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana akses trotoar di Jakarta dalam pandangan Hak atas Kota (Right to the City) dan juga gender, dengan fokus pada komunitas Wheelchair and Friendship Center of Asia Indonesia (WAFCAI). Fokus penelitian diarahkan pada sejauh mana trotoar sebagai ruang publik mampu memberikan akses yang setara bagi penyandang disabilitas, terutama perempuan pengguna kursi roda. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang meliputi observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi literatur. Untuk menganalisis data, peneliti melakukan pengolahan data secara bertahap dengan cara merangkum data, menyajikan hasil, dan menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perbaikan trotoar di Jakarta belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip inklusivitas. Masih ada ramp yang terlalu curam, bollard yang menghalangi kursi roda, trotoar yang tidak rata, serta penggunaan trotoar oleh parkir yang tidak resmi dan kegiatan lainnya. Selain itu, dari sudut pandang gender, perempuan penyandang disabilitas menghadapi banyak masalah karena keterbatasan bergerak, kurangnya rasa aman, dan ketergantungan pada orang lain untuk bisa mengakses tempat umum. Penelitian ini menekankan bahwa akses trotoar tidak hanya tentang fisik, tetapi juga mengaitkan dengan keadilan sosial dan hak warga atas kota. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan kota yang lebih inklusif, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan. This study aims to examine sidewalk access in Jakarta from the perspective of the Right to the City and gender, with a focus on the Wheelchair and Friendship Center of Asia Indonesia (WAFCAI) community. The research focuses on the extent to which sidewalks as public spaces are able to provide equal access for people with disabilities, especially women who use wheelchairs. The method used is a qualitative case study approach, which includes field observations, in-depth interviews, documentation, and literature review. To analyze the data, researchers conducted data processing in stages by summarizing the data, presenting the results, and drawing conclusions. The results of the study indicate that sidewalk improvements in Jakarta have not fully align with the principle of inclusivity. There are still ramps that are too steep, bollards that obstruct wheelchairs, uneven sidewalks, and the use of sidewalks for unauthorized parking and other activities. Furthermore, from a gender perspective, women with disabilities face many problems due to limited mobility, a lack of security, and dependence on others to access public places. This study emphasizes that sidewalk access is not only about physical aspects, but also relates to social justice and citizens' rights to the city. Therefore, urban planning is needed that is more inclusive, participatory, and responsive to the needs of vulnerable groups.