Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pendampingan Perencanaan dan Perancangan Kantor Dan Fasilitas Desa Muara Penimbung Ogan Ilir Listen Prima; Dessy Syarlianti; Tutur Lussetyowati; Maya Fitri Oktarini; Fuji Amalia; Sri Lilianti Komariah; Rizka Drastiani; Almira Ulfa
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i1.22874

Abstract

Desa Muara Penimbung, Kabupaten Ogan Ilir, menghadapi keterbatasan kualitas dan kapasitas fasilitas pelayanan publik, khususnya kantor desa dan ruang komunal, yang berdampak pada efektivitas pelayanan serta partisipasi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan pendampingan dalam perencanaan dan perancangan kantor desa beserta fasilitas pendukung melalui pendekatan partisipatif. Bahan kegiatan meliputi data kondisi eksisting desa, kebutuhan ruang pelayanan, serta aspirasi perangkat desa dan masyarakat. Metode yang digunakan mencakup survei lapangan, observasi fisik lingkungan, wawancara, diskusi kelompok terarah, serta pendampingan penyusunan konsep dan pra-rancangan arsitektural. Hasil kegiatan menunjukkan teridentifikasinya kebutuhan ruang yang lebih terstruktur, efisien, dan inklusif, serta tersusunnya dokumen pra-rancangan kantor desa dan fasilitas pendukung yang kontekstual terhadap kondisi lokal. Proses partisipatif mendorong keterlibatan aktif mitra, meningkatkan pemahaman perangkat desa mengenai prinsip dasar perencanaan ruang publik, dan memperkuat rasa memiliki terhadap hasil rancangan. Kesimpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan perencanaan dan perancangan berbasis partisipasi efektif dalam meningkatkan kualitas perencanaan fasilitas desa serta kapasitas mitra lokal. Disarankan agar hasil pra-rancangan ini ditindaklanjuti pada tahap perencanaan teknis dan penganggaran desa, serta pendekatan serupa direplikasi pada desa lain dengan karakteristik sejenis.
Transformasi Pasar Sekanak di Palembang : Kajian Sense of Place dalam Konteks Modernisasi Kawasan Riparian Rakhmat Fikran Zuhair; Rizka Drastiani; Syifa Rahmi Meliansari; Viata Viriezky
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4343

Abstract

Abstract: The transformation of Sekanak Market in Palembang reflects a shift from water-based to land-based activities due to riparian modernization. This change affects not only the market’s physical form but also its meaning, identity, and spatial attachment. Using a qualitative approach and the sense of place framework, this study explores how space, experience, and local culture interact. Data were obtained through interviews, observation, and visual documentation, and analyzed within three dimensions: place identity, place attachment, and place of community. Findings indicate that modernization has altered the market’s orientation to the river and reduced social interaction, yet riparian cultural values persist in collective memory and daily economic life. Integrating sense of place principles is essential to ensure that revitalized traditional markets preserve local identity and cultural continuity. Keyword: Riparian Culture, Sekanak Traditional Market, Sense of Place, Traditional Market Transformation Abstrak: Transformasi Pasar Sekanak di Palembang mencerminkan pergeseran orientasi masyarakat dari aktivitas air ke darat akibat modernisasi kawasan riparian. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada bentuk fisik pasar, tetapi juga pada makna, identitas, dan keterikatan ruang masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka sense of place untuk memahami hubungan antara ruang, pengalaman, dan budaya lokal. Analisis dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi visual berdasarkan tiga dimensi utama: place identity, place attachment, dan place of community. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi pasar mengubah orientasi terhadap sungai dan pola interaksi sosial, namun nilai-nilai budaya riparian tetap hidup dalam memori kolektif dan aktivitas ekonomi. Integrasi prinsip sense of place menjadi penting dalam revitalisasi pasar tradisional agar kontinuitas identitas lokal tetap terjaga. Kata Kunci: Budaya Riparian, Pasar Sekanak, Sense of Place, Transformasi Pasar Tradisional
The Alignment of Public Open Space Elements with Visitor Motivation in the Musi Riverfront Public Open Space Almira Ulfa; Sri Lilianti Komariah; Fuji Amalia; Rizka Drastiani; Rakhmat Fikran Zuhair
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol. 5 No. 2 (2026): Archvisual JAP, Februari 2026
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55300/fk2ygz61

Abstract

Public open spaces are considered successful when they are continuously visited and provide tangible benefits to their users. Individuals’ intentions to visit a place, including public open spaces, are driven by internal motivations, whereas the choice of a specific destination is influenced by the elements present within the space. These elements function as pull factors that fulfil visitors’ internal push factors. The Musi River is one of the key images of Palembang City, and several of its riverbanks are utilised as public open spaces consistently visited by the community, including 16 Ilir Market Plaza and Benteng Kuto Besak Plaza. This article examines the elements of public open spaces along the Musi River as pull factors that help fulfil visitors’ push factors in selecting riverfront open spaces as their destination. Data were collected through field observations and the distribution of online questionnaires, and the results were analysed using multivariate correlation analysis. The findings indicate significant relationships between visiting motivations (push factors) and specific elements (pull factors) that are considered essential in public open spaces. In their manifestation as facilities, public open space elements demonstrate a high degree of flexibility, whereby a single element may emerge from the integration of multiple components and derive benefits from the combined elements that constitute it.