Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Waterfront, Pelestarian Cagar Bu ANALISIS KENYAMANAN SPASIAL DAN FASILITAS LANSKAP PADA KAWASAN WATERFRONT BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG Zehrina Saputri; Zaskia Sela Sapitri; Nadine Zabarij Yaqutah; Nurjannah; Nayla Tiara Mufidah; Malikin Gofur; Listen Prima; Sri Lilianti Komariah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4573

Abstract

Abstract: Traditional architecture as a tangible cultural heritage asset requires dynamic preservation efforts through protection, development, and utilization to maintain its existence and enhance its value for future generations. The identity of Palembang as a Water City, recognized since the era of the Palembang Darussalam Sultanate, is reflected in the presence of the Musi River and Benteng Kuto Besak as significant historical and cultural elements. However, the Waterfront area of Benteng Kuto Besak and its surroundings has not been optimally managed as a historic district and as part of Palembang’s urban development. In fact, the Musi River waterfront holds substantial potential in economic, cultural, historical, and sustainable tourism aspects. This study aims to analyze the role of the Musi River waterfront around Benteng Kuto Besak in enhancing sustainable tourism in Palembang through a heritage preservation approach and the strengthening of city identity. In addition, structural considerations are addressed through the use of steel sheet pile foundations with a diameter of 500 mm and a length of 22 m, designed based on allowable stress and loading factors, including seismic forces, to ensure safety and long-term sustainability of the riverside area. Keyword : Waterfront, Cultural heritage Preservation, Foundation Abstrak: Arsitektur tradisional sebagai bagian dari benda cagar budaya bersifat kebendaan memerlukan pelestarian yang dinamis melalui upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan guna mempertahankan keberadaan serta meningkatkan nilainya bagi generasi mendatang .Zain, Zairin (2014) Identitas Kota Palembang sebagai Kota Air yang telah dikenal sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam tercermin pada keberadaan Sungai Musi dan Benteng Kuto Besak sebagai elemen sejarah dan budaya yang penting. Namun, kawasan Waterfront Benteng Kuto Besak dan sekitarnya belum dikelola secara optimal sebagai kawasan bersejarah dan bagian dari pengembangan kota. Firmansyah, K. G. S. (2000) Padahal, kawasan Waterfront Sungai Musi memiliki potensi besar dalam aspek ekonomi, budaya, sejarah, dan pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran waterfront Sungai Musi di sekitar Benteng Kuto Besak dalam meningkatkan pariwisata berkelanjutan di Kota Palembang melalui pendekatan pelestarian kawasan bersejarah dan penguatan identitas kota. Robi 2025.Selain itu, kajian teknis struktur turut diperhatikan melalui penggunaan pondasi tiang turap baja berdiameter 500 mm dengan panjang 22 m yang dirancang mempertimbangkan tegangan izin dan faktor pembebanan, termasuk gaya gempa, guna menjamin keamanan dan keberlanjutan kawasan tepi sungai.Vembri Affianto, (2007) Rizky Dendy (2007) Kata Kunci : Waterfront, Pelestarian Cagar Budaya, Pondasi  
EVOLUSI FUNGSI GEDUNG MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II DI PALEMBANG SEBAGAI SIMBOL PELESTARIAN BUDAYA Fadina Nayla; Aliyah Nazahah Santosa; Charina Haris; Dzikrila Bunga Cahyani; Olga Maharani; Amrina Rosada; Listen Prima; Sri Lilianti Komariah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4574

Abstract

Abstract:  The Sultan Mahmud Badaruddin II Museum building is a historic structure in the city of Palembang that has undergone significant functional transformation since the nineteenth century. The building was constructed by the Dutch colonial government in 1823–1824 on the former site of the Palembang Sultanate palace, which had been demolished following the dissolution of the sultanate. Initially, the structure functioned as the official residence of the Dutch Resident and as the administrative office of colonial governance in Palembang. This study aimed to analyse the evolution of the building’s function and to examine the shift in its symbolic meaning from a centre of colonial authority to a symbol of cultural preservation. A qualitative method with historical and architectural approaches was employed. Data were collected through direct observation, interviews with museum administrators, and relevant literature review. The data were analysed descriptively and comparatively through stages of data reduction, historical classification, interpretation, and source triangulation. The findings indicate that the building evolves through several stages, from a colonial administrative centre and a military base during the Japanese occupation to a public museum established in 1984. Its tropical architectural adaptation enables the structure to endure and to be reused without losing its authenticity. The transformation demonstrates that the building now functions as a symbol of cultural preservation and the reinforcement of Palembang’s local identity. Keyword: SMB II Museum, building evolution, cultural preservation, colonial architecture. Abstrak: Gedung Museum Sultan Mahmud Badaruddin II di Kota Palembang merupakan bangunan bersejarah yang mengalami perubahan fungsi signifikan sejak abad ke-19. Bangunan yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1823–1824 di atas bekas Keraton Palembang Darussalam ini awalnya berfungsi sebagai kediaman residen sekaligus pusat administrasi kolonial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis evolusi fungsi bangunan serta mengkaji pergeseran makna simboliknya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan historis dan arsitektural melalui observasi, wawancara, dan studi literatur, kemudian dianalisis secara deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan mengalami perubahan fungsi bertahap, mulai dari pusat administrasi kolonial, basis militer pada masa pendudukan Jepang, aset pemerintahan pascakemerdekaan, hingga menjadi museum sejak tahun 1984. Selain itu, karakter arsitektur kolonial yang adaptif  terhadap iklim tropis memungkinkan bangunan tetap bertahan dan dialihfungsikan tanpa menghilangkan keaslian bentuknya. Transformasi ini menunjukkan pergeseran makna simbolik dari representasi kekuasaan kolonial menjadi simbol pelestarian sejarah dan identitas lokal masyarakat Palembang. Kata Kunci: Museum SMB II, evolusi bangunan, pelestarian budaya, arsitektur kolonial.
Pendampingan Perencanaan dan Perancangan Kantor Dan Fasilitas Desa Muara Penimbung Ogan Ilir Listen Prima; Dessy Syarlianti; Tutur Lussetyowati; Maya Fitri Oktarini; Fuji Amalia; Sri Lilianti Komariah; Rizka Drastiani; Almira Ulfa
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i1.22874

Abstract

Desa Muara Penimbung, Kabupaten Ogan Ilir, menghadapi keterbatasan kualitas dan kapasitas fasilitas pelayanan publik, khususnya kantor desa dan ruang komunal, yang berdampak pada efektivitas pelayanan serta partisipasi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan pendampingan dalam perencanaan dan perancangan kantor desa beserta fasilitas pendukung melalui pendekatan partisipatif. Bahan kegiatan meliputi data kondisi eksisting desa, kebutuhan ruang pelayanan, serta aspirasi perangkat desa dan masyarakat. Metode yang digunakan mencakup survei lapangan, observasi fisik lingkungan, wawancara, diskusi kelompok terarah, serta pendampingan penyusunan konsep dan pra-rancangan arsitektural. Hasil kegiatan menunjukkan teridentifikasinya kebutuhan ruang yang lebih terstruktur, efisien, dan inklusif, serta tersusunnya dokumen pra-rancangan kantor desa dan fasilitas pendukung yang kontekstual terhadap kondisi lokal. Proses partisipatif mendorong keterlibatan aktif mitra, meningkatkan pemahaman perangkat desa mengenai prinsip dasar perencanaan ruang publik, dan memperkuat rasa memiliki terhadap hasil rancangan. Kesimpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan perencanaan dan perancangan berbasis partisipasi efektif dalam meningkatkan kualitas perencanaan fasilitas desa serta kapasitas mitra lokal. Disarankan agar hasil pra-rancangan ini ditindaklanjuti pada tahap perencanaan teknis dan penganggaran desa, serta pendekatan serupa direplikasi pada desa lain dengan karakteristik sejenis.
The Alignment of Public Open Space Elements with Visitor Motivation in the Musi Riverfront Public Open Space Almira Ulfa; Sri Lilianti Komariah; Fuji Amalia; Rizka Drastiani; Rakhmat Fikran Zuhair
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol. 5 No. 2 (2026): Archvisual JAP, Februari 2026
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55300/fk2ygz61

Abstract

Public open spaces are considered successful when they are continuously visited and provide tangible benefits to their users. Individuals’ intentions to visit a place, including public open spaces, are driven by internal motivations, whereas the choice of a specific destination is influenced by the elements present within the space. These elements function as pull factors that fulfil visitors’ internal push factors. The Musi River is one of the key images of Palembang City, and several of its riverbanks are utilised as public open spaces consistently visited by the community, including 16 Ilir Market Plaza and Benteng Kuto Besak Plaza. This article examines the elements of public open spaces along the Musi River as pull factors that help fulfil visitors’ push factors in selecting riverfront open spaces as their destination. Data were collected through field observations and the distribution of online questionnaires, and the results were analysed using multivariate correlation analysis. The findings indicate significant relationships between visiting motivations (push factors) and specific elements (pull factors) that are considered essential in public open spaces. In their manifestation as facilities, public open space elements demonstrate a high degree of flexibility, whereby a single element may emerge from the integration of multiple components and derive benefits from the combined elements that constitute it.