Samsul Hadi
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pembelajaran Berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan OBE (Outcome-Based Education) di Perguruan Tinggi Samsul Hadi; Deddy Ramadhani
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 3 (2026): August (Inpres)
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i3.2006

Abstract

This study discusses learning based on Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) and Outcome Based Education (OBE ) in higher education as a strategy for transforming higher education in Indonesia. MBKM is a policy that provides flexibility for students to gain learning experiences outside their study programs through various activities, such as internships, research, student exchanges, humanitarian projects, and entrepreneurship programs. Meanwhile, OBE  is an educational approach oriented toward learning outcomes, where the entire learning process is designed to produce graduates who are competent, adaptive, and relevant to the needs of the workforce. This study aims to describe the concepts of MBKM and OBE , their implementation in higher education, as well as the advantages and challenges of their application. This study employs a systematic literature review method by analyzing 25 scientific sources published between 2019 and 2025, comprising accredited national journals indexed in Sinta 2–4, international journals indexed in Scopus and Google Scholar, as well as policy documents and official reports from the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology of the Republic of Indonesia. The literature was selected based on relevance criteria related to MBKM implementation, OBE  frameworks, curriculum transformation, and graduate competency outcomes in higher education contexts. The results show that the integration of MBKM and OBE  is able to create a more flexible, innovative, and student-centered learning system. In addition to improving academic competence, the implementation of these two approaches also develops students' soft skills, such as communication, collaboration, creativity, and critical thinking skills. However, their implementation still faces several challenges, including the readiness of human resources, curriculum adjustment, outcome-based evaluation systems, and limited industrial partnerships. Therefore, strengthening the curriculum, improving lecturers' competencies, and developing partnerships with various stakeholders are necessary to optimize the implementation of MBKM and OBE .
PERAN TOKOH AGAMA DALAM PENDIDIKAN ISLAM NON-FORMAL UNTUK MENGATASI KENAKALAN REMAJA DI LINGKUNGAN INDUSTRI Samsul Hadi; Dwi Wahyudiati; Nurul Lailatul Khusniyah
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10707

Abstract

ABSTRACT Juvenile delinquency in industrial environments has become a serious issue influenced by limited parental supervision and weak internalization of religious values due to socio-economic dynamics. This study aims to analyze the role of religious leaders in non-formal Islamic education and its effectiveness in addressing juvenile delinquency in industrial areas. The research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation involving three religious leaders and fifteen adolescents. Data were analyzed qualitatively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that religious leaders play significant roles as educators, mentors, and role models through activities such as religious gatherings, youth study groups, and short-term Islamic boarding programs using personal and contextual approaches. These roles have proven effective in reducing deviant behaviors such as fighting, alcohol consumption, and truancy, while also enhancing religious awareness and self-control among adolescents. This study highlights that community-based non-formal Islamic education serves as an effective preventive strategy in addressing juvenile delinquency in industrial environments. The findings imply the need for strengthening the capacity of religious leaders and providing community-based policy support to ensure the sustainability of youth development programs. ABSTRAK Kenakalan remaja di lingkungan industri telah menjadi masalah serius yang dipengaruhi oleh terbatasnya pengawasan orang tua dan lemahnya internalisasi nilai-nilai agama akibat dinamika sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tokoh agama dalam pendidikan Islam nonformal serta efektivitasnya dalam menangani kenakalan remaja di kawasan industri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi yang melibatkan tiga tokoh agama dan lima belas remaja. Data dianalisis secara kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh agama memiliki peran penting sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan melalui kegiatan seperti pengajian, kelompok kajian remaja, dan program pesantren kilat dengan menggunakan pendekatan personal dan kontekstual. Peran tersebut terbukti efektif dalam mengurangi perilaku menyimpang seperti perkelahian, konsumsi minuman keras, dan bolos sekolah, sekaligus meningkatkan kesadaran beragama dan pengendalian diri pada remaja. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan Islam nonformal berbasis masyarakat merupakan strategi preventif yang efektif dalam mengatasi kenakalan remaja di lingkungan industri. Temuan ini mengimplikasikan perlunya penguatan kapasitas tokoh agama serta dukungan kebijakan berbasis masyarakat guna menjamin keberlanjutan program pembinaan remaja.
Peran Guru Terhadap Bimbingan Belajar Santri Pondok Pesantren Nurul Bayan Lombok Utara Samsul Hadi; Dedy Wahyudin; Abdul Aziz
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 3 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i3.5039

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran guru dalam bimbingan belajar santri di Pondok Pesantren Nurul Bayan Lombok Utara, menganalisis metode yang digunakan, serta mengidentifikasi kendala yang muncul dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai motivator yang menumbuhkan semangat belajar santri dengan pendekatan religius, emosional, dan keteladanan; sebagai fasilitator yang mengombinasikan metode tradisional dengan pendekatan partisipatif seperti diskusi dan musyawarah kitab; serta sebagai pembimbing personal yang memberi perhatian khusus kepada santri dengan latar belakang dan kemampuan berbeda. Metode ceramah dan diskusi digunakan secara terpadu, di mana ceramah meneguhkan otoritas keilmuan dan nilai normatif, sedangkan diskusi mendorong berpikir kritis dan kontekstual. Kendala yang dihadapi guru mencakup keterbatasan waktu akibat padatnya jadwal pesantren, perbedaan kemampuan santri, fluktuasi motivasi belajar, keterbatasan fasilitas, serta tingginya beban kerja guru. Meski demikian, kreativitas, keteladanan, dan dedikasi guru menjadi faktor kunci dalam menjaga efektivitas bimbingan belajar dan memastikan tercapainya tujuan pendidikan pesantren.