Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Manfaat dan Kendala Adopsi QRIS pada UMKM: Temuan Survei Lapangan di Wilayah Ciayumajakuning Sigit Rahardjo, Widiantoro
Journal of Economics and Business UBS Vol. 14 No. 6 (2025): Journal of Economics and Business UBS
Publisher : Cv. Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52644/qkdwe827

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi manfaat serta kendala dalam adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui survei lapangan. Sebanyak 124 UMKM berpartisipasi dalam penelitian ini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan analisis open coding, axial coding, dan thematic clustering terhadap jawaban responden. Temuan penelitian menunjukkan bahwa 45,97% UMKM telah mengadopsi QRIS dan merasakan manfaat seperti efisiensi transaksi, peningkatan keamanan pembayaran, kemudahan pencatatan keuangan, serta meningkatnya kenyamanan pelanggan. Sementara itu, 33,87% UMKM belum mengadopsi QRIS karena keterbatasan perangkat, minimnya literasi digital, kendala jaringan, dan rendahnya permintaan pelanggan. Hasil analisis menegaskan bahwa tingkat adopsi QRIS dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal maupun eksternal, termasuk kemudahan penggunaan, manfaat yang dirasakan, kondisi lingkungan, dan persepsi keamanan. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris dalam memahami dinamika adopsi QRIS pada UMKM serta merekomendasikan perlunya peningkatan literasi digital dan dukungan teknis bagi pelaku usaha.
QRIS dalam Ekosistem Transaksi Digital: Perspektif Komparatif Pelaku UMKM dan Pelanggan Widiantoro Sigit Rahardjo
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 5 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i5.2722

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam ekosistem transaksi digital melalui perspektif komparatif antara pelaku UMKM dan pelanggan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods deskriptif-komparatif dengan desain convergent mixed-methods. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur pada periode 17–31 Desember 2025. Responden penelitian berjumlah 56 orang, yang terdiri atas 28 pelaku UMKM dan 28 pelanggan. Data kuantitatif dianalisis menggunakan tabulasi frekuensi dan persentase, sedangkan data kualitatif dari jawaban terbuka dianalisis melalui open coding, axial coding, dan thematic clustering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 75,00% pelaku UMKM telah menggunakan QRIS, sedangkan 25,00% belum menggunakannya. Pada sisi pelanggan, sebagian besar responden telah memiliki pengalaman menggunakan QRIS, tetapi pembayaran tunai masih menjadi metode yang paling sering digunakan. QRIS dipersepsikan memberikan manfaat dalam aspek kemudahan transaksi, kecepatan pembayaran, keamanan, pencatatan transaksi, dan kenyamanan pelanggan. Namun, penggunaan QRIS masih menghadapi kendala berupa kualitas sinyal internet, aplikasi eror, kebiasaan pembayaran tunai, persepsi biaya admin, dan keterbatasan literasi digital. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan QRIS tidak hanya ditentukan oleh penerimaan teknologi pada tingkat individu, tetapi juga oleh kesiapan ekosistem transaksi digital yang melibatkan pelaku UMKM, pelanggan, aplikasi pembayaran, infrastruktur internet, regulator, dan penyedia layanan keuangan digital. Penelitian ini memperkuat relevansi TAM dan UTAUT serta memperluas pembahasan QRIS melalui perspektif ekosistem transaksi digital dengan kerangka platform dua sisi. Implikasi penelitian menekankan pentingnya penguatan literasi digital, kesiapan infrastruktur digital, dukungan kebijakan, perlindungan konsumen, dan inklusi keuangan bagi UMKM.
Digital Governance and Fraud Risk Management in Indonesia's SIHALAL-Based Halal Certification: A Shariah-Compliant Information Systems Framework Muhammad Khoirul Umam; Lisnawati Lisnawati; Ellin Herlina; Ade Bani Riyan; Widiantoro Sigit Rahardjo
Daengku: Journal of Humanities and Social Sciences Innovation Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : PT Mattawang Mediatama Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/454RI.daengku4963

Abstract

This study examines digital governance gaps on the SIHALAL platform and investigates potential moral hazard and fraud risks in the self-declared halal certification scheme in Indonesia. This study employed an explanatory sequential mixed-methods design , analyzing survey data from 107 MSMEs assisted by the Halal Center, partners of BPJPH, and qualitative data from in-depth interviews with internal stakeholders, senior information technology auditors, and halal experts. Quantitative analysis was conducted using descriptive statistics and the Spearman correlation test, while qualitative data was analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The results of the study indicate that information asymmetry and low digital literacy among facilitators indicated by the average MSME digital literacy score of 2.83 out of 5.00 and 55.1% of respondents who do not follow the development of advanced digitalization significantly increase system vulnerability, which triggers inaccurate verification processes and high risks of data manipulation, as confirmed by a strong Spearman correlation between low digital literacy and perceived fraud risk (? = 0.624; p < 0.001). The findings of this study indicate that the integration of Sharia-compliant digital governance principles, particularly through automated verification mechanisms such as geotagging , digital timestamps , and artificial intelligence (AI)-based image validation effectively mitigates internal fraud and ensures structural alignment with the values of Maqasid Sharia, especially in safeguarding religion ( hifz ad-din ) and public welfare ( hifz an-nafs ).