Eskalasi krisis ekologi global telah mentransformasi bahasa dari sekadar medium komunikasi menjadi arena kontestasi ideologi dan kekuasaan. Penelitian ini bertujuan untuk membedah dinamika leksikon ekologis dalam gerakan Zero Waste di platform TikTok melalui lensa ekolinguistik kritis. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, data yang bersumber dari konten video, takarir (caption), tagar, serta kolom komentar dianalisis untuk mengungkap bagaimana eko-leksikon diproduksi dan direproduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leksikon seperti reuse, refill, sustainable living, dan eco-friendly tidak hanya berfungsi sebagai unit informatif, melainkan telah berevolusi menjadi simbol identitas komunal dan instrumen ideologis dalam membentuk kesadaran lingkungan digital. Temuan riset mengindikasikan adanya "urbanisasi digital bahasa" yang bersifat persuasif dan multimodal, di mana algoritma dan visualisasi mempercepat diseminasi nilai-nilai ekologis. Namun, analisis kritis mengungkap adanya paradoks berupa komodifikasi isu lingkungan; leksikon ekologis kerap kali digunakan sebagai alat legitimasi ekonomi dan tren konsumtif baru (hijau). Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun TikTok efektif sebagai motor penggerak pelestarian alam, diperlukan adaptasi kontekstual terhadap bahasa lokal untuk mengatasi eksklusivitas linguistik dan memastikan gerakan ini tetap berorientasi pada substansi ekologis, bukan sekadar gaya hidup superfisial.